
"Stop!" Melanie menghentikan Dean yang sudah dipenuhi kabut gairah.
"Ada apa?" Tanya Dean tak mengerti.
Hasrat Dean sudah naik ke ubun-ubun sekarang, dan Melanie malah menyuruhnya berhenti.
Apa Melanie memang berniat membuat Dean sakit kepala semalaman?
"Kau bisa melanjutkannya bersama Felichia, Dean!" Ucap Melanie yang sudah dengan cepat memakai piyama lengan panjang serta celana panjang.
"Kau gila, Mel? Aku hanya ingin melakukannya bersamamu malam ini!" Mohon Dean yang mulai hilang kewarasan.
Kepala Dean sudah terasa sakit sekarang karena menahan hasrat yang minta untuk segera dilepaskan.
"Pergilah, Dean!" Melanie mendorong keluar Dean yang kini sudah setengah naked.
"Mel!" Dean mengetuk pintu karena Melanie yang langsung menutup pintu kamar setelah mendorong Dean, dan menguncinya dari dalam.
"Melanie!" Dean benar-benar seperti suami yang diusir dari kamar sekarang.
"Ah!" Dean melangkah cepat menuju ke dapur, lalu mengambil sebotol alkohol dan menenggak setengah isinya. Dean meringis karena rasa panas yang membakar tenggorokannya.
Setelah puas minum, Dean berlari menaiki tangga dan langsung menuju ke kamar Felichia. Tanpa mengetuk, Dean langsung mendorong pintu kamar Felichia hingga menjeblak terbuka. Sang empunya kamar yang sedang melamun di atas sofa langsung terkejut.
"Dean," Felichia hanya bergumam lirih dan menatap bingung pada Dean yang baru saja menutup kembali pintu kamar Felichia.
"Melanie ingin aku melakukannya malam ini!" Dean menatap ke dalam netra Felichia.
Bukan tatapan sengit ataupun tatapan tidak senang. Hanya ada tatapan datar dengan mata Dean yang sudah berubah merah.
Apa Dean sedang mabuk?
"Buka!" Dean mengendikkan dagunya ke arah baju tidur yang dikenakan oleh Felichia.
Felichia tak langsung membuka baju tidurnya dan malah beringsut mundur menjauhi Dean.
"Jangan membuatku mengulang perintah! Cepat buka!" Dean memerintah Felichia sekali lagi dan Felichia hanya memejamkan matanya lalu membuka satu per satu kancing piyama yang ia kenakan.
"Sekalian bagian bawahnya!" Lanjut Dean seraya kembali mengendikkan dagu ke celana piyama Felichia yang panjangnya memang hanya di atas lutut.
Kini tubuh Felichia hanya tinggal mengenakan sepasang underwear berwarna hitam yang sangat kontras dengan tubuh putih Felichia.
"Lakukan pemanasan sendiri!" Ucap Dean yang sontak membuat Felichia menatap tak percaya pada pria di hadapannya tersebut.
Melakukan pemanasan sendiri?
Apa maksudnya?
"Buka!" Dean menunjuk ke underwear Felichia dan meminta wanita itu untuk membuka bagian atas dan bawah.
__ADS_1
"Lakukan saja, Felichia! Bukankah lebih cepat lebih baik?" Ucapan Dean seolah membuat Felichia hilang akal.
Wanita itu melucuti sendiri sisa pakaiannya lalu jarinya bermain-main sendiri di area tubuhnya yang sensitif. Dan Felichia melakukan itu semua di depan Dean yang sedang menatapnya dengan datar.
Felichia benar-benar sudah seperti seorang wanita murahan.
"Baiklah sudah cukup!" Ucap Dean bersamaan dengan pria itu yang mulai menurunkan penutup terakhir di tubuhnya, lalu mengungkung tubuh sintal Felichia.
Felichia hanya merem*s sprei di kiri dan kanan tubuhnya dan menggigit bibirnya bagian bawah serta sekuat tenaga berusaha untuk tak melenguh ataupun bersuara, saat Dean menyentak masuk.
Felichia hanya berharap agar semua ini cepat berakhir dan Dean cepat pergi dari kamar Felichia.
Meskipun tubuh Dean dan Felichia sudah menyatu, namun dua orang itu saling memalingkan wajah dan tak sedikitpun saling menatap.
Bagi Felichia ini hanyalah sebuah mimpi buruk, dan Felichia ingin secepatnya bangun.
Ini hanya mimpi!
Ini hanya mimpi!
Bangun Felichia!
"Aah!" Dean yang tiba-tiba terkulai di atas tubuh Felichia, membuat kesadaran Felichia seolah kembali. Namun hal itu hanya berlangsung beberapa detik saja, karena Dean sudah dengan cepat bangun, lalu memungut celana panjangnya, dan memakainya dengan cepat.
Dean tak berucap sepatah katapun, dan pria itu langsung keluar begitu saja dari kamar Felichia, lalu menutup pintu.
Felichia yang masih terbaring di atas ranjang, langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tangis wanita itu pecah seketika.
Maafkan aku, Erlan!
Maaf!
****
"Fibroid rahim anda sudah mulai menyebar, Nona! Kita harus melakukan operasi pengangkatan rahim sebelum infeksinya semakin parah." Ucapan dokter bagaikan petir yang menyambar hati Melanie di siang bolong.
"Apa itu artinya kami tidak bisa melakukan program bayi tabung?" Tanya Melanie yang sudah berurai airmata.
Dean yang mendampingi Melanie hanya bisa merangkul istrinya tersebut dan mencoba menenangkan sekaligus menguatkan Melanie.
Dokter menggeleng menjawab pertanyaan Melanie.
"Maaf, Nona!"
Tangis Melanie seketika pecah.
Bukan sebentar, Melanie menjalani semua pengobatan dan segala jenis terapi demi menyembuhkan fibroid rahimnya. Melanie juga ingin menjadi seorang ibu dan melahirkan anak-anak dari Dean.
Namun semuanya hanya sia-sia dan tak berguna. Rahim Melanie sudah terinfeksi dan tak bisa lagi diselamatkan. Melanie hanya akan menjadi istri dan menantu yang tak berguna bagi Dean dan keluarga Alexander.
__ADS_1
"Sudah, Mel!" Dean berusaha menenangkan Melanie yang terus menangis tersedu-sedu.
"Kau akan menikah dengan gadis lain dan meninggalkan aku." Terbata-bata Melanie berucap pada Dean.
"Tidak!" Jawab Dean tegas.
"Aku mencintaimu, Mel! Aku sangat mencintaimu!" Ucap Dean sekali lagi penuh ketegasan.
"Aku istri yang tak berguna, Dean!" Tangis Melanie semakin pecah.
"Kau tetap istriku yang berharga dan aku mencintaimu!" Ucap Dean penuh kesungguhan.
"Semuanya akan baik-baik saja!"
"Aku akan tetap mencintaimu!"
"Aku akan selalu mencintaimu!"
Tangan kekar Dean yang tiba-tiba sudah mendekap Melanie, membuyarkan lamunan wanita tersebut. Cepat-cepat Melanie menghapus butir bening yang menggenang di kedua matanya.
"Dean!" Panggil Melanie lirih.
"Hmmmm!" Jawab Dean yang sudah menyusupkan kepalanya di ceruk leher Melanie.
Melanie mengusap lengan Dean dan segera berbalik, saat wanita itu mendapati tubuh Dean yang masih dipenuhi oleh peluh sisa pergelutannya bersama Felichia.
"Aku sudah melakukannya," ucap Dean melapor pada Melanie dengan sorot mata penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku, Mel!" Ucap Dean yang semakin merasa bersalah.
"Jangan minta maaf! Ini sudah kesepakatan kita berdua," jawab Melanie yang langsung meraup Dean ke dalam pelukannya. Dean langsung membenamkan kepalanya di dada Melanie, bersamaan dengan rasa sakit yang tiba-tiba terasa menghujam hati Melanie.
Membayangkan saat Dean menyentuh Felichia, benar-benar membuat hati Melanie terasa sakit. Tapi sebisa mungkin Melanie berusaha menepis rasa sakit itu karena ia juga tak akan pernah bisa memberikan Dean seorang anak sampai kapanpun.
"Aku hanya mencintaimu, Mel! Kau percaya itu, kan?" Cicit Dean yang masih berada di dekapan Melanie.
"Aku percaya!" Jawab Melanie dengan suara parau karena menahan tangis serta rasa nyeri di hatinya.
"Aku percaya, Dean!" Ulang Melanie yang sekarang sudah menangkup wajah Dean yang masih dipenuhi oleh raut rasa bersalah.
"Tidurlah!" Melanie kembali mendekap Dean dan pasangan suami istri itu terus berdekapan hingga pagi menjelang
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.