Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
KECURIGAAN DEAN


__ADS_3

Felichia langsung mematung saat tiba-tiba pintu di depannya dibuka dari dalam dan Dean yang kini berdiri di depan Felichia.


"Kau sedang apa?" Tanya Dean dengan nada dingin seperti biasa.


"Erlan menghilang dari rumah sakit. Apa kau punya kontak Mama Astri atau papa Panji yang bisa kuhubungi?" Tanya Felichia to the point tanpa sedikitpun menatap ke arah wajah Dean.


Felichia juga beberapa kali menggigit bibir bawahnya saat bicara pada Dean.


"Memangnya kau tidak menyimpan nomor mertuamu?" Tanya Dean sambil berdecak berulang kali. Pria itu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, lalu mengutak-atik ponselnya sebentar, sebelum menunjukkan nomor Papa Panji pada Felichia.


"Kau punya pena? Aku tidak bisa menghafalnya," Felichia tertawa kaku.


Dean berdecak sekali lagi.


"Memangnya kau tak punya ponsel?" Tanya Dean menatap penuh selidik pada Felichia.


Wanita itu menggeleng.


Dean berjalan ke arah meja kecil di sudut lantai dua dan mengambil telepon rumah yang ada di sana, lalu menekan nomor Papa Panji di telepon tersebut, sebelum memberikannya pada Felichia.


"Terima kasih," ucap Felichia masih tanpa menatap ke arah wajah Dean menyebalkan.


Dean tak berucap sepatah katapun dan segera berlalu menuju ke arah tangga.


Felichia baru ingat, kalau ia lupa menyampaikan pesan Melanie pada Dean.


Ah, tapi Dean juga akan turun ke bawah, jadi Felichia tak usah menyampaikannya.


Dean sudah menghilang dan menuruni tangga, saat telepon Felichia pada Papa Panji akhirnya tersambung.


"Halo!"


"Halo, Pa! Ini Felichia," jawab Felichia cepat setelah mendengar suara Papa Panji.


"Ada apa?"


Nada suara Papa Panji terdengar sinis.


"Papa membawa Erlan kemana, Pa?" Tanya Felichia to the point.


"Bukan urusanmu! Bicara saja pada Mama Astri!"


Jawaban Papa Panji terdengar membentak. Tak berselang lama, gantian suara Mama Astri yang terdengar dari ujung telepon.


"Erlan masih menjalani pengobatan! Jadi kau fokus saja pada tugasmu di rumah keluarga Alexander! Tidak usah tanya -tanya soal Erlan!"

__ADS_1


"Tapi Felichia istrinya Erlan, Ma! Felichia hanya ingin bertemu Erlan dan tahu kondisi Erlan!" Cecar Felichia dengan nada suara memelas.


"Bukankah Mama juga sudah berjanji pada Felichia, kalau mama dan Papa tak akan merongrong hubungan Felichia dan Erlan lagi, asal Felichia mau menjadi rahim pengganti untuk keluarga Alexander? Mama tidak lupa pada janji Mama, kan?" Tutur Felichia panjang lebar mengingatkan kembali janji yang pernah diucapkan oleh sang mama mertua.


"Tentu saja mama ingat! Mama belum pikun, Fe!" Jawab Mama Astri yang suaranya terdengar kesal.


"Lalu sekarang Erlan Mama sembunyikan dimana? Felichia ingin bertemu Erlan, Ma!" Pinta Felichia memohon pada sang Mama mertua.


"Erlan masih dalam masa pemulihan. Nanti kalau urusanmu dengan Dean Alexander sudah selesai, Mama tak akan menghalangimu untuk bertemu dengan Erlan!"


"Lagipula, Erlan juga tidak mencarimu sekarang, jadi kau tak perlu menemuinya dulu!"


Penuturan Mama Astri malah menbuat Felichia mengerutkan kedua alisnya.


Erlan tidak mencari Felichia?


Bagaimana bisa?


Mungkinkah Erlan kehilangan ingatannya?


"Sudah! Mama tutup teleponnya dan selesaikan dulu urusanmu dengan Dean Alexander! Baru setelah itu kau bisa bertemu dengan Erlan!"


"Tapi tolong katakan Erlan ada dimana, Ma!" Felichia memohon sekali lagi bersamaan dengan telepon yang diputus sepihak oleh Mama Astri.


"Mama!" Panggil Felichia dengan nada frustasi.


Felichia segera masuk ke dalam kamar dan membanting pintu, tanpa Felichia sadari kalau ada sesekrang yang sejak tadi menguping pembicaraan Felichia di telepon bersama mama Astri.


Seseorang itu masih mematung di ujung tangga, hingga sebuah panggilan menyentak lamunannya.


"Dean! Sudah ketemu belum?" Panggil Melanie dari arah bawah tangga.


"Iya, Sayang! Sudah ketemu!" Jawab Dean yang kembali menuruni tangga dengan pikirannya yang sudah berkelana kemana-mana.


Kenapa wanita itu polos sekali dan mau-maunya dibohongi mentah-mentah oleh Nyonya Prakasa?


Dan Dean ternyata juga sama bodohnya dengan Felichia, karena sudah percaya pada kata-kata Mama Astri tentang Erlan yang katanya akan segera bercerai dari Felichia.


Rumah tangga Erlan dan Felichia tidak pernah bermasalah!


Mama Astri dan Papa Panji benar-benar sudah menipu Dean dan membuat Dean meniduri istri dari sahabatnya sendiri.


Dasar keparat!


****

__ADS_1


Navya membimbing Erlan yang langkahnya masih tertatih-tatih menuju ke sebuah gazebo yang berada di tengah perkebunan teh.


"Kau ingat tempat ini, Erlan?" Tanya Navya pada Erlan yang sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling gazebo.


"Ya, dulu kita sering kesini, lau kita berlomba untuk naik ke bukit yang disana itu." Telunjuk Erlan sudah menunjuk ke arah bukit di sisi selatan.


"Lalu orang tua kita akan mencari-cari kita berdua hingga kebingungan, dan kita malah bersembunyi di balik pohon teh yang sudah tinggi," Erlan tertawa kecil mengingat tentang masa kecilnya bersama Navya di tempat ini.


"Aku juga ingat saat kau dan keluargamu pindah ke luar negeri lalu kita putus kontak. Kapan kau kembali ke negara ini, Nav?" Tanya Erlan selanjutnya mdnatap serius ke arah Navya.


"Baru beberapa bulan terakhir. Dan ternyata kau sudah punya seorang kekasih saat aku pulang kembali, lalu kau menikah dengan kekasihmu beberapa bulan kemudian tanpa mengundangku," jawab Navya seraya tertawa kecil.


"Kau jahat sekali!" Lanjut Navya seraya memukul dada Erlan.


"Kenapa aku tidak mengundangmu? Bukankah kita teman baik?" Tanya Erlan bingung.


Navya mengendikkan kedua bahunya.


"Kau tidak mengundang siapapun dan menikah secara diam-diam. Aku juga tidak tahu kenapa."


"Kau pernah bertemu istriku, Fe-" Erlan mencoba mengingat-ingat nama istrinya yang kata Mama Astri sudah kabur karena Erlan koma dan tak kunjung sadar.


Kenapa Erlan bisa menikah dengan wanita sekejam itu?


"Felichia!" Ujar Navya menyebutkan nama lengkap istri Erlan.


"Ya, Felichia. Kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Erlan sekali lagi.


"Hanya satu kali, saat kau baru saja dipindahkan ke ruang perawatan. Lalu setelahnya aku tak pernah lagi melihat dia," jawab Navya sedikit bercerita.


"Dia wanita yang kejam, ya? Karena malah pergi saat aku sedang berjuang untuk hidup," Erlan tersenyum kecut.


"Tapi kita tidak pernah tahu kenapa Felichia pergi, Erlan! Jadi seharusnya kita tak berprasangka buruk dulu kepadanya. Mungkin dia sedang ada urusan atau ada hal penting yang harus ia selesaikan," Nasehat Navya berusaha berpikir bijak


"Aku yakin Felichia pasti akan kembali untuk menemuimu, Erlan!" Lanjut Navya yang sudah meraih tangan Erlan dan menggenggamnya.


"Ya, semoga saja! Aku ingin mendengarkan penjelasannya dan memastikan kelangsungan hubungan diantara kami," pungkas Erlan yang kembali menatap pada hamparan pohon teh yang daun-daunnya masih basah karena hujan gerimis yang baru saja mengguyur bumi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2