PRAHARA CINTA

PRAHARA CINTA
ISTIKU


__ADS_3

Deni yang baru sampai d rumah orangtuanya,


tersentak hendak masuk kedalam kamar hendak mengganti baju saat Bapak memanggilnya,


"Den,Sini duduk dulu!"


panggil Bapak yang telah duduk di atas karpet plastik melepaskan lelah serta menselonjorkan kaki karena seharian terus dilipat.


Deni yang mendengar panggilan Bapak,menoleh terus menghampiri Bapak.


"Ada apa Pak?"


seru Deni yang telah duduk di samping Bapak sembari memijit kedua kaki Bapak.


Bapak menatap anak nya dengan penuh kasih sayang serta memegang bahu Deni,


"Deni,Bapak punya tujuan dan maksud membawa kamu pulang!"


jangan kamu berkecil hati pada Bapak,"


ujar bapak yang masih menatap raut wajah Deni,


bapak berbicara dengan sangat pelan,tapi sangat berwibawa membuat Deni menatap wajah Sanya bapak yang sudah menampakan kerut di wajahnya.


Ibu yang mendengar ucapan Suaminya juga ikut duduk bersama diantara kedua laki laki yang sangat dicintainya itu.


Ibu memandangi kedua wajah laki laki 6ang berbeda usia itu dengan penuh kasih.


ibu yang memahami maksud dari perkataan suaminya, menetap wajah putra kesayangannya,


mencari gurat kecewa dan kesal di muka putra kesayangannya..


"Iya,Den.


kamu jangan berpikir yang tidak tidak tentang Bapak Dan Ibuk!"


sela Ibu yang melihat raut wajah Deni yang terlihat kecewa walau dihiasi senyum yang dipaksakan.


"Tidak kok Buk, Pak,"


ucap Deni pada kedua orang tuanya dengan bergantian melihat Ibu dan Bapak., dengan senyum yang amat dipaksakan,


karena Deni tidak inggin mulai hati kedua orang tuanya..


Deni berusaha menstabilkan hati dan pikirannya dengan menarik napas panjang agar udara mengalir disela sela rongga dadanya yang terasa sesak,


kemudian Deni melepaskannya sangat pelan.


yang yang Paham akan sikap dan reaksi yang terlihat pada Gerak geriknya,


"Deni,Bapak sama Ibu menghindarkan Fitnah!"


lanjut Bapak sembari melihat istrinya yang duduk disampingnya,


perlahan ibu memegang tangan suaminya yang menonjolkan urat-urat yang sangat jelas karena Selami telah berkerja keras tanpa lelah untuk memenuhi. kebutuhan nya dengan Deni


Deni mengerutkan alisnya, mendengarkan ucapan bapak,


mengalihkan pandangan pada ibu yang masih menggenggam tangan Bapak.


"Fitnah?"


sela Deni dengan mengulang kalimat Bapak.


Deni terlihat sangat bingung yang masih menautkan kedua alisnya.


sembari menunggu penjelasan dari kedua orang tuanya..


Ibu beranjak mendekati Deni dan mengenyam tangan putra tunggalnya dengan sangat lembut, hingga menimbulkan ketenangan di hati Deni saat merasakan belai Ibunya yang masih sama sedari dia kecil.


"Iya Den,


tadinya kita dan keluarga Dini hanya lamaran saja,


yang hanya diketahui keluarga inti.."


ucap Bapak dengan Nana yang lembut tapi sangat jelas,


"karena kondisi Pak Sofyan yang disembunyikan dari Dini.,


orang tua Dini mempunyai keinginan lebih dari sekedar bertunangan ."


lanjut bapak menatap putra tunggalnya, sembari memegang pundak Deni..


"Terlebih kamu kan Nikahnya, hanya diketahui keluarga inti,


masyarakat tidak mengetahui.


Kasihan Istrimu nanti, dengan omongan orang."


lanjut Bapak menyampaikan apa yang menjadi beban dalam pikirannya..


Deni yang paham dan mengerti maksud Bapak, balik menggenggam tangan Bapak nya dan mencium punggung tangan keriput bapaknya..


"iya pak, Deni paham.


terimakasih Bapak telah mengingatkan dan selalu menjaga Deni dari segala kesulitan sampai saat ini.


Deni memeluk Bapaknya dengan mata yang mulai berkaca kaca karena menahan agar tidak mengalikan air matanya.


Deni berbalik dan memeluk Ibu yang telah melahirkanya tak lupa mencium kedua pipi wanita paruh baya yang selam ini selalu mendukung setiap keinginannya.


Ibuk Dar yang sangat terharu tidak sanggup menahan air matanya,


Dengan lembut, pak Ahmad mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi istrinya.


akhirnya mereka berpelukan bertiga yang membuat suasana di rumah sederhana itu sangat melankolis.


setelah Saling melepaskan rangkulan kasih sayang Antari Ibu,Bapak dan Anak tunggal mereka,


Ibuk Tin membelai pipi Deni dan tersenyum dengan tulus masi dengan mata yang berkaca-kaca.


Bapak yang masih menyimpan nasehat tuk Deni si putra tunggal,melanjutkan perkataanya disela sela suasana yang masih penuh itu,,


"Bapak yakin dan percaya kalo kamu akan menjadi pendamping yang baik dan bertanggung jawab untuk Dini."


lanjut bapak sembari mengusap lembut pundak Deni.


"Lagian besok istrimu akan mengahadapi hujan sekolah,


Biarlah dulu Dia berkonsentrasi dengan sekolahnya."


sela Ibu mencoba memberi pengertian pada puteranya.


Deni masih diam mendengar penuturan kedua orang tuanya,

__ADS_1


tidak ada niat tuk menyela pembicaraan Ibu dan Bapak terlintas di benak Deni.


"Iya, setelah ujian istrimu,


satu Minggu ke depan kita adakan sukuran tuk bersama kerabat dekat,"


lanjut Ibuk Dar,


"kita akan menjalankan adat 6ang sederhana saja"


ucap Ibu Tin kembali melihat pak Ahmad, mencari persetujuan suaminya.


Pak Ahmad menganggukkan kepala pelan,


"Ibu akan menjemput menantu Ibu!"


Lanjut Pak Ahmad memperjelas perkataan istrinya., dengan wajah penuh kebahagian.


karena Buk Dar telah menyampaikan rencana yang telah tersusun rapi dalam pikirannya kepada Pak Ahmad sepanjang perjalanan pulang dari rumah keluarga Pak Sofyan .


wanita paruh baya itu melihat suami dan anaknya bergantian.


Bapak yang paham akan maksud Ibu Dar, Balia kembali meanggukan kepala memberi dukungan pada wanita yang sangat cintai, dan dihargainya.


terlebih telah mau bertahan sisinya dengan kondisi dan situasi sulit dan pas pasan saat awal membina rumah tangga dulunya.


Pak Ahmad sangat mencintai buk Dar, terlebih lelah melahirkan putra dan mendidik anak mereka dengan kasih sayang yang tulus.


Deni yang sedari tadi mendengarkan orang tuanya, dengan sangat patuh,


sampai selesai


"Baik lah Bu,Deni juga setuju!"


saut Deni dengan senyum yang terukir dari bibirnya.


walau dalam hati Deni sebenarnya sangat ingin menemui Dini yang sekarang sudah sah menjadi miliknya..


"Iya Den,Buah dari sabar itu manis."


sela Bapak dengan menepuk lembut bahu anak laki-laki nya.


sembari tersenyum tips disudut bibirnya,


Buk Dar yang melihat lengkungan di bibir suaminya ikut tersenyum.


"iya ini yang terbaik Den,


Karena menutup mulut manusia Leh susah dari pada menutup mulut beduk,


orang akan tetap menggunjing sebelum tau kebenaranya."


lanjut Ibu yang sudah paham akan sifat orang orang dikampung.


Setelah selesai dengan pembicaraan dan nasehat Bapak serta Ibu,


Deni yang merasa tubuhnya sangat lengket memasuki kamar berniat tuk mandi.


Tapi rasa rindu yang menyesak didalam hatinya tidak bisa dibendung,


Deni mengambil benda pipih yang berada didalam saku celana,


Deni menghubungi seseorang.


"Assalamualaikum,


seru Deni saat Video call nya terhubung dengan gadis kecil yang kini telah berstatus istrinya.


Dini yang dipanggil Istriku sangat gugup seta mukanya berona merah dengan desiran darah yang sampai ke pusat intinya.


"Waalaikum salam"


balas Dini dengan gugup badan yang sangat bergetar.


"Semoga Abang tidak mendengar suara jantungku yang tidak karuan ini,"


gumam Dini dalam hati dengan senyum yang terukir Di bibirnya saat menatap wajah pria yang bersaus suaminya dilayar hp, Dini tersipu malu yang sangat mengemaskan bagi Deni.


"Isti ku,Sabar ya sebentar lagi kita bersama, Abang pasti akan menjemput setelah ujian."


Ucap Deni dengan suara yang bergetar menahan rasa rindu,


karena sehari ini Deni telah menahan dirinya tidak mencium bibir Dini yang telah menjadi Vitamin setiap hari baginya.


Dini, yang mendengar ucapan Deni semakin gugup, dengan getaran yang aneh pada tubuhnya..


"Iya Bang."


lirih Dini pelan masih dengan tatapan yang sama., sembari menahan suaranya yang bergetar.


Deni yang sangat mengerti dengan gestur tubuh istrinya berinisiatif mengakhiri sambungan Vidio call,


namun hatinya menolak.


"kamu udah mandi sayang?"


tanya Deni lembut.


"Belum,ini mau mandi Aban vidio an!"


Ucap Dini dengan memanyunkan bibirnya.


Deni yang melihat bibir istrinya,merasakan getaran aneh pada tubuhnya,hingga terbesit dipikirkannya untuk menggoda gadis kecil yang sekarang telah berstatus istinya.


"Abang juga mau mandi,


kita nanti mandi berdua ya!"


Ucap Deni dengan senyum yang sangat sulit diartikan dengan wajah yang berbinar, sembari mengedipkan matanya.


Dini merasa malu dengan kalimat Deni,menunduk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas bersemu merah.


"Din,I LOV YOU.


Abang sangat merindukan mu."


lanjut Deni terdengar sangat tulus ditelinga Dini,


Dini yang masih gugup mengangkat wajahnya menatap layar HP,


sembari tersenyum,


"Dini juga sayang Abang"


balas gadis itu dengan menahan segala kegugupan yang lelah bersarang didalam dirinya.

__ADS_1


Setelah panggilan berakhir.


"mandi berdua"


lirih Dini pelan dengan tubuh yang merinding.


"apa Abang akan melakukanya?"


kembali Dini dengan segala pikiran yang berputar dan menari dalam benaknya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di tempat lain, tepatnya di di rumah Kelurga Pak Nawir, ada seorang gadis dengan perasaan yang tidak menentu,


ya, gadis itu Yanna anak dari pasangan Buk Ton dan Pak Nawir.


Yanna yang sedari tadi sangat gelisah,


merasakan tidak tenang,


"Buk,kenapa Anna sangat tidak tenang begini?"


tanyanya pada Wanita paruh baya yang berada disampingnya dengan sabar menemaninya dari tadi.


karena Buk Tin takut kejadian yang tak diinginkan terjadi pada anak gadisnya.


"Ayo mengucap Nak,


ingat Allah!"


ucap lembuat dari Ibu Tin itu yang sedari tadi menyadari kegelisahan putrinya.


Tiba tiba Yanna memeluk Ibu nya dengan sangat herat dan sesenggukan menangis


Hiks..hiks...hiks..


Ibu yang tidak tahan mendengarkan isak tangis anaknya merasa sangat perih di hati.


perlahan Ibu Tin mengusap punggung Yanna dengan pelan sembari menahan perih dihatinya..


Ibu mana yang tahan melihat anaknya menderita.


Ibu Tin berusaha kuat dan tenang demi menjaga emosi putrinya yang sering berubah ubah,


tapi melihat Yanna yang sangat tersiksa dengan kegelisahan nya saat ini,


membuat Buk Tin hancur tapi harus betapa kuat sembari menahan tangis yang sedari tadi talah tertahan pelupuk matanya.


Bapak Nawir yang baru pulang dari kantor di kota,setelah melapor pada komandan, serta meminta izin cuti karena situasinya yang sangat rumit tuk meninggalkan Istri dan anaknya.


sebenarnya dperjalanan pulang Pak Nawir mendengar berita kalo laki laki yang selama ini sangat diinginkan anak nya telah selesai melaksanakan prosesi tunangan.


Pak Nawir sangat kaget, kecewa menyadari kehancuran putrinya jika mendengar berita yang sepintas mengisi gendang telinganya..


ingatannya tertuju pada sang putri,


"apa yang akan terjadi pada Yanna ku,kalo berita ini sampai ke telinganya?"


Gumam Pak Nawir dalam hati sembari memberikan senyuman pada orang orang yang menatapnya.


Semua pikiran Pak Nawir hanya terjatuh pada Putri nya,


dan memikirkan reaksi putrinya jika mendengar kenyataan yang sebenarnya.


"Anak ku akan semakin hancur"


lirih Pak Nawir dalam hati dengan mata yang telah berkaca kaca membayangkan reaksi dari putrinya..


Sesampai Di rumah Pak Nawir hanya tertegun mendengar Isak tangis Yanna yang sangat memilukan hati,


"apaka dia telah mengetahuinya"


gumam pak Nawir bergumam penuh tanya salam hatinya dengan menerka neraka,


pak Nawir mendengar kesedihan yang amat dalam dari Isak putrinya,


perlahan dengan langkah gontai Pak Nawir mendekat kedelapan pintu kamar Yanna,...


dan menatap kedua wanita yang sangat dicintainya dalam ruangan yang berukuran 3x3 itu,


pak Nawir memegang konsen pintu dengan mata sendu ikut merasakan kepedihan dari Isak putrinya,


kakinya terasa sangat kaku sulit tuk diangkat.


perlahan pak Nawit menggeser tubuhnya dengan mata yang kecewa dan tubuh yang terasa lemah.


orang tua mana yang sanggup melihat kondisi anaknya yang tak berdaya,


β€’


β€’


......................


...β€οΈπŸŒΉπŸ’“...


π»π‘Žπ‘–π‘–.....


π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ π‘π‘Žπ‘π‘Ž...


😊😊


π·π‘ˆπΎπ‘ˆπ‘πΊ 𝑁𝑂𝑉𝐸𝐿 𝐼𝑁𝐼.....


π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› 𝑉𝑂𝑇𝐸, 𝑃𝑂𝐼𝑁, 𝐷𝐴𝑁 𝐿𝐼𝐾𝐸


π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ π‘π‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘Ž......


πŸ˜‰πŸ€©πŸ˜


π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘™π‘’π‘π‘Ž 𝐿𝐼𝑆𝑇 𝐹𝐴𝑉𝑂𝑅𝐼𝑇 π‘‘π‘Žπ‘› 𝐡𝐼𝑆𝐴 𝑅𝐴𝑁𝑇𝐼𝑁𝐺 π‘¦π‘Žπ’‰ π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘π‘˜π‘’


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


π‘‘π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™π‘˜π‘Žπ‘› 𝐾𝑂𝑀𝐸𝑁 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘› π‘‘π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘‘π‘–π‘‘π‘–π‘˜ π‘ π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Ž π‘ π‘œπ‘π‘Žπ‘›!


😘😘😘


π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘™π‘’π‘π‘Ž π’‰π‘Žπ‘‘π‘–π‘Žπ’‰π‘›π‘¦π‘Ž


🀭🀭🀭🀭🀭


π‘Žπ‘”π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘¦π‘Ž 𝑖𝑛𝑖 π‘ π‘’π‘šπ‘Žπ‘˜π‘–π‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘”.


πŸ₯°πŸ€—πŸ₯³πŸŒž

__ADS_1


π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘–π‘šπ‘Žπ‘˜π‘Žπ‘ π‘–π’‰ π‘π‘Žπ‘”π‘– π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘™π‘Žπ’‰ π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘›π‘Žπ‘› π‘ π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ’‰


πŸ’–πŸ’‹


__ADS_2