Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
MIMPI


__ADS_3

"Dean, kenapa aku merasa gerah?" Felichia tak berhenti menggeliat.


Saat ini yang ingin Felichia lakukan hanyalah merobek bajunya sendiri demi menghilangkan rasa panas yang merambati di sekujur tubuhnya.


"Dean,"


"Ah," Felichia mulai melenguh dan mendes*h membuat Dean yang sejak tadi hanya mematung, tiba-tiba langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Felichia.


Dean menyentuh wajah Felichia sskilas, sebelum kemudian pria itu hendak mengangkat kembali tangannya. Tapi Felichia menahan tangan Dean.


"Jangan berhenti!" Felichia membimbing tangan Dean agar kembali menyentuh wajah, lalu turun ke leher, semakin ke bawah lagi.


Sentuhan tangan Dean di kulit Felichia benar-benar membuat Felichia menjadi gila.


Dean yang seolah tak mau melewatkan kesempatan, tangannya bergerak perlahan membuka kancing piyama Felichia, dari yang paling atas hingga yang paling bawah. Tangan Dean yang seolah telah terlatih, melucuti satu persatu baju yang menutupi lekuk sempurna tubuh Felichia. Inchi demi inchi kukit tubuh wanita utu Dean sentuh dan Dean cecap hingga membuat Felichia melenguh penuh kenikmatan.


Ya,


Dean juga menikmatinya.


Dean lanjut melucuti bajunya sendiri lalu dua tubuh yang tak lagi berpenghalang tersebut kembali saling menyentuh. Dean membuka perlahan kacamata yang masih menghiasi wajah Felichia. Sesaat Dean mematung dan merasa terkesima dengan wajah Felichia yang tanpa kacamata yang mengingatkan Dean pada seorang wanita yang tubuhnya pernah membuat Dean tergila-gila.


Ah, tapi Dean memilih untuk mengabaikannya, dan lanjut mencecap bibir Felichia yang sudah setengah terbuka. Inchi demi inchi dari bibir wanita itu Dean cicipi seolah Dean sedang menyalurkan hasratnya yang selama beberapa bukan terakhir tak tersalurkan.


Ya!


Bibir Felichia begitu manis dan membuat Dean semakin gila.


"Dean!" Felichia kembali menarik kepala Dean agar pria itu tak melepaskan tautan bibir mereka. Pergelutan semakin panas sekarang. Ciuman Dean mulai merambat turun ke leher mulus Felichia, lalu terus turun di kedua gundukan Felichia yang begitu menggiurkan. Dean langsung melahap keduanya secara rakus dan bergantian seperti seorang ahli.


"Aaah!" Felichia berteriak semakin tak terkendali dan terus menjambak rambut Dean yang masih aktif bermain-main di area dada Felichia. Tangan Dean nyatanya juga tak tinggal diam dan sudah menjelajah pangkal paha Felichia. Awalnya tangan Dean hanya mengusap bagian luarnya, namun semakin lama, Dean semakin menjelajah lebih jauh dan mulai memainkan bagian paling sensitif yang berada di dalam milik Felichia.


"Kau bukan perawan," gumam Dean yang kembali ingat tentang foto Felichia masuk ke sebuah penginapan bersama seorang pria asing.


Hati Dean seketika berubah menjadi panas.


"Aku akan membuatmu tergila-gila kepadaku, Chia!"ucap Dean sembari menyentakkan miliknya masuk ke dalam milik Felichia. Wanita itu menjerit namun Dean segera membungkam bibirnya dengan cepat.


Dean terus bergerak dengan intens naik dan turun di atas Chia yang wajahnya semakin mirip Felichia.

__ADS_1


Kecuali tahi lalat di pipi sebelah kanan serta bentuk alis keduanya yang berbeda.


Mungkin Dean terlau mabuk, hingga menganggap baby sitter Richard ini sebagai Felichia.


Ah, tapi bentuk tubuh mereka memang serupa dan nyaris sama. Dan Dean begitu menikmatinya sekarang.


"Terus, Dean!"


"Iya, begitu!" Felichia mulai meracau tak karuan diiringinddngan gerakan dari pinggul wanita itu yang membuat Dean semakin menggila.


Lupakan soal pengaman, Dean!


Keluarkan saja semuanya!


Jika wanita ini hamil, kau hanya perlu menikahinya da dia tak akan pernah pergi dari sisimu lagi!


Dia akan menjadi milikmu selamanya!


Jiwa iblis Dean terus membisikkan kata-kata provokasi, hingga akhirnya Dean benar-benar menyemburkan ratusan benihnya ke dalam rahim Felichia.


Dan Dean tentu saja tak hanya melakukannya sekali, namun berulang kali sebelum akhirnya Dean merasa kelelahan dan tak sanggup lagi bergerak. Pria itu ambruk di samping tubuh polos Felichia yang sudah penuh oleh tanda kepemilikan dari Dean.


Felichia keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Wanita itu mengamati Dean yang tetap terlelap dan tidur seperti orang mati. Rasaya sungguh menyebalkan, jika mengingat tentang pergelutan panas antara Felichia dan Dean yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu.


Felichia merapikan tempat tidur yang acak-acakan, agar besok pagi ia bisa mengarang cerita indah. Felichia tidak mau Dean bisa besar kepala karena sudah berhasil meniduri Felichia.


Ya!


Felichia yang bodoh dan kurang waspada kali ini.


Setelah menarik nafas panjang berulang kali, Felichia keluar dari dalam kamar saat jantungnya nyaris melompat keluar karena kepala maid yang ternyata sudah berdiri di depan kamar Felichia. Kepala maid menatap penuh selidik pada Felichia yang masih berdiri di ambang pintu.


"Senang melihatmu disini," Felichia berbasa-basi pada kepala maid dan sekuat tenaga menyingkirkan rasa gugupnya.


"Tuan Dean tertidur di atas tempat tidurku saat aku sedang mandi," Felichia membuka lebar pintu kamarnya agar kepala maid bisa melihat Dean yang tidur mendengkur.


"Aku tadi sudah berusaha membangunkannya, tapi ia tak kunjung bangun," lanjut Felichia seraya tertawa kaku.


"Bisakah kau membangunkannya karena aku sudah mengantuk dan ingin tidur secepatnya," ujar Felichia lagi meminta tolong pada kepala Maid.

__ADS_1


"Maaf, Nona. Tapi sebaiknya kita tidak usah membangunkan Tuan Dean, atau beliau akan marah nanti."


"Nona Chia bisa tidur di kamar Tuan Muda Richard," saran kepala maid pada Felichia yang sudah pura-pura menguap.


"Baiklah!" ucap Felichia akhirnya seraya masuk ke dalam kamar Richard yang bersebelahan dengan kamarnya.


"Mom!" Seruan Richard yang kini sudah duduk di atas bed perawatan menyentak dan membangunkan Felichia dari semua mimpinya tentang apa yang pernah terjadi di antara Felichia dan Dean tiga tahun silam.


Ya, itulah awal terbentuknya Gika dan Naka.


"Kau sudah bangun, Sayang?" Tanya Felichia yang langsung menghampiri Richard dan mencium kedua pipi putra sulungnya tersebut.


"Mom, Richard baru saja bermimpi bertemu dengan Dad," cerita Richard yang matanya sudah berbinar senang. Berbeda dengan Felichia yang raut wajahnya sudah berubah kaget.


"Kapan Dad akan pulang, Mom?" Tanya Richard lagi menatap penuh harap pada Felichia.


Ya,


Selama ini Felichia memang mengatakan pada putra silungnya ini kalau sang Dad sedang bekerja jauh di atas kapal di tengah laut dan pulangnya harus menunggu kapal sampai di daratan. Bisa setahun, dua tahun atau mungkin lima tahun.


Sebuah cerita fiktif yang menyesatkan sebenarnya. Tapi itu lebih baik ketimbang Felichia harus menceritakan yang sebenarnya pada ketiga anaknya soal ayah mereka yang entahlah.


"Ehm, Richard berdoa saja agar Dad segera pulang dan memeluk Richard. Oke!" Jawab Felichia dengan bujukan lembutnya seperti biasa.


"Oke, Mom!" Jawab Richard patuh seraya mengacungkan kedua jempolnya ke arah Felichia.


.


.


.


Potongan adegan pemersatu bangsa yag sempat ter-skip di eps 63 udah aku jabarkan disini, ya!


Maaf kalau UP nya di waktu yang tak tepat 😆😆


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2