
Dean menatap pada bayi mungil di pangkuannya yang baru saja ia rampas dari Felichia.
Tidak!
Ini memang anak Dean!
Jadi Dean punya hak penuh atas bayi ini.
Dean masih tak berhenti melihat wajah mengemaskan itu dan sesaat, Dean benar-benar merasa jatuh cinta. Dean jatuh cinta pada bayi laki-lakinya ini.
"Richard," gumam Dean tiba-tiba saat menatap wajah mungil yang mirip dengannya tersebut. Tidak sepenuhnya mirip sebenarnya, karena bibir dan hidung Richard sama persis dengan milik Felichia.
Ah, tapi hanya sedikit dari bagian wajah Richard yang mirip Felichia. Dean yakin itu akan memudar seiring berjalannya waktu. Richard adalah anak Dean dan Melanie.
"Dad akan memanggilmu Richard mulai sekarang, Sayang!" Dean tersenyum sendiri karena merasa bahagia. Kini Dean benar-benar sudah menjadi seorang ayah.
Ayah dari Richard Deano Alexander.
Mobil Dean sudah sampai di kediaman Alexander. Dean membawa turun bayinya dengan hati-hati dan sudah tak sabar untuk segera menunjukkannya pada Melanie.
Melanie pasti akan sangat bahagia dan mungkin istri Dean itu juga akan langsung sembuh setelah melihat Richard. Lalu setelah ini, Dean dan Melanie akan membesarkan Richard bersama-sama, memulai kehidupan sebagai sebuah kekuarga kecil yang bahagia. Mimpi Dean dan Melanie akhirnya menjadi nyata.
"Mel," panggil Dean pada sang istri seraya membuka pintu kamar Melanie perlahan.
"Dean, kau sudah pulang?" Jawab Melanie dari dalam kamar dan dari atas tempat tidur.
"Lihat siapa yang aku bawa," Dean segera menunjukkan Richard pada Melanie dan membawanya ke pangkuan Melanie.
"Anakku!" Ucap Melanie dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Melanie mengulurkan tangannya, seolah memberikan kode pada Ddan kalau ia ingin menggendong Richard. Dean memberikan Richard dengan hati-hati ke dalam pangkuan Melanie.
"Anakku," gumam Melanie lagi seraya memeluk bayi Richard dengan lembut dan mata yang tetap berkaca-kaca. Kebahagiaan Melanie sudah lengkap sekarang.
"Hai, Sayang! Kau benar-benar mirip dengan Dad-mu," puji Melanie yang sudah ganti menyusuri wajah mungil Richard.
"Aku memberinya nama Richard. Bagaimana menurutmu?" Ungkap Dean yang sudah duduk di samping Melanie dan ikut menatap pada wajah Richard.
"Bagus. Kita bisa memanggilnya Rich," usul Melanie yang langsung membuat Dean mengangguk.
"Aku setuju."
"Halo, bayi Rich! Ini Dad," Dean menggenggam tangan mungil Richard.
"Dan ini Mom," sambung Melanie yang masih tak berhenti menyusuri dengan kagum wajah Richard yang seperti foto kopian Dean. Namun saat jemari Melanie berhenti di bibir Richard, Melanie tiba-tiba ingat pada pemilik bibir itu.
"Felichia mana, Dean? Kau mengajaknya pulang juga dan tidak bersikap kasar, kan?" Tanya Melanie seraya menatap penuh selidik pada Dean.
"Felichia tidak ikut kesini," jawab Dean jujur.
Tapi yang selanjutnya, Dean tak akan mungkin jujur. Dean akan mengarang cerita yang membuat Melanie tak akan lagi menanyakan tentang Felichia.
Ya,
Wanita itu tugasnya sudah selesai.
Richard sudah lahir dengan sehat dan selamat, jadi Dean tak butuh lagi kehadiran Felichia di rumah ini maupun di dalam kehidupannya.
"Apa maksudmu Felichia tidak ikut pulang, Dean? Felichia harus menyusui Richard!" Cecar Melanie meminta penjelasan dari Dean.
"Kau berbuat kasar padanya?" Tuduh Melanie curiga.
"Aku sudah membujuknya untuk ikut pulang kesini, Mel! Tapi dia sendiri yang menolak!" Dusta Dean yang mulai mengarang indah.
"Dia mengatakan kalau dia ingin menyusul abangnya ke luar kota, dan menyerahkan Richard sepenuhnya pada kita berdua, sesuai janjinya di awal," lanjut Dean yang terus menyambung kebohongannya.
"Aku tidak bisa tinggal disini setelah melahirkan nanti, Mel!"
"Aku harus mencari seseorang."
Kata-kata penolakan dari Felichia saat Melanie meminta wanita itu untuk tetap tinggal di rumah besar ini setelah melahirkan, mendadak berkelebat di benak Melanie.
Ya, bukan Dean yang gagal membujuk Felichia.
__ADS_1
Tapi Felichia yang mungkin keras kepala dan ingin tetap pada pendiriannya.
"Aku sudah membujuknya tadi, Mel!" Ulang Dean sekali lagi berusaha meyakinkan Melanie.
"Iya, aku percaya, Dean!" Ucap Melanie akhirnya yang langsung membuat Dean menarik nafas lega.
"Kita yang akan merawat Richard dan menjadi orang tua untuknya," ucap Dean yang hanya dijawab Melanie dengan anggukan kepala.
Dean dan Melanie sedang bahagia sekarang, karena kini mereka berdua benar-benar sudah menjadi orang tua.
"Kita akan berangkat malam ini," ucap Dean lagi seraya mengecup kening Melanie.
Melanie mengangguk
"Mama dan Papa pasti akan senang sekali melihat Richard."
"Ya, kini kita sudah menjadi keluarga yang lengkap," timpal Dean seraya meraih ponselnya untuk mengambil foto Richard sebentar.
Dean lanjut mengirimkan foto Richard dan sebuah pesan pada seseorang.
[Siapkan pesawat dan semuanya malam ini.] -Dean-
****
Navya yang baru keluar dari lift dan hendak menuju ke kamar perawatan Felichia, langsung terkejut karena melihat Felichia yang duduk terkapar di depan pintu kamar perawatan dengan jarum infus yang sudah terlepas dari tempatnya.
Wanita itu juga menangis dan menjerit-jerit memanggil anaknya.
"Fe!" Navya buru-buru menolong Felichia dan membawanya masuk ke dalam kamar perawatan. Lalu Navya juga memanggil perawat serta dokter.
"Anakku!"
"Jangan bawa anakku!
"Kembalikan bayiku!" Felichia terus berteriak mencari-cari anaknya yang Navya sendiri juga tidak tahu dimana. Erlan juga tidak ada di tempat.
Kemana pria itu pergi?
"Pria brengsek itu mengambil anakku, Nav!" Isak Felichia setelah suster selesai menutup luka bekas jarum infus di tangan Felichia yang tadi sempat robek.
Pria brengsek?
Pria brengsek siapa?
Apa itu Erlan?
Navya tak tahu harus bertanya pada siapa. Yang saat ini bisa Navya lakukan hanyalah terus memeluk Felichia dan memberikan wanita itu kekuatan. Hingga sore menjelang, Erlan masih belum kembali dan ponsel pria itu juga mati.
Felichia sudah mulai tenang dan tak lagi menjerit-jerit memanggil anaknya, meskipun Navya juga masih bingung dimana bayi Felichia. Navya sudah mengulik info dari beberapa perawat yang ada di lantai tempat kamaf perawatan Felichia berada. Namun para perawat hanya mengatakan kalau bayi Felichia sudah dibawa pulang oleh ayahnya. Dan ayah si bayi mengatakan pada perawat kalau Felichia sebenarnya mengidap gangguan jiwa.
Ya ampun!
Kenapa semuanya jadi serumit ini?
Siapa pria brengsek yang sudah mengaku sebagai ayah dari bayi Felichia dan menuduh Felichia gila?
Benar-benar keterlaluan pria itu!
****
Tengah malam.
Felichia terbangun karena merasakan nyeri di kedua payud*ranya. ASI yang seharusnya Felichia berikan untuk bayinya kini tak tahu harus Felichia apakan. Felichia kembali menangis terisak, namun kali ini Felichia memilih untuk tak bersuara, karena Navya yang ternyata sejak tadi menungguinya dan kini wanita itu tertidur di sofa yang ada di sebelah bed perawatan.
Navya yang ternyata adalah istri kedua Erlan.
Felichia belum menanyakannya, karena Felichia memang sibuk meratapi bayinya yang dibawa pergi oleh Dean.
Semua kebohongan Felichia seolah terbuka malam ini dan Erlan benar-benar marah besar hingga pria itu tak kembali menemui Felichia hingba detik ini. Andai Felichia jujur sejak awal pada Erlan, mungkin semuanya tak akan menjadi serumit ini. Dan andai Erlan juga jujur pada Felichia tentang pernikahannya dengan Navya, mungkin Felichia juga akan langsung jujur tentang status bayinya pada Erlan.
Lalu Felichia tak akan menaruh harapan pada Erlan.
__ADS_1
Ah,
Semuanya memang salah Felichia dan Erlan yang sudah sama-sama berbohong dan menyembunyikan rahasia.
"Fe, kenapa kau bangun? Kau mau kuambilkan sesuatu?" Tanya Navya yang langsung membuyarkan lamunan serta pikiran rumit Felichia.
"Aku hanya ingin minum, Nav." Jawab Felichia seraya meraih gelas berisi air di atas nakas. Navya mendekat ke arah Felichia.
"Kau sudah baik-baik saja?" Tanya Navya memastikan.
"Ya." Jawab Felichia lirih menyembunyikan raut kesedihan di wajahnya.
"Apa Erlan yang membawa bayimu, Fe? Erlan masih belum kesini hingga detik ini," tanya Navya lagi merasa penasaran.
"Erlan marah padaku," jawab Felichia seraya menatap kosong ke arah jendela kamar perawatan.
"Tapi kenapa?"
"Karena aku sudah membohonginya tentang siapa ayah kandung dari bayiku," jawab Felichia yang langsung nejbuat Navya kaget.
"Tapi Erlan juga sudah membohongiku dan merahasiakan pernikahan kalian berdua dariku," lanjut Felichia yang langsung membuat Navya salah tingkah.
"Ka-kami sudah berpisah, Fe!" Ucap Navya berusaha meyakinkan Felichia.
"Kenapa? Apa karena kau melihat aku hamil dan merasa iba kepadaku, lalu kau-"
"Bukan seperti itu!" Potong Navya cepat menyela pertanyaan Felichia yang dipenuhi emosi.
"Aku dan Erlan sebenarnya hanya menikah kontrak, karena Abang Matthew hendak menjodohkan aku dengan temannya. Tapi aku tidak mau dan aku bekum mau menikah."
"Jadi aku minta Erlan menjadi suami pura-puraku, dan kami membuat perjanjian untuk enam bulan ke depan."
"Kami juga tak pernah meyentuh, sekalipun status kami suami istri," cerita Navya panjang lebar yang tentu saja dipenuhi karangan dan kebohongan.
"Erlan hanya mencintaimu, Fe. Ditambah kau sedang mengandung anaknya-"
"Itu bukan anak Erlan!" Potong Felichia cepat.
"Itu adalah anak Dean Alexander dan aku hanya seorang rahim pengganti," lanjut Felichia yang tentu saja langsung membuat Navya ternganga tak percaya.
"Karena itulah Erlan marah kepadaku. Padahal aku melakukan semuanya juga karena paksaan dari kedua orang tua Erlan, karena mereka terus memojokkan aku dan menganggapku sebagai menantu sampah!" Felichia kembali menangis terisak.
"Aku tidak tahu!" Felichia sudah menangis tergugu dan memeluk kedua lututnya dengan putus asa, membuat siapapun yang melihatnya akan langsung merasa iba. Termasuk Navya.
"Fe," Navya hanya mampu memeluk Felichia dan memberikan pundaknya untuk tempat Felichia bersandar.
"Aku akan membantumu bicara pada Erlan dan menjelaskan semuanya," janji Navya pada Felichia.
"Erlan sudah marah padaku, Nav!"
"Dia tak akan marah lagi setelah kau menceritakan semuanya secara jujur. Erlan pasti percaya kepadamu, Fe!" Navya menangkup wajah Felichia dan terus meyakinkan wanita tersebut.
"Erlan mencintaimu, jadi dia pasti akan percaya padamu!" Ucap Navya sekali lagi penuh keyakinan.
"Terima kasih," ucap Felichia pada Navya atas semua kebaikan wanita itu.
"Terima kasih, Nav!"
.
.
.
Masih mblundet, nggak?
Next kita bereskan soal Felichia-Erlan-Navya, ya!
Lalu nanti baru fokus ke karma buat Dean.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.