
Melanie menuju ke dapur untuk bertanya pada koki tentang bubur kacang hijau pesanan Felichia.
"Sudah siap, Nona!" Lapor koki seraya menunjuk ke arah dua mangkuk bubur kacang hijau yang masih mengepulkan asap.
"Kenapa ada dua mangkok? Yang satu untuk siapa?" Tanya Melanie pada koki.
Seorang maid langsung membawa satu mangkuk bubur ke kamar Felichia agar bisa segera dinikmati oleh ibu hamil tersebut.
"Tadi tuan Dean juga ingin makan bubur kacang hijau, Nona. Jadi saya membuatkan dua mangkok," jelas koki yang langsung membuat Melanie mengernyitkan kedua alisnya.
Sejak kapan Dean suka bubur kacang hijau?
"Lalu sekarang Dean dimana?" Tanya Melanie lagi pada koki.
"Di lantai atas di ruang kerjanya, Nona," jawab koki yang hanya membuat Melanie mengangguk.
"Biar aku saja yang mengantar bubur Dean. Kau jaga saja Felichia dan ambilkan apa saja yang ia mau atau ia perlukan," ujar Melanie pada salah seorang maid yang hendak mengantarkan bubur Dean.
"Baik, Nona!"
Melanie bangkit dari kursi rodanya dan segera membawa nampan berisi bubur Dean, lalu wanita itu menaiki tangga dengan hati-hati dan langsung menuju ke ruang kerja Dean yang berada di lantai dua.
Melanie harus berhenti dua kali saat menaiki tangga yang cukup panjang itu, karena perutnya bagian bawah memang sering sakit belakangan ini terutama jika Melanie berjalan terlalu lama atau setelah bercinta dengan Dean.
Tapi Melanie belum memberitahu Dean tentang hal ini karena Melanie pikir mungkin ini hanya efek dari operasi pengangkatan rahim yang belum ada setahun ia jalani.
Tok tok tok!
Melanie mengetuk pintu kamar Dean sebelum mendorong pintu kamar tersebut hingga menjeblak terbuka. Dean kaget bukan kepalang saat mendapati Melanie yang sudah naik ke lantai dua.
"Mel, kenapa kau naik tangga?" Cecar Dean yang langsung merangkul pundak Melanie dan membimbing istrinya itu menuju ke sofa.
"Aku mengantarkan buburmu, Dean. Sejak kapan kau suka bubur kacang hijau?" Tanya Melanie penuh selidik.
Dean diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Melanie. Dean juga tidak tahu sejak kapan ia menyukai bubur yang dulu sangat ia hindari tersebut.
"Aku tidak tahu! Mungkin ini masih bagian dari Syndrome kehamilan menyebalkan itu," jawab Dean yang raut wajahnya sudah berubah kesal.
"Felichia juga minta bubur kacang hijau tadi. Apa ini hanya sebuah kebetulan atau kalian punya ikatan batin sekarang?" Melanie tertawa menyindir.
"Oh, ya? Aku benar-benar tidak tahu," tukas Dean pura-pura tak tahu padahal jelas-jelas Dean tadi menguping pembicaraan Melanie dan Felichia tentang bubur kacang hijau, lalu setelahnya Dean berpesan pada koki agar ia dibuatkan bubur kacang hijau juga sama seperti yang diminta Felichia.
__ADS_1
Ck!
Dean jadi sering berbohong pada Melanie belakangan ini karena ngidam sialan yang tak kunjung usai ini. Masih tersisa tujuh bulan lagi, dan bisa-bia rumah tangga Dean dan Melanie akan hancur berantakan jika Dean tak bisa mengendalikan diri dan terus terperdaya oleh rasa ngidam yang menyebalkan ini.
"Dean, kenapa kau malah melamun? Buburmu keburu dingin," Tegur Melanie yang langsung membuyarkan lamunan Dean.
"Kau tidak menyuapiku, Sayang! Bagaimana aku bisa makan?" Dean mengusap wajah Melanie dan mencoba bersikap romantis dan lembut pada istrinya tersebut. Dean harus bisa menguasai dirinya sendiri dan melawan rasa ngidam sialan serta ketertarikannya pada Felichia.
Felichia istri Erlan, Dean!
Dan posisinya saat ini di rumahmu ini hanyalah sebagai rahim pengganti!
"Kau selalu saja bersikap manja!" Decak Melanie yang mulai menyendoki bubur kacang hijau di mangkok, lalu menyuapkannya perlahan pada Dean.
"Enak?" Tanya Melanie meminta pendapat Dean setelah suaminya tersebut menghabiskan setengah mangkok bubur.
"Enak sekali, karena kau yang menyuapi," jawab Dean bergombal.
Melanie hanya terkekeh dan lanjut menyuapi Dean hingga bubur di mangkok tandas tak tersisa.
"Ngomong-ngomong, mumpung kau ada di atas sini bagaimana kalau kita ke kamar lama kita," usul Dean yang sudah mendekatkan wajahnya ke arah Melanie
"Bukankah kau harus menyelesaikan pekerjaanmu, Dean," ujar Melanie mengingatkan.
Kamar itu adalah kamar lama Dean dan Melanie sebelum Melanie sakit dan duduk di kursi roda.
"Kau ingat saat kita pertama kali masuk ke kamar ini?" Tanya Dean yang sudah menutup pintu lalu merebahkan tubuh Melanie dengan lembut.
"Ya! Kau menggendongku dari dalam mobil hingga ke lantai dua, lalu membanting tubuhku di atas ranjang bertabur kelopak bunga mawar," jawab Melanie mengenang momen indahnya bersama Dean.
"Aku benar-benar tak bermaksud membantingmu saat itu! Tanganku mendadak kram dan kau tiba-tiba terlepas dari gendongan, " ujar Dean mencari alasan dan pembenaran.
"Baiklah, aku percaya!" Melanie masih tergelak dan kepalanya manggut-manggut.
"Bagaimana kalau kita ulangi yang terjadi saat itu setelah aku membanting tubuhmu ke atas ranjang?" Tanya Dean menggoda.
Pria itu juga sudah menanggalkan kausnya.
"Ini masih pagi, Dean!" Melanie mencari alasan.
"Bercinta saat pagi membuat lebih bergairah," Dean sudah mulai melucuti baju Melanie.
__ADS_1
"Kau gila! Kita sudah melakukannya semalam. Kau nanti muntah-muntah lagi kalau terlalu banyak bercinta." Melanie memperingatkan Dean sekali lagi.
"Tidak mungkin! Aku suka bercinta denganmu, jadi aku tidak akan-"
"Aduh!" Melanie meringis saat Dean mulai mencumbu istrinya tersebut.
"Ada apa?" Tanya Dean yang buru-buru menghentikan aktivitasnya.
Melanie masih meringis seraya memegangi bagian bawah perutnya.
"Sedikit kram, atau apa aku tidak tahu," Terbata-bata Melanie menjawab pertanyaan Dean karena wanita itu masih meringis.
"Pasti karena kau naik tangga tadi," gumam Dean berpendapat.
Dean segera membenarkan posisi Melanie dan meluruskan kaki istrinya tersebut.
"Seharusnya kau jangan naik tangga dan jangan terlalu capek, Mel!" Dean menasehati Melanie seraya tangannya mengusap-usap perut Melanie yang sejak tadi di pegangi oleh istrinya tersebut.
"Kita ke rumah sakit, ya!" Ajak Dean selanjutnya yang sudah kembali memakai baju dan celananya.
"Nggak!" Jawab Melanie menggeleng.
"Aku sudah baikan, Dean!" Melanie menarik nafas panjang.
"Sudah tak sakit lagi," ulang Melanie berusaha meyakinkan Dean.
"Dasar keras kepala!" Dean mengusap lembut wajah istrinya tersebut, sebelum menghubungi maid di bawah untuk mengantarkan air hangat ke atas.
"Dean," panggil Melanie manja
"Apa pekerjaanmu bisa ditunda? Aku ingin kau memelukku disini," Melanie menepuk ruang kosong di atas ranjang tepat di sampingnya.
"Sangat bisa! Mau aku peluk sampai kapan?" Dean sudah naik ke atas tempat tidur dan mendekap Melanie.
"Selama mungkin,"cicit Melanie yang semakin membenamkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat Dean.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.