PRAHARA CINTA

PRAHARA CINTA
LANJUT ;81


__ADS_3

suara azan berkumandang di masjid AT-TAQWA, pertanda telah datang waktu subuh bagi umat muslim.


secara berangsur-angsur jalanan kembali rame oleh masyarakat yang akan menunaikan shalat berjamaah di mesjid,


saat ini Deni dan kedua orang tuanya telah berada didalam masjid,


ternyata Tampa Deni sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikannya tanpa berkedip.


Dini yang tidak menyadarinya terus shalat tahyatul mesjid dan kembali duduk di samping Pak Ahmad,


tidak ada perkataan diantara mereka, mereka hanya sibuk dengan berzikir menunggu waktu shalat berjamaah,


tepat setelah shalat berjamaah usai, semua jamaah saling bersalaman,


saat Pak Ahmad hendak berjabat tanggam dengan Pak Nawir,


Pak Ahmad sangat heran melihat Pak Nawir yang tidak berkedip memandang putranya,


tiba-tiba keheranan yang menyerang pikiran Pak Ahmad buyar seketika salah seorang dari kerabatnya menyapa,


"assalamualaikum, Ahmad.


maaf ya, kemarin saya tidak bisa datang!


ucap Pak Yudi sembari menyalami tangan Pak Ahmad.


mereka saling berjabat dan melangkah beriringan keluar masjid,


tak lupa Pak Yudi merangkul Pak Ahmad,


",selama ya!"


lanjut Pak Yudi dengan senyum yang mengembang tulus.


"terimakasih,


nanti syukuran kamu datang ya?"


balas pak Ahmad


saat di halaman masjid pak Ahmad memanggil Deni,


"Deni, ini paman Yudi!"


seru Pak Ahmad.


Deni yang menyadari panggilan Bapak serta mengenali Pak Yadi yang merupakan saudara dari bapaknya..


Deni yang sedang bersama dengan Buk Dar mendekat berbarengan.


"paman"


seru Deni sembari menjabat dan mencium tangan Pak Yudi,


"sudah besar kamu sekarang,


taunya paman mendengar kalo kamu Sudah punya istri saja!"


seru Pak Yudi dengan gembira sembari mengusap pundak Deni,


"kapan sampainya, tuan?"


tiba tiba Buk Dar bersuara menyapa saudara suaminya,


"mampir dulu ke rumah tuan"


lanjut Buk Dar ramah..


"tadi malam,karena kebetulan lagi libur,


tengok Ibuk dikampung"


jelas pak Yadi


ternyata sedari tadi ada mata yang memperhatikan mereka berempat dengan dan memasang telinga untuk mendengar percakapan mereka.


"istri?"


gumam orang yang sedari tadi berdiri di pelataran parkir mesjid.


"•••••"


matahari telah menampakkan sinarnya dan menyinari seluruh bumi untuk menemani mahluk hidup beraktivitas menjalani pekerjaan masing masing.


dengan penuh semangat Deni bersiap tuk menjemput istrinya..


ibu dan bapak 6ang memperhatikan Deni sedari tadi tertular kebagian yang terpancar dari sorot mata mereka berdua,


"sarapan dulu, Den!"


panggil ibu Dar lembut yang segera diiyakan oleh Deni.


setelah selesai sarapan Deni yang hendak pergi,


terhenti saat bapak memanggil,


"Deni,ingat.


Dini masih sekolah, kamu harus bisa mengerti!"


nasehat Bapak yang di anggukan oleh ibu,


Deni yang faham, tersenyum senyum sembari melihat bapak,


bapak pun ikut tersenyum melihat tingkah anaknya.

__ADS_1


"iya Pak,


tapi nyoba bolehkan pak?"


lanjut Deni dengan mengedipkan matanya yang mendapat pukulan dari Ibuk Dar,


hingga bapak dan Deni tertawa bersama, kedua pria beda usia itu dan bersitatap,


tak lupa Pak Ahmad mengacungkan jempol dengan senyum yang memperlihatkan deretan giginya..


"iya juga,


mana ada kucing dikasih ikan, cuma dilihat saja!"


kelakar Pak Ahmad


"Bapak"


panggil Buk Dar yang membulatkan mata melihat suaminya.


akinya ketawa bapak pecah di ruangan sederhana itu.


hingga Ibuk Dar ikut senyum malu mendengar perkataan suaminya..


"ingat umur pak"


lanjut Ibu Dar,


"ingat Deni, jangan lupakan semua nasehat ibu."


lanjut Buk Dar melihat anak nya.


Deni berpamitan sembari mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


•••••


Pagi ini Dini telah bersiap tuk sekolah menghadapi ujian kenaikan sekolah.


setelah berpakaian seragam yang rapi, Dini keluar kamar dan duduk diantara Ayah dan bunda yang telah menunggunya tuk sarapan..


"pagi ayah, Bunda!"


seru Dini dengan ceria seperti biasnya.


mereka sarapan bersama tanpa ada pembicaraan.


Dini yang telah memasang sepatu,


"mencium kedua punggung tangan Ayah dan Bunda secara bergantian tuk pamit sekolah.


"Yah, Nda, do'a in ya,


biar Dini bisa dapat ujian!"


seru Dini sembari memohon.


seru Bunda yang merangkul anak gadisnya tuk di peluk dan Ayah membelai kepala Dini dengan lembut.


mereka saling lihat saat mendengar sebuah motor berhenti didepan rumah,


"itu menantu Ayah sudah datang!"


ucap ayah dengan gembira yang berharap kalo yang datang memang Deni.


Bunda yang membuka pintu tersenyum lebar menunjukan kebahagian dari wajah yang masih terlihat cantik diusia yang sudah mulai menua.


"Bunda"


seru Deni sembari memegang Takan kanan mertuanya dan mencium punggung tangan bunda.


"Ayah"


lanjut Deni saat bertatap dengan ayah mertua.


"masuk dulu Nak Deni"


ajak Bunda, namun dipotong oleh Dini.


"jangan, Dini nanti telat, kan ujian!"


sungut Dini dengan cemberut,


terlihat lucu bagi Ayah, Bunda serta Deni,


hingga ketiga orang itu tertawa bersama yang membuat Dini salah tingkah, hingga memeriksa penampilannya.


"emang ada Yanga aneh?"


tanya Dini bingung karena merasa ditertawakan ketiga orang ada diantara nya..


"ngak, sayang,sudah cantik!"


seru Ayah sembari membelai lembut kepala putrinya.


hingga Deni dan Dini Pamit


"hati hati, semangat ijin nya!"


seru Bunda menyemangati Sanga putri tunggal.


Di perjalan tidak ada pembicaraan antara Dini dan Deni, karena Deni mendengar Dini sedang mengulang ulang pelajarannya.


sesampai. di gerbang, Dini turun dari motor Deni,


"semangat sayang"

__ADS_1


seru Deni sembari menatap Dini lembut tak lupa mengusap puncak kepala sang istri kecilnya..


hingga pipi Dini bersemu merah.


"iya,, maskasih Abang"


balas Dini tersenyum sembari mencium punggung tangan kanan Deni.


Deni memperhatikan punggung Dini yang menjauh menuju Hamam sekolah.


sedari tadi ada seseorang yang senyum senyum memperhatikan pasangan pengantin baru itu yang terus berdeham,


"hmm,


hmm,"


setalah punggung Dini tidak terlihat lagi, Deni mengalikan pandangannya ke sumber deheman 6ang sedari tadi menggangu rongga telinga nya hingga memekakkan kan gendang telinga..


Deni semakin mendekat, membuat orang itu


"cie cie, yang sudah menikmati indah malam pertama"


celetuknya dengan riang penuh tawa


"hahaha"


Deni yang telah berada di dalam kedai foto copy nya,


hanya tersenyum melihat tingkah Bio yang sedari tadi menggodanya..


"bagai mana bang?"


enak ya"


lanjut Bio,


iya sedari tadi yang menggangu Deni saat bersama dengan Dini didepan gerbang sekolah adalah Bio saudara jauh Deni..


Deni yang mendengar pertanyaan Bio,


menoleh sembari menggantungkan jaketnya,


dan hanya tersenyum sembari meminum air mineral..


"duh ke ingat Yuly, Aku bang!"


seru Boi dengan senyum yang sulit diartikan dengan sorot mata yang berbinar.


hingga Bio meringis kesakitan saat kepalanya di pukul oleh Deni menggunakan gulungan kertas karton.


."aduh sakit Bang"


Bio sedikit berteriak sembari mengusap kepalanya..


"bayangin apa kamu?


aa!"


lanjut Deni memindai wajah Bio yang kembali cengengesan dengan kedua tangan diarahkan ke depan seorang olah sedang meraba raba.


"jangan macam-macam kamu"


lanjut Deni sembari melempar Bio kembali dengan kertas yang ada.


"cuma satu macam bang"


seru Bio yang teringat akan kejadian yang dia lakukan bersama Uly sore kemarin.


tiba tiba Bio ketawa lepas hingga Deni kembali memperhatikan saudara jauhnya itu,


namun tidak ingin lebih tau lagi.


Deni melanjutkan pekerjaan nya, tuk menerima persiapan barang nya yang telah habis serta memeriksa pembukuan...


••••


𝐻𝑎𝑖𝑖.....


𝑠𝑎𝒉𝑎𝑏𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑐𝑎...


😊😊


𝐷𝑈𝐾𝑈𝑁𝐺 𝑁𝑂𝑉𝐸𝐿 𝐼𝑁𝐼.....


𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑉𝑂𝑇𝐸, 𝑃𝑂𝐼𝑁, 𝐷𝐴𝑁 𝐿𝐼𝐾𝐸


𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑎𝒉𝑎𝑏𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑐𝑎 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎......


😉🤩😍


𝑗𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑙𝑢𝑝𝑎 𝐿𝐼𝑆𝑇 𝐹𝐴𝑉𝑂𝑅𝐼𝑇 𝑑𝑎𝑛 𝐵𝐼𝑆𝐴 𝑅𝐴𝑁𝑇𝐼𝑁𝐺 𝑦𝑎𝒉 𝑠𝑎𝒉𝑎𝑏𝑎𝑡𝑘𝑢


🙏🙏🙏🙏


𝑡𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙𝑘𝑎𝑛 𝐾𝑂𝑀𝐸𝑁 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑖𝑑𝑖𝑘 𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑠𝑜𝑝𝑎𝑛!


😘😘😘


𝑗𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑙𝑢𝑝𝑎 𝒉𝑎𝑑𝑖𝑎𝒉𝑛𝑦𝑎


🤭🤭🤭🤭🤭


𝑎𝑔𝑎𝑟 𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎 𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑒𝑚𝑎𝑘𝑖𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔.


🥰🤗🥳🌞

__ADS_1


𝑇𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑘𝑎𝑠𝑖𝒉 𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑙𝑎𝒉 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑒𝑛𝑎𝑛 𝑠𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝒉


💖💋


__ADS_2