
Buk Tin yang merasa tidak ada keanehan pada putri tunggalnya, berniat tuk balik ke rumah,
hatinya yang tenang kini kembali terusik saat mendengar bisik-bisik yang terdengar sayup sayup menyebut namanya,
Buk Tin mempertajam pendengaran, Karan mendengar namanya disebut dengan sedikit memiringkan kepala ke sumber suara yang sayup-sayup terbawa angin,
dengan menahan nafas Buk Tin dan tidak ada pergerakan sama sekali,
sekelompok orang
"bukan. kah itu Buk Tin, yang suaminya polisi itu?"
kata salah seorang warga yang melihat Buk Tin berdiri sendiri sembari memperhatikan anaknya.
"mana?"
tanya salah seorang yang tidak menyadarinya
"itu di sana, jangan terlalu jelas cantik ketauan!"
sanggah salah seorang memperingatkan yang lain,
"Buk Tin semakin kurus sekarang ya?"
lanjut yang lain sembari memperhatikan Buk Tin
"iya, kasihan semenjak anak nya sakit,
jadi beban pikiran!"
timpal yang lain.
"lalu ngapain Buk Tin berdiri di sana sendirian ?"
tanya salah satunya lagi.
"Ndak tau lah, jangan jangan lagi melihat seseorang kali!"
sarkas seseorang dengan sedikit menaikan sudut bibirnya.
"saya dengar sih, Yanna sakit mental,
sering teriak teriak manggil nama seorang,
kalo ndak salah nama anak Buk Dar yang di ujung kampung"
gunjing salah seorang
"kalo anak Buk Dar, namanya Deni!
tapi dengar dengar Deni itu sudah bertunangan!"
potong salah seorang lagi.
"mangkanya kalo punya anak gadis dijaga, jangan merasa oke!"
geram seseorang yang sepertinya juga sentimen dengan Yanna.
"Yanna itukan suka sama Deni,,
Deni malah menanggap Yanna sebatas teman, Ndak terima lah dia, hingga membuat otak otak bodoh nya konstlet!"
ucap salah seseorang dengan mimik wajah yang geram.
"tentu lah iya,Deni ganteng, sopan dan baik lagi.
siapa yang tidak suka, tapi suka gimana dulu?"
lanjutnya dengan senyum tips yang terukir jelas dibibir merah gibahnya,
Buk Tin yang sedari tadi menahan emosi, tanpa sadar meneteskan air mata yang telah mengenang di pelupuk matanya,
Dengan langkah gontai, Buk Tin menelusuri jalan pulang,
sangat terasa jauh dari perjalanan saat mengikuti Yanna tadi,
"sungguh tega mereka, membicarakan semua tentang Yanna!"
gumam Buk Tin dengan lirik sembari memegang dada nya yang sesak.
"kalo Yanna mendengar, apalagi yang akan menimpa mu nak?"
lirih Buk Tin dengan mata menerawang kosong ke depan.
Buk Tin dikagetkan suara klakson
"tin,, tin,, tin"
dengan tergagap Buk Tin tersadar dari lamunannya , dengan kepala tertunduk Buk Tin melanjutkan langkah lunglai menuju rumah.
berharap Yanna baik baik saja di sana..
Saat semua pemuda telah berada dalam ruangan gedung Balai pemuda,
sebagian dari mereka berbisik-bisik saat melihat Yanna hingga akinya berpura-pura dihadapan Yanna, seolah olah menjadi teman yang baik,
Yanna mengedarkan pandangan keseluruhan rungan, dan memindai satu persatu wajah para pemuda,
raut wajah Yanna yang tadi ceria berubah muram,
"kamu kenapa na?"
tanya salah seorang pemudi yang memperhatikan perubahan Yanna,
mata Yanna terlihat menukik tajam, seperti menyimpang marah,
hingga membuat mereka yang melihat Yanna jadi ngeri dan takut.
__ADS_1
kepala Yanna terus bergerak setiap ada yang datang dengan sorot mata yang menyala.
sebagian yang mengetahui kondisi Yanna merasa takut hingga mereka berpindah tempat duduk menjauh dari Yanna.
sampai rapat berakhir, Yanna tidak menemukan apa yang dicarinya, hingga hendak keluar Yanna mendengan pembicaraan dari beberapa orang
"kenapa Bang Deni tidak hadir?"
tanya. salah seorang penasaran
"maklum lah masih pengantin baru?"
sela salah seorang dengan tawa yang sulit diartikan,
sesat Yanna menaikan hidung nya dengan mata yang menukik tidak senang mendengar kata-kata itu.
Yanna seperti disambar petir ketika mendengar pemberitahuan itu,
Yanna tertegun untuk waktu yang lama,
"kapan?"gumam nya
wajah Yanna pucat pasi dan kembali menyimak semua percakapan yang membuat dirinya semakin ingin tahu.
"bukan, itu sudah pasti,
tapi bang Deni lagi dikota!"
jelas yang lain
"bulan madu?"
tanya yang lain
diikuti ketawa yang lain tanpa menyadari sedari tadi Yanna tengah menguping pembicaraan mereka,
Yanna yang sedari tadi menahan emosi, tidak bisa membendungnya, hingga Yanna menghampiri mereka yang telah selesai bicara,
"eh, tunggu!"
panggil Yanna pada mereka hingga mereka kaget dan binggung Tidan menyadari kalo ada Yanna di sana hingga mereka saling melihat satu sama lain,
"alah Mak, bakal runyam ni!"
bisik salah seorang pelan berusaha menghindar, Karan sedari tadi dia lah yang paling banyak bicara.
"tunggu"
sergap Yanna yang berhasil memegang tangan nya, perlahan dia melihat Yanna dengan senyum kecut.
"e Yanna,
apa kabar?"
tanyanya basa basi sedang kan yang lai. tampak serba sala dan diam.
Yanna menarik napas pelan,
tanya Yanna yang melototi lawan bicaranya
"Abang lagi di kota!"
Yanna yang tidak puas, menyela kembali bertanya
"apa maksud penganten baru dan bulan madu?"
tanya Yanna memperhatikan lawan bicara dengan mata yang menyala pertanda tidak suka.
"kami cuma bercanda, Yan.
tidak ada yang serius!"
sela salah seorang dari mereka melihat temanya meringis kesakitan dan menarik tangan temanya yang masih di pegang Yanna sembari menancapkan kukunya yanga panjang hingga mengeluarkan darah,
saat Yanna lengah mereka berhamburan lari menghindar dari Yanna seperti kerasukan setan.
.Yanna menjerit keras
"bajingan kalian, Anak ajing,,,,"
memekik karena ditinggal dan marah .
salah seorang dari mereka memilih memperhatikan Yanna dari jauh,
"kalian pergilah kabari orang tuanya, biar aku yang disini menunggu sampai ada yang jemput dia, pulang dengan selamat ke rumah!"
ucap pemuda yang masih mempunyai belas kasihan,
"kamu lebih baik obat bekas cakar itu, jangan sampai rabies"
ucap salah seorang dari mereka melihat tangan sabatnya.
"anjing gila, sial aku!"
umpatnya melihat tangan yang masih nyeri..
hingga salah seorang dari mereka sampai di rumah Buk Tin
Pak Nawir yang juga baru datang,
"Pak Maaf, mau bilang, kalo Yanna lagi ngamuk dibelai desa !"
ucap pemuda itu,
membuat Pak Ahmad kaget dan bergegas memutar motornya menuju balai pemuda,
Buk Tin yang kaget mendengar deru motor suaminya,
__ADS_1
"seperti motor bapak,, tapi kok tidak seperti biasanya?"
gumam Buk Tin bergegas keluar dengan wajah yang bias,
namun tidak melihat siapa siapa,
Buk Tin melangkah mendekati gerbang teringat akan Yanna yang belum pulang,
sesaat Buk Tin melihat beberapa pemuda,
"nak udah selesai pertemuannya?"
tanya Buk Tin ramah
"udah Buk, tapi Yanna melukai teman kami!"
jawab salah satu pemuda sembari menyodorkan tangan temanya memperlihatkan bekas darah.
Buk Tin meraba dadanya yang terasa sakit dan sesak.
Karana sakitnya Buk Tin merosot terduduk di pinggir gerbang,
"Pak itu Yanna di sana!"
tunjuk salah seorang yang sedari tadi menunggu Yanna dari kejauhan pada Pak Nawir
"terimakasih nak!"
ucap Pak Nawir sembari memberhentikan motornya dan pemuda itu pergi meninggalkan tempat dia berdiri,
hari semakin petang
"Yanna ayo pulang,"
ajak pak Nawir pada anaknya yang duduk dilantai dengan kondisi yang memprihatinkan, tatapan kosong,
Yanna patuh saat di papah pak Nawir menaiki motor hingga mereka sampai didepan gerbang,
"Ayo masuk Bu,!" ajak pak Nawir pada istrinya yang juga berdiri di gerbang saat mendengar deru motor yang tidak asing di pendengarannya,...
untung jalan sudah sepi saat Pak Nawir membawa Yanna pulang dan tetangga tidak ada yang memperhatikan mereka saat memasuki rumah,"
batin Pak Nawir yang memikirkan,.
tapi tanpa sepengetahuan pak Nawir ada salah seorang dari tetangga mereka yang mengintip dari balik jendela.
bersambung
π»πππ.....
π ππππππ‘ ππππ...
ππ
π·ππΎπππΊ ππππΈπΏ πΌππΌ.....
ππππππ ππππΈ, πππΌπ, π·π΄π πΏπΌπΎπΈ
ππππ π ππππππ‘ ππππ π πππ’π......
ππ€©π
ππππππ ππ’ππ πΏπΌππ πΉπ΄πππ πΌπ πππ π΅πΌππ΄ π π΄πππΌππΊ π¦ππ π ππππππ‘ππ’
ππππ
π‘πππππ π‘πππππππππ πΎπππΈπ π¦πππ ππππππππ’π πππ ππππππππ π πππ‘π π ππππ!
πππ
ππππππ ππ’ππ ππππππππ¦π
π€π€π€π€π€
ππππ ππππ¦π πππ π ππππππ ππππππππππ.
π₯°π€π₯³π
πππππππππ ππ ππππ π¦πππ π‘ππππ ππππππππ π ππππππ
ππ
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
terimakasih kepada:
yang telah setia membaca karya saya,π
semua tuluisan saya asli dari pemikiran dan imajinasi saya sendiri,yang dibumbui dengan sedikit pengalaman nyata.
π€
saya hanya penulis baru, yang awalnya coba coba namun ketagihan π€
Terimakasih yang sebesar-besarnya karena telah memberikan
LIKE, KOMENTAR DAN DUKUNGAN,π
Tanpa dukungan anda semua saya bukan apa-apa dan tidak menjadi seperti sekarang π€
jangan lupa mampir juga dicerita saya yang lain
PRAHARA CINTA
MAAFKAN AKU BUNDA
AKU, KAU DAN IBU MU
__ADS_1
ARSIL
π