
"Anak-anak masih tidur siang, Tuan Dean! Kenapa anda kesini siang-siang begini? Apa sedang tidak ada pekerjaan di kantor?" Tanya Felichia pada Dean yang baru saja datang.
Rumah memang sepi karena Richard, Gika, dan Naka sedang tidur siang. Mbok Jum juga sedang memasak di dapur, sedangkan Felichia memilih untuk menata barang-barang di tokonya yang betantakan, serta mengisi ulang beberapa barang di etalase yang sudah kosong.
"Panggil Dean saja, Fe! Berapa kali aku harus mengingatkanmu? Aku seperti majikanmu saja," ucap Dean yang sudah melipat lengan kemejanya dan membantu Felichia mengambil barang dari dalam kardus, lalu mengulurkannnya pada Felichia untuk disusun di etalase.
Felichia hanya tertawa kecil.
"Jadi kau di kota ini sampai kapan?" Tanya Felichia menyelidik.
Wanita itu sudah selesai menyusun barang di etalase, dan ganti mengambil satu botol air mineral dingin dari dalam showcase lalu memberikannya pada Dean.
"Sampai pekerjaanku selesai," jawab Dean santai.
"Sampai kapan?" Tanya Felichia sekali lagi.
"Entahlah! Bisa sebulan lagi bisa juga dua bulan lagi. Karena ini adalah proyek yang sedikit rumit dan membingungkan," jelas Dean yang langsung membuat Felichia mengernyit bingung.
"Kalau memang ini proyek yang rumit, kenapa kau tidak duduk seharian di kantor untuk menyelesaikannya dan malah keliaran kesini, lalu menghabiskan waktu seharian bersama anak-anakku?" Tanya Felichia tak mengerti.
"Karena akan sangat penat jika aku di kantor seharian. Lagipula aku suka anak-anak dan bermain bersama mereka membuat hatiku begitu bahagia." Jelas Dean dengan begitu antusias.
Felichia hanya mengangguk dan mensedekapkan tangannya di depan dada.
"Ngomong-ngomong, aku tidak pernah melihat Dad-nya anak-anakmu," Dean mengalihkan pembicara dan sedikit memancing.
"Bukankah Richard sudah memberitahumu dad-nya ada dimana," ujar Felichia yang langsung berbalik meninggalkan Dean dan pura-pura sibuk di belakang meja kasir.
"Tapi aku punya teman di pelayaran, dan mereka tak pernah tidak pulang sampai bertahun-tahun," Dean sudah mengikuti Felichia dan menumpukan kepala di atas tangannya yang bersandar di atas meja.
Felichia diam sejenak seolah baru mendapat skakmat dari Dean. Wanita itu menatap ke dalam netra milik Dean dan batinnya berteriak dengan keras.
"Dad mereka adalah kau, Dean Alexander!"
"Baiklah, aku memang seorang single mom! Kau puas sekarang!" Jawab Felichia yang akhirnya membuat pengakuan. Dean langsung tersenyum penuh kemenangan entah apa maksudnya.
"Firasatku benar berarti," gumam Dean yang semakin membuat Felichia mengerutkan kedua alisnya.
"Tolong jangan mengatakan kenyataan ini pada Richard, Gika, atau Naka!" Pinta Felichia memohon pada Dean amnesia yang tak ingat pada ketiga anaknya.
Ah, tapi bukankah Felichia sendiri yang membuat drama kalau anak Dean sudah meninggal?
Jadi tak perlu menuduh Dean tak ingat pada anaknya!
Pria ini memang sedang amnesia dan tak ingat apapun tentang Felichia dan anaknya.
"Tidak akan," jawab Dean berjanji pada Felichia.
"Tapi aku boleh mengajukan syarat?" Lanjut Dean yang langsung membuat raut wajah Felichia berubah.
"Syarat apa?"
"Biarkan aku menjadi Dad untuk anak-anakmu," ucap Dean to the point yang langsung membuat Felichia beringsut mundur. Berbagai pikiran buruk mendadak berkecamuk di dalam otak Felichia.
Mungkinkah ingatan Dean sudah kembali?
Mungkinkah Dean hanya akting saat ini?
Mungkinkah Dean mendekati Felichia dan anak-anak saat ini agar pria ini bisa kembali memisahkan Felichia dari ketiga anaknya.
__ADS_1
Tidak!
"Fe, jangan salah paham dulu!" Dean berucap dengan lembut pada Felichia yang kini menatap awas ke arahnya.
"Maksudku aku hanya ingin menjadi sosok pengganti Dad dari ketiga anakmu dan aku benar-benar tak ada maksud untuk memaksamu menjadi istriku," lanjut Dean yang tiba-tiba nada bicaranya terdengar canggung.
"Kau mengerti maksudku kan, Fe?" Ucap Dean lagi yang sorot matanya menggambarkan sebuah kejujuran.
Hati Felichia sejenak kembali melunak.
"Baiklah, maaf soal sikapku tadi," Felichia buru-buru minta maaf dan mengusir segala pikiran buruk yang tadi sempat berkecamuk di dalam kepalanya.
"Tapi kau hanya sementara berada di kota ini, Tuan Dean! Jadi tolong jangan buat anak-anak saya bergantung kepadamu."
"Silahkan kau mengunjungi atau bermain bersama mereka, tapi tolong jangan bawa mereka kemana-mana ataupun memaksa menjadi sosok ayah untuk mereka jika mereka belum menginginkannya," tutur Felichia panjang lebar memohon pada Dean.
"Baiklah! Aku tak akan memaksa," jawab Dean akhirnya berjanji pada Felichia.
"Mom!" Panggil Richard yag sudah berlari-lari kecil masuk ke dalam toko.
"Om Dean!" Seru Richard riang saat mendapati Dean yang juga sudah beda di dalam toko.
"Hai, Jagoan! Kau sudah bangun? Gika dan Naka mana?" Tanya Dean yang sudah meraih tubuh Richard dan membawanya ke dalam gendongannya.
"Mereka masih bobok." Jawab Richard seraya mencium pipi Dean.
Sebuah tawa lepas langsung menghiasi wajah Dean.
"Ngomong-ngomong, om bawa mainan baru untuk Richard, Gika dan Naka. Richard mau melihatnya?" Tanya Dean yang langsung dijawab Richard dengan anggukan kepala berulang serta sorot mata penuh rasa antusias.
"Dean-"
Pria itu segera berlalu keluar dari toko masih sambil menggendong Richard.
Ya, hubungan ayah dan anak memang tak akan pernah bisa disangkal sampai kapanpun, sekalipun pria itu sedang hilang ingatan sekarang.
****
Tanpa terasa, sudah satu minggu Dean berada di kota ini dan berusaha menjadi ayah yang baik untuk ketiga anaknya, sekalipun sikap Felichia pada Dean belum banyak mengalami kemajuan.
Dean juga masih bingung mau merayu Felichia darimana. Karena setiap kali Dean mengobrol bersama wanita itu dan mulai mengarah ke obrolan tentang hubungan yang serius, Felichia pasti akan langsung mengalihkannya atau mengakhiri obrolan karena suatu alasan.
Dean datang ke rumah Felichia agak siang karena ia harus meeting dengan seorang klien. Benar-benar meeting mendadak dan bukan akal-akalan seperti yang sebelumnya.
Halaman dan teras rumah terlihat berantakan. Richard dan Gika yang tubuhnya penuh pasir sedang di halaman berebut mainan robot yang tempo hari Dean belikan sebelum kemudian kakak beradik itu sama-sama menangis kencang.
Sedangkan Felichia terlihat kepayahan di dalam toko melayani beberapa pembeli sembari menggendong Naka di punggungnya.
Mbok Jum kemana memangnya?
"Richard, Gika!" Dean tergopoh-gopoh menghampiri dua anaknya yang sama-sama menangis tersebut, lalu membersihkan pasir yang memenuhi tubuh mereka. Bahkan hingga sela-sela rambut keduanya juga dipenuhi oleh pasir.
Sepertinya kedua anak Dean ini tadi habis main perang-perangan pasir.
"Om Dean!" Richard yang terlebih dahulu menghampiri Dean dan menghambur ke pelukan Dad-nya tersebut.
Sementara Gika masih menagis di tempatnya semula dan tangisnya semakin kencang.
Felichia sudah meninggalkan toko dan tergopoh-gopoh menghampiri Gika yang masih menangis.
__ADS_1
Naka terlihat pucat di gendongan Felichia.
"Mbok Jum kemana?" Tanya Dean menyelidik seraya membantu Felichia menenangkan Gika dan membawa bocah itu ke teras rumah.
"Adiknya meninggal, jadi Mbok Jum pulang mendadak pagi tadi. Dan ART sementara tidak datang-datang sampai sekarang," jelas Felichia seraya membukakan susu untuk Gika agar bocah itu berhenti menangis.
"Ini Naka kenapa?" Tanya Dean lagi seraya mengambil Naka yang sejak tadi digendong oleh Felichia di punggungnya.
"Demam." Jawab Felichia singkat.
Wajah wanita itu terlihat lelah. Rasa trenyuh langsung merambati hati Dean membayangkan betapa kewalahannya Felichia merawat ketiga anaknya ini jika tanpa ART.
"Sudah minum obat?" Taya Dean memastikan.
"Sudah tadi. Hanya saja dia tidak mau makan. Makanya sedikit lemas," jelas Felichia lagi masih sambil membersihkan pasir di tubuh Richard.
"Akan ku bujuk agar mau makan," ucap Dean berinisiatif. Pria itu sudah membawa Naka masuk ke rumah meninggalkan Felichia, Richard, dan Gika.
"Mom tutup toko dulu, lalu kita mandi, ya!" Ucap Felichia pada Richard dan Gika.
Dua putra Felichia itu mengangguk bersamaan karrna bibirnya masih sibuk menyedot susu UHT dari dalam kotak.
Felichia bergegas menutup tokonya sebelum membawa kedua anaknya masuk ke dalam rumah dan memandikan keduanya.
****
Dean masih menyuapi Naka dan berusaha membujuk bocah dua tahun itu agar mau makan, saat Felichia selesai memandikan Richard dan Gika.
"Naka sudah mau makan?" Tanya Felichia seraya menghampiri Dean dan Naka.
"Sudah masuk sekitar lima sendok," lapor Dean pada Felichia.
"Mom, gendong!" Naka mengulurkan tangannya ke arah Felichia dan minta digendong sambil ditimang-timang. Sepertinya sudaj mengantuk juga.
"Gendong Om, mau?" Tawar Dean yang merasa tak tega membiarkan Felichia menggendong Naka lagi. Wajah wanita itu sudah terlihat kelelahan.
Naka mengangguk lemah dan Dean segera meraih kain panjang yang tadi dipakai Felichia untuk menggendong Naka.
"Bagaimana cara memakainya, Fe?" Tanya Dean bingung.
"Tidak apa-apa kau yang menggendong?" Tanya Felichia ragu.
"Iya, tidak apa-apa. Pakaikan saja!" Jawab Dean bersungguh-sungguh.
Felichia tak berkomentar lagi dan segera membantu Dean menggendong Naka menggunakan kain panjang. Masih sedikit kaku, tapi Naka langsung menyandarkan kepalanya di dada Dean dan bocah itu terlihat nyaman.
"Tepuk lembut pantatnya agar dia cepat tidur," Felichia mengajari Dean dan pria itu langsung cepat paham.
Sementara Felichia sekarang ganti menyuapi Richard dan Gika sambil sesekali melihat ke arah Dean yang sekarang benar-benar terlihat daddyable.
.
.
.
Gimana, gimana?
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.