Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
SERANGAN PAGI


__ADS_3

Felichia menatap bayangan wajahnya sendiri di cermin, sebelum lanjut mengoleskan foundation di leher dan dada bagian atas. Banyak sekali kissmark yang disematkan oleh Dean semalam dan bekasnya langsung terlihat jelas pagi ini di hampir seluruh bagian leher, pundak, dada, serta perut Felichia.


Ya ampun!


Suami Felichia itu begitu mesum ternyata setelah puasa selama tiga tahun.


"Sudah cantik, Istriku," sapa Dean yang baru selesai mandi.


Suami Felichia itu hanya mengenakan handuk yang membalut bagian bawah tubuhnya dan kini sedang memeluk Felichia dari belakang. Melihat apa yang sedang dilakukan oleh Felichia.


"Kau sedang apa? Kenapa kamu tutupi semua begitu hasil karyaku?" Protes Dean sedikit tak terima.


"Malu dilihat orang, Dean!" Jawab Felichia merasa gemas.


"Ck! Nggak usah ditutupi!" Dean mengecup leher Felichia di bagian yang belum ada tanda merahnya. Cukup lama hingga akhirnya....


"Dean!" Pekik Felichia tak percaya.


"Apa? Mau aku tambahin lagi?" Dean mendorong Felichia hingga tubuh istrinya itu terus beringsut mundur, menabrak tempat tidur dan Felichia jatuh telentang di atas ranjang.


"Dean!" Felichia ingin berontak, tapi Dean malah mengunci kedua tangan Felichia dan membuat wanita itu tak berkutik lagi. Dean kembali mengecup bibir Felichia dan tentu saja Felichia tak tinggal diam. Istri Dean itu malah membalas kecupan panas Dean dengan lebih panas dan penuh gairah.


Sial!


Seharusnya Dean tak memancing wanita agresif ini!


"Kau harus ke kantor, Dean!" Felichia mengingatkan sang suami masih sambil mengecup bibir Dean dengan ganas.


"Kita lakukan sekali lagi, lalu aku akan pergi ke kantor," pinta Dean di sela-sela ciuman mereka.


"Kau tidak akan mau berhenti nanti dan akan terlambat ke kantor," jawab Felichia yang juga tak mau berhenti mencium Dean.


"Ya ampun!" Dean benar-benar tak tahan sekarang.


Ciuman pria itu sudah turun ke leher, lalu ke dada Felichia. Dean semakin tak sabar dan langsung sekuat tenaga merobek gaun tanpa lengan yang tadi dikenakan Felichia.


"Dean!" Felichia menahan tanga Dean yang sudah bersiap menurunkan underwear-nya.


"Jangan coba-coba menghentikanku!" Ucap Dean tegas seraya menarik turun underwear Felichia lalu mekemparnya sembarangan. Pria itu lanjut membuka lilitan handuk yang sejak tadi menutupi bahian bawah tubuhnya. Junior Dea sudah berdiri tegak dan menantang. Dan tanpa membuang waktu, Dean segera melesakkan miliknya ke dalam milik Felichia.


"Aaargh!" Lenguhan dari Felichia membuat Dean tersenyum miring, dan suami Felichia itu langsung memulai pergerakannya mengabaikan jam di nakas yang masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Ya,


Biasanya jam segini Dean masih berolahraga di gym miliknya. Namun sekarang Dean memilih berolahraga bersama Felichia. Olahraga yang begitu menyenangkan dan seperti sebuah candu.


"Anak-anak akan bangun sebentar lagi, Dean!" Felichia mengingatkan sang suami.

__ADS_1


"Sudah ada pengasuh yang menjaga mereka," nafas Dean semakin memburu.


"Dan aku sudah mengunci pintu kamar kita!" Lanjut Dean seraya mrmpercepat gerakannya.


Dean tak pernah merasa sesemangat ini sebelumnya.


"Kau hampir sampai?" Tanya Dean pada Fe yang wajahnya sudah memerah.


"Sedikit lagi," jawab Felichia.


"Kita lakukan bersama-sama!" Dean memberikan aba-aba dan Felichia langsung mengangguk.


"Satu," Dean mulai menghitung.


"Dua!"Felichia melanjutkan hitungan Dean.


"Tiga!" Ucap Dean dan Felichia bersamaan dengan tubuh mereka yang sama-sama mengejang. Dean dan Felichia tertawa bersama, lalu keduanya saling memeluk dengan nafas yang masih terengah-engah dan tubuh yang kembali dipenuhi peluh.


Padahal baru beberapa saat yang lalu mereka mandi.


"Aku tidak bisa bangun, Dean!" Keluh Felichia yang semakin merapatkan tubuhnya di dalam dekapan Dean.


"Mau aku gendong masuk ke kamar mandi?" Tawar Dean pada sang istri.


"Ya! Sekalian mandikan aku, Suamiku!" jawab Felichia dengan nada manja menggoda.


"Aku sungguh tak keberatan," nada suara Felichia masih terdengar menggoda.


"Kau akan pingsan nanti karena terlambat sarapan," kekeh Dean sekali lagi.


"Bukankah ada kau yang akan memberikan aku nafas buatan?" Timpal Felichia yang benar-benar membuat Dean kehilangan kata-kata.


"Kita mandi saja, ya!" Ucap Dean seraya mengecup bibir Felichia.


"Nanti malam kita sambung lagi setelah anak-anak tidur," imbuh Dean lagi yang langsung membuat Felichia mengangguk.


Dean menggendong Felichia dan segera memandikan istrinya tersebut, sekalian Dean yang juga kembali mandi.


****


"Mom!"


"Mom!"


Naka dan Gika berlari menghampiri Felichia yang baru turun dari lantai dua. Felichia yang sudah malas memakai foundation di lehernya, akhirnya memilih gaun dengan potongan garis leher halter yang menutup hingga bawah dagu wanita tersebut.


"Sudah mandi?" Tanya Felichia pada kedua anak kembarnya yang sudah wangi.

__ADS_1


"Mandi.... mbak!" Gika menunjuk ke arah pengasuhnya.


"Mandi sama Mbak." Felichia mengoreksi kalimat Gika yang masih sepenggal-sepenggal.


"Pinter anaknya, Mom!" Lanjut Felichia memuji sang putra.


"Mom, mam!" Gantian Naka yang menarik-narik tanga Felichia dan mengajaknya ke ruang makan. Felichia mengangguk dan segera menggandeng kedua anak kembarnya menuju ke ruang makan. Lalu mendudukkan keduanya dinatas highchair. Sedangkan Richard sudah makan duluan karena sepertinya putra sulung Felichia itu sudah kelaparan.


"Richard sudah mandi, Mbak?" Tanya Felichia pada pengasuh Richard.


"Sudah, Nona!"


"Dad mana, Mom?" Tanya Richard di sela-sela bocah itu mengunyah sarapannya.


"Masih di at-"


"Dad disini!" Seru Dean memotong kalimat Felichia. Pria itu langsung menghampiri putranya satu per satu dan memberikan ciuman selamat pagi.


"Makan yang banyak biar cepat besar!" Titah Dean pada Richard yang langsung mengangguk patuh.


"Gika dan naka mau Dad suapi?" Dean ganti bertanya pada kedua putra kembarnya.


"Kau akan terlambat ke kantor, Dean!" Felichia mengingatkan sang suami.


"Kau bisa menyuapiku selagi aku menyuapi si kembar," jawab Dean mengungkapkan ide cemerlangnya.


"Ck! Kenapa bukan aku saja yang menyuapi si kembar dan kau makan sendiri?" Tanya Felichia bingung.


"No! Aku menyuapi si kebar dan kau menyuapiku," ucap Dean sekali lagi dengan nada tegas cenderung memaksa.


Baiklah, terserah!


Felichia sudah mulai menyuapi Dean, sementara Dean juga menyuapi si kembar secara bergantian. Sedikit aneh memang, tapi itulah yang dilakukan kekuarga Dean Alexander di pagi yang cerah ini


.


.


.


Maaf lambat UP.


Acara nggak kelar-kelar dari kemarin 😂😂


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2