Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
BUKTIKAN!


__ADS_3

Dean mengerang dan sedikit menggerutu sebal karena ponselnya yang sudah berbunyi nyaring padahal hari masih pagi. Mengganggu tidur nyenyak Dean saja!


Pria itu meraih ponselnya yang sedang di charge di atas nakas untuk melihat siapa orang kurang kerjaan yang meneleponnya pagi-pagi buta begini.


Aaron?


Dean benar-benar akan memotong gaji sekretaris kurang ajarnya itu!


"Ha-"


"Dean, kau kemana saja!"


Belum juga Dean selesai mengucapkan kata halo, Aaron sialan itu sudah memotongnya dengan teriakannya yang melengking. Dasar tidak sopan!


"Aku tidur di hotel. Kenapa kau menelepon pagi-pagi buta? Belum mendapat jatah dari Claudia, hah?" Tanya Dean galak.


"Felichia meneleponku dinihari tadi!"


Kalimat Aaron langsung membuat mata Dean yang tadi masih setengah mengantuk menjadi membelalak lebar.


"Apa? Felichia bicara apa?" Tanya Dean tak sabaran.


"Felichia bertanya apa benar ingatanmu sudah kembali atau belum."


"Kau menjawab apa?" Sergah Dean semakin tak sabar.


"Aku terpaksa berkata jujur, Dean-"


"Dasar bodoh!" Umpat Dean yang langsung beranjak dari atas tempat tidurnya dan meraih celana serta kausnya, lalu memakainya secara serampangan.


"Dean, aku sudah berusaha menjelaskan pada Felichia kalau kau sudah berubah dan bukan Dean yang jahat lagi-"


"Felichia tak mungkin percaya begitu saja kepadamu!" Sergah Dean yang lagi-lagi memotong kalimat Aaron.


"Aku minta maaf, Dean!"


"Sudahlah! Aku akan menyelesaikannya sendiri!" Pungkas Dean sebelum menutup telepon dan menjejalkan ponselnya ke dalam saku celana. Dean mencuci muka ala kadarnya dan bergegas keluar dari hotel, lalu memacu mobilnya ke rumah Felichia menembus dinginnya udara pagi.


****


Felichia keluar dari rumah bersama Richard, Gika, dan Naka, seraya membawa satu tas besar.


"Mom, ngantuk!" Keluh Gika dan Naka yang berulang kali menguap.


Biasanya kedua anak kembar Felichia itu memang masih terlelap jam segini. Tadi Felichia terpaksa membangunkan keduanya untuk mandi dan bersiap.


"Nanti kita bobok di bus, ya! Sekarang Gika dan Naka tahan dulu kantuknya!" Bujuk Felichia pada kedua putranya.


"Mom! Om Dean datang!" Seru Richard tiba-tiba bersamaan dengan mobil hitam Dean yang kini sudah berhenti di depan rumah Felichia.


Felichia hanya bisa menghela nafas jengah, dan mendekap ketiga putranya agar tidak jauh-jauh darinya.


Mungkin saja Dean sekarang datang bersama selusin bodyguard-nya dan ingin kembali memisahkan Felichia dan ketiga anaknya.


Dean turun sendiri dari pintu pengemudi dan rambut pria itu juga berantakan. Dean juga hanya mengenakan kaus abu-abu lengan pendek serta celana jeans biasa. Sepertinya tadi terburu-buru datang ke rumah Felichia.


"Fe, kau mau kemana?" Tanya Dean to the point seraya masuk ke teras rumah untuk menghampiri Felichia dan ketiga anaknya.


"Jangan mendekat!" Gertak Felichia galak.


"Tapi kau mau membawa anak-anak kemana pagi-pagi begini?" Tanya Dean yang kini berdiri di luar teras, sesuai perintah Felichia tadi.


"Kami mau ke rumah Mbok Jum melihat sawah, Om!" Bukan Felichia, melainkan Richard yang menjawab pertanyaan Dean.

__ADS_1


"Richard, sini!" Dean sudah berjongkok dan melambaikan tangan kd arah Richard meminta putranya itu untuk mendekat ke arahnya. Felichia hendak mencegah namun sia-sia karena Richard sudah menghampiri Dean dengan riang.


"Om punya video bagus," Dean mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan menunjukkan sebuah video anak-anak pada Richard.


"Richard ajak Naka dan Gika nonton di sana dulu, ya!" Dean menunjuk ke kursi yang ada di pojok teras.


"Om mau bicara sebentar pada Mom," lanjut Dean lagi dan Richard segera mengangguk patuh.


"Gika, Naka! Ayo!" Seru Richard pada kedua adiknya.


Tiga anak laki-laki Felichia tersebut langsung duduk anteng di pojokan teras menonton video dari ponsel Dean.


"Fe-"


"Aku tidak akan memberikan ketiga anakku kepadamu! Mereka anak-anakku! Aku yang sudah mengandung dan melahirkan mereka!" Jawab Felichia cepat menatap marah pada Dean.


"Memangnya siapa yang ingin mengambil mereka darimu, Fe?" Tanya Dean tak paham.


"Kau!"


"Tak usah berpura-pura dan berakting hilang ingatan lagi!" Sergah Felichia yang masih menatap marah pada Dean.


"Aku minta maaf soal itu, Felichia!"


"Tapi aku sungguh-sungguh tidak ada niat untuk memisahkan kau dan anak-anak lagi!" Ucap Dean bersungguh-sungguh."


"Aku hanya ingin mengajak kau dan anak-anak pulang bersamaku. Lalu kita bisa membangun sebuah keluarga-" sura Dean tercekat di tenggorokan.


Dean mungkin pernah melakukan banyak kesalahan pada Felichia di masa lalu. Dean juga sudah banyak menyakiti Felichia dan membuat hidup wanita ini menderita. Tapi apa salah, jika Dean ingin membangun sebuah keluarga bersama Felichia sekarang?


"Lalu kau akan memisahkan aku dan anak-anakku pagi setelahnya," tuduh Felichia yang sepertinya sulit sekali percaya pada Dean.


"Aku tidak akan melakukannya!" Sergah Dean cepat.


"Bohong!" Felichia masih bersedekap dan membuang wajahnya.


"Lalu aku harus bagaimana agar kau percaya padaku, Fe!" Tanya Dean mulai frustasi.


"Pergi jauh-jauh dari hidupku dan anakku!" Jawab Felichia tegas.


"Tidak!" Jawab Dean tak kalah tegas.


"Mereka juga anak-anakku!" Lanjut Dean lagi yang mulai ikut-ikutan keras kepala.


"Aku tak akan membiarkan kalian berempat pergi meninggalkan aku lagi. Jika sekarang kau ingin membawa mereka pergi, aku akan mengikutimu kemanapun!" Ucap Dean lagi menatap tegas pada Felichia.


"Tinggalkan mobil mahalmu itu dan semua bodyguard-"


"Aku tak pernah lagi membawa bodyguard kemana-mana, Fe!" Sergah Dean menyangkal tuduhan Felichia.


"Baiklah! Tinggalkan mobil mahalmu itu dan semua fasilits hotel mewahmu, lalu lakukan semua yang aku katakan!"


"Buktikan kalau memang kau sudah benar-benar berubah dan bukan lagi Dean yang sombong dan arogant yang ingin memisahkan aku dan ketiga anakku dengan uangmu yang banyak dan bodyguard-mu yang ada di mana-mana itu!" Tantang Felichia pada Dean.


"Baiklah!" Jawab Dean tak gentar.


"Silahkan ambil ponselku juga agar kau semakin percaya." Sambung Dean menunjuk ke arah ponselnya yang masih dipegang oleh Richard.


"Kunci mobil!" Felichia menengadahkan tangannya ke arah Dean meminta kunci mobil pria itu, lalu Dean memberikannya dengan santai.


"Kita akan naik bus ke rumah Mbok Jum," ucap Felichia lagi seraya menghampiri ketiga anaknya. Dean ikut menghampiri Richard, Naka, dan Gika, lalu Dean membantu menggendong Naka yang masih mengantuk serta menggandeng Richard. Sedangkan Felichia menggendong Gika dan mengekor di belakang Dean sambil mengawasi pria itu serta memastikan kalau Dean tak akan membawa kabur anak-anaknya.


****

__ADS_1


Dean masih menatap pada Felichia yang duduk di barisan kursi di seberang kursinya. Wanita itu hanya diam seraya memangku Gika dan memegang tangan Richard yang duduk di kursi dekat jendela bus. Sedangkan Dean kini sedang memangku Naka dan duduk sendiri berjejer dengan tas yang tadi dibawa oleh Felichia.


Perjalanan kali ini lumayan berguncang karena mungkin jalan yang dilalui oleh bus tanpa AC ini sedikit bergelombang. Ini memang pertama kalinya dalam hidup Dean naik kendaraan umum berupa bus antarkota yang entah akan membawanya kemana.


"Om, susu." Ucap Naka yang sejak tadi berada di pangkuan Dean.


Felichia yang mendengar permintaan Naka, langsung mengangsurkan susu UHT kecil pada Dean.


Dean membukakan susu rasa vanila tersebut lalu membantu Naka untuk minum. Pria itu masih terlihat tulus sejauh ini dan belum mengeluh apapun, meskipun Felichia mengajaknya naik bus tanpa AC menempuh perjalanan yang cukup jauh.


"Kita turun di tikungan berikutnya," ucap Felichia pada Dean seraya beranjak dari duduknya. Dean hanya mengangguk dan ikut berdiri madih sambil menggendong Naka dan membawa tas Felichia. Sementara Richard sudah lincah berjalan sendiri di dalam bus yang masih melaju.


Tepat di tikungan selanjutnya, Bus berhenti. Dean, Felichia, dan ketiga anak mereka segera turun dari bus, dan kini hanya ada sebuah jalan cor beton yang membentang di tengah hamparan persawahan.


"Yeay!" Richard bersorak riang dan sepertinya bocah itu sudah cukup sering datang ke tempat ini.


"Kita naik apa selanjutnya?" Tanya Dean pada Felichia.


"Jalan kaki," jawab Felichia datar.


"Jauh?"


"Hanya tujuh ratus meter," jawab Felichia seraya mengulurkan kain panjang pada Dean.


"Agar tanganmu tidak pegal menggendong Naka," ucap Felichia lagi.


"Aku masih belum bisa memakainya. Kenapa tidak pakai gendongan instant saja?" Tanya Dean bingung.


"Sudah tidak muat!" Jawab Felichia seraya memanggil Richard dan menyuruh bocah itu untuk menjaga Gika sebentar, sementara Felichia membantu Dean memasang gendongan kain.


Felichia juga menggendong Gika dengan kain yang lain dan wanita itu terlihat begitu cekatan. Selesai menggendong si kembar, mereka berjalan beriringan menyusuri jalan beton menuju ke rumah Mbok Jum. Sesekali akan ada motor yang melintas dan mendahului langkah mereka.


Perjalanan tujuh ratus meter tak terasa ternyata karena pemandangan hamparan padi yang mulai menguning begitu memanjakan mata Dean. Langkah Dean dan Felichia terhenti di sebuah rumah sederhana yang temboknya masih berupa bata dan belum sepenuhnya di plester. Lantainya juga hanya berupa semen tanpa hiasan keramik apalagi lantai marmer.


Semuanya terlihat sangat sederhana.


"Mbak, Fe! Sudah sampai?" Mbok Jum langsung menyambut Felichia dan ketiga anaknya.


"Pak Dean ikut juga, Mbak?" Tanya Mbok Jum yagg sepertinya kaget dengan keberadaan Dean yang datang bersama Felichia.


"Mau membantu panen padi katanya, Mbok!" Jawab Felichia asal yang tentu saja membuat Dean yang ikut mendengarnya kaget buka main.


Membantu memanen padi?


Yang benar saja!


Apa ini termasuk salah satu tantangan dari Felichia?


.


.


.


Maaf, Dean!


Bukannya othor dendam. Tapi kamu othor kerjain dikit nggak papa, ya!


Salahmu dulu di bab-bab awal, kamu hapusin komen reader yang maki-maki kamu.


😅😅😅


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2