PRAHARA CINTA

PRAHARA CINTA
PENGHULU


__ADS_3

Ayah dan Ibu Masih saling tatap atas keterkejutan mereka,


Perasaan merka bercampur aduk saat melihat wajah putra mereka yang begitu berbinar mendengar penuturan dari calon besan.


Ayah yang melihat pancaran kebahagian dari raut wajah Deni,


tapan sadar terukir senyum yang sangat manis dari bibir Ayah yang masih terlihat gagah diusia tuanya.


Ibu yang sangat mengetahi keinginan terbesar Deni juga tersenyum saay melihat wajah Putranya yang memancarkan aura kegembiran dan senyum yang sulit diartikan.


Ibu berusah menenangkan diri dengan menghirup udara panjang lewat hidung dan melepaskan pelan lewat mulut,


perlahan menyapu air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya.


Ibu mengambil gelas yang masih berisi separoh air putih yang teronggok didepannya,


Wanita paruh baya itu meneguk air tuk membasahi tenggorokan nya yang tersa kering.


Setelah mendapatkan anggukan dari Dini,semua ynag hadir serempak berucap


"Alhamdulillah"


karena yang hadir saudara dekat dari kedua keluarga,


mereka saling berpelukan karean mersakan kegembiraan dan kebahagian,


karena saudara mereka telah mene.ukan tambatan hati dan sebentar lagi akan mengarungi bahtera rumah tangga.


Sepupu Deni me dekat sembari mentalani, memeluk dan memukul pelan punggung Deni pelan.


"Selamat ya Den, akhirnya"


"Selamat ya Deni, nikah... nikah"


"Selamat ya Bro, udah ada yang bisa ngangatin sekarang!"


"Selamat ya Deni, udah ada mainan sebelum tidur!"


ucapan dari sepupu Deni, silih berganti memeluk memberi selamat dan berbisik menyeruak memasuki gendang telinga Deni,


hingga muka Deni memerah dengan senyum yang dipaksakan.


"Selamat ya Bang."


ujar Angga menjulurkan tangannya tuk berjabat tangan dengan Deni atas pernikahan dadakan yang diinginkan dari Ayah Dini.


"Selamat ya Bang, akhirnya belah duren!"


seloroh Bio dengan sedikit berbisik namun bisa terdengar oleh Dini yang masih duduk disamping Deni.


Dini yang canggung dan gugup mendengar ucapan Bio tertunduk malu dengan muka yang memerah.


Mendengar ucapan Bio yang sedikit berbisik,


membuat semua sepupunya yang lain ketawa berjamaah, memecah ruanga tempat mereka berkumpul,


Deni kembali menjitak kepala Bio dengan keras,


duks...


"aduh sakit Bang,"


teriak Bio sembari mengusap kepalanya.


"Bang, nanti aku bisa geger otak,


Abang harus tanggung jawab."


lanjut Bio yang masin memegang kepalanya.


"Vi,kita kempat Dini yuk!"


ajak Uly yang baru saja menghubungi sabatnya itu.


Setelah menelpon dengan Bio.


"kenapa Dini ngak ngomong ya?


kalo sekarang tunagan!"


gumam Uly yang masih merasa sangat binggung dan penuh tanda tanya.


"ini, cewek lagi,


dari tadi pesan ku dak dibacanya!"


kesal Uly saat melihat kontak Mita yang dari tadi tidak membalas pesannya.


"mending aku hubungi ketua aja"


lanjut Uly menggeser deretan daftar kontaknya mencari kontak Novi.


"kamu kenapa sih Ly,


ganggu orang istirahat aja,"


saut Novi yang lagi asik tidur tiduran,


mager karena minggu ini tidak ada kegiatan.

__ADS_1


"kayak gak punya kerjaan.


ganggu tu si Bio"


lanjut Novi dengan nada yanga sangat kesal pada Uly.


"Kamu lagi datang bulan ya,Vi?"


marah aja bacanya


"apa lagi kumat darting nya?"


lanjut Uly bertanya mencarikan suasana


darting \=darah tinggi


"apaan sih Ly,


aku matikan ni!"


balas Novi yang sangat kesal dengan ulah Uly.


"jangan dimatiin,


ntar bebek aku kesepian!"


kelakar Uly ynag semakin membuat Novi jengah dan memutar bola matanya.


"Dasar ulat Keket,ngeribut aja!"


"sebenarnya kamu itu mau apa ganggu malas ku?"


lanjut Novi pada Uly yang sedari tadi sudah lupa dengan tujuan nya.


"Tu kan,dasar ketua pemarah,


jadi lupa aku kan"


celoteh Uly memukul keningnya


"lupa apaan sih?"


sela Novi


"Vi,kamu tau gak?


kalo sekarang Dini tunangan sama Babang ganteng!"


ucap Uly sangat antusias


Novi yang me dengar penuturan Uly,


"Tunangan?"


tanya Novi kembali


"emang kamu tau dari mana sih?"


lanjut Novi kembali bertanya dengan sangat ragu dan binggung.


"Dari Bebeb!"


lanjut Uly


"sana yuk!"


ajak Uly pada Novi.


"ayok,


kamu hubungi lah Mita!"


lanjut Novi yang bergegas bangun hendak mengatur piamanya dengan pakain yang lebih rapi.


"Tu anak lagi sibuk,


masang status jalan jalan,"


lanjut Uly yang sangat kedalam 0ada sahabatnya itu,


karena dari tadi hingga sekarang pesannya belum juga dibaca Mita.


sesampai didepan rumah Dini,


Uly dan Novi sangat kaget melihat karean begitu rame,


"ayo masuk!"


ajak Novi yang melihat masih mengedarkan pandangan nya melihat sekeliling pekarangan rumah Dini yang dipenuhi motor dan mobil serta deretan sendal yang tumpah ruah.


saat ini Dini sedang didandani oleh Bunda dan Ibu dikamar,smbari menunggu Pak Penghulu datang.


sebenarnya Ayah telah menyiapkan segalanya.


"kamu bisa kan batu menikahkan anak gadisku besok?"


tanya Ayah pada seseorang sedang berbicara ditelpon.


orang itu adalah teman Ayah Dini yang berkerja di Kantor Agama.

__ADS_1


"Sofyan,sekalinya kamu ngehu ingin aku,


lansung mintak menikahkan putrimu!"


ucap Danil pada sahabatnya itu.


"Kalo besok,aku bisanya habis shalat ashar.


karena besok aku juga ada menikah kan orang."


lanjut Pak Danil pada Pak Sofyan sahabatnya.


"Maaf ya Sofyan,


bukankah putrimu sepantaran dengan anak ku?"


"anak ku masih baru kelas 2 SMA"


lanjut Pak Danil mencari penjelasan dari sahabat nya.


"iya,Niel.


anak ku masih 2 SMA.


besok anak ku tunangan!"


ucap Pak Sofyan dengan sedikit menekan.


"tapi kamu tau kondisiku,


aku takut tidak bisa menikah kan putri kelak."


lanjut Pak Sofyan sangat lirih dengan suara tertahan dan mata ya g telah berkaca kaca.


"Jauhkan pikiran mu yang tidak tidak itu,


putriku baik baik saja."


lanjutnya yang mengerti maksut dari pertanyakan sahabatnya itu.


"maaf kan aku,Sofyan"


ucap Danil yang tidak sengaja telah meragukan didikan sahabatnya itu.


"ok,besok Bakda Asha aku datang"


janji Danil pada Sofyan mengakiri pangilan telpon mereka.


Novi dan Uly yang baru saja masuk,


sangat gugup karena melihat tatapan dari semua orang yang tengah menunggu Dini dan Deni luar dari kamar,karena mereka sedang merapikan pakain.


"baby?"


panggil Bio yang melihat Uly di depan pintu rumah.


Uly mencari sumber suara yang tidak asing ditelinga nya.


"Beb!"


balas Uly saat melihat Bio


senyum terukir dari mulutnya.


"kendalikan sikap mu!"


bisik Novi ditelinga Uly


"lihat,kita menjadi pusat perhatian"


lanjut Novi yang mencekal tangan Uly sangat kuat.


Uly menyetir seperti kuda memperlihatkan deretan giginya.


"Hai,"


lanjut Uly menyapa orang orang yang masih melihat mereka berdua.


β€’


β€’


β€’


π·π‘ˆπΎπ‘ˆπ‘πΊ 𝑁𝑂𝑉𝐸𝐿 𝐼𝑁𝐼 π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› 𝑉𝑂𝑇𝐸, 𝑃𝑂𝐼𝑁, 𝐷𝐴𝑁 𝐿𝐼𝐾𝐸 π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ π‘π‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘Ž


πŸ˜‰πŸŒΉπŸ˜πŸ€©


π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Ž π‘™π‘’π‘π‘Ž 𝐿𝐼𝑆𝑇 𝐹𝐴𝑉𝑂𝑅𝐼𝑇 π‘‘π‘Žπ‘› 𝐡𝐸𝑅𝐼 𝑅𝐴𝑁𝑇𝐼𝑁𝐺 π‘¦π‘Žπ’‰ π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘π‘˜π‘’


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


π‘‡π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™π‘˜π‘Žπ‘› 𝐾𝑂𝑀𝐸𝑁 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘› π‘‘π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘‘π‘–π‘‘π‘–π‘˜ π‘ π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Ž π‘ π‘œπ‘π‘Žπ‘›


😘😘😘


π‘Žπ‘”π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘¦π‘Ž 𝑖𝑛𝑖 π‘ π‘’π‘šπ‘Žπ‘˜π‘–π‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘”


🀭πŸ₯°πŸ€—πŸ₯³πŸŒž

__ADS_1


π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘–π‘šπ‘Žπ‘˜π‘Žπ‘ π‘–π’‰ πŸ’–πŸ’‹


__ADS_2