Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
HANCUR


__ADS_3

Navya memeluk Felichia dengan erat dan berulang kali menciumi Richard yang tak lepas dari gendongan Felichia sejak tadi. Saat ini mereka tengah berada di sudut bandara kota untuk mengucapkan salam perpisahan.


"Terima kasih untuk semuanya, Nav!" Ucap Felichia tulus pada Navya yang sudah banyak membantunya selama ini.


"Hiduplah tenang bersama Richard mulai sekarang," ucap Navya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tak akan ada yang memisahkan kalian berdua lagi," lanjut Navya yang kembali memeluk Felichia.


"Ya, kami akan memulai kebahagiaan kami berdua," jawab Felichia yang matanya ikut berkaca-kaca.


"Ini kunci rumah, dan sedikit tabung-"


"Navya, aku tak bisa menerima lagi pemberian apapun darimu." Felichia menolak dengan cepat kunci rumah dan sebuah amplop yang diberikan oleh Navya.


"Bukan dariku. Tapi dari Kak Melody dan Abang Matthew." Ucap Navya cepat.


"Ini gajimu selama kau menjadi pelayan pribadi Kak Melody," Navya menunjuk ke amplop di tangannya.


"Dan yang ini hadiah karena kau selalu membuat Kak Melody tertawa saat menjadi pelayan pribadinya." Lanjut Navya yang ganti menunjuk ke kunci rumah yang ada di tangannya.


"Bukan sebuah rumah mewah, tapi hanya rumah mungil yang pas untuk kau dan Richard, jadi terimalah karena hadiahnya sudah tidak bisa dikembalikan," tutur Navya panjang lebar seraya tertawa kecil.


"Kau pemaksa sekali!" Cebik Felichia yang akhirnya terpaksa menerima hadiah yang diberikan oleh Navya.


"Bukan aku. Tapi Kak Melody," kilah Navya membela diri.


"Uangnya bisa kau gunakan untuk biaya hidup sampai kau dapat pekerjaan," saran Navya lagi.


"Aku akan membuka toko saja," jawab Felichia yang ternyata punya ide lain.


"Ide yang bagus. Kau wanita yang hebat, Fe! Semoga kebahagiaan akan selalu menyertaimu setelah ini," Navya memeluk Felichia sekali lagi.


"Kau juga wanita yang baik, Nav! Semoga pernikahanmu dengan Erlan selalu diberikan kebahagiaan dan kalian memiliki anak yang banyak," ucap Felichia sedikit berkelakar.


"Aamiin! Akan ku anggap itu sebagai doa baik." Jawab Navya seraya tertawa kecil.


"Sering-seringlah menelepon dan memberi kabar!" Pesan Navya sekali lagi pada Felichia.


"Tentu. Kau temanku yang paling baik. Aku tak akan pernah melupakan semua jasa baikmu dan juga abangmu," jawab Felichia bersamaan dengan panggilan untuk penumpang yang sudah terdengar.


"Sebaiknya aku bergegas," ucap Felichia seraya membenarkan gendongan Richard dan merapatkan selimut yang membalut tubuh putranya tersebut.


"Pakai kacamatamu!" Ujar Navya mengingatkan.


Felichia mengangguk dan segera memakai kacamatanya.


"Terima kasih sekali lagi untuk semuanya, Nav!" Felichia memeluk Navya sekali lagi.


"Sama-sama. Hiduplah bahagia mulai sekarang."


"Sampaikan salamku untuk Tuan Matthew, Nona Melody, Erlan dan juga putramu," pungkas Felichia sebelum melepaskan pelukannya pada Navya.

__ADS_1


"Akan kusampaikan." Jawab Navya seraya menghapus airmata yang menggenang di sudut matanya.


"Bye, Richard!" Navya mencium Richard sekali lagi.


"Kami pergi dulu, Nav!" Felichia melambaikan tangan ke arah Navya seraya berjalan masuk ke dalam bandara.


"Bye! Safe flight!" Jawab Navya yang balas melambaikan tanagn ke arah Felichia dan Richard, hingga akhirnya ibu dan anak itu menghilang masuk ke dalam pintu keberangkatan bandara.


****


"Richard!"


Dean kembali menangis seraya memeluk batu nisan yang tertancap di atas makam putranya.


Dean menolak semua prosedur yang akan dilakukan pada jenazah Richard yang sudah hangus terbakar. Pria itu juga berteriak-teriak di rumah sakit, memaksa untuk segera membawa anaknya pulang dan memakamkannya saja.


"Kenapa harus secepat ini kau pergi, Rich?" Teriak Dean sekali lagi yang mungkin sudah seperti orang gila.


"Mel!" Dean ganti beralih ke makam Melanie yang betada di samping makam Richard.


"Mel, kenapa kau harus mengambil Richard dariku? Bukankah kau sudah bahagia bersama putri kita di Surga?"


"Lalu kenapa sekarang kau juga mengambil Richard dan membiarkan aku hidup sendirian?"


"Kenapa, Mel? Kenapa?" Teriak Dean pada makam Melanie yang membisu.


"Kenapa kalian berdua meninggalkan aku sendirian?" Teriak Dean sekali lagi sebelum pria itu kembali menangis dan mencakari makam istri serta anaknya.


"Dean!" Seru Aaron yang buru-buru menghampiri Dean yang sudah seperti orang hilang kewarasan.


Siapa yang tidak hancur dan gila jika anak yang paling ia sayangi tiba-tiba pergi secara tragis dan mengenaskan.


Baru beberapa bulan yang lalu Melanie pergi meninggalkan dunia ini dan meninggalkan Dean untuk selamanya. Lalu sekarang gantian Richard yang pergi dan membuat Dean semakin hancur dan terpuruk.


"Richard! Jangan tinggalkan Dad, Sayang!" Dean kembali meratap.


"Ayo kita bermain bola, Richard!"


"Ayo kita pergi membeli mainan!"


"Kenapa kamu meninggalkan Dad seperti ini?" Dean terus menangis meraung-raung seperti seorang bocah yang kehilangan mainannya. Seper seorang bocah yang ditinggal oleh ibunya.


"Richard!"


****


"Kau masih bisa menikah lagi, Dean!"


"Membangun sebuah keluarga baru, lalu membuat selusin Richard yang baru-"


Pyaaar!

__ADS_1


Dean melempar gelas yang ada di tangannya hingga menghantam tembok dan pecah berkeping-keping.


"Ini sudah lebih dari tiga bulan dan kamu juga harus move on, Dean!" Papa Abram mulai meninggikan suaranya.


"Berhentilah mabuk-mabukan karena sampai kapanpun, Richard tidak akan hidup lagi-"


"Diam!" Bentak Dean seraya menatap marah ke arah sang Papa.


"Papa sejak dulu memang tak pernah peduli pada Dean! Yang Papa pikirkan hanyalah urusan dan kebahagiaan Papa sendiri!"


"Tidak usah lagi mengatur-ngatur hidup Dean sekarang!" Sergah Dean lagi sebelum pria itu meneguk dengan rakus minuman di dalam botol beling yang ada di tangannya.


"Berhentilah minum, Dean!" Papa Abram merebut botol minuman Dean dengan kasar.


"Pergilah keluar dan carilah wanita!" Usir Papa Abram pada Dean.


"Tidak usah menyuruh-nyuruh Dean!" Balas Dean dengan nada galak dan emosi yang meledak.


"Baiklah, terserah!" Tukas Papa Abram yang sudah benar-benar kesal.


"Papa dan Mama akan berkeliling Eropa selama sebulan. Semoga kau sudah menikah dan membangun sebuah keluarga baru saat kami kembali!" Ujar Papa Abram lagi yang langsung membuat Dean tertawa sinis.


"Papa dan Mama memang egois!" Sentak Dean yang masih tertawa terbahak-bahak.


"Kami bukan egois! Tapi kami punya cara sendiri untuk menghapus duka dan kesedihan." Kilah Papa Abram sebelum meninggalkan Dean dan rumah besar Dean yang kini terasa suram dan kelabu.


Tak ada lagi tawa Melanie.


Tak ada juga tawa Richard atau suara lembut Chia-


Dean memejamkan matanya mengingat tentang baby sitter Richard itu yang baru beberapa bulan mewarnai hari-harinya.


Baru saja Dean ingin melamar wanita itu dan memintanya untuk menjadi Mom untuk Richard, tapi kenapa dia malah ikut pergi bersama Richard?


Kenapa hidup tidak adil?


Kenapa semua orang yang Dean cintai harus pergi meninggalkan Dean sendirian.


Kenapa?


.


.


.


Udah pada puas belum sama karmanya Dean?


Yang bilang belum, ter-la-lu!


Hari ini 4 eps lagi mumpung masih libur.

__ADS_1


Besok othor udah jadi "macan ternak" (mama cantik anter jemput anak sekolah) jadi belum tentu bisa 4 eps lagi 🤣


Jangan lupa di like semua babnya. Biar jempol kalian nggak cantengan.


__ADS_2