
Hai, Dean!
Saat kau menemukan dan membaca surat ini, itu artinya aku tak lagi ada di sisimu. Akhirnya aku harus pergi duluan meninggalkanmu dan mengingkari janji kita untuk menua bersama dan merawat Richard bersama-sama.
Maaf!
Tapi jangan khawatir, Dean!
Aku pergi dengan sejuta kebahagiaan karena kau sudah mewujudkan impianku untuk bisa menimang bayi, meskipun itu hanya beberapa bulan. Aku akan lanjut menimang putri kita di surga.
Aku punya satu permintaan terakhir, Dean!
Semoga kau mau mengabulkannya setelah aku pergi.
Carilah Felichia!
Carilah Mom kandung dari Richard itu, Dean!
Karena sampai kapanpun, Felichia tetaplah Mom kandung Richard dan kau tidak akan pernah bisa menyangkalnya. Richard berhak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kau dan Felichia. Jadi carilah Felichia, temukan wanita baik itu, lalu jadikanlah dia pendamping hidup serta Mom untuk Richard dan anak-anak kalian kelak.
Aku akan semakin bahagia, jika kau mau mengabulkan keinginan terakhirku ini, Dean!
Temukan Felichia, Dean!
Temukan Felichia!
Dari aku...
Yang selalu mencintaimu.
Melanie
Dean merem*s surat dari Melanie sebelum pria itu meneguk air dingin di dalam botol di tangannya hingga tandas tak tersisa. Kalau bukan demi memenuhi permintaan terakhir Melanie, Dean juga tak akan sudi mencari Felichia murahan nan menyebalkan itu!
Suara langkah yang msuk ke dapur membuyarkan lamunan Dean. Pria itu mendongakkan kepalanya dan langsung mendapati Felichia yang mengenakan piyama masuk ke dalam dapur.
"Malam, Dean!" Sapa Felichia tersenyum hangat pada Dean yang hanya menatap Felichia nyarus tak berkedip.
"Richard sudah tidur, Chia?" Tanya Dean yang akhirnya buka suara dan sedikit berbasa-basi.
"Ya. Dia sudah pulas sejak tadi," jawab Felichia yang masih mengulas senyum di bibirnya. Felichia mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas, lalu meneguknya hingga tandas.
Lagi-lagi Dean nyaris tak berkedip menatap pada baby sitter putranya itu yang minum dengan begitu anggun.
Ada apa dengan mata Dean?
Felichia sudah selesai minum, dan wanita itu mengambil sebuah apel dari dalam kulkas, lalu hendak keluar dari dapur, saat Dean tiba-tiba memanggilnya.
"Chia!"
Felichia menoleh ke arah Dean dan menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Iya, Dean?"
"Duduklah sebentar disini dan temani aku mengobrol. Bukankah Richard sudah tidur?" Dean menepuk bangku kosong di sebelahnya, demi memberikan Felichia kode agar wanita itu berkenan untuk duduk.
"Tapi, aku harus menjaga Richard, Dean," Felichia berusaha menolak secara halus.
"Tangisan Richard kencang. Jadi jika dia terbangun atau menangis, kita akan mendengarnya," ujar Dean berusaha meyakinkan Felichia.
Felichia hanya menghela nafas dan akhirnya menuruti permintaan Dean.
"Baiklah, jika kau memaksa." Felichia akhirnya menurut dan duduk di bangku bulat tinggi yang ada di samping Dean.
"Apa yang membuatmu memilih pekerjaan sebagai baby sitter, Chia?" Tanya Dean membuka obrolan.
"Aku suka anak-anak," jawab Felichia cepat.
"Padahal kau masih muda dan belum pernah menikah, tapi jiwa keibuanmu kuat sekali. Richard juga terlihat begitu nyaman saat kau gendong atau kau peluk."
"Bayi itu jadi jarang rewel sekarang," tutur Dean memuji Felichia panjang lebar.
"Kau memuji terlalu berlebihan, Dean!" Ujar Felichia merendah.
"Membuat anak yang aku asuh merasa nyaman memanglah bagian dari pekerjaanku, dan aku menyukainya," lanjut Felichia seraya mengendikkan bahu.
"Aku ada kunjungan proyek ke sebuah kota di pesisir pantai lusa nanti. Dan aku berniat mengajak Richard untuk berlibur sekalian." Dean menjeda kalimatnya sejenak dan memutar-mutar botol kosong di hadapannya.
"Apa kau keberatan jika aku memintamu untuk ikut sekalian?" Lanjut Dean meminta persetujuan Felichia.
Felichia tidak langsung menjawab dan terlihat berpikir.
Dari semua gelagat Dean, jelas sekali kalau pria ini mulai tertarik pada Chia, sang baby sitter. Mungkin seharusnya Felichia memang memanfaatkan kesempatan ini untuk menghancurkan Dean.
Bukankah cara terbaik menghancurkan seseorang adalah dengan cara menghancurkan harapan dan perasaannya saat dia mulai luluh dan terhanyut? Saat Dean pikir kebahagiaan sedang datang kepadanya, Felichia akan langsung membanting perasaan pria ini ke dasar jurang penderitaan, hingga Dean akan merasa hancur sehancur-hancurnya.
"Chia, kenapa kau malah melamun?" Teguran Dean langsung menyentak lamunan Felichia dan semua rencana jahat di kepalanya.
Bukan Felichia yang jahat!
Tapi Dean yang sudah menbuat Felichia menjadi jahat!
"Eh, iya. Jadi, bagaimana tadi?" Felichia pura-pura tergagap.
"Ikutlah ke luar kota bersama aku dan Richard besok lusa. Kau bisa berlibur sekaligus menjaga Richard," Dean mengulangi permintaannya pada Felichia.
"Harus?" Tanya Felichia seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Ya," Dean tiba-tiba sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Felichia. Membuat Felichia bisa merasakan hembusan nafas Dean yang pernah satu peluh dengannya.
Brengsek!
Seharusnya Felichia melupakan kejadian menyebalkan itu!
__ADS_1
"Baiklah, jika kau memaksa, Dean," Felichia bergerak mundur dengan perlahan demi menghindari Dean yang ternyata lumayan mesum juga.
Dasar pria!
Dimana-mana sama saja!
"Oweeek!" Tangisan Richard dari dalam kamar seolah menyelamatkan Felichia dari tatapan Dean yang memuakkan. Felichia jadi punya alasan untuk pergi dari hadapan pria brengsek ini.
"Tuan Muda sudah menangis, Dean! Sebaiknya aku mendekapnya sebelum di mengamuk," ucap Felichia seraya tersenyum kaku.
Felichia sudah turun dari atas kursi dan hendak meninggalkan Dean, saat tiba-tiba Dean meraih tangan Felichia, lalu mengecupnya.
"Terima kasih karena sudah menemaniku mengobrol, Chia!"
Sialan!
Felichia mengumpat dalam hati, dan segera mengusapkan tangannya yang baru saja dicium oleh Dean ke piyamanya, saat wanita itu berjalan menuju ke kamar Richard.
Belum ada dua bulan Melanie berpulang, dan Dean sudah bisa merayu perempuan.
Dasar pria!
****
Dean berbaring dan menatap langit-langit kamarnya, lalu pria itu tersenyum sendiri seolahbsedang membayangkan sesuatu yang menyenangkan. Setelah beberapa saat, Ddan beralih posisi menjadi miring ke kanan, menghadap ke foto Melanie yang terpajang di atas nakas.
Dean mengambil foto istrinya tersebut, lalu mulai mengajaknya mengobrol.
"Mel," Dean mengusap gambar wajah Melanie yang sedang tersenyum.
"Apa kau marah, jika saat ini aku jatuh cinta pada wanita lain?" Dean bertanya pada foto Melanie yang membisu namun tetap tersenyum ke arah Dean.
"Kadar cintaku kepadamu tak akan oernah berkurang, Sayang! Tapi izinkan aku memberikan Mom baru untuk Richard," lanjut Dean lagi yang jemarinya masih trrus mengusap foto Melanie.
"Bukan aku tak mau menuruti permintaan terakhirmu untuk menikah dengan Felichia."
"Tapi aku pikir, aku sudah menemukan wanita yang pas dan ideal untuk menjadi Mom untuk Richard." Dean sudah ganti mendekap foto Melanie.
"Aku yakin kau tak akan pernah marah."
"Kau memang istri sekaligus malaikatku yang terbaik, Melanie!" Dean sudah ganti menciumi foto Melanie yang sejak tadi ia dekap.
"I love you!" Lirih Dean sebelum pria itu memejamkan matanya tetap sambil memeluk foto Melanie yang sedang memangku Richard.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.