Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
HATI-HATI!


__ADS_3

Erlan masuk ke dalam apartemen yang sepertinya sudah kosong untuk waktu yang lama. Ada sebuah ruang kosong di dinding dekat televisi yang sepertinya bekas menggantung sebuah pigura foto besar.


Lalu kemana fotonya?


Kenapa diturunkan dan tidak dipajang lagi?


Erlan lanjut masuk ke dalam satu-satunya kamar yang ada di apartemen tersebut, seolah sedang mencari sesosok manusia yang pernah mengisi hati Erlan.


Felichia!


Beberapa hari terakhir Erlan selalu bermimpi tentang Felichia dan semua hal yang terjadi di dalam mimpi Erlan, berbanding terbalik dengan cerita Mama Astri tentang Felichia. Erlan merasa ada yang salah dengan hubungannya bersama Felichia.


Dimana istri Erlan itu sekarang?


Kenapa dia tidak sekalipun mencari Erlan atau sekedar menenui Erlan untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi dengan hubungan pernikahan mereka?


Kenapa Felichia seperti hilang ditelan bumi?


"Erlan!" Panggil Navya dari pintu depan.


"Aku di kamar, Nav! Masuk saja!" Seru Erlan yang masih duduk di atas ranjang yang tertutup sprei warna putih tersebut. Erlan memang datang ke apartemen ini bersama Navya, namun gadis yang Erlan anggap sebagai sahabat tersebut tadi pamit membeli makanan di bawah dulu sebelum menyusul Erlan naik ke atas.


"Kau baik-baik saja? Apa kepalamu sakit lagi?" Tanya Navya khawatir.


Navya langsung menghampiri Erlan dan membantu pria itu untuk berbaring.


"Ya, sedikit sakit karena aku sedang berusaha mengingat tentang Felichia. Aku masih tak mengerti kenapa Felichia tiba-tiba pergi meninggalkan aku, Nav?" Erlan meringis karena kepalanya yang kembali terasa sakit seperti tertusuk sebuah paku besar.


"Jangan dipaksa kalau memang belum ingat!" Navya menarik selimut untuk menutupi tubuh Erlan hingga sebatas dada.


"Aku membeli nasi padang untuk makan siang. Kau mau makan yang lain?" Tawar Navya seraya menatap pada Erlan.


Bukan tatapan biasa melainkan tatapan penuh rasa kagum yang tak seharusnya Navya berikan pada Erlan yang masih berstatus sebagai suami dari Felichia.


"Aku makan nasi padang saja," jawab Erlan yang langsung membuat Navya mengangguk.


Navya bangkit berdiri dan segera mengambil makan untuk Erlan.


****

__ADS_1


Felichia turun dari ayunan yang berada di halaman belakang kediaman Alexander. Wanita itu hendak masuk ke dalam rumah, saat tiba-tiba kakinya tak sengaja tersandung keset yang berada di pintu masuk.


"Hati-hati!" Seru Dean yang sudah cepat meraih tubuh Felichia sebelum jatuh terjerembab ke atas lantai.


Felichia tentu saja terkejut dengan kehadiran Dean yang entah muncul darimana.


"Aku baik-baik saja!" Ucap Felichia cepat seraya melepaskan tubuhnya dari dekapan Dean yang masih menahannya.


Felichia mengusap bajunya dan lengannya yang tadi sempat bersentuhan dengan Dean.


"Bisakah kau berhati-hati lain kali dan tidak sembrono saat berjalan?" Dean akhirnya berkata dengan ketus karena merasa tersinggung dengan sikap Felichia yang langsung membersihkan baju dan lengan yang bekas ia sentuh.


Wanita hamil menyebalkan itu seolah alergi atau mungkin jijik pada Dean.


Cih!


Sok suci sekali!


Padahal sebelumnya di depan Dean juga dia sudah bersikap murahan, dan mau saja Dean sentuh hingga hamil.


"Ya!" Felichia hanya menjawab secara singkat, padat dan tanpa basa-basi terima kasih.


Dean terus saja mengumpat dalam hati saat perut pria itu kembali terasa mual.


Baiklah!


Apalagi sekarang?


"Awas!" Dean hendak pergi ke kamar mandi saat Felichia malah menghalangi langkah Dean. Dean ke kanan, Felichia ikut ke kanan. Dean ke kiri, Felichia ikut ke kiri.


Apa maunya wanita ini?


Ck!


"Aaah!" Dean berdecak kesal dan akhirnya sedikit menyenggol pundak dan dada Felichia sebelum pria itu berlari ke arah kamar mandi untuk muntah-muntah.


Masih bisa Dean rasakan sekilas benda kenyal padat di dada Felichia yang tiba-tiba membuat otak Dean menjadi blank.


Sial!

__ADS_1


Ada apa dengan Dean?


****


Hari sudah beranjak malam saat Aaron datang ke rumah sambil membawa sebuah undangan untuk Dean.


Dua pria itu langsung masuk ruang kerja Dean dan larut dalam obrolan seputar pekerjaan serta sedikit membahas undangan yang dibawa oleh Aaron.


"Kau akan datang?" Tanya Aaron seraya mengendikkan dagunya ke arah undangan warna gold yag kini tergeletak di atas meja kerja Dean.


"Ya. Tumben sekali Matthew mengundangku di acara perusahaannya," jawab Dean sedikit sinis.


Dean dan Matthew Orlando memang punya hubungan masa lalu yang tidak bisa dibilang baik-baik saja. Matthew pernah terang-terangan mengatakan ketertarikannya pada Melanie, beberapa bulan pasca pernikahan Dean dan Melanie. Tentu saja hal itu membuat Dean langsung meradang dan nyaris baku hantam dengan pebisnis muda tersebut. Tapi Aaron kala itu bertindak cepat dan bisa mencegah baku hantam antara Dean dan Matthew.


"Aku dengar Matthew Orlando sudah bertunangan dengan seorang model sekaligus putri seorang konglomerat," ungkap Aaron lagi yang hanya ditanggapi Dean dengan decakan malas.


"Aku tetap tidak akan membawa Melanie ke acara pesta itu. Aku hanya akan datang sebentar sebagai bentuk kepantasan, lalu aku akan pulang setelahnya." Papar Dean mengungkapkan rencananya pada Aaron.


"Baiklah, aku akan menemanimu," tukas Aaron membuat keputusan.


"Kau bisa pulang sekarang, Aaron!" Usir Dean selanjutnya pada sang sekretaris.


"Aku boleh berenang dulu di kolam renangmu yag luas itu atau berolah raga di gym mu yang mewah itu?" Tanya Aaron meminta izin pada Dean.


"Tidak!" Jawab Dean tegas.


"Baiklah aku hanya bercanda! Kata Melanie kau sensitif terus belakangan ini dan Melanie ternyata benar," Aaron terkikik, sementara Dean hanya berdecak.


"Aku pulang dulu, Tuan muda Dean Alexander!" Pamit Aaron seraya keluar dari ruang kerja Dean. Pria itu menuruni tangga dengan cepat dan berbasa-basi sebentar dengan Melanie yang ternyata belum tidur dan masih menonton televisi di lantai bawah.


Setelah berbasa-basi, Aaron memilih untuk segera meninggalkan kediaman Alexander.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2