
"Pangeran yang sombong dan kejam itupun akhirnya berubah menjadi seorang pangeran baik hati dan bijaksana serta menyayangi semua rakyatnya, berkat cinta tulus dari gadis biasa tadi."
"Kutukan sang pangeran juga akhirnya hilang, lalu pangeran dan si gadis menikah dan hidup bahagia selamanya. Tamat." Dean menutup buku cerita yang baru selesai ia bacakan untuk Richard, Gika, dan Naka.
Ketiga putra Dean Felichia tersebut sudah menguap berulang kali dan mengantuk. Bahkan Gika sudah terlelap duluan di pangkuan Felichia.
"Ayo bobok!" Bujuk Dean selanjutnya seraya membenarkan posisi anak-anaknya ke atas tempat tidur masing-masing.
Kamar Richard, Gika, dan Naka memang masih menjadi satu, namun tempat tidur mereka sudah terpisah sendiri-sendiri karena kamar ini memanglah sangat luas.
Dean dan Felichia mengecup kening ketiga anak mereka secara bergantian dan menunggu sejenak sampai mereka bertiga terlelap. Setelah memastikan ketiga jagoan itu sudah tidur, Dean segera mematikan lampu dan keluar dari kamar anak-anak seraya merangkul Felichia.
"Saatnya membuat yang keempat," gumam Dean seraya mengeratkan dekapannya pada Felichia.
"Mau buka puasa ceritanya?" Goda Felichia yang sudah memutar tubuhnya, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Dean.
"Aku sudah menahannya berhari-hari, Fe! Jadi aku akan menagih janjimu tempo hari." Dean melempar tatapan nakal pada Felichia.
"Janji yang mana?" Tanya Felichia pura-pura lupa.
Felichia mengusap dada Dean seraya menggigit bibir bawahnya seolah sedang menggoda suaminya tersebut.
"Kau hanya pura-pura lupa atau kau memang pura-pura lupa?" Tanya Dean yang sudah semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Felichia.
Felichia sontak tertawa kecil.
"Ayo ke kamar dan aku akan memuaskanmu!" Bisik Felichia sebelum wanita itu melepaskan tubuhnya dari dekapan Dean dan berlari menaiki tangga.
Dean tak membuang waktu lagi dan segera ikut berlari menyusul Felichia. Baru sampai di tengah-tengah tangga, Dean sudah menangkap tubuh istrinya tersebut dan segera menggendongnya ke atas pundak.
Felichia menjerit-jerit namun Dean tak peduli dan pria itu langsung membawa tubuh Felichia masuk ke dalam kamar. Membuka pintu dengan kasar, lalu mendaratkan tubuh Felichia ke atas ranjang berbalut sprei warna putih.
Felichia tak tinggal diam dan langsung menarik kepala Dean lalu menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, panas, dan penuh gairah. Dean juga tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan membalas ciuman Felichia yang begitu menggairahkan.
"Kau belum menutup pintu, Dean!" Felichia mengingatkan Dean di sela-sela ciuman lanas mereka.
"Memangnya siapa yang akan melihat?"
"Richard," jawab Felichia seraya tertawa kecil.
Dean ikut tertawa sebelum kemudian pria itu bangkit berdiri dengan cepat untuk menutup sekaligus mengunci pintu.
__ADS_1
Dean sudah kembali menghampiri Felichia yang bibirnya mulai bengkak karena ciuman panas mereka tadi.
Ah, tapi terlihat semakin sexy dan menggiurkan membuat Dean ingin kembali mencecapnya.
Dean sudah hampir meraup bibir istrinya tersebut, saat ternyata gerakan Felichia lebih gesit dan wanita itu sudah bangun dengan cepat menghindari ciuman Dean. Felichia tersenyum nakal ke arah Dean sebelum kemudian istri Dean itu berjalan ke arah kamar mandi sambil menanggalkan satu persatu bajunya tanpa sungkan.
Felichia seolah sedang menggoda Dean, dan tepat di depan pintu kamar mandi, Felichia membuka bajunya yang terakhir dan menoleh ke arah Dean.
"Kau tidak ingin mandi bersamaku, Dean?"
Nada suara istri Dean itu begitu sensual dan menggoda. Dean bahkan baru tahu kalau Felichia bisa se-agresif itu. Tapi Dean menyukainya dan pria itu tak membuang waktu lagi. Dean ikut menanggalkan semua bajunya dan dengan cepat menyusul Felichia yang kini sudah berada di bawah guyuran air shower.
Rambut sebahu Felichia sudah basah kuyup dan wanita itu terlihat sedang meliuk-liuikan tubuhnya di bawah guyuran air shower, membuat Dean yang kini melihatnya, semakin bergairah.
Dean menghampiri Felichia dengan cepat dan segera menyusuri setiap jengkal tubuh istrinya tersebut dengan jemarinya. Sesekali, Dean akan mengecup pundak Felichia lalu bermain-main sebentar di area tubuh Felichia yang sensitif hingga istrinya itu menggelinjang dan mendes*h.
Dua tubuh itu sudah sama-sama basah kuyup di bawah guyuran air hangat dari shower, namun keduanya masih belum berhenti untuk saling menyentuh dan mencecap. Seolah mereka berdua sedang melampiaskan gunungan hasrat yang terpendam selama ini.
Dean kembali mencecap bibir Felichia yang sudah semakin bengkak, lalu ciuman Dean turun ke leher dan dada. Tepat di atas dua bukit kembar Felichia, bibir Dean berhenti sejenak dan lidahnya mencecap ujung gundukan tersebut. Sesekali Dean juga akan melahap keduanya secara bergantian lalu menghisap-hisapnya seperti seorang bayi yang sedang butuh ASI.
"Haatchi!" Felichia sudah mulai bersin, sepertinya karena terlalu lama berada di bawah guyuran air.
"Kita lanjutkan di atas tempat tidur," usul Dean yang langsung membuat Felichia mengangguk. Felichia mengalungkan lengannya di leher Dean dan membenamkan kepalanya di pelukan sang suami, memberi kode agar Dean menggendongnya lagi keluar dari dalam kamar mandi. Sepertinya Felichia mulai ketagihan digendong dan dimanja oleh Dean.
Dean mendaratkan dengan lembut tubuh Felichia yang hanya terbalut handuk ke atas tempat tidur. Tanpa membuang waktu, Dean segera menyingkirkan handuk yang menjadi penghalang terakhir tubuhnya dan tubuh Felichia. Pria itu lanjut mengecup setiap inchi dari tubuh Felichia, mengulangi apa yang tadi ia lakukan di dalam kamar mandi.
Felichia menggelinjang kegelian, saat Dean menyentuh satu per satu area sensitifnya. Sentuhan demi sentuhan lembut yang dilakukan oleh Dean semakin membuat Felichia merasa melayang.
Bibir Dean terus turun ke bagian bawah tubuh Felichia dan kini sudah menyusuri paha mulus Felichia lalu terus naik ke atas hingga mencapai pangkal paha istrinya tersebut.
"Dean," Felichia melenguh dan menggigit bibir bawahnya saat wanita itu merasakan lidah Dean yang mulai bermain-main di area miliknya.
Dean tak berhenti memainkan lidahnya hingga des*han dan racauan terus keluar dari bibir Felichia. Dean semakin bersemangat sekarang dan miliknya yang juga sudah tegak menantang sejak tadi.
"Sekarang," Dean mengangkat kepalanya dan menatap pada wajah Felichia yang kini terengah-engah menahan hasrat dan gairahnya.
Dean mengarahkan miliknya ke dalam milik Felichia yang sudah basah sejak tadi, lalu mendorongnya perlahan.
Aaarrrrgh!
Rasanya sudah lama sekali Dean tidak melakukan ini. Dan sekarang rasanya begitu nikmat. Dean terus mendorong masuk miliknya semakin dalam hingga akhirnya junior Dean sudah tenggelam sepenuhnya di dalam milik Felichia. Felichia membuka matanya yang sejak tadi terpejam dan menatap ke arah Dean yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
"Rasanya sudah lama sekali," ucap Dean yang langsung membuat Felichia mengangguk.
"Tiga tahun," gumam Felichia seraya menangkup wajah Dean.
"Ya, tiga tahun. Tapi rasanya masih seperti dulu," Dean melanjutkan kalimatnya dan wajah Felichia langsung berubah memerah.
"Gombal!" Felichia memukul kecil dada Dean.
"Sudah dipakai lewat Naka dan Gika. Jadi rasanya pasti berbeda, Dean!" Lanjut Felichia lagi.
"Jadi, si kembar lahir normal juga?" Tanya Dean yang sudah mulai bergerak naik dan turun di atas Felichia.
"Ya, mereka lahir di usia 37 minggu. Naka beratnya 3 kilogram dan Gika beratnya 2,8 kilogram."
"Sampai sekarang aku masih tak percaya kalau aku pernah membawa dua bayi kembar yang beratnya hampir 6 kilogram di dalam perutku," cerita Felichia seraya tertawa kecil. Namun sesaat kemudian wanita itu kembali melenguh dan mendes*h karena hentakan demi hentakan yang dilakukan oleh Dean.
"Kau wanita yang kuat dan hebat, Sayang!" Dean menghentikan sejenak gerakannya agar bisa mencium kening Felichia sebagai ungkapan terima kasih serta rasa bangganya pada Felichia.
"Kau benar-benar istriku yang hebat," ucap Dean sekali lagi yang kembali mulai bergerak.
Felichia mengalungkan kedua lengannya di leher Dean, lalu menarik kepala suaminya tersebut dan meraup bibir Dean. Felichia terus memberikan ciuman yang menggebu untuk Dean bersamaan dengan Dean yang juga semakin mempercepat gerakannya.
"Aaargh!" Dean semakin bersemangat saat merasakan juniornya yang terasa disedot-ssdot di dalam milik Felichia hingga akhirnya tubuh keduanya sama-sama mengejang bersamaan dengan pelepasan yang mereka dapatkan.
Dean terengah-engah dan langsung menjatuhkan kepalanya di dada Felichia, lalu menghisap puncak dari gundukan milik Felichia yang masih menegang, seperti seorang bayi yang sedang menyusu pada ibunya.
Suasana kamar menjadi hening dan yang terdengar hanyalah deru nafas Dean dan Felichia yang masih terengah.
.
.
.
Setdah!
Belum KB nggak pake pengaman pula.
Terserahlah!
Jangan lupa like biar ada ronde berikutnya 😂😂
__ADS_1