PRAHARA CINTA

PRAHARA CINTA
LANJUT :96


__ADS_3

"bang,, bau parfumnya baru ?"


tanya Dini, yang merasa asing dengan aroma tubuh suaminya, saat indra penciuman berada di lengan Deni,


Deni yang kaget mendengar pertanyaan Dini,


spontan mencium lengan nya,


hingga Deni teringat kejadian saat Yanna, merangkul lengan nya.


Deni melihat wajah Dini dan menarik napas panjang hingga melepaskan dengan pelan.


kedua tangan Deni telah membingkai pipi Istrinya,


"tadi abang pergi ke balai pemuda!


pas mau pulang,"


Deni menjada perkataannya


"kamu ingat Yanna?"


Deni, kembali melanjutkan perkataanya yang terjeda dengan memberi pertanyaan pada Dini yang sudah mulai bingung.


Dini hanya menggelengkan kepala. karena memang tidak tahu atau tidak ingat.


"Yanna itu anak kampung kita juga,!"


jelas Deni yang tak ingin membuat Dini sedih atau pun mencurigai nya.


"kok, Dini gak tau ya bang?


mungkin kalo ketemu Dini ingat!"


sela Dini yang membuat Deni kwartir


karena Deni membayangkan apa yang akan terjadi jika Dini dan Yanna bertemu,


Yanna menyadari kalo Dini adalah istrinya.


"Dek, begini.


tadi itu Yanna bergelayut di tangan abang,


ini bau parfumnya!"


jelas Deni yang dibalas dengan raut wajah bias oleh Dini yang menggerakkan tubuh tuk menjauh dari Deni..


Deni terlihat kaget melihat reaksi Dini yang diam tapi malah membuat jarak diantara mereka.


Deni yang tak bisa berpikir lagi, bergegas meraih Dini kembali hendak memeluknya,


namun tangan Dini telah bertumpu di dadanya, hingga mereka berjarak.


"Dek, jangan fikirkan yang aneh,


abang cuma sayang dan cinta sama kamu!"


"abang bersumpah, hanya kamu satu satunya wanita yang menjadi teman hidup, abang!"


jelas Deni dengan raut wajah sedih.


berharap Dini bisa mengerti.


karena selama mereka pacaran dan bersama baru kali ini Deni melihat ketenangan dari Dini yang tidak memberi reaksi sedikit pun.


"maaf kan Abang dek,


ini cuma salah paham!"


mohon Deni, sembari membingkai wajah Dini kembali.


Dini memindai wajah suaminya


"salah faham?"


ulang dini dengan pertanyaan nya.


"iya dek, tadi pas abang keluar Yanna.


Dia langsung menyambar dan bergelayut ditangan "


belum selesai deni menjelaskan sudah dipotong oleh dini pembicaraan ya,


"kok abang nggak tolak?"


tanya Dini curiga.


"Yanna itu, dia sakit!"


"sakit"

__ADS_1


sela Dini


"iya, dia sakit mental!"


balas Deni sembari me anggukan kepalanya.


"Dia, yang dulu sering datang cari abang.


kemaren dia sudah melukai salah satu pemuda.


karena mereka membicarakan perihal kalo abang udah punya istri"


jelas Deni sembari membawa tubuh Dini kembali dalam dekapanya dengan menyadarkan kepal Dini di dadanya.


"mang nya kenapa kalo abang udah punya istri?


pertanyaan yang polos keluar dari mulut Dini membuat deni tersenyum dan mengecup kepala istrinya.


" karena,


Yanna dulu pernah menyatakan perasaanya,


tapi abang saat itu belum punya niat tuk berkeluarga!"


jelas Deni yang semakin mengeratkan pelukannya


"tapi saat lihat kamu, abang baru ada keinginan tuk berubah tangga dan punya keturunan!"


ucap Deni dengan napas yang membesar,


Saat Dini mendongak keatas melihat wajah suaminya,


Deni mencium lembut bibir istrinya.


hingga ciuman mereka semakin dalam.


_β€’β€’β€’β€’


"Bio, apa mereka molor ya?"


tiba tiba Yully bertanya karena sedari tadi menunggu sahabat tidak kunjung keluar.


Bio tersenyum


"mereka lagi bikin dedek!"


sarkas Bio yang membuat Otak Yully berfantasi.


"aaa,serius?"


hingga lembut Bio gemas melihat tingkah kekasihnya.


"kamu imut, bikin aku juga kepingin!"


bisik Bio yang berhasil menarik Yully mendekat padanya.


"pinngiii?"


ulang yully dengan gugup


"iya, kit kawin yuk!"


ajak Bio yang membuat wajah yully memerah


"kawin, nikah aja belum!"


timpal Yully sembari memukul lengan Bio.


"tukan kamu yang mancing.


kalo aku kilaf, bagai mana?"


ucap bio sembari mengusap lengannya yang tidak sakit.


sedangkan di dalam kamar Deni telah dengan rakus menciumi Dini hingga nafas mereka sama sana memburu.


Dini sekarang sudah semakin piawai membalas setiap cumbuan Deni hingga semakin memacu adrenalin Deni.


sedangkan Baju sekolah Dini telah tidak terpasang kancing karana Deni melepasnya saat ******* ****** kedua gunung Kembar Dini yang baru bertumbuh..


Deni dengan susah payah menahan hasratnya,


karena bagian tengah pahanya telah mengeras, dengan mata yang berkabut.


namun Deni masih memikirkan kalo Dini belum siap.


Dini yang melihat Raut wajah suaminya, kembali mendaratkan ciuman hingga deni mengerang saat Dini duduk di atas pahanya dengan posisi melebarkan kedua pahanya tepat menduduki sientong yang sudah mengeras,


Dini merasakan tekanan benda yang mengeras itu tepat dibagikan sensitifnya,


walau terhalang kain, namun Dini bisa merasakan nya, hingga Dini me geliat, membuat Deni semakin menegang.

__ADS_1


"Dek,"


Bisik Deni Dengan deru nafas yang tidak teratur.


Dini semakin mengeratkan pelukannya,


karena Dini semakin merasakan tekanan itu tepat di bagian Sensifnya...


perlahan Deni merebahkan tubuhnya kesamping dan mengarahkan tangan lentik Dini di bagian tengah bahanya.


Dini tidak menolak,


malah menikmati semuanya...


Deni kembali mengisap kedua benda kenyal istrinya, dan tangannya juga meraba bagian sensitif dini yang ditutupi kain tipis berbentuk segitiga.


"Sayang, kamu basah?"


bisik Deni Dengan senang.


"Dini hanya me anggukan kepala,


perlahan Deni membuka seluruh pakaian yang menutup tubuh mungil Dini.


Deni kembali menelan ludahnya saat melihat bagian tengah paha Dini yang indah dengan hiyasan bulu bulu tipis.


Deni menciumnya, dan membersihkan bagian sensitif Dini yang basah dengan tisu.


Dini, melenguh saat bagian sensitifnya disentuh Deni.


Deni kembali meraba dan menciumnya,.


π»π‘Žπ‘–π‘–.....


π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ π‘π‘Žπ‘π‘Ž...


😊😊


π·π‘ˆπΎπ‘ˆπ‘πΊ 𝑁𝑂𝑉𝐸𝐿 𝐼𝑁𝐼.....


π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› 𝑉𝑂𝑇𝐸, 𝑃𝑂𝐼𝑁, 𝐷𝐴𝑁 𝐿𝐼𝐾𝐸


π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ π‘π‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘Ž......


πŸ˜‰πŸ€©πŸ˜


π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘™π‘’π‘π‘Ž 𝐿𝐼𝑆𝑇 𝐹𝐴𝑉𝑂𝑅𝐼𝑇 π‘‘π‘Žπ‘› 𝐡𝐼𝑆𝐴 𝑅𝐴𝑁𝑇𝐼𝑁𝐺 π‘¦π‘Žπ’‰ π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘π‘˜π‘’


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


π‘‘π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™π‘˜π‘Žπ‘› 𝐾𝑂𝑀𝐸𝑁 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘› π‘‘π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘‘π‘–π‘‘π‘–π‘˜ π‘ π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Ž π‘ π‘œπ‘π‘Žπ‘›!


😘😘😘


π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘™π‘’π‘π‘Ž π’‰π‘Žπ‘‘π‘–π‘Žπ’‰π‘›π‘¦π‘Ž


🀭🀭🀭🀭🀭


π‘Žπ‘”π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘¦π‘Ž 𝑖𝑛𝑖 π‘ π‘’π‘šπ‘Žπ‘˜π‘–π‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘”.


πŸ₯°πŸ€—πŸ₯³πŸŒž


π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘–π‘šπ‘Žπ‘˜π‘Žπ‘ π‘–π’‰ π‘π‘Žπ‘”π‘– π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘™π‘Žπ’‰ π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘›π‘Žπ‘› π‘ π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ’‰


πŸ’–πŸ’‹


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


terimakasih kepada:


yang telah setia membaca karya saya,πŸ™


semua tuluisan saya asli dari pemikiran dan imajinasi saya sendiri,yang dibumbui dengan sedikit pengalaman nyata.


🀭


saya hanya penulis baru, yang awalnya coba coba namun ketagihan 🀭


Terimakasih yang sebesar-besarnya karena telah memberikan


LIKE, KOMENTAR DAN DUKUNGAN,πŸ™


Tanpa dukungan anda semua saya bukan apa-apa dan tidak menjadi seperti sekarang πŸ€—


jangan lupa mampir juga dicerita saya yang lain


PRAHARA CINTA


MAAFKAN AKU BUNDA


AKU, KAU DAN IBU MU

__ADS_1


ARSIL


πŸ™


__ADS_2