Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
KESEMPATAN


__ADS_3

Felichia keluar dari sebuah babyshop yang berada di dalam mall seraya menenteng sebuah paperbag. Dua bodyguard yang mengekor di belakang Felichia juga turut membawa beberapa paperbag lain.


"Aku harus ke toilet," ucap Felichia pada salah satu bodyguard-nya.


"Silahkan, Nona! Toilet wanita ada di sana," Bodyguard menunjuk ke sudut lantai tempat toilet wanita berada.


"Kalian tidak akan mengekoriku masuk ke dalam, kan?" Gertak Felichia saat kedua bodyguard-nya hendak ikut masuk.


"Kami akan menunggu di luar, Nona," jawab dua bodyguard itu serempak.


Felichia hanya berdecak dan segera masuk ke dalam toilet. Baru membuka pintu, Felichia hampir menabrak seorang wanita yang mengenakan gaun line A warna hitam.


Tunggu!


"Felichia!" Tegur wanita itu yang tak jadi keluar dari toilet dan memindai Feli dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Kau Felichia, kan?" Tanya wanita itu sekali lagi memastikan.


"I-iya! Kau?" Felichia menatap lekat pada wanita berambut ikal sepunggung tersebut, saat ingatan Felichia melayang pada kejadian beberapa bulan lalu di rumah sakit. Saat itu mama Astri mengusir Felichia dan bersikap kasar, lalu wanita ini datang dan membantu Felichia untuk berdiri.


"Kau Navya!" Tebak Felichia yang akhirnya ingat pada wanita yang selalu dipuji setinggi langit oleh Mama Astri.


"Kau kemana selama ini, Fe! Erlan mencarimu." Tatapan mata Navya berhenti pada perut Felichia yang membulat sempurna.


"Erlan?" Felichia bergumam lirih.


"Apa Erlan baik-baik saja?" Tanya Felichia tergagap meminta jawaban dari Navya.


"Ya! Erlan sudah pulih dan sehat. Dan dia ada di sini," jawab Navya yang sesaat langsung membuat hati Felichia bersorak.


Tapi sesaat kemudian hati Felichia sudah berubah menciut karena mengingat perutnya yang kini sudah membuncit. Felichia tidak mungkin bertemu Erlan sekarang.


"Erlan pasti akan senang melihat kau hamil dan mengandung anaknya, Fe!" Ucap Navya seraya merengkuh kedua pundak Felichia.


Mengandung anak Erlan?


Navya mengira Felichia sedang mengandung anak Erlan.


Ya, Felichia bisa berbohong da mengatakan kalau ini adalah anak Erlan, lalu Navya akan membantu Felichia kabur dari dua bodyguard sialan yang kini berjaga di luar toilet.


Navya gadis yang baik, jadi pasti dia mau membantu Felichia. Sekarang bagaimana Felichia akan menjelaskan pada Navya tentang dua bodyguard itu?

__ADS_1


"Ayo kita bertemu Erlan, Fe!" Ajak Navya yang sudah menarik tangan Felichia. Namun Felichia bergeming dan menahan ajakan Navya.


"Ada apa?" Tanya Navya menyelidik karena menangkap ada yang tidak beres dengan Felichia.


"Di luar ada dua bodyguard. Mereka yang mengurungku selama beberapa bulan ini karena Mama Astri menjadikanku jaminan," ucap Felichia menahan dendam sekaligus rasa sedih di hatinya.


"Mereka tidak akan membiarkan aku lolos dan pergi bersamamu, Nav!" Felichia sudah mencengkeram lengan Navya.


"Tolong aku!" Pinta Felichia menatap penuh harap pada Navya.


Navya segera mengintip keluar pintu kamar mandi. Dua bodyguard yang dimaksud oldh Felichia, masih mondar-mandir di depan pintu toilet.


"Tolong aku, Nav!" Pinta Felichia sekali lagi pada Navya yang tampak berpikir.


"Aku punya ide!" Cetus Navya setelah wanita itu berpikir beberapa saat. Navya mengeluarkan sebuah jaket dan selendang dari paperbag yang tadi ia bawa.


"Pakai jaket ini!" Navya mendandani Felichia sedemikian rupa agar tak dikenali oleh dua bodyguard di luar.


"Pakai juga kacamataku," Navya mengeluarkan sebuah kacamata hitam dari dalam tas dan meminta Felichia memakainya.


"Aku akan keluar duluan, lalu pura-pura pingsan agar dua bodyguard itu menolongku. Bergeraklah cepat dan segeralah menyelinap saat mereka sibuk menolongku."


Setelah menghela nafas berulang kali, Navya keluar duluan dari toilet dan sengaja mendekat ke arah dua bodyguard yang menjaga Felichia. Tanpa aba-aba, Navya langsung menjatuhkan tubuhnya di dekat dua pria besar berbaju hitam tersebut dan langsung pura-pura pingsan. Terang saja, dua bodyguard Felichia langsung refleks menolong Navya.


Beberapa pengunjung ikut berkerumun untuk menolong Navya dan Felichia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mantel longgar yang tadi dipinjamkan Navya, cukup bisa menyembunyikan perut besar Felichia. Wanita itu berjalan sesantai mungkin keluar dari toilet dan segera membaur bersama para pengunjung Mall lain. Felichia terus melangkah dengan setenang mungkin menuju ke pintu utama Mall.


Tapi sial seribu sial!


Saat Felichia hampir sampai di pintu keluar Mall, dari kejauhan Felichia melihat Dean yang baru datang. Felichia segera membenarkan selendang yahg ia pakai sebagai kerudung dan merapatkan kacamata hitam besar yang menutupi wajahnya. Felichia juga menundukkan wajah dan pura-pura acuh.


Berhasil!


Sepertinya Dean tak mengenali Felichia.


Felichia mempercepat langkahnya dan segera masuk ke mobil warna merah yang tadi dikatakan Navya. Felichia membuka kunci mobil tersebut memakai kunci yang tadi diberikan Felichia.


Yess!


Pintu mobil terbuka. Buru-buru Felichia masuk dan menutup kembali pintu mobil, lalu menjalankan mobil warna merah tersebut ke arah restorant yang bersebelahan dengan mall.


Semuanya sesuai petunjuk dan rencana Navya. Sekarang Felichia hanya perlu menunggu Navya menyusulnya.

__ADS_1


****


Dean baru tiba di mall pusat kota untuk menyusul Felichia yang kata Melanie sedang jalan-jalan di mall. Pria itu menghubungi bodyguard Felichia untuk memastikan sudah dimana wanita hamil yang entah kenapa sekarang jadi semaunya sendiri tersebut.


[Nona Felichia masih di toilet lantai dua, Tuan ]


Pesan dari bodyguard Felichia, langsung membawa Dean naik ke eskalator yang menuju ke lantai dua. Dean langsung menuju ke bagian toilet di sudut lantai dua dimana dua bodyguard yang hiasa mengawal Felichia masih berjaga di depan toilet.


"Selamat siang, Tuang Dean!" Sapa dua bodyguard tersebut.


"Mana Felichia?" Tanya Dean to the point.


"Masih di dalam, Tuan," jawab seorang bodyguard menunjuk ke arah pintu toilet wanita.


"Sudah berapa lama?" Tanya Dean menyelidik.


"Hampir lima belas menit," raut wajah kedua bodyguard Felichia berubah seketika.


"Dasar bodoh!" Umpat Dean yang langsung mendobrak pintu toilet.


Pintu menjeblak terbuka bersamaan dengan jeritan beberapa wanita yang masih berada di dalam toilet. Dean hanya abai dan segera memeriksa satu persatu bilik toilet.


Nihil!


Felichia kabur entah lewat mana.


Dasar brengsek!


"Dasar tidak berguna!" Murka Dean pada kedua bodyguard yang mengawal Felichia.


Dean segera menuju ke ruang keamanan gedung untuk memeriksa CCTV


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2