
Dean tidak mengerti ada apa dengan warna kuning hari ini. Setelah tadi membeli rujak memakai outfit serba kuning dan naik mobil Dean yang warna kuning. Sekarang Felichia juga membeli permen kapas bentuk bunga yang warnanya kuning. Wanita itu juga membelikan tiga permen kapas lain yang ukurannya lebih kecil untuk Richard, Gika, dan Naka.
Dan yang lebih membuat Dean geleng-geleng kepala adalah, Felichia yang mendadak minta dibelikan bunga warna kuning untuk dipajang di kamar. Untunglah di florist langganan Dean stok bunganya masih penuh dan baru saja datang. Jadi Dean bisa membeli semua bunga warna kuning yang ada di florist. Dan sekarang, semua bunga-bunga itu memenuhi mobil Dean.
Semoga setelah ini Felichia tak merengek minta makan malam pakai nasi kuning atau meminta Dean mengecat seluruh kediaman Alexander memakai cat warna kuning.
Ckckckck!
Mungkin Felichia sedang balas dendam pada Dean karena di kehamilan sebelumnya wanita ini tak mendapatkan perhatian dari Dean.
Baiklah!
Tak masalah selagi Dean bisa mewujudkan semua ngidam aneh Felichia tersebut.
"Kau mau, Dean?" Felichia menyuapkan sepotong permen kapas warna kuning di tangannya ke dalam mulut Dean.
"Enak!" Ucap Dean seraya manggut-manggut.
Felichia kembali menyuapi sang suami yang sepertinya mulai doyan. Sementara Dean sudah kembali melajukan mobil kuningnya, setelah lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
Dean terus mengunyah permen kapas yang disuapkan Felichia, hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di kediaman Alexander bersamaan dengan permen kapas Felichia yang juga sudah habis.
"Mom! Dad!"
"Mom!"
"Dad!"
Richard, Gika, dan Naka langsung menghambur ke teras untuk menyambut kedatangan Dean dan Felichia.
Dean langsung membawa Gika dan Naka ke dalam gendongan setelah mereka berdua mengambil permen kapas yang dibelikan oleh Felichia.
Sementara Richard mengekor di belakang sang Dad dan ikut membawa permen kapas miliknya masuk ke dalam rumah.
Dean mengajak ketiga jagoannya untuk duduk di ruang tengah, lalu mereka mengobrol sambil bermain dan makan permen kapas.
Sementara Felichia masih sibuk dengan semua bunga kuningnya di teras depan.
Biarkan saja ibu ratu itu melakukan apapun yang ia inginkan. Dean dan ketiga anak lelakinya tak akan mengganggu, karena wanita kadang memang sulit dipahami. Dan sejauh ini, Felichia masih menjadi satu-satunya wanita di keluarga kecil Dean.
****
Beberapa bulan berlalu,
Perut Felichia sudah semakin membulat bersamaan dengan hari perkiraan lahir yang juga sudah semakin dekat.
__ADS_1
Felichia sedang mengganti rangkaian bunga di meja ruang tamu dengan bunga warna pink yang baru saja datang.
Ya,
Sejak dokter memberitahu Felichia dan Dean kalau calon anak keempat mereka adalah perempuan, mendadak Felichia jadi tergila-gila dengan semua hal yang berwarna pink.
Bahkan Dean sering dipaksa oleh Felichia untuk ke kantor memakai kemeja warna pink atau dasi warna pink. Untung masih ada jas penyelamat yang warnanya tetap hitam dan tak berubah menjadi pink juga.
Bisa-bisa Aaron tertawa sampai menangis setiap hari, kalau Dean memakai jas dan celana pink juga ke kantor setiap hari.
Selesai mengganti rangkaian bunga di vas kaca, Felichia tak sengaja melihat laci meja panjang di sisi ruang tamu yang sedikit terbuka. Felichia lanhsung bisa melihat, kalau ternyata ada banyak foto yang disimpan di laci tersebut.
Foto siapa?
Felichia yang penasaran segera membuka laci tersebut lebih lebar. Ada foto Melanie yang sedang memangku Richard saat putra sulung Felichia itu masih berusia sekitar empat atau lima bulan. Lalu ada foto Tuan dan Nyonya Alexander yang merupakan orang tua Dean, dan yang terakhir adalah foto Dean bersama Melanie dan Richard.
Felichia melihat satu per satu foto tersebut sambil tersenyum. Wanita itu lanjut membersihkan satu persatu bingkai foto, sebelum kemudian menata foto-foto tersebut berjajar di antara foto Felichia, Dean, dan ketiga anak mereka yang sudah terlebih dahulu terpajang di atas meja.
Kini foto yang terpajang di atas meja semakin banyak dan Felichia merasakan keluarganya yang semakin lengkap.
"Sedang apa?" Tegur Dean yang baru datang yang sontak membuat Felichia terlonjak kaget.
"Kau sudah pulang, Sayang?" Jawab Felichia seraya mengusap lengan Dean yang sudah melingkar di perutnya.
"Kenapa kau mengeluarkan foto lama ini, Fe?" Tanya Dean saat melihat foto Melanie yang sudah Felichia pajang di atas meja.
"Tapi itu semua adalah masalalu. Melanie sudah bahagia di surga sekarang," jawab Dean dengan mata yang berkaca-kaca sambil menatap kosong pada foto Melanie yang sedang tersenyum sambil memangku Richard.
"Meskipun itu semua sudah lama, tapi aku yakin kau masih tetap mencintai Melanie, dan dia akan selalu ada di hatimu!" Felichia menunjuk ke arah dada Dean.
"Ya." Jawab Dean lirih.
"Kau tidak marah atau cemburu?" Tanya Dean khawatir.
Felichia hanya menggeleng.
"Melanie tetaplah bagian dari keluarga ini, Dean. Seperti halnya Mama dan Papa kamu," Felichia ganti menunjuk ke foto Tuan dan Nyonya Alexander.
Felichia bahkan belum pernah mengenal mereka secara dekat.
"Jadi biarkan foto mereka tetap berada di atas sini, agar kita tetap bisa mengenang semua hal tentang mereka," ungkap Felichia lagi yang langsung membuat Dean tersenyum dan mengeratkan dekapananya pada istrinya yang bijak tersebut. Dean juga mengecup puncak kepala Felichia seraya tersenyum bangga.
"Kau memang istriku yang baik, Fe!" Gumam Dean memuji Felichia.
Dean ganti bersimpuh dan mengusap perut bulat Felichia.
__ADS_1
"Hai, Princess! Kau nakal hari ini?" Tanya Dean menyapa sang calon anak sekaligus mengecup perut Felichia berulangkali.
"Dia membuat kontraksi palsu lagi beberapa kali," lapor Felichia pada Dean.
"Benarkah? Kau mungkin kangen pada Dad karena Dad tinggal seharian," kekeh Dean lagi yang kembali mengecup perut Felichia.
"Sudah mandi?" Tanya Dean selanjutnya seraya mendongakkan kepalanya dan menatap pada Felichia.
"Menurutmu?" Felichia malah balik bertanya pada Dean.
"Menurutku pastilah belum!" Dean sudah bangkit berdiri dan mencium bibir Felichia.
"Siapkan air hangatnya. Aku akan menyapa anak-anak sebentar, sebelum menjenguk princess kita," bisik Dean seraya mengusap perut Felichia.
"Dasar mesum!" Gerutu Felichia, namun wanita itu tetap berlalu masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan air hangat.
Dean sendiri langsung pergi ke perpustakaan mini yang menyatu dengan taman bermain, dimana Richard sudah tenggelam bersama buku ceritanya, lalu Gika yang sedang asyik melompat-lompat di atas trampolin, serta Naka yang berulang kali menembakkan bola basket ke dalam ring.
"Dad pulang!" Seru Dean yang langsung disambut dengan hamburan pelukan dari ketiga jagoannya serta smack down tanpa henti, hingga Dean kewalahan dan minta ampun.
"Dad, tadi adik bayinya nendang-nendang di dalam perut Mom!"
"Besok Naka mau ajarin main bola kalau udah keluar," cerita Naka setelah Dean duduk dan memangku anak-anaknya secara bergantian.
"Adik bayi cewek, masa diajari main bola?" Ujar Dean menanggapi cerita Naka.
"Nanti adik bayi seperti Mom, ya, Dad? Cantik?" Gantian Gika yang bertanya pada Dean.
Si kembar memang bicaranya sudah jelas belakangan ini dan mereka bawel sekali. Berbeda dengan Richard yang sekarang lebih banyak diam karena sibuk dengan buku-bukunya.
Tapi bukan berarti Richard tak pernah cerewet. Karena saat rasa ingin tahu bocah itu datang, Dean bisa semalaman mendengarkan Richard berceloteh hingga kupingnya panas atau kadang mulut Dean sampai berbusa-busa saat harus menjawab pertanyaan yang dilontarkan Richard yang kadang tak ada ujungnya.
"Iya, adik bayi nanti bakalan cantik seperti Mom!" Ujar Dean menjawab pertanyaan Gika.
Dean masih lanjut bercengkerama dengan ketiga anaknya beberapa saat, sebelum kemudian pria itu pamit untuk mandi.
Mandi bersama Felichia maksudnya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.