
Navya menatap beberapa saat ke arah pintu apartemennya dan mendadak merasa ragu untuk menekan bel. Padahal ini adalah apartemen milik Navya, kenapa malah Navya merasa sungkan?
Bodoh!
Navya merutuki kebodohannya sendiri karena malah datang ke sini pagi-pagi. Tapi tidak ada makanan appaun di dalam apartemen sejak kenarin dan Navya benar-benar hanya ingin mengantarkan makanan untuk Felichia yang sedang hamil dan mungkin sering merasa lapar.
Dan untuk Erlan.
Ada kabar duka untuk Erlan.
Apa pria itu sudah tahu?
Navya menarik nafas panjang, lalu memutuskan untuk menepis rasa sungkannya. Navya akhirnya menekan bel.
Ting tong!
Butuh sekitar lima menit untuk Navya menunggu, sebelum akhirnya pintu kayu itu dibuka dari dalam. Erlan berdiri dibalik pintu mengenakan kaus dan sebuah celana rumahan.
Dan dahi suami Navya itu dipenuhi peluh di dalam apartemen yang ber-AC. Lalu raut wajah Erlan...
Ah, tentu saja!
Navya sudah hafal dengan raut wajah Erlan yang seperti itu, karena sebelum ini Navya juga selalu melihatnya, terutama saat Erlan baru selesai bercinta dengan Navya.
Baiklah!
Lupakan saja!
"Navya," Erlan terlihat kaget.
Atau mungkin Navya baru saja mengganggu kesenangan suaminya itu bersama istri pertamanya yang sudah berbulan-bulan tak ia jumpai.
Ya,
Kadang ibu hamil memang lebih terlihat seksi dan menarik di mata beberapa pria.
"Maaf, mengganggu pagi-pagi. Aku hanya mengantar makanan untuk Felichia," ucap Navya menyampaikan tujuannya datang ke apartemennya sendiri yang kebetulan sedang dipinjam Erlan dan Felichia.
"Masuklah!" Erlan mempersilahkan dengan canggung dan sorot kedua mata pria itu terlihat bersalah.
Oh, ini bukan sepenuhnya salahmu, Erlan!
Aku ikut andil dalam pernikahan konyol kita yang baru dua bulan itu.
__ADS_1
Navya hanya bergumam dalam hati.
"Tidak usah! Aku harus lanjut ke kantor," ucap Navya memaksa untuk mengulas senyum di bibirnya.
"Kau bisa libur tiga hari ke depan, dan menemani Felichia disini," lanjut Navya lagi yang memang memegang jabatan sebagai Nona direktur di kantor cabang Orlando.
Sedangkan Erlan?
Jabatannya di bawah Navya, karena Navya yang berdarah Orlando disini.
"Ini!" Navya mengangsurkan sebuah tas kain berisi bermacam-macam makanan serta tas kain lain berisi bahan mentah dan buah-buahan segar untuk pengisi kulkas.
"Terima kasih," ucap Erlan yang benar-benar bingung harus bersikap bagaimana pada Navya.
"Dan satu kabar lagi soal kedua orang tuamu-"
"Aku sudah diberitahu," jawab Erlan cepat memotong kalimat Navya.
Navya mengangguk.
"Aku turut berduka Erlan-" suara Navya tercekat di tenggorokan karena Navya merasa tak mampu untuk melanjutkan kalimatnya.
Jelas-jelas Navya tahu kalau yang melakukan semua itu adalah anak buah abang Matthew. Tapi Navya juga harus tutup mulut agar sang Abang tak perlu berurusan dengan hukum.
"Mereka tetap orangtuamu, Erlan," timpal Navya memilih untuk bersikap diplomatis, sekalipun Navya juga tahu mereka bukan orang tua kandung Erlan.
Ah, sudahlah!
Masalah ini benar-benar rumit.
"Aku baru akan mengurus surat perceraian kita hari ini, Erlan."
"Jadi bersabarlah dulu dan mungkin butuh waktu. Semoga sebelum Felichia melahirkan, semuanya sudah selesai," Navya memaksa untuk mengulas senyum lagi di bibirnya.
"Maaf, Navya!" Hanya kata itu yang mampu Erlan ucapkan.
"It's okay," Jawab Navya lirih menahan rasa pedih di hatinya.
"Aku pamit," pungkas Navya akhirnya sekuat tenaga menahan airmatanya agar tidak jatuh berlinang.
"Terima kasih makanannya," ucap Erlan yang hanya dijawab Navya dengan anggukan kepala. Ludah Navya terasa pahit hingga wanita itu tak mampu lagi berucap sepatah katapun.
Erlan masih belum menutup pintu hingga Navya masuk ke dalam lift yang ada di ujung lorong. Erlan terus menatap pada wanita yang sudah menjadi istrinya selama dua bulan tersebut, hingga pintu lift tertutup dan lift bergerak turun.
__ADS_1
Gunungan rasa bersalah kini memenuhi hati Erlan dan terasa begitu menyesakkan.
Andai Erlan tak khilaf dan gegabah...
"Erlan!" Panggilan Felichia membuat Erlan berbalik dengan cepat dan segera menutup pintu apartemen.
"Siapa yang datang?" Tanya Felichia mengerutkan kefua alisnya.
"Navya. Dia mengantar makanan sekalian mau ke kantor katanya," jawab Erlan jujur.
"Oh. Kau tidak menyuruhnya masuk?" Tanya Felichia yang langsung menyambut tas kain yang berada di tangan Erlan. Kebetulan sekali Felichia memang lapar karena pergelutannya bersama Erlan tadi.
Sebelumnya saat di rumah Melanie, Felichia tak pernah merasa kelaparan karena koki yang selalu stand by 24 jam memasakkan apa saja yang Felichia mau.
Ah, tapi semuanya sudah berlalu.
Tak perlu lagi mengingat-ingat rumah neraka itu lagi!
"Katanya sedang terburu-buru. Jadi dia tidak mau mampir," jelas Erlan yang hanya membuat Felichia mengangguk.
Felichia sudah membongkar tas kain berisi makanan tadi dan mengeluarkan isinya lalu menatanya di atas meja makan. Senyum sumringah langsung terpancar di wajah Felichia.
"Kau kelaparan, ya?" Tebak Erlan seraya mengusap kepala Felichia.
"Iya. Sebenarnya aku memang sering lapar sejak hamil," cerita Felichia yang sudah mengambil piring dan sendok dari dalam kitchen set dan membawanya ke meja makan.
"Aku nanti ada urusan mungkin sampai sore. Kau tidak apa-apa jika aku tinggal sendirian?" Tanya Erlan mengungkapkan rencananya yang harus mengurus pemakaman Papa Panji dan Mama Astri.
Ya, sekalipun Erlan marah pada dua orang tua itu. Tapi Erlan tetap harus memakamkan mereka dengan layak dan memberikan penghormatan terakhir.
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggu kau pulang," jawab Felichia seraya tersenyum.
Erlan mengecup kening Felichia dan ikut duduk di ruang makan, menemani Felichia yang sudah menikmati sarapannya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1