Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
LAKUKAN SAJA!


__ADS_3

"Kau hanya perlu mengandung benih Dean, lalu melahirkan seorang bayi dan memberikannya pada keluarga Alexander, dan setelah itu kau bisa kembali bersama Erlan. Mama dan Papa tak akan lagi menghalangi hubungan kalian berdua. Kau akan tetap jadi menantu di keluarga Prakasa!"


"Tapi bagaimana kalau Erlan bangun dari koma dan mencari Feli, Pa?"


"Papa dan Mama sudah sepakat, kalau kami akan mengatakan pada Erlan kau sedang berada di luar kota atau luar negeri untuk melakukan pengobatan akibat kecelakaan waktu itu!"


"Lakukan saja, Felichia! Anggap saja itu sebagai penebus semua kekacauan yang sudah kau lakukan!"


"Kita sudah sampai, Fel!" Ucapan Melanie yang sejak tadi duduk di samping Felichia membuyarkan lamunan wanita dua puluh empat tahun tersebut.


"Kau melamun?" Tanya Melanie pada Felichia yang terlihat saoah tingkah.


"Ti-tidak! Aku hanya sedikit mengantuk," jawab Felichia beralasan.


Mobil yang membawa Felichia, Melanie, dan Dean, sudah tiba di sebuah rumah megah bak istana. Dean sudah turun terlebih dahulu, dan membuka pintu mobil dimana Melanie duduk.


"Aku akan berjalan saja, Sayang!" Tolak Melanie saat Dean hendak menggendong dan memindahkannya dari dalam mobil ke atas kursi roda.


"Tidak boleh!" Jawab Dean tegas yang langsung membopong tubuh kurus Melanie.


Felichia juga tidak tahu istri Dean itu sebenarnya sakit apa hingga Dean tak memperbolehkannya berjalan sendiri dan kemana-mana harus didorong menggunakan kursi roda.


"Feli, ayo turun!" Ajak Melanie yang sudah duduk di atas kursi rodanya.


"I-iya, Nona!" Jawab Felichia tergagap yang langsung ikut membuka pintu mobil di sampingnya, lalu turun dari mobil.


"Kau memanggilku apa tadi?" Tanya Melanie pada Felichia seraya melempar tatapan menyelidik.


"Nona," jawab Felichia sedikit takut.


Melanie tertawa kecil.


"Panggil saja Melanie atau Mela dan jangan memakai embel-embel Nona lagi!"


"Aku bukan Nonamu!" Tukas Melanie seraya mengusap lengan Felichia.


Melanie lanjut menjalankan kursi roda otomatisnya masuk ke dalam rumah. Sementara Felichia memilih untuk mengekori istri Dean tersebut. Dean sendiri sudah menghilang ke dalam rumah sejak tadi dan tidak sedikitpun menatap apalagi menyapa Felichia.


Ya,

__ADS_1


Memangnya apa yang kau harapkan, Feli?


Kau hanyalah seorang wanita penebus hutang yang aka meminjamkan rahim pada Melanie dan Dean Alexander, lalu setelahnya kau bukan siapa-siapa lagi!


"Kamarmu di atas, Feli!" Ucap Melanie selanjutnya pada Felichia seraya menunjuk ke arah tangga.


"Maid akan mengantarmu ke kamar, dan kau tak perlu sungkan berada di rumah ini. Anggap saja ruahmu sendiri!" Lanjut Melanie seraya memberi titah pada maid yang berada di dekatnya untuk mengantarkan Felichia ke kamar barunya.


"Istirahatlah dulu! Nanti kita bicara lagi!" Titah Melanie pada Felichia, sebelum wanita itu kembali menjalankan kursi rodanya menuju ke sebuah kamar di lantai bawah.


"Mari saya antar ke kamar, Nona!" Ucap maid seraya mempersilahkan Felichia untuk naik ke atas tangga. Felichia hanya menurut dan mengikuti langkah maid tadi. Tepat di ujung tangga, Felichia berpapasan dengan Dean yang sepertinya akan turun tangga.


Felichia dan Dean sama-sama diam seribu bahasa dan hanya maid yang tadi mengantar Felichia yang menyapa Dean dengan sopan. Felichia tak mau terlalu ambil pusing dan lanjut mengikuti langkah maid tadi menuju ke sebuah kamar.


"Ini kamar anda, Nona. Selamat beristirahat!" Ucap maid seraya menganggukkan kepala pada Felichia.


"Terima kasih!" Ucap Felichia sebelum maid tadi berlalu pergi dan menutup pintu.


Kedua netra Felichia langsung memindai kamar mewah bak istana tersebut yang mungkin bagi semua orang akan terasa menyenangkan. Tapi tentu saja tidak bagi Felichia yang merasa terpenjara dan hidupnya yang kini berjalan tanpa arah.


Entah drama apalagi yang akan menghampiri Felichia setelah ini.


Lalu hamil anak Dean?


Melahirkan?


Felichia membuang nafas dengan kasar lalu mendaratkan bokongnya ke atas tempat tidur. Wanita itu juga langsung berbaring dan menatap langit-langit kamar yang terlihat begitu mewah dengan hiasan gypsum yang berukiran sangat apik. Sayangnya semua hiasan indah itu tak seindah hidup Felichia sekarang.


Felichia masih berbaring seraya menatap langit-langit kamar, dan jarinya memainkan cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Cincin yang diberikan oleh Erlan beberapa bulan yang lalu saat mereka menikah secara sederhana.


"Cepatlah bangun, Erlan! Aku merindukanmu!" Gumam Felichia sebelum wanita itu menejamkan matanya.


****


"Pastikan kau menghitung masa suburnya dengan benar, karena aku tidak mau menyentuh wanita itu berulang kali!" Ucap Dean pada Melanie dengan nada berapi-api.


"Namanya Felichia, Dean! Berhentilah menyebut wanita ini wanita itu. Dia punya nama!" Sergah Melanie mengingatkan Dean.


"Terserah!" Jawab Dean acuh dan kelihatannya sedikit kesal.

__ADS_1


"Kenapa kita tidak pakai metode bayi tabung saja, agar aku tak perlu menyentuhnya," gerutu Dean lagi seraya menyeka kasar peluh di wajahnya.


Dean dan Melanie memang sedang berada di ruang gym yang ada di rumah besar kediaman Alexander.


"Prosesnya sangat rumit dan akan memakan banyak waktu," jawab Melanie yang kembali memberikan sederet alasan.


Dean sudah bersiap untuk angkat beban lagi, saat Melanie bangkit dari kursi rodanya dan menghentikan suaminya tersebut.


"Dean, sudah cukup!"


Dean yang melihat Melanie bangkit berdiri, buru-buru bangun dan menopang tubuh kurus sang istri.


"Sudah kubilang jangan pernah beranjak dari kursi rodamu ataupun mencoba berjalan seperti ini, Mel! Kalau kau jatuh atau terluka bagaimana?" cecar Dean yang terlihat begitu khawatir.


"Itu hanya dua langkah dan aku baik-baik saja, Dean!" Kelit Melanie seraya merengut pada Dean yang kini sudah kembali mendudukkannya ke atas kursi roda.


"Jangan cemberut begitu!" Dean bersimpuh di depan Melanie dan memainkan bibir istrinya yang masih merengut.


"Cepatlah mandi dan membersihkan diri! Kita harus makan makan malam," titah Melanie seraya menangkup wajah Dean.


"Mandi bersamamu sepertinya lebih menyenangkan," Dean mengerling nakal pada Melanie.


"Ck! Aku sudah mandi tadi!" Melanie pura-pura berdecak malas.


"Dan aku tidak suka mandi bersama suamiku yang tubuhnya lengket penuh keringat," sambung Melanie seraya mengusap lengan besar Dean yang dipenuhi oleh peluh.


"Aku akan memaksamu kalau begitu!" Dean sudah bangkit berdiri dan dengan cepat mengangkat tubuh Melanie dari atas kursi roda, lalu menggendong istrinya tersebut ala bridal.


"Dean! Turunkan aku!" Melanie memukul-mukul dada Dean seraya meronta-ronta.


"Diamlah!" Perintah Dean yang sudah dengan cepat membawa Melanie keluar dari ruang gym, lalu membawanya masuk ke kamar.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2