
Didalam ruangan setelah selesai menjamu tamu yang datang di acara pertunangan Dini dan Deni.
Ayah yang sedari tadi memperhatikan anak gadisnya dengan tatapan kasih sayang tulus dan bergantian memperhatikan calon menantunya.
Setelah melihat perhatian dan ketulusan serta kesungguhan Deni pada anak gadisnya,
Tiba tiba Ayah mengeluarkan suara.
"Bagai mana kalo kita nikah kan saja kedua anak kita"
ucap Ayah menatap Bapak Deni
dengan serius.
karena Ayah ingin melihat putri tunggal yang sangat disayanginya ada 6ang menjada dan melindunginya kelak jika sesewaktu Ayah telah tiada.
Ruangan keluarga Dini yang dipenuhi kerabat kedua belah keluarga,
semuanya merasa kaget.
Diantara mereka saling lihat dan menatap kearah Deni dan Dini dengan senyum bahagia.
Dini melihat Ayahnya dengan sangat terkejut,
Dini beralih melihat Bunda yang duduk diantar Ayah dan dirinya.
Bunda yang telah mengetahui keinginan suaminya meraih tangan Dini.
Bunda menggenggam tangan Dini,
bertujuan agar anaknya tetap tenang.
Bunda yang merasakan kegugupan putrinya saat memegang tangan Dini yang dingin melihat dan mengerjapkan mata pada putrinya.
kilas balik.
Malam sebelumnya.
Ayah yang bersiap istirahat setelah memakan obat yang diberikan Bunda.
"Bun,duduk sini!"
ucap Ayah melihat istrinya yang baru saja selesai merapikan bungkus obat dan menyimpan obat dengan hati hati dalam lemari kecil yang berada tepat disebelah ranjang mereka.
Bunda yang sangat patuh, duduk disisi Ayah yang telah bersandar di atas kepala ranjang.
"Ada apa,Yah?"
ucap Bunda lembut sembari memijit lembut tangan suaminya.
Ayah memegang tangan istrinya dengan lembut dan menggenggam dengan erat.
"Bun,Ayah,....!"
ucapan Ayah tertahan dan melihat Bunda dengan tatapan yang sangat teduh.
"Ayah,mau ngomong sesuatu?"
Sela Bunda pada Ayah sembari melihat manik mata suaminya yang sedari tadi melihat padanya.
"Iya,Bun.
Ayah,harap Bunda bisa menerima dan menyetujuinya."
lanjut Ayah sembari membingkai wajah istrinya.
Bunda merasa ada yang aneh dari sikap suaminya,
Bunda yang merasa heran berusaha tenang dan menganggukkan kepalanya.
Ayah yang melihat anggukan kepala Bunda,
Ayah tersenyum sembari mencium puncak kepal istrinya dan merangkul bunda kedalam pelukan tubuh Ayah yang masih terlihat kekar diusianya yang sudah mulai tua dan menyimpan penyakit jantung.
Perlahan Ayah mengurai pelukannya pada wanita yang sangat dicintainya itu,
"Bun,besok setelah pertunangan Dini dan Deni,
Ayah ingin menikah kan mereka secara Agam."
ucap Ayah dengan sangat yakin dan penuh harap,
mendapat persetujuan dari belahan jiwanya yang telah setia selama ini mendampingi dan mendukung setiap kegiatannya..
Bunda yang mendengar ucapan Ayah sangat terkejut dan menatap manik mata pria paruh baya yang sangat dicintainya itu mencari kesungguhan dalam ucapnya.
Bunda yang melihat harapan di mata pria paruh baya yang masih terlihat gagah di usia tuanya,
__ADS_1
hanya bisa tersenyum tips kembali berujar.
"apa Ayah sudah yakin,
Dini kita masi kecil."
lanjut Bunda berbicara dengan sangat hati hati., suara yang lembut, begitu indah terdengar di rongga telinga pak Sofyan.
"Bun,Ayah ingin menghabiskan sisa waktu ini berdua dengan mu,"
ucap Ayah yang telah menggenggam erat kedua tangan istrinya.
"Ayah, ingin pergi dengan tenang dan meninggalkan Dini dengan seseorang yang kelak bisa menjaga dan melindunginya dengan tulus."
lanjut Ayah sembari merangkul bahu bunda dan menyadarkan kepala Bunda di dadanya.
Saat mendengar keinginan pria yang selama ini menjadi teman hidupnya dalam suka maupun duka,
Bunda hanya diam saat bersandar di dada bidang suaminya dengan Nitikan air mata yang telah tertahan sedari tadi di pelupuk matanya.
Ayah yang merasakan getaran tubuh istrinya dengan tangis yang terisak,perlahan merenggangkan pelukan,
Dengan lembut Ayah mengusap air mata wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusia tuanya.
"jangan menangis Bun,
nantik cantiknya hilang,"
ucap Ayah sembari mencium kedua pipi Istrinya.,
hingga membuat Bunda Mery senyum senyum tersipu malu.
Bunda melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh pria yang ada dihadapan nya
"Ayah,berjanji tidak akan pernah meninggalkan Bunda."
lirihnya dalam pelukan suaminya.
Perlahan Ayah mengusap punggung istinya dan membalas pelukan istrinya.
"Ayah berjanji Bun,
tapi takdir Tuhan lah yang terbaik.
Kita harus ikhlas menjalani nya."
karena wanita paruh baya itu yang telah melahirkan dan melayaninya selama ini dengan sabar dan ikhlas.
kilas Bali terhenti.
Bapak sangat kaget mendengar ucapan Ayah yang sangat tiba tiba ,dan tidak ada dalam pembicaraan sebelum nya saat dua keluarga mengadakan pertemuan waktu itu.
Bapak hanya bisa diam dalam keterkejutannya..
Bapak hanya bisa menatap Ayah Dini, entah apa yang ada dalam pikiran Pak Ahmad saat ini
Deni yang mendengarkan keinginan calon mertuanya merasa kaget dan senang,
semua perasaannya bercampur aduk didalam jiwa dan pikiran Deni,
saat ini Deni menatap calon mertua nya sangat dalam.
Bapak yang masih kaget mengalihkan pandangan nya melihat sosok Istri dan anak laki laki semata wayangnya.
Ibu yang menyadari kebingungan dari suaminya,hanya bisa terdiam.
perlahan Ibu mengalihkan pandangan melihat anaknya yang duduk tepat dihadapannya.
Ibu yang melihat kebahagian yang terpancar jelas dari raut wajah Deni,
kembali melihat Bapak dan mengedipkan mata sembari menganggukkan kepalanya pelan,
pertanda menyetujui keinginan Ayah Dini.
Yang Ibu Dar tau saat ini Deni terlihat bahagia ,
dan memancarkan kesungguhan,
Buk Dar hanya bisa mendukung anaknya.
Bapak yang paham atas anggukan istrinya,
"Kalo itu keinginan dari Ayah nak Dini,
saya dengan senang hati menerimanya!"
tutur Bapak melihat Ayah Dini.
__ADS_1
"Tapi alangkah baiknya kita bertanya pendapat dari kedua anak kita,
karena yang akan menjalani mereka."
tutur Bapak Ahmad sangat hati hati melihat besannya dan mengalihkan pandangan pada Deni dan Dini yang duduk bersanding sedari tadi.
Deni yang paham dan mengerti dari ucapan pria paruh baya yang selama ini menjadi panutannya, dan idolanya itu,.mengulas senyum yang terukir disudut bibirnya
saat Deni ditanya, tanpa ragu Dengan mantap Deni menerima keinginan Ayah.
Dengan terlebih dahulu melihat gadis yang sedari tadi duduk disampingnya.
"Abang disi untuk dirimu, berharap menjadi tujuan dalam hidup Abanh.
setelah Allah dan Nabi.
Abang ingin kamu menjadi perhiasan terindah dalam hidup Abang,
yang kelak kita akan bersama mengarungi rumah tangga,menggapai ridho_Nya."
ucap Deni pada gadis yang selama ini sangat dicintainya.
"Dini,jadilah pendamping hidup Abang."
lanjut Deni sembari menggenggam jemari Dini.
semua orang yang ada diruang itu langsung melihat Dini untuk mengetahui jawaban gadis kecil itu.
"Bagai mana Dini?
Apa kamu menerima lamaran Deni?"
Ayah Dini bertanya pada anaknya.
Dini yang mendengar pertanyaan Ayah,
Melihat Bunda yang berada disampingnya.
"Bun,"
Lirih Dini melihat wanita paruh baya yang telah melahirkannya.
Bunda menatap manik hitam putrinya dengan lembut,
perlahan Dini menganggukkan kepala setelah wanita paruh baya itu mengusap punggungnya.
Semua orang lantas merasa senang,
Bunda memeluk putrinya dengan sangat lembut,
"Ayah dan bundanya bangga dengan keputusan mu,
kamu telah memberikan kebahagiaan tuk Ayah dan bunda."
Bisik Bunda ditelinga putri nya,
Dini yang mendengar bisikan Bundanya mengalikan air bening dari matanya.
Ayah terlihat bahagia dengan mata yang berkaca-kaca.
Deni saat itu perasaannya seperti sedangkan mendapatkan lotre yang banyak,
tak henti-hentinya senyum mengembang di bibir tipisnya,
Deni sungguh bahagia tidak bisa diucapkan dengan kata kata.
......................
ππΉβ€οΈ
π·ππΎπππΊ ππππΈπΏ πΌππΌ ππππππ ππππΈ, πππΌπ, π·π΄π πΏπΌπΎπΈ ππππ π ππππππ‘ ππππ π πππ’π.....
ππ€©π
ππππππ ππ’ππ πΏπΌππ πΉπ΄πππ πΌπ πππ π΅πΈπ πΌ π π΄πππΌππΊ π¦ππ π ππππππ‘ππ’
ππππ
ππππππ π‘πππππππππ πΎπππΈπ π¦πππ ππππππππ’ππππππππππππ π πππ‘π π ππππ
πππ
ππππ ππππ¦π πππ π ππππππ ππππππππππ
π€π₯°π€π₯³π
πππππππππ ππππ
__ADS_1