
[Dia bertemu seorang pria bertopi di sebuah restoran, Tuan!]
Sebuah pesan yang masuk ke ponsel Dean bersamaan sebuah foto yang menampilkan gambar Felichia tengah berbincang dengan seorang pria bertopi dan berjaket hitam mendadak membuat hati Dean meradang.
[Dia kemana setelah itu?] -Dean-
[Dia pergi bersama pria tadi ke sebuah penginapan]
Foto Felichia yang masuk ke sebuah penginapan bersama pria bertopi tadi masuk ke ponsel Dean dan langsung membuat Dean membanting ponselnya yang tak berdosa.
Brengsek!
Umpat Dean merasa marah karena ternyata Felichia yang pamit bertemu temannya, malah check in ke sebuah penginapan bersama seorang pria.
Baby sitter yang berjiwa keibuan yang belakangan ini membuat Dean tergila-gila dan ingin memilikinya, ternyata malah sudah dicicipi oleh pria lain yang entah siapa. Dean benar-benar murka sekarang.
"Cara terbaik memiliki seorang wanita jika rayuanmu tidak berhasil adalah tiduri saja dia. Atau kalau perlu buat dia mengandung anakmu. Jadi dia tak akan bisa lagi pergi atau menghindarimu. Dia akan langsung menerima lamaranmu." Ucapan Aaron tempo hari mendadak berkelebat di benak Dean.
"Apa itu juga yang kau lakukan pada Claudia?" Tebak Dean yang langsung membuat Aaron meringis.
"Yang itu hanya kekhilafan, Bung!" Kilah Aaron mencari pembenaran.
"Tapi sebaiknya kau tidak mengikuti nasehat sesatku tadi, Dean!" Aaron menepuk pundak Dean.
"Jika kau sungguh jatuh cinta pada Chia Chia baby sittermu itu, berjuanglah sebagai pria jantan dan terus rayu hatinya dengan gombalan recehmu!" Saran Aaron selanjutnya yang langsung berhadiah tinjuan dari Dean.
"Sore, Dean!" Sapaan dari Felichia yang rupanya sudah tiba di rumah langsung membuyarkan lamunan Dean.
Jam menunjukkan tepat pukul tiga sore, dan Felichia benar-benar pulang tepat waktu.
"Richard rewel hari ini?" Tanya Felichia pada Dean yang masih membisu.
"Tidak. Dia sedang-" Dean belum menyelesaikan kalimatnya saat terdengar tangisan Richard dari dalam kamar.
"Sepertinya Richard tahu aku sudah pulang," kekeh Felichia yang sudah dengan cepat meninggalkan Dean dan masuk ke dalam kamar Richard. Setelah mencuci tangan dan melepaskan jaket yang ia kenakan, Felichia buru-buru menggendong bayi laki-laki yang wajahnya sudah semerah tomat tersebut.
"Sayang! Mom lama, ya?"
Felichia menggendong Richard dan memeriksa diapers bayi tersebut yang rupanya memang sudah penuh.
Apa Dean tidak menggantinya sejak Felichia pergi tadi?
Felichia langsung membaringkan Richard dj atas tempat tidur dan mengganti diapers bayi itu dengan cekatan. Richard masih sesenggukan, jadi Felichia lanjut memberikan botol susu dan memangku bayi itu sambil bersenandung kecil.
Semua adegan yang dilakukan Felichia tersebut tak lepas dari pengamatan Dean yang sejak tadi hanya mengintip dari pintu yang sedikit terbuka. Felichia begitu dekat dan sayang pada Richard. Jadi sudah seharusnya, dia menjadi milik Dean dan bukan milik pria lain.
Dean menggenggam kuat gagng pintu kamar Richard mengingat foto Felichia yang masuk ke sebuah penginapan bersama pria asing tadi. Hati Dean benar-benar padnas sekarang dan Ddan bersumpah dalam hati kalau dia akan membuat Felichia bertekuk lutut di pelukannya dan tak akan lagi berpaling pada pria lain.
Felichia harus menjadi milik Dean sekaligus menjadi Mom untuk Richard. Bagaimana pun caranya!
"Dean, kau sedang apa disitu?" Tegur Felichia pada Dean yang wajahnya terlihat tegang.
Dean menarik nafas panjang dan segera masuk kecdalam kamar Richard.
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihat Richard," jawab Dean yang sudah langsung duduk di sebelah Felichia.
Tak tanggung-tanggung. Pria itu juga sudah mengulurkan lengannya ke kepala sofa dan sepertinya niat sekali ingin merangkul Felichia.
Felichia yang merasa peka, langsung bangkit berdiri karena kebetulan Richard juga sudah sekesai minum susu. Bayi itu harus disendawakan agar tidak muntah.
"Aku rasa Richard sedikit bosan di dalam kamar, Dean!" Ucap Felichia yang sudah berdiri dan menepuk-nepuk punggung Richard.
"Aku akan membawanya ke halaman untuk menghirup udara segar," lanjut Felichia lagi yang sudah melangkah keluar dari kamar dan langsung menuju ke halaman belakang.
Brengsek!
Umpat Dean yang lagi-lagi gagal untuk merayu Felichia.
Kenapa wanita itu pandai sekali menghindari Dean?
Membuat Dean semakin penasaran saja!
****
[Semuanya sudah siap. Hanya tinggal eksekusi saja. Carilah kesempatan untuk membawa Richard keluar!]
Felichia terdiam beberapa saat setelah membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Wanita itu sedang memikirkan cara agar Dean memberinya izin untuk membawa keluar Richard.
Tok tok tok!
"Chia!" Suara Dean terdengar dari luar kamar bersamaan dengan suara pintu yang diketuk dari luar.
"Iya," jawab Felichia yang buru-buru menyembunyikan ponselnya ke bawah kasur.
"Iya, Dean. Ada apa?" Tanya Felichia setelah membuka pintu kamar.
"Apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Dean berbasa-basi.
"Sama sekali tidak. Kebetulan aku belum tidur," jawab Felichia seraya mengulas senyum.
"Mau coklat hangat?" Tawar Dean menyodorkan secangkir coklat hangat pada Felichia.
"Malam-malam? Apa kau berniat membuatku gendut?" Tanya Felichia seraya tertawa kecil. Namun wanita itu tetap menerima cangkir coklat yang diberikan oleh Dean.
"Jangan kau pikir aku tidak tahu. Kau suka membuat coklat hangat malam-malam, kan?" Tebak Dean yang langsung tepat sasaran.
"Sepertinya aku baru saja ketahuan. Tapi terima kasih coklat hangatnya." Ucap Felichia seraya menyesap coklat dari Dean tanpa rasa curiga sedikitpun.
"Jadi, kau tadi mengetuk pintu hanya untuk memberikanku coklat hangat?" Tanya Felichia yang sepertinya peka dengan sesuatu yang hendak disampaikan oleh Dean.
"Besok jadwal Richard imunisasi. Tapi dokter yang biasa datang ke kd rumah sedang ada urusan di luar kota. Jadi aku ingin minta tolong kau untuk membawa Richard ke rumah sakit." Permintaan Dean bagaikan sebuah jackpot untuk Felichia.
Saat Felichia sedang memikirkan cara membawa Richard keluar, Dean malah memberikannya celah.
"Kau tidak keberatan, kan, Chia? Karena aku ada meeting penting besok pagi," lanjut Dean sedikit memohon pada Felichia.
"Tentu saja tidak, Dean!"
__ADS_1
"Besok aku akan membawa Richard ke rumah sakit." Jawab Felichia santai.
"Nanti sopir akan mengantarmu. Kau mau membawa bodyguard?" Tanya Dean yang tumben sekali meminta pendapat Felichia.
Apa itu artinya pria ini sudah mulai percaya pada Felichia.
"Supir saja aku rasa cukup," jawab Felichia yang hatinya sudah bersorak gembira.
"Supir dan satu bodyguard kalau begitu," putus Dean yang langsung membuat sorakan di hati Felichia menguap pergi.
Dasar labil!
Kenapa menawari jika ujung-ujungnya dia sendiri yang memutuskan?
"Baiklah, terserah kau saja!" Felichia meneguk coklat hangatnya lagi saat wanita itu mulai merasa kegerahan.
Aneh sekali!
Bukankah banyak pendingin udara di rumah besar Dean ini?
Dan Felichia tak pernah merasa kegerahan sebelumnya.
"Ada apa?" Tanya Dean yang terlihat khawatir dengan gelagat Felichia yang mulai mengibas-ngibaskan tangannya.
"Entahlah, aku mendadak merasa kegerahan," Felichia menggigit bibir bawahnya karena mendadak pandanganannya terasa berkabut dan Felichia merasakan sebuah perasaan aneh yang merambati tubuhnya.
"Kau mungkin sedikit kelelahan, Chia." Tebak Dean yang sudah meraih cangkir coklat Felichia dan meletakkannya serampangan. Dean membimbing Felichia agar masuk ke dalam kamar, kemudian pria itu menutup dan mengunci pintu kamar Felichia.
"Apa AC-nya mati, Dean? Kenapa aku kepanasan begini?" Felichia semakin berkeringat banyak dan merasa tak kuat lagi dengan rasa gerah yang menyergapnya.
Dean membaringkan tubuh Felichia di atas tempat tidur dan wanita itu tak berhenti menggeliat.
"Dean, aku kenapa?" Tanya Felichia yang mulai meracau tak karuan.
Dean masih bergeming di tempatnya dan menatap pada tubuh Felichia seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.
Tapi semuanya sudah terlanjur. Dean harus melakukannya malam ini.
Maaf, Chia!
Tapi kau hanya boleh menjadi milikku!
.
.
.
Sabar dulu.
Jangan ngamuk, woy!
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Udah 4 eps hari ini. Tolong di like semua bab-nya.
Yang nggak like jempolnya cantengan 😝