Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
MENIKAH


__ADS_3

Felichia masih menahan tawa mengingat tentang dirinya dan Dean yang tadi kepergok oleh Richard saat sedang berciuman. Pintu kamar di buka dari luar. Dean sudah kembali bersama Richard yang sudah selesai menunaikan panggilan alamnya. Bocah empat tahun tersebut kembali menguap, menandakan kalau ia masih mengantuk.


"Mau bobok lagi?" Tawar Dean pada sang putra.


"Sama Om Dean." Pinta Richard yang kali ini sedikit membuat Dean risih. Dean tidak mau lagi dipanggil Om oleh Richard, Gika dan Naka. Dean adalah Dad mereka.


"Mmmmm, bagaimana kalau mulai sekarang Richard panggilnya Dad dan bukan Om lagi?" Usul Dean yang langsung membuat Richard melebarkan kedua bola matanya.


"Kenapa begitu? Om Dean kan bukan Dad-nya Richard," tanya Richard bingung.


Felichia segera ikut bersimpuh di hadapan Richard dan hendak membantu menjelaskan pada putra sulungnya tersebut.


"Kalau Mom bilang, mulai sekarang om Dean adalah Dad-nya Richard, Gika, dan Naka. Apa Richard setuju?" Tanya Felichia lembut meminta pendapat Richard.


"Setuju, Mom!" Jawab Richard dengan kedua mata berbinar tak percaya.


"Jadi, sekarang Om Dean adalah Dad-nya Richard," ucap Felichia sekali lagi dan Richard langsung mengangguk sambil tersenyum.


"Ayo panggil Dad!" Titah Felichia selanjutnya.


"Dad!" Panggil Richard yang langsung menghambur ke pelukan Dean.


Saat itulah hati Dean seketika menghangat. Dean memeluk erat putra sulungnya tersebut dan berulang kali menciumi puncak kepala Richard.


Felichia yang melihat sejua pemandangan tersebut ikut tersenyum bahagia, sebelum kemudian Dean memberikan kode pada Felichia agar ikut berpelukan juga.


Ya.


Ini lah keluarga kecil mereka saat ini.


****


"Sudah tidur?" Tanya Dean seraya mendekap Felichia dari belakang.


"Sudah," jawab Felichia seraya menahan tawanya agar tak membangunkan anak-anak lagi. Sedangkan Dean hanya tersenyum dan semakin mengeratkan dekapannya pada Felichia.


Dan berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak khilaf.


"Kau akan memelukku seperti ini sampai pagi?" Tanya Felichia seraya mengusap lengan Dean yang melingkari tubuhnya. Bisa Felichia rasakan bibir Dean yang kini menyusuri leher dan tengkuknya dan menimbulkan gelenyar aneh pada darah Felichia.


Sial!


"Kau maunya apa memang? Aku telanjangi dan aku cecap setiap jengkal tubuhmu," tanya Dean yang pikiran mesumnya sudah kembali.


Ya, seharusnya Felichia tak perlu memancing pria mesum ini.


"Dean kita tidak akan melakukannya malam ini," Felichia mulai menggeliat dengan gelisah karena ciuman Dean di tengkuknya yang sudah semakin menggila.

__ADS_1


"Kau menyiksaku. Aku sudah menahannya sejak ingatanku kembali satu pekan yang lalu," bisik Dean yang nafasnya mulai terengah.


"Maka kau harus menahannya lebih lama lagi," jawab Felichia menahan tangan Dean yang sudah mulai menyusup ke dalam baju Felichia dan merambat naik ke kedua gundukan kenyal milik wanita tersebut.


"Stop!" Felichia menahan tangan Dean dengan kuat.


"Aaarrrrgh!" Dean seketika mengerang, dan pria itu mengubah posis menjadi tengkurap, lalu membenamkan kepalanya ke dalam bantal seolah sedang berusaha meredam gairahnya sendiri.


"Kita menikah besok!" Ucap Dean seraya memutar kepalanya dan menatap pada Felichia yang kini memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Dean.


"Kau sudah mengatakannya tadi, Dean," jawab Felichia seraya tertawa kecil.


"Benarkah? Kenapa waktu berjalan lambat sekali?"


"Atau kita menikah sekarang saja?" Dean sudah mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Felichia.


"Kita tidak akan menikah malam-malam!" Jawab Felichia seraya menggenggam tangan Dean yang masih berada di wajahnya.


"Aku bisa menahannya malam ini," ucap Dean meyakinkan dirinya sendiri.


"Kau pasti bisa," Felichia menyemangati dan mengecup tangan Dean.


"Tapi aku akan menerjangmu besok," sambung Dean lagi.


Felichia hanya tersenyum seraya mengangguk, sebelum wanita itu bangun dan mengecup bibir Dean sebentar.


"Aku akan tidur bersama anak-anak," ucap Felichia yang hanya dijawab Dean dengan anggukan kepala.


Dean sedang jatuh cinta dan kasmaran sekarang.


****


Felichia pernah membaca sebuah kutipan yang mengatakan bahwa cinta dan benci itu bedanya hanya setipis tisue toilet.


Baiklah, itu kutipan yang konyol!


Tapi sekarang Felichia sudah menyadari kalau benci dan cinta memanglah memiliki perbedaan yang sangat tipis. Dulu Felichia sangat membenci pria yang saat ini sedang berdiri di hadapannya hingga Felichia selalu ingin mencekik lehernya. Tapi kini Felichia mencintainya.


Felichia mencintai pria bernama Dean Alexander yang saat ini sedang mengucapkan ikrar suci pernikahan hingga akhirnya suara yang dinanti-nantikan itu terdengar juga.


"Sah!"


Seru para warga yang hadir di acar pernikahan sederhana Dean dan Felichia. Jangan tanya soal gedung mewah atau ballroom hotel bintang lima, karena saat ini Felichia dan Dean menggelar acara pernikahan mereka di gubuk kecil yang ada di tepi sungai, diiringi merdunya suara riak air dari sungai nan jernih tersebut. Hamparan sawah yang baru selesai dipanen menjadi pemandangan yang luar biasa untuk para tamu yang hadir.


Lalu soal gaun pengantin mewah atau tuksedo mahal, itu juga tidak ada. Dean hanya mengenakan sebuah kemeja putih yang baru dibeli secara dadakan di pasar pagi ini. Dan Felichia juga hanya mengenakan gaun sederhana selutut berwarna putih bermotif bunga-bunga yang sangat pas menbalut tubuh ibu tiga anak tersebut.


Benar-benar pernikahan yang di luar ekspetasi seorang Dean Alexander. Tapi semuanya terasa mewah dan penuh nuansa kekeluargaan, meskipun para tamu yang hadir hanyalah para warga desa yang baru sepekan ini Dean kenal.

__ADS_1


Richard menghampiri Dean dan Felichia yang baru saja dinyatakan sah sebagai suami istri. Putra Dean dan Felichia itu membawa sebuah kotak cincin sederhana yang juga baru Dean beli pagi ini sebagai mas kawin.


"Hanya sebuah cincin sederhana," ucap Dean seraya memakaikan cincin emas tersebut ke jari manis Felichia.


"Tapi aku menyukainya, Dean."


"Dan ukurannya pas sekali di jariku," puji Felichia seraya memamerkan cincin pemberian Dean pada para tamu yang hadir.


Semuanya bertepuk tangan dan turut berbahagia atas pernikahan sederhana Dean dan Felichia. Acara dilanjutkan dengan makan bersama menu ala pedesaan di gubuk dan di tepi sungai. Ada beberapa warga yang membakar ikan hasil memancing, ada juga yang membakar singkong dan jagung serta hasil bumi lain yang mereka bawa dari rumah.


Sungguh sebuah pernikahan yang sederhana tapi berkesan.


"Kita pulang sore ini," bisik Dean pada Felichia yang sedang menyuapi Gika dan Naka.


"Tidak ada bus ke kota sore-sore, Dean!" Jawab Felichia mengingatkan Dean.


"Kita tidak akan naik bus lagi. Ada supir yang akan menjemput kesini, dan sedang dalam perjalanan," ucap Dean seraya melihat ke layar ponselnya.


"Aku belum memberikan ponselmu. Darimana kau-"


Cup!


Dean mencium singkat bibir Felichia agar istrinya itu berhenti mengomel.


"Richard yang mengambilkannya dari tempat persembunyian. Bocah itu lebih cerdik dari Dad-nya ternyata," ucap Dean seraya memuji Richard yang sedang bermain di air sungai bersama anak desa yang lain.


"Dia cerdik seperti Mom-nya, jika kau ingin tahu," gumam Felichia dengan nada sombong.


"Hmmm, begitu, ya! Cerdik dalam menaklukkan hati seorang pria sombong dan arogant salah satunya!" Goda Dean seraya merangkulkan lengannya di pundak Felichia.


Felichia hanya tertawa kecil.


"Kau yakin tidak mau menetap disini saja dan jadi seorang petani?"


"Kulitmu sudah mulai coklat dan terlihat eksotis sekarang," kelakar Felichia seraya mengendikkan dagunya ke lengan Dean yang sudah berubah warna menjadi kecoklatan karena tersengat sinar matahari.


"Mungkin kapan-kapan aku akan beralih profesi jadi petani lagi. Tapi untuk besok aku harus kembali ke peradabanku di kantor, sebelum Aaron melakukan kudeta," jawab Dean yang langsung membuat Felichia tergelak.


Acara pernikahan Dean dan Felichia baru berakhir saat matahari hampir terbenam, bersamaan dengan sopir Dean yang sudah datang menjemput. Dean memberikan sumbangan beberapa alat pertanian untuk para warga desa sebagai ucapan terima kasih.


Tepat saat langit sudah gelap, Dean, Felichia, dan ketiga anak mereka berpamitan meninggalkan desa yang asri nan damai tersebut membawa sejuta pengalaman, cerita , dan cinta tentu saja.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2