
"Untuk apa menunggu istri yang jelas-jelas sudah mengirimimu surat gugatan cerai, Erlan?"
"Apa kau buta dengan Navya yangvselalu ada di sampingmu, menemanimu sejak kau membuka mata hingga kau pulih seperti sekarang ini?"
"Navya seratus kali lebih baik ketimbang Felichia yang hanya bisa meninggalkanmu saat kau sedang mencoba untuk bertahan hidup. Lalu tiba-tiba wanita itu mengirimkan surat gugatan cerai tanpa ada angin tanpa ada hujan!"
"Istri macam apa Felichia itu?"
Kalimat demi kalimat provokasi terus dilontarkan oleh Mama Astri dengan berapi-api di depan Erlan yang sedang kalut.
Sudah sebulan sejak Erlan menerima surat gugatan cerai dari Felichia, dan Erlan masih tidak tahu Felichia dimana. Wanita itu masih seperti hilang ditelan bumi.
"Menikahlah dengan Navya demi membalas semua budi baik gadis itu, Erlan!" Bujuk Mama Astri pada akhirnya.
"Navya yang sudah merawatmu selama ini,"
"Navya juga begitu mencintaimu, dan Mama yakin kalau Navya tidak akan pernah mengkhianatimu seperti Felichia tak tahu diri itu!" Lanjut Mama Astri yang masih terus mengompori Erlan untuk melupakan Felichia saja dan menikah dengan Navya yang jelas-jelas lebih mencintai Erlan, dan lebih menyayangi Erlan.
Tentu saja di balik semua bujukan manis Mama Astri ini, ada niat terselubung yang akan dilancarkan oleh Mama Astri dan Papa Panji. Kesempatan mereka untuk minta bantuan pada Matthew Orlando akan semakin besar.
Dan mungkin perusahaan Prakasa yang sudah gulung tikar akan bisa dibangkitkan kembali dengan kekuatan dari perusahaan Orlando yanb memang sudah mendunia.
Kalaupun tidak bisa membangkitkan perusahaan yang sudah gulung tikar, setidaknya Mama Astri dan Papa Panji tak akan hidup miskin jika Erlan mau menikahndengan Navya. Kehidupan mereka sebagai orang kaya akan tetap terjamin. Mama Astri dan Papa Panji, tidak akan melewatkan kesempatan untuk menghabiskan harta Navya dan Matthew yang pastinya melimpah ruah.
****
"Menikah?" Tanya Navya dengan tatapan mata tak oercaya saat Erlan mengutarakan niatnya.
"Kau sudah tulus merawatku, Navya. Jadi izinkan aku membuatmu bahagia."
"Lagipula, pernikahanku dengan Felichia juga sudah berakhir dan Felichia tak pernah lagi menemuiku hingga detik ini," tutur Erlan dengan nada sendu.
"Aku tahu, kalau kau sudah lama menyimpan perasaan kepadaku. Jadi..." Erlan bangkit dari duduknya, mengitari meja dan menggenggam tangan Navya, laku berlutut di hadapan gadis itu.
"Jadi biarkan aku membalas semua perasaanmu dan menjadi suami serta pendamping hidup untukmu, Navya!" Ucap Erlan menatap ke dalam netra Navya yang sudah berbinar bahagia.
"Erlan," mata Navya sudah berkaca-kaca sekarang.
"Menikahlah denganku, Navya!" Pinta Erlan sekali lagi yang masih berlutut di hadapan Navya.
Navya mengangguk-anggukkan kepalanya karena tak mampu lagi berkata-kata.
"Kau mau, kan?" Tanya Erlan sekali lagi.
"Ya, aku mau!" Jawab Navya yang akhirnya bisa berkata-kata lagi.
"Aku mau, Erlan!"
****
Kriiiing!
__ADS_1
Dering ponsel yang tergeletak di atas meja membuat Erlan terjaga dari tidurnya. Erlan masih tertidur di sofa sejak semalam bersama Felichia yang kini masih terlelap seolah tak terganggu ddngan dering dari ponsel Erlan.
Erlan mengusap perut Felichia yang masih ia dekap sejak semalam, lalu menghirup puncak kepala wanita tersebut, sebelum meraih ponselnya dan mengangkat panggilan yang berasal dari sebuah nomor asing.
"Halo, Selamat pagi," sapa Erlan seraya melirik ke arah jam yang tergantung di dinding yang memang masih menunjukkan pukul 05.00 pagi.
"Selamat pagi, Tuan Erlan Prakasa. Ada sebuah kabar buruk tentang orang tua anda."
"Villa yang mereka pakai untuk berlibur terbakar habis semalam dan nyawa keduanya tidak bisa diselamatkan."
"Kedua orang tua anda menjadi korban tewas dalam kebakaran, Tuan Erlan. Kami turut berduka cita."
"Dimana jenazah mereka sekarang?" Tanya Erlan dengan raut wajah datar.
"Masih di rumah sakit dan baru menjalani proses identifikasi."
"Aku akan segera mengurus dan membawanya pulang. Terima kasih informasinya," pungkas Erlan sebelum menutup telepon. Raut wajah Erlan hanya datar seolah tiada rasa duka di hatinya.
Lagipula, untuk apa Erlan berduka atas kepergian dua orang tua serakah yang jelas-jelas bukanlah orangtua kandung Erlan. Mereka juga yang telah membuat hidup Erlan menjadi kacau berantakan dan membuat Erlan berada di posisi serba salahnya saat ini.
Andai mereka tidak meracuni otak Erlan dengan semua cerita bohong tentang Felichia saat Erlan hilang ingatan, mungkin Erlan akan langsung mencari Felichia.
Andai mereka tak membuat surat gugatan cerai palsu, mungkin Erlan tak akan menikahi Navya dan membuat hati wanita itu menjadi terluka. Kini Erlan terjebak dalam situasi hubungan yang begitu rumit karena sifat licik dan keserakahan kedua orang tua angkatnya tersebut.
"Maaf, saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda, Tuan Prakasa!" Tolak Matthew terang-terangan saat Papa Panji datang ke kantornya dan minta Matthew menyelamatkan perusahaan Prakasa yang jelas-jelas sudah hancur.
Tentu saja Papa Panji mengatasnamakan bantuan keluarga karena Erlan yang kini sudah berstatus sebagai suami dari Navya Orlando.
Erlan sendiri secara tak sengaja mencuri dengar obrolan sang abang ipar dengan sang Papa, saat pria itu sedang berkunjung ke kantor pusat untuk menyampaikan laporan.
"Bantuan?" Matthew berdecih.
"Aku sudah memberikan Erlan posisi terbaik di cabang perusahaan Orlando! Apa itu bukan sebuah bantuan?"
"Lalu aku dengar, Navya dan Erlan juga sudah memberikan anda tempat tinggal yang layak serta kiriman uang untuk kebutuhan setiap bulan setelah rumah besar dan perusahaan anda disita oleh bank, Tuan Panji! Apa itu juga masih kurang?" Cecar Matthew yang mulai tak bisa mengendalikan emosinya.
"Berikan kami beberapa saham perusahaanmu kalau begitu, Matthew! Bukankah kita adalah keluarga sekarang?" Pinta Papa Panji yang masih keras kepala.
"Tidak!" Jawab Matthew tegas.
"Kalian berdua bahkan bukan orang tua kandung Erlan!" Matthew menuding ke arah Papa Panji.
"Kalian hanya ajimumpung memanfaatkan kedekatan Navya dengan Erlan, lalu berusaha mendekatiku agar aku mau membantu perusahaan bangkrut kalian!" Sergah Matthew lagi yang langsung membuat Papa Panji membeku.
"Aku tak akan pernah membantu apapun lagi." Ucap Matthew sekali lagi dengan nada tegas.
Erlan yang mendengar semua percakapan Matthew dan Papa Panji tentu saja merasa terkejut dengan fakta baru yang mengatakan kalau Erlan bukanlah anak kandung Papa Panji dan Mama Astri.
Ya,
Kini jelas sudah kenapa Erlan punya sifat yang selalu bertentangan dengan kedua orangtuanya yang serakah dan gila harta tersebut. Ternyata selama ini Erlan memang hanya mereka manfaatkan bak sebuah boneka.
__ADS_1
"Erlan!" Tepukan lembut dari Felichia langsung menyentak lamunan Erlan.
Erlan mengulas senyum dan mengusap wajah Felichia yang terlihat semakin cantik dan berseri.
"Kau sudah bangun?" Erlan ganti mengecup singkat bibir Felichia.
"Oh, iya. Aku belum menyapa calon anak kita," Erlan ganti turun ke perut Felichia dan menyapa calon bayi yang berada di dalam perut Felichia.
"Hai..."
"Jagoan. Kata dokter jenis kelaminnya laki-laki," bisik Felichia pada Erlan.
"Baiklah."
"Hai, Jagoan! Selamat pagi dan cepatlah lahir agar Dad bisa segera memelukmu," ucap Erlan seraya terkekeh dan tak berhenti menciumi perut Felichia hingga membua Felichia merasa kegelian.
"Hentikan, Erlan!" Kikik Felichia yang terus meminta Erlan untuk berhenti menciumi perutnya.
"Hmmm, begini saja."
"Karena ini masih pagi dan kita sudah lama tak melakukannya, bagaimana kalau kita melakukan serangan fajar," cetus Erlan tiba-tiba membeberkan sebuah ide pada Felichia.
"Tidak!" Felichia menggeleng-gelengkan kepala seraya menggigit bibirnya bagian bawah.
"Kau semakin seksi dengan perut semangka ini, membuatku ingin segera memakanmu!" Erlan sudah bersiap menggendong Felichia saat wanita itu berontak.
"Kau tidak akan kuat, Erlan!" Felichia memperingatkan Erlan.
"Masa?" Erlan berusaha sekali lagi saat kemudian Erlan menyadari kalau ia memang tak kuat menggendong Felichia.
Erlan dan Felichia tergelak bersamaan.
"Aku akan jalan saja. Bantu aku bangun," Felichia mengulurkan lengannya ke arah Erlan.
Etlan langsung sigap membantu Felichia untuk bangun dan membimbing istrinya itu dengan mesra masuk ke dalam kamar.
Baru saja Felichia mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur, Erlan sudah dengan cepat menerjang Felichia dan melancarkan ciuman bertubi-tubi yang membuat Felichia memekik berulang kali. Dan di pagi hari yang masih berkabut tersebut, suasana di dalam kamar sudah berubah menjadi panas karena pergelutan Erlan dan Felichia.
Namun sayangnya pergelutan keduanya yang baru satu ronde harus terhenti karena terdengar suara bel dari pintu depan.
Siapa yang bertamu sepagi ini?
.
.
.
Cetak miring berarti mimpi atau flashback kejadian masa lalu.
Yang udah paham yaudah. Cuma ngasih tahu yang belum paham.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.