
Dean kembali ke hotel saat hari menjelang malam. Dean benar-benar puas bermain bersama ketiga anaknya seharian tadi. Semua beban masalah serta rasa kesepian yang selama ini begitu menghimpit dan menyiksa batin Dean seolah menguap begitu saja.
Dean membuka ponselnya yang saat di rumah Felichia tadi hanya Dean pakai untuk mengambil foto saja. Ponsel yang sejak pagi sengaja Dean silent, kini menampilkan puluhan pesan serta panggilan tak terjawab dari Aaron.
[Dean, kau kemana?] -Aaron-
[Dean jadwalmu berantakan. Banyak klien membatalkan proyek karena kau tak menemui mereka!] -Aaron-
[Dean! Jawab pesanku atau angkat teleponku sebelum aku mengkudeta Alexander Group menjadi Hernandez Group!] - Aaron-
Dean nyaris tersedak minumannya saat membaca pesan Aaron yang terakhir. Sepertinya asisten sekaligus sekretaris Dean itu benar-benar frustasi mencari keberadaan Dean sekarang.
Dean segera menghubungi nomor Aaron.
"Dean, kau kemana saja seharian ini?"
Tanpa menyapa tanpa berbasa-basi, Aaron langsung menginterogasi Dean secara to the point. Andai dia bukan teman baik Dean, mungkin Dean sudah memecatnya sedetik kemudian.
"Bermain dengan anak-anakku. Kenapa?" Jaeab Dean santai.
"Apa?"
Pekikan Aaron benar-benar membuat telinga Dean berdenging. Ingin rasanya Dean menyumpal tenggorokan sekretarisnya itu agar berhenti berteriak.
"Jangan bilang kalau kau sudah berada di kota S sekarang?"
Nada bicara Aaron terdengar tidak senang.
"Aku berangkat pagi tadi naik penerbangan paling awal. Lalu aku langsung ke rumah Felichia dan bermain seharian dengan Richard, Gika, dan Naka," cerita Dean yang begitu antusias.
"Kau sepertinya sangat bahagia dari cara kau bercerita dan berbicara." Tebak Aaron sok tahu.
"Ya! Aku belum pernah merasa sebahagia ini. Apalagi Gika dan Naka sudah tak takut lagi kepadaku, dan tadi mereka berdua begitu lengket di pangkuanku," kebang Dean yang seolah sedang pamer pada Aaron.
"Kau sudah jujur pada Felichia kalau kau sudah ingat semuanya? Atau kau masih berpura-pura menjadi Dean yang pikun dan amnesia?" Tanya Aaron menyelidik.
"Aku rasa Felichia lebih suka Dean yang pikun dan amnesia. Jadi aku akan menjadi seperti itu terus agar aku tetap bisa berdekatan dengan Felichia dan ketiga anakku," jawab Dean penuh tekad.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau Felichia lebih suka Dean yang pikun?"
"Dari caranya berbicara kepadaku serta dari gesture tubuhnya. Dia tak pernah ketus lagi seperti dulu, dan..." Dean memejamkan matanya, lalu kembali membayangkan senyuman dan sikap hangat Felichia hari ini.
"Dan apa, Dean?" Tanya Aaron tak sabar.
__ADS_1
"Sikap, senyuman, dan cara bicara Felichia begitu tulus." Jawab Dean seraya tersenyum sendiri.
"Aku masih tidak mengerti kenapa dulu aku bisa benci pada wanita itu. Padahal sikapnya begitu lembut, tulus, dan penuh jiwa keibuan." Dean bertanya bingung.
"Apa kau sedang bertanya kepadaku?"
"Ya. Barangkali kau tahu alasanku dulu membenci Felichia?" Tanya Dean bingung.
"Kalau dari pengamatan seorang Aaron, aku menduga kalau dulu itu kau sebenarnya tak benci pada Felichia. Tapi kau hanya terobsesi pada wanita itu."
"Maksudmu?" Dean mengernyit bingung.
"Kau mungkin sudah jatuh cinta pada Felichia di pertemuan awal kalian atau di sentuhan awal kalian. Tapi kemudian kau menyadari kalau Felichia sudah bersuami dan masih menjadi milik pria lain. Jadi kau merasa tak terima."
"Lalu disisi lain kau juga berstatus sebagai suami Melanie saat mengenal Felichia, membuat posisimu semakin terjepit. Lalu kau frustasi dan kerap merasa marah saat Felichia tak menggubrismu."
"Kau merasa diabaikan, kau merasa diterlantarkan, kau merasa cintamu bertepuk sebelah tangan. Lalu kau marah pada Felichia."
"Dan kemarahanmu semakin menjadi saat kau tahu Felichia kabur dan kembali kepada suaminya. Kau merasa cemburu dan marah, jadi sebagai ungkapan kemarahanmu itu, kau mengambil Richard secara paksa dari Felichia." Tutur Aaron panjang lebar membeberkan teori yang sebagian terdengar masuk akal dan sebagian lagi terdengar ngawur tersebut.
"Aku ingat saat kau pernah mengatakan kepadaku kalau wajah Chia yang sekilas mirip dengan Felichia. Aku yakin kau sebenarnya masih menyimpan pearsaan pada Felichia di alam bawah sadarmu hingga akhirnya kau merasa tertarik pada Chia yang sebenarnya adalah Felichia yang menyamar dan menyatakan secara terang-terangan kalau kau mencintai pengasuh Richard itu."
"Jadi maksudmu, sebenarnya selama ini aku tak pernah benci pada Felichia begitu?" Tanya Dean masih bingung.
"Kenapa kau bisa sangat yakin?" Tanya Dean penasaran.
"Karena jika memang kau benci setengah mati pada Felichia, tak mungkin kau bisa tiba-tiba jatuh cinta pada wanita itu sekarang, hingga kau pergi diam-diam ke kota S hanya demi menemui Felichia dan ketiga anaknya!"
"Mereka juga anak-anakku, Aaron!" Sergah Dean dengan nada suara meninggi.
"Baiklah! Kau ayah kandung mereka!"
"Dan Felichia adalah ibu kandung dari anak-anakku. Jadi wajar jika aku-"
"Jatuh cinta pada Felichia?" Aaron melanjutkan kalimat Dean yang sempat terdengar ragu-ragu.
"Jika biasanya orang akan jatuh cinta dulu baru membuat anak, kenapa kau malah membuat anak dulu baru jatuh cinta?" ledek Aaron dari seberang telepon seraya tergelak.
"Apa masalahnya memang?" Sungut Dean menanggapi ledekan Aaron.
"Aku tak bisa membayangkan jika kau dan Felichia menikah nanti, mungkin kau akan membuat istrimu melahirkan setiap tahun," Aaron kembali tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak se-barbar itu, Aaron!" Sergah Dean mulai emosi.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah! Jadi kapan kau akan membawa Felichia dan anak-anakmu pulang ke sini? Jangan membuat anak lagi bersama Felichia sebelum kau menikahinya!" Ujar Aaron yang kembali memperingatkan Dean.
"Aku sedang berusaha, oke?" Sergah Dean searya berdecak berulang kali.
"Berusaha apa? Berusaha menghamili Felichia lagi?" Tuduh Aaron yang langsung membuat Dean ingin menyumpal mulut sekretarisnya tersebut.
"Apa kau sedang mabuk, Aaron?" Sergah Dean lagi mulai emosi.
"Aku sedang berusaha membuat Felichia menerimaku dan tak membenciku lagi! Aku mau semuanya berjalan senatural mungkin, jadi berhentilah cerewet dan sok tahu!" Jelas Dean berapi-api.
"Baiklah! Tidak usah bersungut begitu! Aku hanya sedang mengetesmu apa kau masih pikun atau sudah waras."
"Dasar sekretaris kurang ajar! Aku akan-"
"Memotong gajiku?" Aaron memotong gertakan Dean dengan berani.
"Aku tuan direktur sampai kau kembali. Jadi tak usah berharap kau bisa memotong gajiku atau memecatku sekarang." Aaron berucap dengan nada sombong.
"Baiklah! Terserah!" Sahut Dean yang sudah sebal sekali pada sekretarisnya tersebut.
"Periksa emailmu dan jangan hanya jadi tukang perintah, Pak Dean Alexander! Aku sudah mengirim semua pekerjaan serta berkas yang harus kau tanda tangani via email!"
"Baiklah! Dasar menyebalkan!" Sungut Dean sebelum mengakhiri teleponnya bersama Aaron.
Dean melihat sejenak foto Gika, Naka, dan Richard yang tadi Dean ambil berulang-ulang.
Usapan jari Dean di layar ponsel berhenti di foto Felichia yang tadi Dean ambil secara spontan saat wanita itu sedang menggendong Gika. Dean tersenyum sendiri menatap foto ibu tiga anak tersebut.
"Hai, Fe!" Dean menyapa foto Felichia seperti orang gila.
Ya, Dean sepertinya memang sudah benar-benar gila.
Dean tergila-gila pada Felichia sekarang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1