
sedangkan di rumah yang cukup besar dan pekarangan yang luas, ada Seorang gadis yang merasakan dirinya sedih tanpa lawan yang jelas,
yang dia rasakan hatinya terasa Sangat tidak menentu, terasa jiwanya sangat gamang,
hingga gadis itu tidak mampu membendung kesedihan yang berujung.
entah apa penyebabnya tapi dia sendiri tidak dapat memahami serasa sebagian jiwanya hilang melayang,
itu yang amat dirasakan hingga malam menjelang,
gadis itu masih tetap murung dan sesekali menjerit pilu,
hingga malam semakin larut gadis itu masih duduk dengan kondisi yang sangat memprihatinkan disudut kamar dengan memeluk kedua lutut yang dirangkul ke depan dadanya..
sedari pagi rumah besar itu terlihat suram dan sangat angker bagi sebagian orang yang lewat, karena mendengar rintihan dan jeritan dari dalam. yang sangat membuat hati tersayat sembilu dan terkadang terasa mengerikan dengan ketawa yang melengking,
namun tak ada satupun yang berani menghampiri atau pun untuk bertanya, karena pintu yang tertutup rapat, gorden yang tak kunjung terbuka.
seolah olah rumah itu sedang kosong.
padahal didalamnya ada sepasang suami istri dan satu anak gadis tunggal mereka yang sedang menderita karena cintanya tidak terbalas oleh pujaan hatinya.
Ya gadis itu Yanna putri dari pasangan Buk Tin dan pak Nawir.
Buk Tin orang yang sangat baik, terkenal ramah dilingkungan tempat tinggalnya
namun sudah hampir satu tahun ini Buk Tin semakin menutup diri dari masyarakat dan sering menghindar saat ada kegiatan di
kampung.
sedangkan Pak Nawir seorang perwira polisi yang sangat disegani di kalangan masyarakat,
namun sudah hampir satu tahun Pak Nawir telah jarang menampakan jati dirinya di sekitar lingkungan tempat tinggal,
dulu walau jarang di rumah, sebaliknya pulang Pak Nawir, akan selalu dengan ramah menyapa tetangga dan ikut dalam kegiatan Goro kampung.
namun akhir akhir ini Pak Nawir akan keluar rumah diwaktu subuh dan kembali ke rumah di waktu hari sudah gelap,
Buk Tin yang biasanya tampil cantik, sekarang semakin lusuh ditambah dengan wajah yang telah mempunyai kerutan di ujung matanya, hingga menambah kesan tua termakan usia.
tidak jauh berbeda dari Pak Nawir yang tidak lagi setampan dan tubuh tidak segempal dulu, karena beban pikiran yang selalu menjalar di saraf kepalanya memikirkan nasib putri semata wayang yang selama ini memanjakannya..
Yanna yang kelelahan tertidur disudut kamar dengan menyadarkan kepalanya Kedinding salah satu lemari bajunya..
terlihat wajahnya sedih dengan mata yang bengkak karena tidak berhenti mengeluarkan air mata..
Pak Nawir dan istrinya yang berada ujung pintu kamar hanya bisa melihat dengan sedih kondisi putri mereka,,
"biarkan Yanna tertidur buk!"
seru Pak Nawir sembari merangkul pundak Buk Tin tuk meninggalkan kamar Yanna yang berserakan.
"tapi Pak, kasihan Yanna!"
lirih Buk Tin yang tidak tega melihat anak nya meringkuk tanpa alas dan selimut.
"nanti Yanna terganggu dan bangun,
malah dia akan kembali menangis,
biarkan sajalah dulu Buk,
agar anak kita bisa istirahat!"
seru Pak Nawir dengan suara yang bergetar sembari menenangkan isterinya.
sesungguhnya kondisi Pak Nawir juga tidak baik baik,
beliau juga hancur saat ini, tapi harus tetap kuat dihadapan kedua wanita yang dicintainya,
sebenarnya Pak Nawir sangar hancur dan kecewa melihat keluarga yang dibinanya selama ini hancur perlahan namun pasti disaat putri semata wayangnya mengalami depresi yang karena cinta buta..
__ADS_1
"Ibuk harus istirahat,
nanti ibu sakit,
ucap Pak Nawir yang menuntun istrinya naik keranjang dan menutup sebagian tubuh istrinya dengan selimut,
kemudian Pak Nawir menyusul berbaring di sisi istrinya.
namun mata kedua pasangan yang mulai menua itu tidak mau terpejam, merak hanya Sling diam, menatap langit-langit kamar,
Pak Nawir yang melihat air mata mengalir di sudut mata isterinya, dengan lembut mengusap pipi wanita yang dulu sangat cantik dimasa mudanya.
sedangkan mata Pak Nawir berkaca karena menahan butiran bening yang tertahan di pelupuk mata lelahnya..
"kenapa Ibuk belum tidur?"
tanya Pak Nawir lembut pada wanita yang berbaring disisinya,
Buk Tin memerengkan tubuhnya menghadap Pak Nawir,
"Pak, apa yang akan terjadi pada anak kita?"
tanya Buk Tin dengan tangis yang terisak.
tanpa kata-kata, Pak Nawir hanya bisa memeluk istrinya,karena dia pun tidak tau kedepannya.
"Buk, tadi Bapak pulang dari kota...
mendengar kalo Deni bertunangan,"
tiba tiba Pak Nawir menceraikan apa yang didengarnya tadi
walau dia sudah berjanji dalam dirinya untuk menyimpannya sendiri.
seketika Buk Tin Dudu dan memegang dadanya yang begitu nyeri, mendengar penuturan suaminya,
karena bayangan anaknya yang sedari tadi pagi menangis tanpa alasan berkelebat di rongga matanya dan menari nari didalam ingatnya.
aku pasti akan semakin hancur dan sakit"
rintih Buk Tin membayangkan wajah putrinya.
"apakah itu Deni yang sama selama ini selalu dicerminkan Yann, Buk?"
tanya Pak Nawir memastikan,
walau perih tapi dia ingin tau.
Buk Tin yang tak sanggup lagi menahan denyut kepalanya merebahkan dada di dada suaminya,
"Pak bawa kami pindah dari sini!"
lirih Buk Tin dengan sangat lemah.
Pak Nawir hanya bisa menguap punggung istrinya yang bergetar,
karena saat ini pikirannya juga kalut.
Tiba tiba, Buk Tin mendengan teriakan anaknya dari kamar yang berhadapan dengan kamarnya,,
Buk Tin dan Pak Nawir bergegas bangkit, namun sayang Buk Tin yang kondisinya sudah tidak stabil terjatuh menghantam tepi ranjang hingga kepalanya berdarah,,
namun Buk Tin tidak mempedulikan kondisinya.
saat itu Pak Nawir semakin panik dan menjambak rambutnya,
"karma apa yang aku terima?"
lirih Pak Nawir
"aku tidak becus"
__ADS_1
lanjut Pak Nawir dan berusaha bangkit menyusul istrinya.
saat sampai di depan kamar Yanna, Pak Nawir
hanya bisa terpaku saat melihat istrinya saling berpelukan dengan putri mereka.
hatinya hancur saat melihat kedua wanitanya dalam kondisi yang memilukan dan tak berdaya..
Yanna yang melihat bayang bapak nya tersenyum, dan bangun tuk menghampiri Bapak,
yang yang telah berada didepan bapak memeluk erat Bapak nya,
"bapak kemana,kok pulang telat terus?"
gumam Yanna yang semakin menyayat hati Pak Nawir.
Pak Nawir mengusap kepala putra nya dengan lembut,
"ini sudah dini hari, tidurlah"
ucap Pak Nawir pada anaknya dengan mendudukkan Yanna di atas tempat tidurnya..
Yanna memegangi tangan Bapak nya,
"pak,,apa boleh Yanna minta sesuatu?"
tanya nya tiba tiba hingga pak Nawir menatap anak nya dengan lekat tanpa berkedip..
"mintalah, tapi kalo bapak sanggup, pasti akan bapak kabulkan!"
ucap Pak Nawir dengan getir, karena dia tau Yanna akan meminta yang tidak masuk diakal.
perlahan Yanna tersenyum melihat bapak dan kembali memeluk Bapak dengan maja layak nya seorang anak, yang selalu menganggap kalo bapak adalah super hiro..
menjelang sangfajar muncul di ufuk timur, tepat jam 4 dini hari Yanna tertidur didampingi. kedua orang tuanya.
Yanna tidur dengan nyenyak bagaikan anak kecil tanpa beban.
karena terlalu lelah beban mental dan pikiran akhirnya Pak Nawir dan Buk Tin juga tertidur di tepi ranjang Yanna.... hingga pagi menjelang.
π»πππ.....
π ππππππ‘ ππππ...
ππ
π·ππΎπππΊ ππππΈπΏ πΌππΌ.....
ππππππ ππππΈ, πππΌπ, π·π΄π πΏπΌπΎπΈ
ππππ π ππππππ‘ ππππ π πππ’π......
ππ€©π
ππππππ ππ’ππ πΏπΌππ πΉπ΄πππ πΌπ πππ π΅πΌππ΄ π π΄πππΌππΊ π¦ππ π ππππππ‘ππ’
ππππ
π‘πππππ π‘πππππππππ πΎπππΈπ π¦πππ ππππππππ’π πππ ππππππππ π πππ‘π π ππππ!
πππ
ππππππ ππ’ππ ππππππππ¦π
π€π€π€π€π€
ππππ ππππ¦π πππ π ππππππ ππππππππππ.
π₯°π€π₯³π
πππππππππ ππ ππππ π¦πππ π‘ππππ ππππππππ π ππππππ
__ADS_1
ππ