
Aaron masuk ke dalam rumah besar Dean yang kini suram seolah tak berpenghuni. Aaron juga tak mengerti kenapa hal buruk terus saja terjadi pada Dean. Setelah kepergian Melanie, lalu disusul kepergian Richard yang tragis dan mengenaskan, hari ini lagi-lagi Aaron harus membawa sebuah kabar duka.
Aaron sebenarnya tak sampai hati untuk menyampaikan kabar duka ini pada Dean. Tapi Dean tetap berhak tahu, karena Pak Abram dan Ibu Angela adalah orang tua Dean.
"Dean!" Panggil Aaron yang langsung menuju ke arah kamar Dean. Aaron membuka pintu kayu tersebut dan pemandangan pertama yang Aaron dapati adalah kamar yang bentuknya sudah tak karuan. Banyak botol minuman keras yang tergeletak di lantai, serta sprei tempat tidur yang acak-acakan tak jelas.
"Hoeeek!" Terdengar suara Dean dari dalam toilet yang menyatu dengan kamar Dean.
"Dean! Kau sakit?" Tanya Aaron yang buru-buru masuk ke dalam toilet untuk memeriksa Dean.
Dean yang kini penampilannya kacau berantakan, sedang muntah-muntah di dalam toilet sambil tangannya memukul-mukul dinding toilet.
"Dean!" Aaron buru-buru menyambar tisu untuk membersihkan wajah Dean yang kini begitu berantakan dan dipenuhi peluh.
Jambang dan kumis yang sejak dulu Dean benci, kini sudah memenuhi wajah Dean. Rambut pria itu juga sudah panjang tak beraturan serta tak terawat.
"Dean, kau sakit?" Tanya Aaron sekali lagi seraya mengecek suhu tubuh Dean.
Tidak demam.
"Chia hamil." Racau Deanyang tiba-tiba sudah merengkuh kedua pundak Aaron.
"Chia sedang hamil anakku, Aaron! Aku yakin itu!" Ucap Dean sekali lagi seraya tertawa seperti orang gila.
Tidak!
Pria ini memang sudah gila karena kabar duka yang terus-terusan menimpanya.
"Chia sudah pergi bersama Richard, Dean!" Aaron mengingatkan Dean dengan mata yang sudah berkabut.
"Sadarlah, Dean!" Aaron menggoyang-goyangkan tubuh Dean agar bosnya itu kembali sadar dan waras. Meskipun itu semua mustahil.
"Chia sedang hamil, Aaron!" Dean sudah melepaskan rengkuhannya pada pundak Aaron lalu pria itu berlari ke arah tempat tidurnya dan membuka laci di nakas di samping tempat tidur.
"Lihat!" Dean menunjukkan sebuah kotak cincin berisikan cincin berlian.
"Lihat ini Aaron!"
"Aku akan melamar Chia malam ini karena Chia sedang mengandung anakku! Aku yakin itu, Aaron! Aku yakin itu!" Ucap Dean dengan mata yang sudah berbinar yang justru membuat hati Aaron menjadi pedih dan teriris.
"Chia sudah pergi untuk selamanya, Dean! Bersama dengan Richard putramu!" Teriak Aaron yang sudah mulai hilang kesabaran
"Kapan kau akan bangun dari semua rasa depresimu ini, Dean!" Aaron menggoyang-goyangkan tubuh Dean dengan frustasi dan merasa ikut-ikutan stress dengan kondisi Dean saat ini.
"Chia dan Richard sedang imunisasi, Aaron! Aku akan bermain bola bersama Richard setelah mereka pulang!" Binar di kedua mata Dean sudah lenyap dan raut frustasi kembali terlihat di wajah pria tersebut.
"Chia tak mungkin pergi meninggalkan aku, Aaron! Kami akan menikah!"
"Kami akan menikah karena Chia sedang mengandung anakku!"
"Hoek!" Dean kembali mual-mual dan kini pria itu malah menenggak minuman keras untuk meredakan mualnya.
__ADS_1
Aaron hanya mampu menatap prihatin pada Dean sebelum kemudian pria itu ikut duduk di lantai kamar di sebelah Dean yang kini menatap kosong ke arah jendela kamarnya.
"Dean, mama dan papamu," ucap Aaron lirih yang sebenarnya tak sampai hati untuk menyampaikan berita duka ini pada Dean yang masih depresi akibat kepergian Richard dan Chia.
"Mereka sedang berlibur di Eropa," jawab Dean sebelum kembali menenggak minuman di botolnya. Lalu sedetik kemudian, Dean kembali mual dan menyemburkan minuman yang baru saja ia tenggak.
"Brengsek!" Umpat Dean seraya membanting botol di tangannya.
"Dean, kedua orang tuamu menjadi korban dalam kecelakaan pesawat," ucap Aaron akhirnya yang sesaat membuat Dean terdiam. Sebelum kemudian atasan dari Aaron itu tertawa terbahak-bahak seolah berita yang disampaikan oleh Aaron adalah suatu hal yang lucu.
"Apa mereka menipumu? Mereka sedang berlibur dan bersenang-senang di Eropa!" Ucap Dean sekali lagi yang masih tertawa terbahak-bahak.
"Dean, aku serius!" Aaron yang kesal sudah ganti merengkuh kedua pundak Dean dan menatap penuh keseriusan ke dalam wajah Dean.
"Papa dan mamamu tidak selamat, Dean!" Ucap Aaron lagi yang hanya ditanggapi Dean dengan sebuah kebisuan.
"Aku turut berduka, Dean!" Aaron sudah ganti merangkul tubuh Dean yang hanya mematung.
"Aku turut berduka," ulang Aaron sekali lagi dengan nada sedih penuh keprihatinan.
"Mereka hanya berlibur."
"Mereka semua hanya pergi berlibur dan sebentar lagi pasti akan pulang."
"Mereka pasti akan pulang kembali ke rumah ini."
"Mereka hanya berlibur."
"Richard,"
"Chia,"
"Mama, Papa,"
Dean terus bergumam dan meracau dan Aaron tak melepaskan rangkulannya pada teman sekaligus bos-nya tersebut.
Hingga hari beranjak senja, racauan Dean masih belum berhenti. Sesekali pria itu juga akan mual-mual disela-sela ia meracau. Mungkin Aaron harus memanggil Paman Dokter untuk memeriksa kondisi Dean yang kini tubuhnya semakin kurus.
****
Tiga tahun kemudian.
Tok tok tok!
Suara ketukan di pintu langsung membuat Dean mendongakkan kepalanya.
"Masuk!" Ucap Dean dengan nada datar, sebelum pria itu kembali menulis sesuatu di atas kertas di hadapannya.
Aaron masuk ke dalam ruangan Dean seraya menbawa setumpuk berkas.
"Siang, Bos! Kau mau makan siang apa?" Sapa Aaron yang langsung meletakkan berkas-berkas tadi di atas meja kerja Dean.
__ADS_1
"Ayam bakar," ucap Dean menjawab pertanyaan Aaron.
Singkat dan padat!
Dean memang jadi irit bicara sejak depresi berat yang menimpanya beberapa tahun silam setelah semua orang yang Dean sayangi pergi meninggalkan Dean. Berbulan-bulan Dean berkubang dengan depresinya, hingga pria itu pernah hampir mengakhiri hidupnya dan tak berhenti membentur-benturkan kepalanya ke dinding kamar.
Aaron yang sudah frustasi terpaksa membawa Dean ke psikiater untuk menyembuhkan depresinya. Dan setelah itu, obat penenang seakan menjadi teman Dean sampai setahun lamanya. Dean terus didampingi seorang psikiater demi pemulihan jiwanya yang terguncang, dan tiga bulan terakhir, Dean akhirnya sudah bisa beraktivitas dengan normal.
Meskipun Dean yang sekarang berbeda jauh dari Dean yang dulu, tapi setidaknya Aaron bisa sedikit bernafas lega, karena bos-nya itu sudah mulai memperbaiki penampilannya dan mulai kembali ke kantor.
Dean berubah menjadi seorang workaholic sekarang dan sepanjang hari pria itu hanya akan diam di dalam ruangannya, lalu menghadiri rapat-rapat, memeriksa berkas lagi. Seperti itu sepanjang hari bahkan kadang hingga larut malam. Kadang Dean juga tak pulang ke rumah dan tidur di kantor hingga hari berganti lagi.
Dean juga menderita demensia dini akibat jiwanya yang terguncang serta depresi berat yang dialami pria itu beberapa tahun sebelumnya. Dean sekarang kesulitan mengingat kejadian beberapa tahun belakangan kalau Aaron tak mengingatkannya. Bahkan kadang nama Aaron saja Dean juga lupa dan salah sebut.
"Dean, soal proyek di kota S. Aku minta maaf karena tidak bisa pergi sesuai perintahmu."
"HPL Claudia minggu ini dan aku sudah berjanji untuk menemani Claudia saat persalinan," Aaron berucap sedikit ragu. Berharap Dean akan mengerti dan memberikan tugas kunjungan ke orang lain.
"Kau akan menjadi seorang ayah? Kenapa tak pernah cerita?" Tanya Dean tanpa sedikitpun menatap Aaron. Pria itu tetap sibuk menulis di atas kertas putih.
"Iya, aku sudah menceritakannya kepadamu dan mengundangmu ke acara tujuh bulanan Claudia juga. Mungkin kau tidak mengingatnya." Gumam Aaron yang lagi-lagi harus memaklumi sifat mudah lupa Dean.
"Claudia itu istrimu?" Tanya Dean yang akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Aaron.
"Iya, Claudia istriku. Kau baru bertemu dengannya dua hari yang lalu saat Claudia kesini mengantarkan makan siangku," jawab Aaron mengingatkan Dean.
"Maaf, aku tidak ingat," ucap Dean sebelum pria itu kembali menulis lagi.
Aaron harus kembali menarik nafas panjang, karena kepikunan Dean yang sepertinya sudah semakin menjadi.
"Meeting selanjutnya jam berapa, Aaron?" Tanya Dean selanjutnya pada Aaron.
"Jam dua." Jawab Aaron cepat.
"Jadi, kau tadi ingin makan siang ayam bakar, ya? Akan aku pesankan," Aaron sudah membuka ponselnya.
"Siapa yang ingin makan ayam bakar? Aku tadi mengatakan kalau aku ingin makan nasi padang," sergah Dean yang benar-benar membuat Aaron harus mengelus dada.
"Nasi padang? Baiklah! Nasi padang lauk rendang kesukaanmu," Aaron membuat pesanan dengan cepat di ponselnya sebelum Dean kembali berubah pikiran.
"Tumben kau ingat? Pikunmu sudah hilang, Aaron?" Tanya Dean yang benar-benar membuat Aaron ingin berteriak kesal.
"Kau itu yang pikun, Pak Dean Alexander!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.