PRAHARA CINTA

PRAHARA CINTA
KONDISI YANNA


__ADS_3

Yanna yang terbangun tengah mala tidak lagi bisa tidur hingga pagi.


Mata Yanna menerawang melihat langit langit kamarnya.


Tepat jam 5 pagi Ibu membuka pintu kamar Yanna,


Yanna yang sedari tadi menerawang tidak jelas tersadar saat pintu kamar terbuka.


Kreeeek..


Yanna menoleh pada pintu yang terbuka dan melihat sosok wanita paruh baya yang telah melahirkannya.


"Ibu,"


panggil Yanna lirih dan menyibak selimutnya ingin memeluk Ibu nya.


Yanna sangat kaget melihat kondisi nya yang sangat polos tanpa pakaian,


matanya melebar mulutnya ternganga,bergegas menutup tubuh polosnya dengan selimut.


Ibu yang melihat kekagetan dari putrinya bergegas memeluk sang putri,,


"ternyata Yanna ku tidak sadar dengan perbuatanya sendiri"gumam Ibu dalam hati dengan sangat sedih.


Ibu berusah tenang agar Yanna tidak merasa risih..


"Buk,ke apa Yanna bisa tidak pakai baju gini?"


pertanyaan itu meluncur dari mulut Yanna karena tidak me menyadari kejadian semalam.


"mungkin semalam kamu mersa kepanasan saat tidur,tanpa sadar melepaskan semua pakaian!"


ucap Ibu berbohong sembari mengusap kepala Yanna dengan lembut.


"udah,ayo mandi.


Ibu tunggu di ruang tengah kita sarapan bersama Bapak."


ucap Ibu melepaskannya, tersnyum sangat tulus pada Yanna yang masih sangat binggung.


Yanna yang telah memasuki kamar madi,Ibu bergegas merapikan tempat tidur dan kamar anaknya.


"Yanna,ngapain dikamar mandi,jangan ngelamun,cepat mandinya!"


seru Ibu yang tidak mendengar gemercik air jatuh.


Yanna yang tersadar dari lamunannya mendengar suara Ibu,


"iya Bu"


ucap Yanna melepaskan lilitan selimut dari tubuh polosnya.


Ibu yang masih berada dikamar Yanna sangat mengawatirkan kondisi anaknya yang seperti orang linglung.


selang beberapa detik Ibu mendengarkan air mandi Yanna,


"Yanna sepat mandi,Ibu dan Bapak tunggu tuk sarapan!"


seru Ibu yang melangkah keluar kamar putrinya tanpa mendapatkan balasan dari sang putri.


Bapak yang melihat raut wajah istrinya sangat sedih,,


Dengan memicing Kan mata,


"Buk,bagai mana kondisi Yanna?"


tanya bapak dengan suara yang bergetar..

__ADS_1


"kasihan Yanna, Pak"


ucap Ibu menghampiri suaminya.


Dengan dengan air mata yang tertahan di pelupuk mata nya,


"Yanna seperti orang linglung Pak!"


lanjut Ibu menatap Bapak yang telah memegang tangan nya dengan lembut.


"sabar ya,Bu.


Bapak akan berusaha yang terbaik tuk putri kita."


ucap Bapak menenangkan istrinya yang sangat sedih dan hancur dengan kondisi putri mereka satu satunya.


"Buk,kita harus kuat dan seolah olah tidak pernah terjadi apa apa didepan Yanna."


lanjut Bapak saat membingkai wajah istrinya.


Ibu hanya bisa meanggukan kepala menatap Bapak sangat dalam dengan mata yang telah mengalirkan air bening yang jatuh membasahi pipi tuanya.


Dengan lembut Bapak mengusap air mata di pipi istrinya dan mendaratkan ciuman.


Bapak berusaha kuat dan tenang walau hatinya juga hancur melihat kedua wanita dalam hidup yang terluka batin saat ini.


Yanna yang telah selesai mandi serta berpakaian rapi melangkah keluar kamar menuju ruangan tengah,


Yanna menatap kedua orang tuanya secara bergantian masih dengan raut wajah datar tanpa exspresi.


"Yan, sini duduk dekat Bapak,


kita sarapan bubur kacang hijau"


panggil Bapak lembut pada Yanna yang masih berdiri didepan kedua orang tuanya.


"ayo,Na.


lanjut Bapak pada Yanna sembari memasukan makanan kedalam mulut nya.


Yanna yang terlihat sangat binggung, patuh dengan panggilan Bapak dan duduk disamping Bapak dengan tatapan kosong.


Perlahan Bapak menyuapi Yanna bubur kacang hijau,Yanna membuka mulut dan mengunyah nya sangat pelan dengan tatapan kosong jauh kedepan tanpa ekspresi.


Ibu sangat hancur melihat putrinya yang kehilangan keceriaan.


Bapak yang menyadari kekwatiran Ibu,memegang tangan istinya dengan kuat dan tangan satu lagi sangat masih menyuapi Yanna memakan bubur kacang hijau.


Bapak,Ibu mengajak Yanna duduk ruangan tengah dengan tujuan agar putri mereka masakan kehangatan keluarga, hingga bisa melupakan masalah yang berkecamuk dalam pikiran anak mereka.


Yanna yang duduk diantar kedua orang tuanya hanya diam tanpa exspresi dengan tatapan mata kosong,


tiba tiba Yanna menangis begitu lirih menyayat hati kedua orang tuanya.


"hiks..hiks..hiks.."


Isak tangis Yanna dengan air mata yang jatuh seperti butiran butiran manik manik.


Ibu menghampiri putri nya,merangkul Yanna dalam pelukannya,


"menangis lah Na,jangan ditahan.


tumpahkan semuanya."


ujar Ibu dengan lirih namun tanpa sadar butiran air bening juga mengalir dari sudut mata wanita paruh baya yang memeluk Yanna saat ini.


Bapak yang tidak sanggup melihat kesedian dan luka batin kedua wanitanya, memilih pergi duduk teras dengan segala pikirannya yang sangat memusingkan kepala tuannya.

__ADS_1


"Bu, Yanna teringat akan Deni,


Yanna sangat merindukan nya Bu."


ucap Yanna pada wanita paruh baya itu, dengan menggenggam kedua tangan Ibunya didepan dada,seperti memohon.


Dengan raut wajah yang sangat sendu, wanita paruh baya itu mengusap air mata Yanna.


"Na,kamu harus bisa menerima kenyataan dan ikhlas menjalani takdir Tuhan."


ucap Ibu lirih membingkai wajah putrinya.


Tiba tiba Yanna mengibaskan tangan wanitq paruh baya itu, hingga terlepas dari pipinya.


Wanita paruh baya itu sagat mersakan


"Bu,entak kenapa hati Yanna tersa sangat sedih,serasa ada yang hilang dalam jiwa ini"


Lirih Yanna pada Ibunya yang masih memeluk Yanna.


Ibu mengerti atas kegetiran yang dirasakan putrinya saat ini.


Tiba tiba Yanna yang sedari tadi mendengar kan ucapan ibunya tertawa


ha ha ha ha


Entah apa dalam pikiran Yanna saat ini,Dia terus tertawa,tapi matanya terus mengeluarkan cair bening dari matanya.


Suara tawa Yanna keras terdengar bagi Bapak yang melamun duduk diatas korsi diluar,


Bapak masuk kedalam rumah mendekati kedua wanita yang sangat dicintainya itu.


"Ada apa ini,Buk?"


tanya Bapak dengan memegang bahu istrinya yang masih memeluk putri mereka.


Ibu yang melihat putrinya seperti itu merasa heran dan bergidik ngeri memanggil suaminya.


"Pak,bagai mana ini?"


tanya Ibu Yang melihat Yanna terus tertawa,namun,


matanya tetap mengeluarkan air mata.


Perlahan Bapak mengusap kelapa Yanna dengan lembut, Yanna merasakan kehangatan yang tulus dari Bapak, perlahan Yanna mulai tenang dan memeluk Bapaknya yang berdiri disamping nya.


Bapak yang mersa Yanna sudah tenang dan tidak lagi menangis, memapah Yanna menuju kamarnya,


membaringkan putrinya diatas kasur.


"Istirahat lah Na, Bapak akan selalu ada untuk mu!"


ucap Bapak melihat putri sematq wayang nya itu dengan mata yang berkaca-kaca,


Ibu yang berdiri dibelakang Bapak hanya bisa diam dengan mata yang berurai air mata.


......................


...๐Ÿ’“๐ŸŒนโค๏ธ...


๐‘ซ๐‘ผ๐‘ฒ๐‘ผ๐‘ต ๐‘ต๐‘ถ๐‘ฝ๐‘ฌ๐‘ณ ๐‘ฐ๐‘ต๐‘ฐ ๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐‘ฝ๐‘ถ๐‘ป๐‘ฌ, ๐‘ท๐‘ถ๐‘ฐ๐‘ต, ๐‘ซ๐‘จ๐‘ต ๐‘ณ๐‘ฐ๐‘ฒ๐‘ฌ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐’”๐’‚๐’‰๐’‚๐’ƒ๐’‚๐’• ๐’ƒ๐’‚๐’„๐’‚ ๐’”๐’†๐’Ž๐’–๐’‚ ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜๐Ÿคฉ


๐‘ฑ๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’๐’–๐’‘๐’‚ ๐‘ณ๐’Š๐’”๐’• ๐‘ญ๐‘จ๐‘ฝ๐‘ถ๐‘น๐‘ฐ๐‘ป ๐’…๐’‚๐’ ๐‘ฉ๐‘ฌ๐‘น๐‘ฐ ๐‘น๐‘จ๐‘ต๐‘ป๐‘ฐ๐‘ต๐‘ฎ ๐’š๐’‚๐’‰ ๐’”๐’‚๐’‰๐’‚๐’ƒ๐’‚๐’•๐’Œ๐’– ๐’Œ๐’–


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


๐‘ป๐’Š๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’‚๐’๐’Œ๐’‚๐’ ๐‘ฒ๐‘ถ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ต ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’๐’ˆ๐’–๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’Ž๐’†๐’๐’…๐’Š๐’…๐’Š๐’Œ ๐’”๐’†๐’“๐’•๐’‚ ๐’”๐’๐’‘๐’‚๐’ ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


๐‘จ๐’ˆ๐’‚๐’“ ๐’Œ๐’‚๐’“๐’š๐’‚ ๐’Š๐’๐’Š ๐’”๐’†๐’Ž๐’‚๐’Œ๐’Š๐’ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’Œ๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’๐’ˆ.


๐Ÿคญ๐Ÿฅฐ๐Ÿค—๐Ÿฅณ๐ŸŒž


__ADS_2