
Siang ini para pemuda sedang berkumpul di balai pemuda,
pemuda dan pemudi sedang mempersiapkan peringatan maulud nabi.
pemuda:
"bang,, dimana acara kita jadikan?"
Deni :
"ini lagi di kota,
jadilah, kamu handel aja lah dulu!"
pemuda:
"ok,, bang!"
hingga panggilan berakhir.
setelah selesai menghubungi Deni yang tidak kunjung datang,
Salah satu dari pemuda bersiap mengambil pengeras suara yang hendak mengumpulkan para pemuda dan pemudi,
"Assalamualaikum, pemuda dan pemudi,,
siang ini kita mengadakan pertemuan,
diharapkan kepada seluruh pemuda dan pemudi untuk berkenan hadir meluangkan waktunya tuk berkumpul di balai pemuda tepat setelah shalat ashar?"
ucap salah seorang menyampaikan undangan dan pengumuman yang bergema di seluruh desa hingga terdengar di setiap rumah.
Yanna yang baru saja selesai mandi, dengan tekun menyimak setiap perkataan yang mengudara di udara,
hingga senyum terukir di bibirnya..
Yanna melihat jam dinding yang tergantung di kamarnya,
"masih jam tiga, masih ada satu jam lagi!"
cetus Yanna sembari membuka lemari pakaiannya.
"ee,, kok berantakan sekali?"
heran Yanna melihat pakainya yang bertumpuk dan tidak tersusun rapi.
memang beberapa minggu kebelakang Yanna seperti diluar kendali, itu semua terjadi setelah dia berkata kasar dan meremehkan orang pintar yang yang pernah dimintai tolong olehnya.
Dengan hati ruang Yanna merapikan isi lemarinya hingga seperti sebelum dia seperti orang tidak waras.
Ibu Tin yang baru masuk kedalam kamar Yanna, sangat kaget saat melihat kamar Yanna yang tertata rapi, padahal sebelum beliau keluar tuk mencuci pakaian kotor saat Yanna tertidur masih berserakan seperti kapal pecah.
perlahan buk Tin melangkah mendekati Yanna yang tengah merapikan lemari pakaian,
"Yanna!"
panggil Buk Tin dengan hati hati, hingga Yanna menoleh dengan wajah yang segar dan ceria,,
"bentar Bu, tinggal dikit lagi!"
seru Yanna
Buk Tin, hanya bisa tertegun mendengar Yanna, dengan hati senang melihat Yanna 6ang telah kembali seperti semula,
"ya Allah, semoga ini bukan mimpi!"
batin Buk Tin yang masih melihat punggung Yanna
"selesai!"
seru Yanna dengan riang sembari menutup pintu lemari dan menghampiri Buk Tin.
"Buk Yanna bagus Ndak pakai baju ini?"
tanya nya dengan memperlihatkan sebuah baju gamis bertabur bunga dasar hitam, tidak lupa senyum menghiasi bibirnya,
Buk Tin tersadar dan memperhatikan baju yang dipegang Yanna,
"bagus,. cantik!"
sahut Buk Tin dengan mata yang heran memperhatikan Yanna,
"kenapa Ibuk lihat Yanna seperti itu?"
rengek Yanna
"Yanna, , , mau kemana?"
tanya Buk Tin dengan lembut sembari menarik Yanna duduk disebelah nya di atas ranjang Yanna.
"Ibu tidak dengar? tadi ada pengumuman!"
jawab Yanna tak kalah bingung dengan pertanyaan Ibu Tin.
"pengumpan?"
ulang Buk Tin, dengan memperhatikan mata Yanna mencari sesuatu yang tidak disadarinya dari perubahan Yanna 6abg tiba tiba.
__ADS_1
memang Buk Tin tidak mendengar apa apa karena pikirannya selalu pada sang putri walau tubuh nya sedang di tempat yang lain.
"kok Ibu tidak dengar ya?"
papar buk Tin sembari mengingat,
Yanna melihat jam dinding kamarnya,
"Yanna siap siap dulu ya Buk, setelah shalat ashar, Yanna mau kembali pemuda!"
pamitnya pada Buk Tin menuju kamar mandi,
selesai berganti pakaian Yanna keluar,
Buk Tin terlihat cemas, mengingat kejadian yang dialami putrinya dan tiba tiba yang bertingkah seolah olah tidak pernah terjadi apa apa.
perubahan ini menguras otak lelah Buk Tin berpikir dan takut semua ini hanyalah sebuah mimpi indah sebelum dia terbangun menjadi kesuraman yang amat memilukan.
Buk Tin tidak sanggup tuk membuka mulutnya, beliau hanya bisa menatap kelincahan Yanna memasang kerudung dan menyemprotkan parfum.
"Ibuk kenapa, termenung?
apa yang dipikirkan?"
tanya Yanna yang melihat Buk Tin yang terlihat dari kaca riasnya.
Yanna membalikan tubuh,
"kagum Ibuk yaa,,
lihat anaknya cantik!*
ujar Yanna dengan senyum sumringah hingga membuat Buk Tin tersenyum
"iya anak Ibu cantik!"
balas Buk Tin menegang tangan Yanna lembut,
"apa ibu sudah terlalu tua? atau pendengaran ibu yang sudah tidak nyaring lagi?"
tutur Buk Tin pada Yanna karena Sepanjangan ingatnya tadi tidak ada mendengar pengumuman apa apa,.
"itu karena ibu terlalu asik dengan perkejaan!"
ungkap Yanna dengan membingkai wajah Buk Tin..
"HP Yanna mana ya Buk?"
tanya Yanna yang tiba tiba teringat akan benda pipih miliknya,
ingatan Buk Tin kembali disaat Yanna melemparkan benda pipih itu sampai hancur,
"HP,,,?"
sahut Buk Tin tergagap
"iya,, HP Yanna Buk?"
rengek Yanna sembari membuka laci kecil didepan meja riasnya..
"Buk kok HP Yanna tidak ketemu ya?"
ulang Yanna dengan wajah cemas dan kesal.
Buk Tin berdiri perlahan dan keluar dari kamar menghampiri meja TV,
Buk Tin meraih sesuatu, lalu kembali kemar Yanna dengan menggenggam benda ditangannya,
dengan suasana hati yang was was Buk Tin menghampiri Yanna
"Yanna,, ini !"
panggil Buk Tin sembari menyodorkan tangan nya yang berisi benda pipih yang dicari Yanna.
mata Yanna membulat melihat tangan Buk Tin, dan meraih benda itu,
"pecah!"
gumam Yanna pelan dengan membolak-balik denda pipih itu ditangannya.
terlihat gurat kesedihan diwajahnya.
karena banyak menyimpan foto-foto yang berkesan didalam memori handphone nya itu..
"padahal banyak kenangan didalam nya,!"
batin yanna meletakan benda itu di atas kasur.
"buk, Yanna pamit dulu!"
izin Yanna yang melihat jarum jam telah menunjukan jam 16:00,
Yanna melupakan shalat ashar karena telah selesai berdandan dengan cantik dan rapi.
"Ndak shalat dulu?"
tanya Buk Tin pada Yanna yang telah berada diambang pintu kamar.
__ADS_1
"lagi datang bulan Buk!"
jawab Yanna berbohong
langkahnya diikuti Buk Tin hingga Yanna telah berada di halaman rumah,setelah tidak melihat Yanna dengan gerakan secepat kilat mengganti dasternya dengan baju gamis dan mengambil sembarang kerudung,
Buk Tin bergegas mengunci pintu dan pergi menyusul Yanna kembali pemuda,
"ee Buk Tin, 7dah lama tidak kelihatan?"
sapa salah seorang dari warga,
memang sebagian dari warga tidak mengetahui permasalahan yang menimpa Buk Tin beberapa waktu belakang ini,
karena orang yang disegani dikampung itu meredamnya dan mendatangi setiap rumah warga yang waktu itu kedapatan bagi beliau sedang asik menghibahkan Yanna.
Buk Tin, terheran-heran dan gugup mendengar pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
Buk Tin membalas dengan senyum yang canggung,
"maaf saya lagi buru buru!"
ucap Buk Tin kembali melanjutkan tujuannya semula ke balai pemuda,
di ujung jalan Buk Tin melihat Yanna yang tengah asik mengobrol dengan sekelompok Pemudi,
membuat hati Buk Tin lega,ditambah Buk Tin melihat balai pemuda yang benar dipenuhi muda mudi.
"oo ternya Yanna benar"
gumam Buk Tin yang masih setia memperhatikan anaknya dari kejauhan, Buk Tin tidak berniat mendekat takut membuat Yanna tidak nyaman dan merasa malu dengan temanya kalo didampingi, Karan dia bukan anak kecil yang harus ditemani saat bermain.
πππππππππ
π»πππ.....
π ππππππ‘ ππππ...
ππ
π·ππΎπππΊ ππππΈπΏ πΌππΌ.....
ππππππ ππππΈ, πππΌπ, π·π΄π πΏπΌπΎπΈ
ππππ π ππππππ‘ ππππ π πππ’π......
ππ€©π
ππππππ ππ’ππ πΏπΌππ πΉπ΄πππ πΌπ πππ π΅πΌππ΄ π π΄πππΌππΊ π¦ππ π ππππππ‘ππ’
ππππ
π‘πππππ π‘πππππππππ πΎπππΈπ π¦πππ ππππππππ’π πππ ππππππππ π πππ‘π π ππππ!
πππ
ππππππ ππ’ππ ππππππππ¦π
π€π€π€π€π€
ππππ ππππ¦π πππ π ππππππ ππππππππππ.
π₯°π€π₯³π
πππππππππ ππ ππππ π¦πππ π‘ππππ ππππππππ π ππππππ
ππ
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
terimakasih kepada:
yang telah setia membaca karya saya,π
semua tuluisan saya asli dari pemikiran dan imajinasi saya sendiri,yang dibumbui dengan sedikit pengalaman nyata.
π€
saya hanya penulis baru, yang awalnya coba coba namun ketagihan π€
Terimakasih yang sebesar-besarnya karena telah memberikan
LIKE, KOMENTAR DAN DUKUNGAN,π
Tanpa dukungan anda semua saya bukan apa-apa dan tidak menjadi seperti sekarang π€
jangan lupa mampir juga dicerita saya yang lain
PRAHARA CINTA
MAAFKAN AKU BUNDA
AKU, KAU DAN IBU MU
ARSIL
π
__ADS_1