
"Belum tidur, Sayang!" Tanya Dean yang sudah langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Melanie, sesaat setelah pria itu turun dari tangga dan Aaron meninggalkan kediaman Alexander.
"Aku menunggumu selesai bicara dengan pacarmu," jawab Melanie sedikit berkelakar.
Dean tertawa kecil dan langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Melanie yang sedang duduk di atas sofa.
"Masuk kamar sana, kalau memang sudah mengantuk!" Perintah Melanie seraya mengusap-usap kepala Dean dengan lembut.
"Aku masih mau bermanja-manjaan denganmu," jawab Dean menolak perintah dari sang istri.
"Nanti mual-mual lagi," Melanie mulai berprasangka.
"Tidak akan. Aku belum mual-mual sejak tadi," kelit Dean yang tangannya sudah mulai menyusup ke dalam piyama Melanie, mencari-cari sesuatu yang padat dan kenyal di bawah bra Melanie.
Tapi kenapa rasanya sedikit berbeda dan tak seperti ekspetasi Dean?
Yang saat ini memenuhi kepala Dean malah benda padat kenyal milik Felichia yang tadi siang tak sengaja Dean senggol sejenak.
"Sialan!" Dean mengumpat tanpa sadar.
"Kenapa, Dean? Kenapa kau mengumpat?" Tanya Melanie yang sepertinya sedikit tersinggung karena Dean yang malah mengumpat saat sedang mencumbunya.
"Apa, ada apa?" Dean pura-pura tak paham dan melempar tatapan bingung pada Melanie.
"Kau tadi mengumpat saat tanganmu bergerilya di bawah piyamaku. Apa kau mengumpatiku?" Tanya Melanie penuh selidik. Raut wajah istri Dean itu juga sudah berubah menjadi tidak senang.
"Tentu saja tidak, Mel!" Jawab Dean cepat menutup rasa salah tingkahnya.
"Aku hanya sedikit mual lagi." Dean mencari alasan lain.
"Ya, aku tadi tiba-tiba mual, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja," lanjut Dean mencoba merangkai kata yang tak menyinggung hati Melanie.
Dean sudah berganti posisi, dan kini pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Melanie, lalu dengan cepat mengecup bibir Melanie.
Cukup lama, Dean dan Melanie saling mencecap dan berpagutan di atas sofa, hingga pasangan suami istri itu kehabisan nafas.
"Sebaiknya kita pindah ke kamar. Kau mulai bergairah," goda Dean yang sudah bangkit berdiri dari sofa, lalu membopong tubuh Melanie dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Melanie tak sedikitpun menolak, karena sudah tiga hari Dean dan dirinya libur bercinta akibat frekuensi mual dan muntah Dean yang memang masuk kategori sangat parah tiga hari kemarin.
Tapi malam ini sepertinya Dean baik-baik saja, lebih tepatnya setelah pria itu tadi menikmati jajanan pinggir jalan seperti yang dibeli oleh Felichia.
Melanie sempat dongkol dengan permintaan ngidam Dean yang menurutnya sudah diluar batas kewajaran. Dean yang sebelumnya sangat alergi pada jajanan pinggir jalan, mendadak terlihat lahap memakan cilok dan es puter di hadapan Melanie.
Ck!
Semoga itu yang pertama dan terakhir kali Dean ngidam makanan yang kurang sehat dan kurang higienis itu.
"Kenapa kau melamun, Sayang!" Teguran Dean membuyarkan lamunan Melanie.
Melanie bahkan tak sadar kalau Dean sudah melucuti pakaiannya dan membuat bagian atas tubuhnya tak lagi tertutupi apapun.
"Dean, sakit! Kau sedang apa?" Keluh Melanie saat Dean memainkan gundukan kenyalnya dengan sedikit kasar.
__ADS_1
Dean tidak pernah begini sebelumnya karena milik Melanie yang sekarang ukurannya memang tak sebesar saat dulu ia baru menikah dengan Dean.
Fibroid rahim yang pernah menggerogoti tubuh Melanie, serta pengobatan yang dulu ia jalani, sedikit banyak sudah mengubah bentuk tubuh Melanie.
"Begini, sakit?" Tanya Dean yang tangannya masih tak berhenti merem*s.
Dean seolah sedang mencari pelampiasan dari sesuatu yang kini memenuhi otaknya.
Sial!
Dean ingin gundukan milik Felichia sekarang.
Dean ingin bermain-main, lalu mencecap, dan menggigiti puncaknya.
Ya,
Dean memang belum pernah memainkannya karena dulu saat menyentuh Felichia, yang ada di kepala Dean hanya rasa bersalah pada Melanie. Jadi saat itu Dean memang tak pernah melakukan foreplay atau menjamah bagian tubuh Felichia yang lain, selain bagian intinya saja yang Dean masuki.
"Aaah!" Pekikan kecil dari Melanie seolah membuyarkan lamunan Dean, yang ternyata kini sedang menghisap kedua gundukan Melanie secara bergantian.
"Kau menggigitnya," cicit Melanie seraya menatap Dean dengan tatapan yang sudah dipenuhi kabut gairah.
Melanie begitu bersemangat dan bergairah malam ini seperti biasanya. Namun tidak dengan Dean yang malam ini pikirannya malah bercabang kemana-mana. Dan yang paling banyak memenuhi otak Dean sekarang adalah tubuh sintal Felichia ketus dan menyebalkan itu.
Jika Dean mencumbu wanita itu sekarang, apa ia tetap akan diam dan menahan diri untuk tak mendes*h?
Apa ia hanya akan menggigit bibir bawahnya dengan kuat sambil merem*s sprei di sampingnya saat Dean menyentak masuk?
Atau justru dia akan berteriak dan menekik seperti halnya Melanie saat ini yang berada di bawah kungkungan Dean?
Apa?
Kapan Dean menyentak masuk?
Dalam bayangannya tadi ia menyentak kendalam milik Felichia yang menurutnya lebih menggigit ketimbang milik Melanie sekarang.
Astaga!
Apa yang kau pikirkan Dean?
Melanie istrimu, dan wanita hamil yang sangat ingin kau cumbu itu bukan siapa-siapamu!
Dia menyebalkan!
Jadi bersihkan otakmu dari semua hal tentang tibuh sintalnya!
Dean tak berhenti berperang dengan batin dan pikirannya sendiri.
Lama-lama Dean mungkin akan menjadi gila.
"Dean!" Melanie menegur Dean sekali lagi.
"Aku sudah bergerak, Mel!" Kelit Dean yang memang kini sudah bergerak keluar dan masuk diatas Melanie.
__ADS_1
"Tapi kau tidak menatap mataku, Dean! Tatapanmu kosong sejak tadi dan kau terlihat melamun. Apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu?" Cecar Melanie meminta penjelasan Dean.
"Tidak ada!" Jawab Dean cepat yang langsung menatap ke dalam netra Melanie.
"Jangan bohong!" Melanie mulai menggertak.
"Memikirkan apa?"
"Aku hanya berpikir apa mungkin ada orang yang ngidam ingin selalu bercinta seperti ini?" Dean akhirnya mengarang indah.
"Kenapa memang? Kau ngidam ingin bercinta terus?" Goda Melanie melempar senyuman nakal pada Dean.
Dulu Dean begitu menyukainya, namun kini Dean sedikit sebal.
Aneh!
"Apa kau merasa keberatan?" Dean menundukkan wajahnya dan mulai menciumi wajah dan leher Melanie. Dean ingin menyingkirkan rasa sebal yang mendadak hinggap di hatinya.
Ya ampun!
Ada apa lagi dengan Dean kali ini?
"Kenapa aku harus keberatan? Bukankah sejak dulu kita selalu bercinta sebelum tidur?" Melanie melingkarkan kedua lengannya di leher Dean, lau menarik kepala suaminya tersebut dan mulai mencecap bibur Dean.
Di bagian bawah, Melanie juga sudah menggerakkan pinggulnya secara aktif dan mencoba mendominasi di bawah Dean yang malah diam seperti patung.
Ada apa dengan suami Melanie ini?
Sedang mencumbu Melanie, tapi jiwanya seperti sedang berkelana di tempat lain.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Dean?
"Kau melamun?" Dean tiba-tiba sudah tersenyum pada Melanie dan mengecup bibir istrinya itu dengan singkat.
Melanie menggeleng dengan cepat.
"Ayo kita selesaikan!" Dean kembali mulai bergerak dan kali ini terasa intens serta berirama. Tak berselang lama, suami Melanie itu sudah mencapai pelepasannya.
Dean mencecap bibir Melanie sekali lagi, lalu menyusupkan kepalanya di ceruk leher sang istri dan memejamkan mata.
Bayangan saat Feli memalingkan wajahnya, lalu tubuh polos Felichia yang tak tertutupi sehelai benangpun, dan milik Felichia yang begitu menggigit. Semua terus berputar-putar di kepala Dean.
Dasar brengsek!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1
.