Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
MARAH


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul empat sore saat Dean baru tiba di rumah. Seperti biasa, Dean hanya meletakkan tas dan jas kerjanya secara serampangan di sofa ruang tamu karena nanti akan ada maid yang membereskan. Pria itu langsung menuju ke kamarnya bersama Melanie yang memang berada di lantai bawah.


Tak perlu mengetuk pintu tentu saja, karena itu adalah kamar Dean dan Melanie.


Dean mendorong pintu kayu itu hingga terbuka, saat pria itu melihat sebuah pemandangan yang sudah lama tak ia lihat.


Lingerie merah menyala milik Melanie yang dulu menjadi favoritnya, sedang dikenakan oleh Melanie yang kini duduk di tepi tempat tidur dan membelakangi pintu masuk. Melanie memang sudah jarang memakai lingerie favorit Dean itu sejak tubuhnya menjadi kurus seperti saat ini karena Melanie beralasan kalau ia malu pada Dean.


Padahal Dean tak pernah mempermasalahkan bentuk tubuh Melanie, karena Dean sangat mencintai istrinya tersebut.


"Hai, Sayang! Aku pulang!" Sapa Dean pada Melanie yang masih memunggunginya dan belum sedikitpun menoleh ke arahnya.


Ck!


Mungkin Melanie memang sedang ingin menggoda Dean.


"Tumben kau memakai gaun itu lagi?" Goda Dean pada Melanie yang tetap bergeming.


Dean melangkah semakin dekat ke arah Melanie yang masih mematung.


"Kau mau menggodaku, hmmm?" Tanya Dean lagi, dan tetap tidak ada jawaban dari Melanie.


Dean benar-benar gemas pada istrinya ini sekarang.


"Sayang, kok diam saja?" Dean yang sudah tak tahan, langsung memegang lembut pundak sang istri dan memutar tubuh itu dengan cepat.


Namun betapa terkejutnya Dean saat mendapati wanita yang memakai lingerie merah favorit Dean itu adalah Felichia dan bukan Melanie. Dean segera beringsut mundur dan melempar tatapan marah pada Felichia yang hanya diam mematung.


"Sedang apa kau di kamarku?" Gertak Dean dengan ekspresi wajah dingin dan suara yang tak lagi lembut.


Felichia masih diam dan tak menjawab sepatah katapun.


Apa wanita itu sudah berubah menjadi seorang wanita bisu sekarang?


"Keluar!" Usir Dean pada Felichia seraya menunjuk ke arah pintu kamar.


Felichia hanya mematung saat Dean menyadari kalau Felichia tidak mungkin keluar dari kamar karena wanita itu yang kini mengenakan baju terbuka. Dean yang kesal akhirnya berjalan ke arah pintu dan membuka dengan kasar pintu tak bersalah di depannya.


"Dean!"


Dean kaget setengah mati saat melihat Melanie yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu kamar dan mencegahnya untuk keluar.


"Aku tidak bisa, Mel!" Ungkap Dean frustasi sebelum pria itu merangsek keluar dan meninggalkan kamarnya serta Melanie yang hanya diam di depan kamar.


Felichia menghampiri Melanie yang masih terdiam di depan kamar, seraya membungkus tubuhnya dengan sebuah selimut.


"Aku akan ke kamarku," Ucap Felichia lirih nyaris tanpa suara.


Melanie tahu kalau Felichia sedang sekuat tenaga menahan tangisnya. Jadi Melanie tak mencegah Felichia yang kini sudah berlari menaiki tangga yang menuju ke kamarnya di lantai dua.

__ADS_1


Melanie menarik nafas dalam-dalam sebelum menjalankan kursi rodanya ke arah dapur untuk menyusul Dean.


"Dean!"


Melanie benar-benar tak tahan lagi saat melihat Dean yang meneguk alkohol dari dalam botol. Buru-buru Melanie bangkit dari kursi rodanya untuk menghentikan Dean.


"Dean! Berhenti!" Melanie hendak mendekat ke arah Dean saat suaminya itu sudah dengan cepat menghampirinya dan menopang tubuh Melanie yang hampir terjatuh.


"Bukankah sudah kubilang untuk-"


"Kau juga sudah bilang untuk tak minum lagi!" Melanie memotong kalimat Dean dan mengingatkan suaminya itu tentang janjinya.


"Aku hanya minum sedikit," Dean berkelit sebelum pria itu kembali mendudukkan Melanie ke atas kursi roda.


Dean kini bersimpuh di depan Melanie.


"Kenapa kau melakukan semua itu?" Tanya Dean menatap tak mengerti pada sang istri.


"Karena aku ingin masalah ini cepat selesai! Bukankah katamu lebih cepat lebih baik?"


"Felichia sedang dalam masa subur minggu ini, jadi-" Melanie menjeda sejenak kalimatnya karena hatinya yang sesaat terasa nyeri. Wanita itu menghela nafas berulang kali.


"Jadi sebaiknya kau segera melakukannya!" Lanjut Melanie setelah berhasil menguasai emosinya.


"Di kamar kita? Di atas ranjang kita?" Dean menatap tak percaya pada Melanie.


"Tapi kau tetap harus melakukannya, Dean! Bagaimana Felichia akan hamil jika kau tidak melakukannya," Ucap Melanie selanjutnya yang tetap keras kepala.


"Biarkan aku menenangkan diri dulu, oke!" Dean terlihat frustasi. Pria itu bangkit berdiri dan meraih botol minumannya lagi.


"Jangan minum untuk menenangkan diri!" Melanie mengingatkan Dean dengan tegas.


"Baiklah!" Dean menuang cairan di dalam botol ke dalam wastafel. Lalu melempar botol kaca itu ke dalam tempat sampah besar di dapur.


"Aku akan minum air dingin saja!" Ucap Dean selanjutnya seraya membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin, lalu meneguknya hingga tandas.


"Aku tidak harus melakukannya malam ini, kan?" Dean sudah kembali bersimpuh di depan Melanie.


"Bukankah katamu masa subur punya periode beberapa hari?" Dean melanjutkan kalimatnya.


"Ya!" Melanie hanya menjawab datar.


"Tapi jika kau tidak berhasil bulan ini, kau harus mengulangnya bulan depan-" Melanie kembali mengingatkan Dean.


"Aku tahu!" Dean memotong kalimat Melanie dan sedikit emosi.


"Biarkan aku menenangkan diri dulu, Mel!" Pinta Dean sekali lagi dan Melanie hanya mengangguk mencoba memahami sang suami.


"Kau mau mandi dan membersihkan diri dulu?" Melanie sudah ganti mengusap lembut wajah Dean.

__ADS_1


Suaminya itu memejamkan mata, seolah sedang menikmati sentuhan lembut tangan Melanie.


"Bersamamu," Dean bergumam dan memberikan isyarat nakal pada Melanie.


"Gendong aku!" Melanie mengulurkan kedua lengannya ke arah Dean memberikan isyarat agar Dean menggendongnya ke dalam kamar.


Dean tak membuang waktu dan segera mengangkat tubuh Melanie dari atas kursi roda, lalu membawa istrinya tersebut masuk ke dalam kamar.


****


"Kenapa kamu murung, Fe?" Tanya Erlan pada Felichia yang sedang duduk diam seraya menatap air hujan yang menimpa kaca jendela apartemen.


"Aku hanya memikirkan tentang rumah tangga kita ke depannya, Erlan! Tentang restu Mama dan Papa-"


"Ssstt!" Erlan meletakkan telunjuknya di bibir Felichia, lalu mendekap erat tubuh istrinya tersebut.


"Aku akan tetap mencintaimu, meskipun Papa dan Mama selamanya tak merestui hubungan kita. Aku akan terus mencintaimu sampai kapanpun," ucap Erlan bersungguh-sungguh.


"Kau percaya kepadaku, kan?" Erlan meraih dagu Felichia dan menatap penuh kesungguhan ke dalam netra istrinya tersebut.


Felichia mengangguk.


"Jangan sedih lagi!" Erlan sudah ganti meraup Felichia ke dalam pelukannya.


Tok tok tok!


Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Felichia. Wanita itu menghapus kasar airmata di kedua pipinya, lalu segera beranjak untuk membuka pintu.


"Siapa?" Tanya Felichia yang sudah memegang knop pintu.


"Saya mengantarkan makan malam anda, Nona!" Suara seorang maid dari balik pintu membuat Felichia sedikit bernafas lega. Felichia membuka pintu perlahan.


"Nona Melanie meminta saya mengantarkan makan malam anda, Nona!" Ucap maid sekali lagi seraya menunjukkan nampan yang penuh makanan di tangannya.


"Terima kasih! Aku bisa membawanya sendiri," ucap Felichia seraya mengambil alih nampan tadi dari tangan maid.


Felichia kembali menutup pintu kamar, setelah maid berbalik dan pergi.


Felichia menatap tanpa selera pada makanan yang kini berada di tangannya.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2