
"Kemungkinan yang mengenakan mantel hitam dan kacamata hitam ini, Tuan," ucap salah satu bodyguard menunjuk ke arah layar yang menampilkan rekaman CCTV mall.
"Mana rekaman kamera yang berada bagian luar gedung?" Tanya Dean pada petugas CCTV yang berjaga dan yang tadi sempat berdebat dengan Dean karena Dean yang memaksa untuk melihat rekaman CCTV gedung.
Namun bukan Dean namanya jika tak berhasil mendapatkan apa yang ia mau.
"Kamera yang menyorot halaman parkir sudah satu minggu ini rusak dan belum diperbaiki, Tuan," ucap petugas tersebut menunjuk ke satu bagian kamera yang hanya menampilkan gambar hitam penuh semut.
"Brengsek!" Umpat Dean merasa marah karena ia benar-bebar kehilangan jejak Felichia sekarang.
Dean hanya tahu Felichia keluar dari pintu utama Mall memakai mantel hitam, selendang, serta kacamata hitam. Dan wanita itu juga sempat berpapasan dengan Dean.
Lalu kenapa Dean bisa tidak menyadarinya?
Ah, wanita bodoh itu sepertinya sudah menjelma menjadi wanita cerdik.
Entah ada yang membantunya atau dia bdrakdi sendiri?
Dasar merepotkan!
"Brengsek!" Umpat Dean bersamaan dengan jutaan kupu-kupu yang terasa memenuhi lambungnya.
"Dimana toilet?" Tanya Dean galak pada petugas CCTV yang langsung menunjuk ke sudut ruangan. Dean tak menunggu lama lagi dan segera pergi ke toilet untuk muntah-muntah.
Bahkan setelah wanita sialan itu pergi, Dean masih saja muntah-muntah dan mengalami morningsickness. Sihir macam apa yang sebenarnya dipakai oleh Felichia?
****
Erlan membelokkan mobil Navya yang kini ia kemudikan, masuk ke sebuah gedung apartemen. Felichia sendiri masih duduk di jok belakang mobil dan tetap menyembunyikan wajahnya, karena bisa saja mobil Erlan berpapasan dengan mobil Dean atau pengawalnya di jalan.
Bukankah mereka ada di mana-mana?
Erlan langsung masuk ke tempat parkir yang berada di basement gedung, dan memarkirkan mobil Navya berdekatan dengan lift. Erlan turun terlebih dahulu, lalu baru membuka pintu belakang, dimana Felichia duduk.
"Ayo turun, Fe! Kita sudah sampai," ucap Erlan seraya membimbing Felichia untuk turun dari mobil.
Felichia membenarkan kaca mata hitamnya sekali lagi, lalu mengangguk dan mengikuti Erlan untuk turun, saat tiba-tiba Felichia merasakan kontraksi pada perutnya. Felichia menarik nafas dalam-dalam dan meyakinkan dirinya sendiri kalau ini hanyalah kontraksi palsu.
"Ada apa?" Tanya Erlan khawatir karena melihat Felichia yang meringis seperti menahan sakit.
"Kontraksi palsu," jasab Felichia masih sambil menarik nafas panjang berulang kali.
__ADS_1
"Kandunganmu sudah berapa bulan, Fe? Jangan-jangan kau mau melahirkan," tanya Erlan sambil menerka-nerka. Wajah pria itu juga terlihat khawatir.
"Masih delapan bulan, Erlan. Hari perkiraan lahirnya bulan depan," jawab Felichia sambil berharap agar Erlan tak curiga.
Ah, tapi Erlan tak mungkin curiga juga karena sebulan pasca kecelakaan itu Felichia memang sudah langsung hamil anak Dean sialan.
Tidak!
Ini adalah anak Felichia dan Erlan.
Ini bukan anak Dean!
"Baiklah, kita jalan pelan-pelan saja!" Ucap Erlan seraya membimbing Felichia masuk ke dalam lift.
"Ini apartemen barumu?" Tanya Felichia pada Erlan. Setahu Felichia, apartemen lama Erlan tidak disini.
"Bukan. Ini punya Navya. Kita meminjamnya untuk bersembunyi sementara waktu," jawab Erlan jujur.
"Kau terlihat akrab dengan Navya," ucap Felichia lagi berpendapat.
"Kami teman lama. Bukankah kau sudah tahu?" Erlan menolehkan kepalanya ke arah Felichia yang hanya menggeleng.
"Kau tidak pernah menceritakannya kepadaku," tukas Felichia yang langsung membuat Erlan membisu.
Suara lift yang menandakan mereka sudah sampai di lantai tujuan menyentak keheningan di antara Erlan dan Felichia. Pasangan itu melangkah keluar dari lift dan segera menuju ke unit apartemen milik Navya yang tentu saja Erlan sudah hafal password-nya.
Bukan sekali dua kali Erlan datang kesini bersama Navya sebelumnya.
"Hati-hati!" Erlan membimbing Felichia agar duduk di sofa ruang tengah, lalu pria itu pergi ke dapur untuk mengambil minum untuk Felichia.
Setelah memberikan segelas air untuk Felichia, Erlan langsung bersimpuh di hadapan Felichia dan mengusap perut wanita yang masih berstatus sebagai istrinya tersebut. Erlan juga menciumi perut Felichia berulang kali, yang justru membuat hati Felichia menjadi pedih.
Erlan masih mengira kalau bayi di dalam kandungan Felichia ini adalah anaknya. Entah bagaimana nanti jika Erlan tahu yang sebenarnya tentang calon bayi Felichia ini.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi, Fe? Apa yang sudah dilakukan Mama dan Papa kepadamu?" Tanya Erlan yang masih menyandarkan kepalanya di pangkuan Felichia seraya mendengarkan pergerakan bayi di dalam kandungan istrinya tersebut.
"Mereka," Felichia menjeda kalimatnya sebentar dan menarik nafas panjang karena sekali lagi, Felichia akan mengarang cerita pada Erlan.
"Mereka menjadikan aku jaminan untuk menyelamatkan perusahaan," jawab Felichia dengan nada lirih.
"Pada siapa?" Tanya Erlan lagi yang tentu saja merasa bingung harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak. Felichia bahkan tidak tahu bagaimana hubungan Erlanndan Dean saat ini. Bukankah dulu mereka adalh teman baik?
__ADS_1
"Pada siapa, Felichia? Karena seingatku dulu, aku hanya minta bantuan pada Dean Alexander untuk menyelamatkan perusahaan. Tapi aku belum memenuhi syarat yang diajukan Dean, jadi mustahil Dean membantu Papa," cecar Erlan yang kembali membuat Felichia terdiam.
"Pada siapa?" Tanya Erlan sekali lagi mendesak jawaban dari Felichia.
"Aku tidak tahu," jawab Felichia memasang raut wajah bersungguh-sungguh.
"Aku tak pernah bertemu orang itu. Aku dikurung di sebuah rumah dan dijaga oleh bodyguard," lanjut Felichia berdusta pada Erlan.
"Lalu bagaimana ceritanya kau bisa bertemu dengan Navya?" Tanya Erlan lagi menyelidik.
"Aku-"
"Aku sedang diajak jalan-jalan oleh istri dari orang yang membeliku. Lalu aku menyelinap dan kabur. Dan saat aku kabur itulah, aku bertemu Navya. Jadi aku minta tolong pada Navya," cerita Felichia yang kembali mengarang indah kecuali di bagian akhir, Felichia mengatakan yang sebenarnya.
"Mama dan Papa benar-benar telah menipuku habis-habisan," Erlan mengepal tangan dan menahan geram di hatinya.
"Mereka memanfaatkan ingatanku yang hilang sebagian untuk mengarang cerita buruk tentangmu," lanjut Erlan lagi.
"Kau hilang ingatan karena kecelakaan itu, Erlan?" Tanya Felichia menyelidik.
"Tadinya iya. Tapi setelah aku melihatmu hariniji, semua ingatanku langsung kembali. Aku juga ingat tentang kecelakaan yang menimpa kita," Erlan sudah mengangkat kepalanya dari pangkuan Felichia dan ganti menggenggam kedua tangan istrinya tersebut.
"Apa kau terluka malam itu?" Tanya Erlan dengan raut khawatir.
Felichia menggeleng.
"Aku baik-baik saja. Kau yang terluka parah dan tak kunjung bangun," Felichia mulai terisak.
Erlan segera meraup Felichia ke dalam pelukannya.
"Aku sudah baik-baik saja, Fe! Aku sudah sehat dan pulih."
"Jangan sedih lagi, oke!" Erlan menyeka airmata yang jatuh bercucuran di kedua pipi Felichia.
"Aku akan menjaga dan melindungimu sekarang, dan tak akan pernah membiarkanmu bersedih lagi," janji Erlan yang sudah kembali mendekap Felichia dengan erat.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.