
"sini sayang"
panggil Ayah pada Dini dengan tatapan mata yang teduh.
Dini yang dipanggil Ayah berjalan sembari melihat Bunda dan Deni yang sekarang berstatus suaminya,
"ayo sini duduk!"
panggil Bunda pada Anaknya yang terlihat gugup sembari menggeser korosi yang yang terletak diantara ayah dan Bunda.
Mereka duduk bersama di depan meja bundar sembari memakan goreng pisang yang sedari tadi di bikin bunda di dapur.
Tidak ada keanggunqgan diantara mereka,
Deni Suga sudah merasa nyaman bersama keluarga barunya.
tidak ada jarak dan sekat yang memisahkan antara ayah dan bunda pada menyatu nya,
karena dari awal Ayah dan bunda memang telah memperlakukan Deni seperti anak mereka..
Tak terasa hari sudah semakin petang,
sinar jingga telah berlangsung kembali kedalam peraduannya,
Deni yang kala itu teringat akan Angga,
karyawan nya yang berada didekat pasar mohon izin pamit,
"Ayah, Bunda"
ujar Deni dengan sopan
mendengar kedua pasangan suami 8stri senior itu melihat kearah Deni,
"Deni, pamit sebentar!"
ucap Deni namun belum selesai telah tertahan
"emang nya mau keamanan,
ini kan udah sore!"
seru Ayah sembari melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
Bunda hanya terdiam dan tidak punya kata kata,
dan memegangi tangan Dini yang masih duduk di antara mereka,
Dini terlihat santai tidak ada masalah hingga menimbulkan kebingungan bagi kedua orang tuanya.
"ini anak, dasar masih bocah!"
gumam Ayah melihat Dini yang tidak ada reaksi sama sekali saat suaminya mintak izin pergi..
"kamu ini masih terlalu polos"
"gumam bunda dalam hati pada Dini sembari memberikan kode dengan gerakan kecil di bibir,
Dini yang tidak faham semakin bingung dengan kode kode dari Bunda.
"iya Yah,
Deni harus melihat kedai yang dekat pasar dulu,
nanti kasihan Angga kerepotan saat tutup!"
lanjut Deni sembari tersenyum melihat tingkah kedua mertuanya ditambah lagi dengan ekspresi istrinya yang terlihat lucu bagi Deni.
"OOO,"
suara Ayah dan Bunda bersaman yang merasa lega mendengar penuturan menantunya,
Dini yang sedari tadi bingung dengan tingkah kedua orang tuanya,
tiba tiba tertawa tapi menutup mulut dengan kedua tangan tangan nya,
"hahah,
kenapa ayah sama bunda kayak paduan suara gitu?"
lanjut Dini berseru melihat kedua orang tuanya yang juga ikut tersenyum dan melangkah meninggalkan anak dan menantunya,
"ayah ke depan dulu sama Bunda,"
ujar Ayah sembari berjalan yang diikuti oleh Bunda hingga tertinggal sepasang pengantin baru berdua an saja,
mereka yang tadi berdiri kembali duduk
"dek, Abang pergi bentar ya!"
ucap Deni lembut dengan tangan yang masih menggenggam tangan Dini.
Dini tersenyum dengan anggukan karena hatinya yang berdesir dada yang berdebar,
"iya hati hati"
lirih Dini pelan 6ang diikuti Sebuah ciuman dipunggung tangan Deni,
saat mereka menuju pintu rumah,
mereka tidak melihat kedua pasangan suami istri senior dimana pun,
hingga dengan leluasa tanpa canggung Deni mendaratkan ciuman di puncak kepala Dini,
"tunggu Abang ya!"
lanjut Deni sembari membelai pipi mulus istrinya yang merona merah.
__ADS_1
setelah Dini tidak lagi melihat punggung Deni,
dia menutup pintu dan berjalan menuju kamarnya.
Di dalam kamar Dini melihat dirinya di depan cermin,
sembari tersenyum mengusap pipi yang tadi dibelai oleh Deni.
sesat kemudian Dini melanjutkan kegiatan belajarnya karena besok masih ada ujian.
Di-rumah Mita terlihat lesu dan tidak bersemangat sama sekali,
karena Mita teringat akan Alam dan terlebih seharian ini Mita tida ada lihat bayangan laki laki yang sangat dikaguminya itu.
Mita yang sedari tadi hanya melamun dengan muka yang cemberut, tiba tiba dikagetkan oleh adik nya hingga membuat Mita kesal,
"kakak"
teriak Alan sembari berteriak mendorong pintu kamar yang tidak tertipu rapat,
Alan sengaja melakukan itu karena sudah tiga kali dia bolak balik didepan kamar sang kakak dan memperhatikan kalo kakaknya gelisah dan sedang tidak baik-baik.
"kamu apaan sih,
bikin kaget!"
sungut Mita dengan mata uang melotot sangat marah
"idih kakak,
seram tau kayak itu!"
lanjut Alam yang masih berdiri diambang pintu kamar Mita,
Mita yang semakin kesal melempar bantal pada Alan,
"ye,, nggak kenal!"
ejek Alan riang sembari menjulurkan lidah hingga Mita mengejar adiknya,
akhirnya terjadilah drama kejar kejaran antara adik kakak itu dan keributan suara Mita menggema di dalam rumah yang bisa dibilang cukup besar.
"Duh, kalian ini sudah pada besar masih aja berantem!"
tegur wanita cantik yang melahirkan Mita dan Alan sembari menahan tangan Mita yang hendak melempat Alan dengan bantal kursi.
"ini lagi, bukanya beresin rumah, malah bikin berantakan!"
omel Ibu Dewi.
"Alan tu, Bu"
cicit Mita yang masih kesal pada Adiknya.
"kakak jelek"
"Alan"
seru Ibu Dewi sembari melihat anak bungsunya.
Ibu Dewi adalah ibu yang lembut tapi tegas , kedua anaknya sangat patuh dan menurut padanya.
Beda dengan bapak Bambang yang sangat pemarah hingga ada jarak diantara mereka.
"iya ibu ku yang cantik!"
seru Alan sembari mengangkat kedua tangan keatas pertanda kalo dia sudah selesai.
tiba tiba Alan menjerit saat terasa perih di pinggangnya, karena Mita yang mencubit sangat kecil,
"auu,, sakit"
ucap Alan meraba pinggangnya
sesaat kemudian Alan tersenyum,
"kak kuku itu dipotong, kalo ada kuman bisa parah ni pinggang, Alan"
teriak Alan yang masih berdiri di tempatnya sembari melihat kakaknya yang kembali masuk kedalam kamar.
"kenapa kamu ganggu Kakak lagi?"
tanya buk Dewi pada pria yang baru beranjak remaja itu saat mereka telah duduk disalah satu sopa yang baru seka di bereskan nya.
"itu kakak dari tadi terlihat gelisah dan tidak baik baik,
Mending di ganggu biar gak ngelamun dan kesambet setan,"
ujar Alan pada ibu Dewi
"mungkin kakak mu lagi mikirin ujiannya kali?"
timpal Buk Dewi yang penasaran dengan penuturan Alan.
"jangan jangan kakak datang bulan"
timpal Alan santai dengan memukul keningnya.
"pantas aja tadi emosian"
lanjutnya dengan mulut yang ditarik kesamping.
Buk Dewi hanya bisa tersenyum mengingat tingkah kedua anaknya,
"mangkanya jangan ganggu kakak dan wanita yang lagi ada tamu bulannya, nanti kamu repot sendiri."
ujar Ibu Dewi sembari mengusap punggung Alan,
__ADS_1
bangkit dari duduk saat mendengar bunyi bel rumah
"Ting tong"
Alan juga beranjak menuju kamarnya.
π»πππ.....
π ππππππ‘ ππππ...
ππ
π·ππΎπππΊ ππππΈπΏ πΌππΌ.....
ππππππ ππππΈ, πππΌπ, π·π΄π πΏπΌπΎπΈ
ππππ π ππππππ‘ ππππ π πππ’π......
ππ€©π
ππππππ ππ’ππ πΏπΌππ πΉπ΄πππ πΌπ πππ π΅πΌππ΄ π π΄πππΌππΊ π¦ππ π ππππππ‘ππ’
ππππ
π‘πππππ π‘πππππππππ πΎπππΈπ π¦πππ ππππππππ’π πππ ππππππππ π πππ‘π π ππππ!
πππ
ππππππ ππ’ππ ππππππππ¦π
π€π€π€π€π€
ππππ ππππ¦π πππ π ππππππ ππππππππππ.
π₯°π€π₯³π
πππππππππ ππ ππππ π¦πππ π‘ππππ ππππππππ π ππππππ
ππ
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
terimakasih kepada:
~lien machan~
adera14
Hamidah ajj, π
Ana. 090471
indristyππ
Asih Thea
Herlina
Erlin
Cantika Ahtania
Marsya Kirana
Beatrix Meichu
Uthi Nana
Junemoment
Pai Konyal
Labuh Ardianto
Vinilla attack
margoandme
TripleAdorable
Eli Usada
random acts of pastel
yang telah setia membaca karya saya,π
semua tuluisan saya asli dari pemikiran dan imajinasi saya sendiri,yang dibumbui dengan sedikit pengalaman nyata.
π€
saya hanya penulis baru, yang awalnya coba coba namun ketagihan π€
Terimakasih yang sebesar-besarnya karena telah memberikan
LIKE, KOMENTAR DAN DUKUNGAN,π
Tanpa dukungan anda semua saya bukan apa-apa dan tidak menjadi seperti sekarang π€
jangan lupa mampir juga dicerita saya yang lain
PRAHARA CINTA
MAAFKAN AKU BUNDA
AKU, KAU DAN IBU MU
ARSIL
__ADS_1
π