
Melanie baru keluar dari kamar, saat mendapati Felichia yang sudah duduk santai di ruang tengah seraya melahap potongan buah yang ada di pangkuannya.
"Fe, kau sudah siap?" Sapa Melanie yang langsung menghampiri Felichia.
"Maaf, aku merasa lapar lagi tadi, dan maid memberikanku potongan buah ini, jadi aku makan lagi," ucap Felichia seraya menunjukkan sepiring potongan buah yang hanya tersisa setengah saja di pangkuannya.
"Iya, tidak apa-apa! Sebaiknya memang kau banyak makan agar kau dan kandunganmu juga semakin sehat," jawab Melanie mengulas senyum di bibirnya.
Hati Melanie sedikit terasa nyeri mengingat Felichia yang kini sedang mengandung calon anak Dean. Seharusnya Melanie yang berada di posisi Felichia.
Ya,
Andai saja Melanie adalah wanita yang sempurna.
"Kau sudah siap?" Melanie bertanya sekali lagi pada Felichia.
"Iya, sudah. Kita berangkat sekarang?" Felichia balik bertanya pada Nona Muda tersebut.
"Kita tunggu Dean dulu. Dia juga mau sekalian periksa karrna sejak semalam mual dan muntah-muntah terus," ujar Melanie yang hanya membuat Felichia membulatkan bibirnya. Felichia lanjut menyantap potongan buah yang berada di pangkuannya.
"Ngomong-ngomong, kau tidak merasa mual atau gejala morningsickness lainnya, Fe?" Tanya Melanie selanjutnya pada Felichia yang sepertinya baik-baik saja dan tetap bisa makan dengan lahap. Sangat berbanding terbalik dengan Dean yang terus mual dan muntah sampai kepayahan.
"Mungkin belum, Mel! Karena sejauh ini aku merasa baik-baik saja dan malah lebih sering merasa lapar," jawab Felichia sedikit meringis.
"Kau bisa makan kapan saja jika memang sering lapar. Tinggal bilang saja pada maid kau mau makan apa. Tidak perlu sungkan," ucap Melanie panjang lebar.
"Iya, aku mengerti." Jawab Felichia bersamaan dengan Dean yang akhirnya keluar dari kamar. Pria itu terlihat sedang menelepon seseorang.
__ADS_1
****
"Dean, kau gila!"
"Aku tidak gila! Aku sedang memberimu perintah. Jadi lakukan saja sesuai perintahku. Lakukan dengan senyap dan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan. Buat perusahaan Prakasa hancur sehancur-hancurnya!" Ucap Dean panjang lebar pada asisten sekaligus sekretarisnya.
Dean sedang berbicara melalui sambungan telepon.
"Tapi kau baru saja menggelontorkan uang yang tidak sedikit untuk perusahaan itu bulan kemarin, dan sekarang kau malah ingin menghancurkannya. Perusahaan kita akan rugi besar, Dean!"
"Kau pikir aku peduli? Lakukan saja sesuai perintahku dan jangan mengguruiku lagi!" Ucap Dean galak.
"Kau gila, Dean Alexander!"
Dean langsung memutus sepihak sambungan telepon dari asistennya tanpa berpamitan, lalu melesakkan dengan kasar ponselnya ke dalam saku celana.
"Dean, kau sudah siap?" Tanya Melanie yang sedang berada di dekat Felichia yang terlihat lahap memakan potongan buah di pangkuannya.
Dia yang hamil dan Dean yang harus menderita karena mual dan muntah yang tak kunjung berhenti.
Kenapa wanita itu terlihat baik-baik saja dan tetap bisa makan apapun dengan lahap seolah tanpa beban?
"Dean!" Tegur Melanie karena Dean yang malah melamun.
"Ya, aku sudah si-"
Dean kembali berdecak kesal sebelum pria itu berlari ke toilet karena mual-mual.
__ADS_1
"Sepertinya kita harus membawa kantong muntah dalam perjalanan," gumam Melanie yang akhirnya menyusul Dean ke arah toilet.
Felichia hanya mengendikkan bahu dan lanjut menghabiskan potongan buahnya. Setelah potongan buah habis, Felichia pergi ke dapur dan menanyakan camilan lain pada maid yang mungkin bisa Felichia bawa ke rumah sakit. Maid segera menyiapkan sekotak kue dan potongan buah lagi untuk bekal Felichia.
****
"Apa wanita itu sudah berubah menjadi Nona serakah si tukang makan banyak?" Tanya Dean pada Melanie seraya menatap sinis pada Felichia yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam mobil sambil menenteng kotak berisi makanan di tangannya.
Dean benar-benar muak melihatnya.
"Dean!" Melanie menegur sang suami yang masih mendorong kursi rodanya ke arah mobil.
"Namanya Felichia dan berhentilah bersikap sinis kepadanya!" Tegas Melanie mengingatkan Dean sekali lagi. Kursi roda Melanie sudah tiba disamping mobil dan sopir langsung membukakan pintu mobil, agar Dean bisa memindahkan sang istri ke dalam mobil.
"Dia memang menyebalkan!" Gumam Dean sinis sambil mendudukkan Melanie di samping Felichia yang mulutnya masih belum berhenti mengunyah makanan.
"Brengsek!" Umpat Dean lagi karena ia yang kembali merasa mual setelah memindahkan Melanie ke dalam mobil.
"Berhentilah mengumpat, dan ini kantung muntahmu!" Melanie menyodorkan sebuah kantung muntah pada Dean dan berkata dengan galak.
Dean hanya berdecak dan segera masuk ke dalam mobil, lalu duduk disamping kursi pengemudi. Tak berselang lama, mobil sudah melaju meninggalkan kediaman Alexander menuju ke arah rumah sakit.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.