Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
PULANG


__ADS_3

Hari masih pagi dan matahari belum keluar dari peraduannya, saat mobil yang membawa Dean, Felichia, dan ketiga anak mereka memasuki gerbang besar kediaman Alexander.


Dean menatap pada Felichia yang sejak tadi hanya duduk diam memangku Gika yang masih terlelap. Sedangkan Dean memangku Naka dan merangkul Richard yang duduk di antara Dean dan Felichia.


Mobil berhenti tepat di depan teras, dan Felichia masih diam.


"Selamat datang di rumah," ucap Dean seraya tersenyum pada Felichia dan Richard.


Richard segera melongok ke jendela mobil untuk melihat rumah yang dimaksud oleh Dean. Bocah empat tahun itu langsung terperangah dan kedua matanya membulat tak percaya.


"Ini rumah Dad?" Tanya Richard masih tak percaya.


"Bukan, ini rumah Richard, Gika, dan Naka," jawab Dean yang langsung membuat Richard menganga tak percaya.


"Ayo turun!" Ajak Dean selanjutnya yang terlebih dahulu turin dari mobil masih sambil menggendong Naka. Seorang maid tergopoh-gopoh menghampiri Dean dan hendak mengambil alih Naka, namun dean menolak dan memilih menggendong sendiri putranya. Dean menggandeng Richard masuk kevteras rumah dan bocah itu masih terus menatap kagum pada rumah bear di hadapannya.


"Wah! Rumahnya besar sekali, Dad!" Puji Richard penuh kekaguman.


"Richard suka?" Tanya Dean yang sudah berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Richard.


"Suka! Richard suka sekali!" Kedua mata Richard sudah berbinar bahagia.


"Sampai kapan Richard akan tinggal disini, Dad?" Tanya Richard lagi pada Dean.


"Selamanya. Bukankah ini adalah rumah Richard?" Jawab Dean yang langsung membuat Richard melompat-lompat girang.


Naka yang sejak tadi terlelap di gendongan Dean sampai terbangun karena teriakan girang sang Abang.


"Hore!" Naka tiba-tiba sudah mintabturin dari gendongan Dran dan bocah dua tahun itu ikut melompat-lompat seperti Richard tanpa tahu apa yang sebenarnya membuat sang abang kegirangan. Begitulah anak-anak!


"Fe!" Dean kembali ke mobil dan membuka pintu dj samoing tempat duduk Felichia karena istrinya itu masih belum turun sejak tadi.


"Tolong!" Felichia mengulurkan Gika yang sejak tadi ia pangku pada Dean.


"Kau kenapa?" Tanya Dean bingung karena Felichia yang tak kunjung turun dari mobil dan sekarang wanita itu malah memberikan Gika pada Dean.


"Mmmmmmm," Felichia terlihat ragu untuk mengatakannya pada Dean.

__ADS_1


"Ada apa, Fe? Kau sakit?" Tanya Dean semakin khawatir.


"Tidak! Tapi aku rasa aku baru saja mengotori mobil mahalmu," jaeab Felichia sedikit meringis.


"Maksudnya?" Dean mengernyit tidak paham.


"Sebenarnya ini sudah hari kedua, Dean. Tapi aku benar-benar tidak tahu kenapa bisa deras sekali hari ini dan semalam saat di airort aku memasangnya terburu-buru jadi sepertinya meleset juga-"


"Tunggu! Kau sedang bicara apa? Apanya yang hari kedua? Dan apanya yang meleset?" Tanya Dean bingung.


"Aku sedang menstruasi," jawab Felichia seraya meringis seperti gadus perawan.


"Seriously?" Pekik Dean tak percaya.


"Ya. Dan roti jepangku sepertinya meleset dari tempatnya, jadi..." Felichia kembali meringis dan mengintip ke bagian belakang gaun warna biru lautnya.


"Pinjamkan aku jaketmu, Dean sayang! Atau aku tidak akan bisa turun dari mobil," rayu Felichia berucap manis pada Dean yang wajahnya terlihat frustasi.


Ya ya ya!


"Mbak!" Dean memanggil pengasuh yang sejak tadi masih berdiri di teras mengawasi Naka dan Richard. Pengasuh tersebut segera menghampiri Dean dan mengambil aih Gika dari gendongan Dean.


"Bawa ke kamar, dan bawa masuk Richard dan Naka!" Titah Dean pada pengasuh tersebut.


"Baik, Tuan!"


Gika, Naka, dan Richard sudah di bawa oleh pengasuh mereka masuk ke dalam kamar. Sementara Dean langsung melepas jaket yang ia kenakan dan mengikatkannya ke pinggang Felichia.


"Kau mau apa?" Tanya Felichia saat Dean sudah mengambil ancang-ancang dan hendak menggendongnya.


"Melakukan ritual pengantin baru," jasab Dean santai.


"Kita ini pengantin kadaluwarsa, Dean! Tidak usah aneh-aneh!" Felichia berusaha berontak.


"Kenapa memangnya?" Dean malah mengerling nakal pada Felichia.


"Dean!" Felichia memukul-mukul dada Dean.

__ADS_1


"Malu dilihat maid dan anak-anak!" Lanjut Felichia masih memukul-mukul dada Dean.


"Kita akan masuk ke kamar, kenapa harus malu pada mereka?" Jawab Dean santai yang tetap keras kepala menggendong Felichia masuk ke dalam rumah.


"Anak-anak kemana?" Tanya Felichia seraya menyembunyikan kepalanya di dada bidang Dean.


"Richard dan Naka bermain. Gika tidur di kamar, yang keempat, kelima, dan keenam akan segera hadir setelah tamu bulananmu aku tendang pergi," jawab Dean yang sontak ingin membuat Felichia tertawa terbahak-bahak.


Seorang Dean Alexander ternyata bisa juga melawak.


"Kau lucu juga," puji Felichia yang semakin membenamkan wajahnya di adda Dean.


"Terima kasih! Aku suka membuatmu tertawa dan mendes*h." jawab Dean yang kali ini malah berhadiah pukulan di dada daru Felichia.


"Dasar mesum!"


"Tapi kau suka, kan?"


"Pegangan! Kita akan terbang!" Dean mulai menapaki anak tangga masih sambil menggendong Felichia.


Benar-benar kuat ternyata suami Felichia itu, menggendong hingga ke lantai dua.


.


.


.


Udah sampai sini dulu 😅😅


Lanjutannya tahun depan.


Mau libur akhir tahun dulu. Si Fe juga masih palang merah soalnya 😂😂


Like, like, like,


Yang nggak like cantengan 😝😝

__ADS_1


__ADS_2