Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
BOHONG!


__ADS_3

"Tadi aku memesan makanan untuk kau dan anak-anak," ucap Dean yang hanya ditanggapi Felichia dengan anggukan serta raut wajah datar yang cenderung tanpa ekspresi.


"Terima kasih."


"Seharusnya kau tak perlu repot," jawab Felichia yang wajahnya tetap datar.


Felichia masih memikirkan tentang kalimat Dean tadi yang mengatakan kalau pria itu hanya pura-pura tak ingat pada Felichia dan Richard.


Apa maksudnya coba?


Apa Dean sengaja melakukannya agar anak-anak dekat dengannya, lalu setelahnya Dean bisa membawa pergi anak-anak dari pelukan Felichia?


Apa Dean ingin memisahkan Felichia dari anak-anaknya lagi seperti dulu saat pria ini merampas Richard dari pelukan Felichia?


"Fe! Kenapa kau melamun?" Tegur Dean penuh selidik.


"Tidak apa-apa! Aku tidak melamun," kilah Felichia menyangkal tuduhan Dean.


"Ngomong-ngomong, kau tidak pulang?"


"Hujan sudah reda, dan Naka juga sudah baikan."


"Listrik juga sudah menyala," ujar Felichia panjang lebar yang seakan sedang mengusir Dean dari rumahnya.


"Apa aku boleh menginap malam ini disini?" Tanya Dean sedikit ragu.


"Maksudku, Mbok Jum kan tidak ada. Jadi bolehkan aku menginap dan menggantikan mbok Jum-"


"Tidak boleh!" Jawab Felichia menatap tegas pada Dean.


Dean hanya bisa menghela nafas kecewa.


"Sebaiknya kau segera pulang, Dean!" Ucap Felichia sekali lagi, mengusir Dean secara halus.


"Terima kasih atas bantuanmu hari ini dan juga terimakasih karena sudah repot-repot membelikan makanan untuk kami!" Lanjut Felichia yang raut wajahnya sudah tak hangat dan tak ramah.

__ADS_1


Ada apa dengan Felichia?


"Baiklah! Aku ke kamar mandi sebentar," pamit Dean seraya meninggalkan ponselnya yang tergeletak di atas meja makan. Pria itu berlari ke kamar mandi sepertimya sedang kebelet.


Saat itulah ponsel Dean dia atas meja bergetar menandakan ada panggilan masuk dari seseorang bernama Aaron.


Ya, itu adalah sekretaris Dean.


Felichia memicingkan matanya dan melihat nomor Aaron yang juga tertera di layar ponsel Dean, seolah wanita itu sedang menghafalnya sebelum kemudian ponsel berhenti bergetar bersamaan dengan Dean yang sudah kembali dari kamar mandi.


"Aku pulang dulu, dan aku akan kembali lagi besok pagi," pamit Dean seraya berjanji pada Felichia.


"Ya," jawab Felichia skngkat dan padat.


Setelah berpamitan pada anak-anak, Dean akhirnya meninggalkan rumah Felichia dan kembali ke hotel.


****


"Halo, selamat malam!"


Felichia sengaja menghubungi sekretaris Dean itu bermodalkan nomor yang ia ingat dari layar ponsel Dean tadi.


"Iya, saya Aaron Hernandez. Maaf, ini dengan siapa, ya?"


"Aku Felichia. Apa bebar ingatan Dean seenarnya sudah kembali?" Tanya Felichia lagi to the point tanpa basa basi sedikitpun.


"A-apa maksudmu, Felichia? Maaf aku bingung."


Suara sekretaris Dean itu terdengar gagap. Felichia yakin dia hanya berakting dan pura-pura bingung. Tapi sepertinya akting Aaron tak sebagus Dean yang pura-pura belum ingat apapun.


"Tidak usah pura-pura bingung, Aaron!" Gertak Felichia galak.


"Jawab sejujurnya saja! Apa ingatan Dean sudah kembali?" Felichia kembali bertanya pada Aaron dengan nada tegas dan galak.


"Iya. Ingatan Dean memang sudah kembali dan dia sudah ingat padamu dan pada anak-anakmu!"

__ADS_1


Jawaban Aaron membuat Felichia diam sejenak. Ternyata Felichia sudah ditipu oleh Dean selama satu pekan ini .


"Tapi Dean juga sudah berubah, Fe!" Lanjut Aaron saat Felichia hendak menutup telepon.


"Pria itu tak mungkin berubah! Dean pasti ingin memisahkan aku dan anak-anak-"


"Tidak seperti itu!" Potong Aaron tegas.


"Aku berani bersumpah, kalau Dean bukanlah Dean jahat seperti dulu! Dean pria baik sekarang, Fe! Dia sengaja berpura-pura lupa ingatan agar kau tidak pergi lagi membawa anak-anak! Dean mencintaimu dan dia ingin membawa kau dan anak-anak pulang ke rumahnya!"


"Dean tidak akan mungkin memisahkan kau dari anak-anakmu!"


"Bohong!" Ucap Felichia yang masih belum percaya.


"Aku tidak bo-"


Felichia mematikan teleponnya pada Aaron begitu saja dan tak mau pagi mendengarkan apapun penjelasan sekretaris Dean tersebut.


Felichia menatap satu persatu wajah putranya yang kini sudah terlelap, lalu menciumi mereka satu persatu.


"Mom tak akan membiarkan siapapun memisahkan kita berempat, Sayang!" Gumam Felichia bertekad dalam hati.


Felichia beranjak dari atas tempat tidur, melirik sejenak ke arah jam di kamar yang menunjukkan pukul tiga pagi. Lalu wanita itu menarik satu tas dari atas lemari dan mulai menyusun bajunya serta baju anak-anak ke dalam tas.


Begitu matahari terbit, Felichia akan membawa anak-anak pergi dari rumah ini.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir


Jangan lupa like biar nanti bisa UP lagi.

__ADS_1


__ADS_2