PRAHARA CINTA

PRAHARA CINTA
IJAB-KABUL


__ADS_3

Novi dan Dini saling lihat dan kembali memperhatikan status terbaru yang diunggah oleh Mita Sabahat mereka.


Uly yang sedari tadi memperhatikan hasil foto selfienya bertiga,


dengan senyum misterius yang terukir dibibir tipis nya,


mengaburkan semua foto lalu mengunggah menjadi status di WhatsApp nya yang bertulisan kan,


happy engagement


Novi yang juga melihat unggahan Uly,


ikut tersenyum.


tiba-tiba mereka bertiga dikagetkan dengan bunyi suara pintu yang terbuka


kreeek...


terdengar suara lembut Bunda menyapa mereka,


"Dini udah siap?"


tutur Bunda menghampiri putrinya,


Dini menghambur ke pelukan Bunda seta memeluk Bundanya begitu erat.


Bunda yang sangat memahami putrinya dengan sekuat tenaga menahan air mata yang telah tertahan di pelupuk mata,agar Dini tidak ikut menitikkan air mata,


karena Bunda melihat mata Dini yang telah berkaca kaca.


"ayo Novi, Uly, dampingi Dini keluar"


Lanjut Bunda melihat kedua sahabat Dini secara bergantian.


Karena Pak penghulu yang tidak lain adalah teman dari Ayah Dini telah datang.


Bunda tidak ingin orang menunggu terlalu lama,


tanpa mengulur waktu Bunda menjadikan kedua sahabat anaknya sebagai pengiring Dini Menuju tempat ijab-kabul.


Novi dan Uly yang sedari tadi diam termenung melihat reaksi Bunda dan Dini,


mereka tersentak saat mendengar nama mereka dipaggil.,


dengan senyum yang tersungging tips mereka berdua mengapit Dini keluar kamar menyusul Bunda yang telah terlebih dulu melangkah...


Dini melangkah dengan sangat gugup,


"setelah menikah,apa Abang melakukan itu?"


Gumam dalam hati sembari mengernyitkan mata.


Dini sangat kaget saat Uly dan Novi menyentuh tangan nya,


"kamu lagi mikirin apa Din?


sampai kaget gitu!"


bisik Novi di samping kanan Dini yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Uly


"kamu lagi ngebayangin itu ya?"


lanjut Uly dengan senyum yang sulit untuk diartikan menggoda Dini semakin gugup.


"apaan sih Ly,


kamu kalo mikir itu jangan kejauhan!"


sanggah Dini berbohong,sembari mencubit lengan Uly yang berada disisi kirinya.


"Iya,ni Ulat Keket.


otak sama mulut gak sinkron!"


sela Novi yang merasa geram dengan tingkah Uly yang sedari tadi nyengir nyengir sendiri seperti kuda.


"iih...


Buk,boz kola marah bikin merinding."


timpal Uly mendengar ocehan Novi.


"seram!"


lanjut nya sembari memajukan dua jari seperti huruf V.


Dini semakin gugup saat semua tamu yang berada di ruangan tengah tertuju melihat kehadiran nya,


"Vi, Ly, Aku gugup!"


bisik Dini sembari meremas tangan kedua sahabatnya.


"Din,tangan mu dingin amat,seperti balok Es."


ucap Uly yang berusaha mengusap usap tangan Dini


"santai aja Din,

__ADS_1


rileks,tarik napas lewat hidung, buang pelan lewat mulut!"


Bisik Novi menenangkan Dini yang sedikit gemetar.


"Duh, kaki terasa sangat berat."


Gumam Dini dalam hati karena sulit Tuk melangkah dengan kondisi tubuhnya yang kini sangat gugup dan grogi,ditambah rok yang dikenakan saat ini sangat sempit dengan jalan yang sedikit menjijit.


Deni sangat terpana melihat kecantikan Dini, mata Deni tidak berkedip,


sesaat kemudian Deni tersadar memperhatikan tingkah gadis pujaan hatinya dengan raut wajah yang cemas,


Dengan sigap Deni menyusut dan meraih tangan Dini tuk duduk disampingnya menghadap ke depan Pak penghulu dan Ayah yang telah siap duduk di atas sajadah sebagai tempat dilangsungkan nya prosesi ijab-kabul.


Setelah ustadz Danil memberikan nasehat pernikahan,


Ayah Dini yang bernama pak Sofyan berjabat tangan Dengan Deni putra dari Pak Ahmad dan Ibu Dar,


untuk mengucapkan ijab-kabul.


Setelah selesai membacakan ijab-Kabul,


terdengar suara


Sah..


Sah..


Sah..


oleh tamu yang menjadi saksi,


mereka sedari tadi menahan napas saat mendengar Deni membacakan ijab-Kabul.


Setelah Ustadz Danil membacakan doa,Dini menyalami tangan Deni.


dilanjutkan Deni yang mencium puncak kepala Dini yang sekarang telah Sah menjadi istinya.


semua keluarga sangat bahagia,


Bunda Mery dan Ibu Dar berpelukan dengan rasa lega.


Mata kedua wanita paruh baya itu berkaca kaca, menahan tangis yang yang sedari tadi tertahan di pelupuk mata.


Kedua wanita paruh baya itu saling mengucapkan selamat atas pernikahan kedua anak mereka., dua wanita itu saling berpelukan dengan haru bercampur bahagia.


tak lupa Novi dan Uly saling berpegangan tangan dengan haru karena melihat pernikahan sahabatnya.


"sayang kita tidak lengkap ,tanpa kehadiran Mita*


bisik Novi pelan yang juga di anggukan Uly saat mereka bersitatap dan saling berpelukan dengan senyum kebahagian yang sama dengan kedua orang tua Deni serta Dini.


tak lupa sesi foto yang penuh canda tawa memenuhi ruangan tempat ijab-kabul.


setelah foto bersama para tamu yang datang disuguhkan makana dan minuman yang sangat enak.


sedari tadi Deni tidak melepaskan genggaman tangannya dari Dini uang sekarang telah resmi menjadi istri sahnya.


Acara berlangsung sederhana,tapi terasa sangat khidmat dan sakral .


senyum yang terus mengembang di bibir mungil Dini, menambah pesona kecantikannya semakin memancar, terlihat semakin imut dan menggemaskan bagi Deni.


Andai saja tidak ada orang di sana ,Deni pasti telah mencium dan ******* bibir yang berwarna pink milik istrinya itu.


hari semakin beranjak menuju petang, acara yang berlangsung sederhana itu sudah mulai usai, dengan berpamitan satu persatu tamu seta kerabat dari kedua keluarga.


Setelah semua tamu dan sepupu,serta Novi dan Uly pergi meninggalkan rumah orang tua Dini,


tersisa Deni dan kedua orang tuanya beserta Dini dengan kedua orang tuanya.


Bapak yang melihat situasi sudah mulai sepi dan hanya ada keluarga inti,


"Baik lah Ayah nak Dini,


kami undur diri,"


ujar Pak Ahmad sembari menatap Ayah Sofyan,


"karena ini acara nya sangat dadakan,


Deni belum mempersiapkan semuanya,


lebih baik Deni ikut kami pulang dulu."


ucap Pak Ahmad dengan sangat hati hati agar tidak terjadi salah faham.


Pak Ahmad mengalihkan pandangannya ke sepasang pengantin baru yang terlihat bahagia sedari tadi,


namun tiba-tiba raut wajah mereka berubah bias saat mendengar ucapan Pak Ahmad pada Ayah Dini.


"Iya,terlebih Nak Dini harus istirahat karena besok harus langsung dihadapkan dengan ujian kenaikan kelas!"


lanjut Ibu Dar, yang mengimbangi perkataan Suaminya, karena menyadari perubahan drastis dari menantunya itu.


Ibu Dar juga mengerti atas tatapan penuh tanya yang dipancarkan putra tunggalnya yang tidak lain adalah ibu Deni.


Deni yang me dengar ucapan kedua orang tuanya seketika raut wajahnya berubah sangat ambigu.

__ADS_1


Deni yang mengerti akan arti dari tatapan mata Bapak, hanya bisa diam dengan senyum yang dipaksakan.Deni berusaha tuk tenaga sembari menggenggam erat tangan Dini.


Ayah Sofyan yang mendengar upacara dari besannya, mencoba mencerna seta menangkap maksud dari perkataan Pak Ahmad, sesaat kemudian Ayah meanggukan kepala,


Ayah Sofyan, melihat anak kesayangan nya yang memucat dengan tatapan yang sendu, tersenyum lembut kearah Dini.


Bunda Mery hanya bisa terdiam bergantian melihat suami dan anak nya.


didalam hati Bunda Mery sudah berdebar karena mendengar penuturan pak Ahmad yang ambigu terdengar ditelinga ya.


"Tadi Deni datang kesini tanpa persiapan dan tidak membawa baju ganti."


lanjut Pak Ahmad yang menyadari ada ketengan di Rungan keluarga itu.


"oo iya,Deni tidak membawa pakaian nya!"


gumam Ayah dalam hati sembari melihat Bunda dan Dini secara bergantian.


"Iya, Nak Deni harus menjemput pakaiannya Dulu."


lanjut Ayah menatap putri dengan tatapan penuh kasih,


Dan Istrinya sembari menganggukkan kepala.


"Iya,karena semuanya dadakan,jadi Nak Deni dan Dini belum mempersiapkan semuanya."


Lanjut Bunda menggenggam tangan Dini 6ang 6erasa sangat dingin.


sesaat Bunda seta meraih tangan Deni dan menyatukan kedua tangan anak dan menantunya itu, hingga mereka berpegangan bertiga, sebagai tanda dukungan tuk putrinya..


Setelah mencapai kesepakatan kedua keluarga,


dengan bert hati, suara tertahan,,


"Dek, Abang balik dulu!"


Deni berucap, sembari menggenggam kedua tangan Dini yang telah sah menjadi istinya dan mencium puncak kepala Dini,seta merangkul Dini kedalam pelukannya.


Deni yang tidak tega melihat mata Dini yang bekaca kaca dengan senyum senyum sangat tips tak terlihat jelas,,


"Nantik Abang datang."


bisik Deni tepat di telinga wanita yang telah menjadi istrinya itu.


sembari memeluk dan mengusap punggung istrinya,


Deni mendengarkan debaran jantung Dini yang sangat kencang.


Dini yang me-remang saat mendengar bisikan Deni dan membalas pelukan dari suaminya.


Dengan suara yang bergetar,


"iya Bang, hati hati."


Ujar Dini menatap manik mata suaminya dengan pancaran cinta yang sangat tulus.


Setelah berpamitan dengan mertuanya masing masing,


Ayah dan Bunda mengapit putrinya masuk kedalam rumah,sembari menutup pintu.


β€’


β€’


......................


...β€οΈπŸŒΉπŸ’“...


π»π‘Žπ‘–π‘–.....


π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ π‘π‘Žπ‘π‘Ž...


😊😊


π·π‘ˆπΎπ‘ˆπ‘πΊ 𝑁𝑂𝑉𝐸𝐿 𝐼𝑁𝐼.....


π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› 𝑉𝑂𝑇𝐸, 𝑃𝑂𝐼𝑁, 𝐷𝐴𝑁 𝐿𝐼𝐾𝐸


π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ π‘π‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘Ž......


πŸ˜‰πŸ€©πŸ˜


π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘™π‘’π‘π‘Ž 𝐿𝐼𝑆𝑇 𝐹𝐴𝑉𝑂𝑅𝐼𝑇 π‘‘π‘Žπ‘› 𝐡𝐼𝑆𝐴 𝑅𝐴𝑁𝑇𝐼𝑁𝐺 π‘¦π‘Žπ’‰ π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘π‘˜π‘’


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


π‘‘π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™π‘˜π‘Žπ‘› 𝐾𝑂𝑀𝐸𝑁 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘› π‘‘π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘‘π‘–π‘‘π‘–π‘˜ π‘ π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Ž π‘ π‘œπ‘π‘Žπ‘›!


😘😘😘


π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘™π‘’π‘π‘Ž π’‰π‘Žπ‘‘π‘–π‘Žπ’‰π‘›π‘¦π‘Ž


🀭🀭🀭🀭🀭


π‘Žπ‘”π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘¦π‘Ž 𝑖𝑛𝑖 π‘ π‘’π‘šπ‘Žπ‘˜π‘–π‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘”.


πŸ₯°πŸ€—πŸ₯³πŸŒž

__ADS_1


π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘–π‘šπ‘Žπ‘˜π‘Žπ‘ π‘–π’‰ π‘π‘Žπ‘”π‘– π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘™π‘Žπ’‰ π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘›π‘Žπ‘› π‘ π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ’‰


πŸ’–πŸ’‹


__ADS_2