
Felichia hanya bisa tertunduk lesu di kursi tunggu rumah sakit dan memijit pelipisnya sendiri yang kini terasa pening. Beberapa luka memar yang Felichia alami di kaki dan tangannya, hanya Felichia abaikan karena saat ini yang ada di pikiran Felichia hanyalah kondisi Richard yang terluka lumayan parah di kepalanya setelah bocah itu jatuh dari atas motor dan kepalanya membentur trotoar jalan. Richard kehilangan banyak darah dan butuh donor darah sekarang. Tapi golongan darah Richard termasuk langka dan Felichia bingung harus mencari pendonor kemana.
Felichia masih tak berhenti merutuki kecerobohanannya sendiri saat tiba-tiba sebuah suara yang masih sangat ia kenal menyapanya dan membuat Felichia kaget setengah mati.
"Nona, maaf!"
"Golongan darah saya AB, apa saya bisa menjadi pendonor untuk anak anda?"
Felichia mendongakkan wajahnya dan menatap wajah pria itu lekat-lekat, memastikan kalau Felichia tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi.
"Dean?" Gumam Felichia yang masih tak percaya dengan kehadiran pria yang kini ada di depan wajahnya. Dan menyapanya.
"Anda tahu nama saya, Nona?" Pria itu balik bertanya pada Felichia dan raut wajahnya tidak seperti Dean yang pernah Felichia kenal. Pria ini lebih ramah dan murah senyum.
Aneh sekali!
"Nona!" Tegur Dean lagi karena Felichia yang malah melamun masih sambil menatap lekat Dean.
"Kau Dean?" Tanya Felichia memastikan.
Rasa takut tiba-tiba langsung merambati hati dan pikiran Felichia. Mungkinkah Dean sedang berakting dibdepan Felichia dan hendak mengambil Richard lagi dari pelukan Felichia.
"Iya, saya Dean Alexander, Nona! Apa anda mengenal saya?" Dean balik bertanya pada Felichia dan raut wajah Dean benar-benar menunjukkan kalau pria ini tak mengenal Felichia.
Apa Dean mengalami amnesia?
Atau pria ini hanya pura-pura hilang ingatan?
Felichia menggeleng dan akan berpura-pura tak kenal pada Dean.
"A-aku pernah melihat wajahmu di majalah bisnis," jawab Felichia tergagap.
Dean langsung tersenyum lebar dan kembali berucap,
"Jadi, apa saya boleh menjadi pendonor untuk anak anda? Kata sekretaris saya, golongan darah saya AB. Golongan darah putra anda AB juga, kan?"
"Apa kau mau mengambil Richard lagi setelah mendonorkan darahmu?" Tanya Felichia menuduh Dean to the point. Wajah Dean langsung berubah bingung.
Bingung yang benar-benar bingung!
"Siapa Richard?" Tanya Dean bingung.
__ADS_1
"Dan kenapa saya harus mengambilnya dari anda? Saya bahkan tidak tahu anda siapa dan Richard itu siapa," cecar Dean seraya tertawa sumbang seolah sikap Felichia barusan begitu lucu di matanya.
"Saya benar-benar hanya ingin membantu. Tapi jika anda keberatan dan tidak setuju, saya akan undur diri dan pergi dari sini. Selamat siang!" Dean menganggukkan kepalanya dengan sopan ke arah Felichia dan tersenyum hangat, sebelum kemudian pria itu berbalik dan hendak pergi.
Saat itulah, Felichia ingat pada Richard yang sedang butuh donor darah dari Dean.
"Tuan Dean!" Panggil Felichia akhirnya sebelum Dean mencapai pintu keluar rumah sakit.
Dean berbalik dan kembali menghampiri Felichia.
"Anda berubah pikiran, Nona?" Tebak Dean yang langsung membuat Felichia mengangguk.
Setelah sama-sama setuju, Felichia segera mengantar Dean bertemu perawat agar pria itu bisa secepatnya mendonorkan darahnya untuk Richard.
****
Dean sudah selesai mendonorkan darahnya untuk Richard dan kini pria itu sedang dalam perjalanan kembali ke hotel.
"Apa kau mau mengambil Richard lagi setelah mendonorkan darahmu?"
Pertanyaan dari wanita yang merupakan Mom kandung Richard tadi terus saja berkelebat di benak Dean.
Richard?
Dean seperti pernah mendengar nama Richard dan membacanya berulang kali.
Tapi dimana?
Kenapa Dean tidak ingat?
Richard?
Richard?
Siapa Richard?
****
Felichia masih tak habis pikir tentang Dean yang kini sudah berbeda jauh dari Dean yang dulu Felichia kenal. Dean tadi langsung pamit setelah mendonorkan darahnya untuk Richard dan mengantar Richard ke kamar perawatan. Dean bahkan bersikap seperti orang asing pada Felichia dan Richard dan pria itu sepertinya benar-benar tak kenal ataupun ingat pada Richard dan Felichia.
Aneh sekali!
__ADS_1
Padahal Felichia juga tak sedang menyamar.
Tidak ada bodyguard juga di sekitar Dean seperti dulu dan pria itu terlihat santai berjalan kesana kemari sendirian.
Apa itu benar-benar Dean Alexander?
Kenapa ini begitu membingungkan?
Felichia masih tenggelam dalam pikirannya saat tiba-tiba ponsel Felichia berdering, menandakan ada panggilan masuk.
"Halo, Mbok Jum!" Sambut Felichia setelah mengangkat telepon.
Mbok Jum adalah ART yang merangkap sebagai pengasuh di rumah Felichia.
"Mbak Fe kemana? Kenapa ke pasar lama sekali? Gika demam lagi, Mbak! Dan obat demam Gika habis."
"Ya ampun!" Felichia mengusap wajah sendiri karena baru sadar kalau ia sudah terlalu lama pergi dari rumah meninggalkan kedua anak kembarnya bersama Mbok Jum.
"Aku masih di rumah sakit, Mbok. Karena tadi aku sama Richard terserempet mobil. Dan sekarang Richard masih belum sadar." Cerita Felichia pada Mbok Jum.
"Tapi Mbak Fe baik-baik saja, kan?"
"Iya, aku baik-baik saja! Aku akan segera pulang membawa obat untuk Gika. Naka demam juga nggak?" Tanya Felichia memastikan.
"Naka tidak demam, Mbak! Masih main anaknya."
"Syukurlah kalau begitu."
"Yaudah, aku pulang sebentar lagi, Mbok." Pungkas Felichia sebelum menutup telepon.
Felichia bergegas keluar dari kamar perawatan Richard dan menemui suster untuk menitipkan Richard sementara Felichia pulang menjemput kedua anak kembarnya dan Mbok Jum sekalian.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1