Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
PERJUANGAN DEAN


__ADS_3

Dean masih duduk termenung di teras belakang rumah Mbok Jum yang pemandangannya mengarah langsung ke sawah, saat tiba-tiba Felichia datang dan langsung menyuguhkan sepiring singkong rebus di hadapan Dean.


"Makan siang," ucap Felichia seraya menatap remeh pada Dean.


"Tidak ada nasi?" Tanya Dean yang balik menatap Felichia tanpa raut kemarahan sedikitpun.


"Nasinya belum dipanen, Tuan Dean Alexander yang terhormat!"


"Lihat!" Tangan Felichia menunjuk ke arah hamparan padi yang sudah menguning.


"Kapan memang padi-padi itu mau dipanen?" Tanya Dean lagi seraya mengambil satu potong singkong rebus dan memakannya tanpa ragu. Pria itu manggut-manggut dan terlihat menikmati.


"Mungkin beberapa hari lagi," jawab Felichia seraya bersedekap.


"Dan kau ada jadwal ronda bersama warga malam ini menggantikan mendiang adiknya Mbok Jum," sambung Felichia lagi memberitahu Dean.


"Malam ini?" Tanya Dean memastikan.


"Iya, malam ini!" Jawab Felichia tegas.


"Baiklah."


"Lalu anak-anak kemana?" Tanya Dean lagi.


"Belum bang-"


"Om Dean!" Suara Richard yang sudah bangun dari tidur siangnya disusul kedua adiknya memotong jawaban Felichia. Tiga anak Felichia itu sudah menghambur untuk menghampiri Dean dan mereka langsung bercengkerama dengan riang.


"Om, nanti mandi ke sungai, ya! Sekalian mancing ikan untuk makan malam," celoteh Richard pada Dean yang sedang menggigit singkong rebusnya.


"Memang ada sungai?" Tanya Dean yang antusias sekali menyimak ajakan Richard.


"Ada! Sungainya bagus, Om! Airnya jernih, banyak ikannya juga," cerita Richard begotu antusias.


"Hmmm, baiklah kalau begitu. Nanti kita mandi ke sungai dan memancing," ujar Dean akhirnya mengiyakan ajakan Richard. Si kembar juga ikut bercerita pada Dean meskipun sesekali keduanya masih menggunakan bahasa planet dan Dean harus banyak berpikir untuk memahami bahasa Gika dan Naka yang kadang cuma sepenggal-sepenggal.


****


Malam merangkak naik.


Felichia yang sudah selesai menidurkan ketiga anaknya, keluar dari kamar untuk melihat Dean apa sudah bersiap pergi ronda atau belum. Namun Dean malah tak terlihat di dalam rumah Mbok Jum. Kemana pria itu?


"Mbak Fe belum tidur?" Tanya Mbok Jum yang baru keluar dari dapur.


"Dean kemana, Mbok?" Felichia balik bertanya pada Mbok Jum.


"Itu lagi di luar, ngopi bersama warga. Katanya malam ini mau ikut ronda bersama para warga," jawab Mbok Jum yang hanya membuat Felichia mengangguk.


"Dean sendiri yang bilang?" Tanya Felichia memastikan.


"Iya, Mbak! Sudah saya bilang tidak usah, tapi tetap ngeyel." Jelas Mbok Jum.


"Yaudah, biarin aja, Mbok."


"Mbok istirahat saja!" Ucap Felichia selanjutnya.


"Iya, Mbak!" Jawab Mbok Jum seraya masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Felichia yang kini mengintip lewat jendela rumah untuk melihat Dean yang ternyata bisa juga membaur bersama warga sekitar dan duduk-duduk dengan santai di pinggir jalan seraya menyesap kopi hitam bersama para warga laki-laki.


Baiklah!


Yang itu tidak mungkin akting karena saat para warga tertawa, Dean juga ikut tertawa lepas seolah tanpa beban


****


Hari sudah menjelang sore, saat Dean pulang dari sawah bersama anak dari Mbok Jum dan juga gerobak yang penuh dengan karung-karung berisi padi yang sudah dipisahkan dari batangnya.


Wajah Dean terlihat begitu lelah dan mendadak Felichia jadi merasa iba.


Dean memindahkan sekalian karung-karung dari gerobak ke teras rumah, sebelum kemudian pria itu masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri. Felichia masih menunggu Dean mengeluh atau mungkin marah karena terus-terusan Felichia kerjai sejak kemarin. Namun Dean hanya menyapa Felichia sambil tersenyum dan lanjut pergi mandi karena katanya sudah gatal-gatal.

__ADS_1


Saat makan malam, Richard tak berhenti berceloteh dan bercerita pada Dean tentang apa-apa yang dilakukan bocah itu seharian bersama anak-anak lain di desa ini. Si kembar juga sesekali menimpali cerita sang Abang. Sementara Felichia berulang kali melihat ke arah Dean yang tak berhenti garuk-garuk sambil menikmati makanannya dan mendengarkan cerita Richard.


Baiklah!


Felichia sedikit khawatir sekarang.


"Dean!" Panggil Felichia pada Dean setelah mereka sekedai makan malam. Pria itu masih menggaruk tangan dan kakinya sesekali.


"Ada apa?"


"Coba lihat," Felichia meraih tangan Dean untuk memeriksa kulit putih pria itu yang kini bentol-bentol merah.


"Aku rasa karena terkena rumpun padi saat di sawah tadi," ujar Dean berpendapat.


"Perih?" Tanya Felichia lagi.


"Sedikit. Lebih banyak gatal," Dean kembali menggaruk tangannya yang sudah memerah.


"Berhentilah menggaruknya!" Cegah Felichia cepat memegang tangan Dean.


Dean dan Felichia saling bertatap pandang sekarang.


"Aku harus melakukan apalagi setelah ini agar kau percaya kalau aku sudah berubah, Fe?" Tanya Dean yang masih menatap Felichia.


Dean memang sudah melakukan banyak hal selama hampir satu pekan mereka berada di rumah Mbok Jum. Mengikuti ronda, kerja bakti membersihkan got dan memperbaiki jalan yang rusak bersama para warga. Lalu memancing di sungai bersama Richard demi bisa makan pakai ikan goreng dan makan aneka jenis umbi-umbian rebus yang dulu sangat jarang atau bahkan belum pernah Dean makan sama sekali.


Dan Felichia belum sekalipun mendengar keluhan Dean. Sebaliknya, pria itu menjalani semuanya dengan ikhlas dan lapang dada, serta malah menikmati semuanya.


"Om Dean!" Panggilan Richard dari ambang pintu kamar memecah kebisuan di antara Dean dan Felichia.


"Jadi bacain dongeng kancil dan buaya, Om?" Tanya Richard lagi pada Dean.


"Iya, jadi," jawab Dean seraya menoleh dan tersenyum pada Richard.


"Aku sudah berjanji tadi," ucap Dean pada Felichia yang sejak tadi hanya diam.


Dean menggerakkan tangannya yang masih digenggam oleh Felichia, dan saat itulah Mom dari Richard itu sadar kalau ia masih memegang tangan Dean sejak tadi.


"Baiklah! Aku akan membacakan dongeng untuk anak-anak dan menidurkan mereka dulu," jawab Dean yang langsung membuat Felichia mengangguk.


Dean segera masuk ke dalam kamar menyusul Richard. Sedangkan Felichia mencari Mbok Jum untuk bertanya tentang obat yang mungkin bisa meringankan bentol-bentol di kaki dan tangan Dean.


****


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, saat Felichia masuk ke kamar untuk memeriksa anak-anak. Dan pemandangan yang kini Felichia lihat benar-benar membuat Felichia merasa tertegun.


Dean sedang tidur di tengah-tengah kasur, lalu Richard, Gika dan Naka berada di samping kiri dan kanan pria itu. Ketiga anak Felichia itu tidur sambil menempel pada sang Dad dan mereka semua terlihat nyaman.


Ya,


Jelas sudah kalau ketiga putra Felichia itu sangatlah merindukan sosok seorang ayah. Egois sekali rasanya jika Felichia tetap memaksa untuk memisahkan Dean dari ketiga anaknya.


Toh Dean juga sudah membuktikan kalau dia bukan lagi Dean yang sombong dan arogant seperti dulu. Pria itu benar-benar sudah berubah sekarang.


Felichia meraih selimut dan hendak menyelimuti Dean dan anak-anak, saat kemudian tubuh Dean terlihat menggeliat sebelum kemudian pria itu membuka matanya.


"Aku ketiduran," ucap Dean yang dengan hati-hati berusaha meloloskan dirinya dari ketiga anaknya yang semuanya sudah terlelap.


Felichia sedikit membantu sebelum akhirnya Dean berhasil lolos.


"Kau dapat obatnya?" Tanya Dean lagi yang kembali menggaruk tangannya yang gatal.


"Ya." Jawab Felichia singkat seraya menyelimuti ketiga anaknya.


Selesai menyelimuti Richard, Gika, dan Naka, Felichia ganti menggelar karpet plastik di atas lantai kamar, lalu menyuruh Dean untuk duduk agar Felichia bisa mengobati gatal-gatal di tubuh pria itu.


"Bisa aku lihat punggungmu? Apa rasanya gatal juga?" Tanya Felichia memastikan.


"Ya, gatal sedikit," jawab Dean seraya membuka kausnya.

__ADS_1


Sebelas dua belas dengan tangan dan kaki, punggung Dean kini juga tampak kemerahan dan bentol di beberapa bagian.


"Maaf," gumam Felichia sebelum mengoleskan salep cair ke punggung Dean dengan hati-hati.


"Iya. Bukankah kau juga sudah pernah melihat dan menyentuhnya?" Jawaban Dean seketika membuat wajah Felichia bersemu merah.


Felichia menahan wajahnya yang terasa memanas dan mulai mengusapkan salep ke punggung Dean, lalu meratakannya. Felichia juga melakukan hal yang sama pada kaki dan tangan Dean.


"Lumayan juga," ucap Dean setelah Felichia selesai mengobati ruam-ruamnya.


"Sudah tak gatal?" Tanya Felichia memastikan.


"Masih. Tapi hanya sedikit dan tidak seperti tadi," jawab Dean seraya memakai kembali kausnya. Pria itu juga kembali menguap lebar.


"Tidur saja bersama anak-anak di sana!" Ucap Felichia seraya tangannya menunjuk ke arah kasur.


Malam-malam sebelumhya, Dean memang selalu tidur di ruang depan di atas kursi kayu yang keras.


"Kau bagaimana?" Tanya Dean seraya mengerutkan kedua alisnya.


"Aku akan tidur di bawah sini," jawab Felichia seraya menunjuk ke karpet plastik yang kini mereka berdua duduki.


"Bagaimana kalau kau nanti masuk angin?" Tanya Dean khawatir.


Felichia menggeleng dengan cepat.


"Aku sudah biasa. Jadi tak akan masuk angin," jawab Felichia seraya meraih satu bantal dari atas tempat tidur.


"Aku akan tidur di bawah juga kalau begitu," Dean ikut-ikutan mengambil bantal dan menaruhnya di sebelah bantal Felichia.


"Dean!" Tegur Felichia dengan raut wajah tidak senang.


"Apa? Hanya tidur bersebelahan dan aku tidak akan melakukan apa-apa!" Sergah Dean yang sudah merebahkan tubuhnya di atas karpet plastik dan menatap ke arah langit-langit kamar.


"Lagipula, bercinta di atas lantai dan hanya beralaskan karpet plastik pasti rasanya sakit dan tidak nyaman." Lanjut Dean yang langsung membuat Felichia berdecak.


Felichia sudah ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Dean, tapi dengan posisi membelakangi pria tersebut.


"Kau masih belum berubah ternyata," gumam Felichia yang kini memunggungi Dean.


"Bagian mana yang belum berubah?" Tanya Dean seraya memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah Felichia yang masih memunggunginya.


"Sifat mesummu," Felichia tiba-tiba sudah berbalik dan wanita itu langsung kaget karena Dean yang ternyata juga sudah menghadap ke arahnya.


Dua orang itu seketika diam dan hanya saling menatap sekarang.


"Apa hukuman untukku masih belum selesai?" Tanya Dean yang akhirnya buka suara.


Felichia masih diam dan tak menjawab.


"Kapan kau akan bersedia ikut aku pulang ke rumah, Fe? Bersama ketiga anak kita," suara Dean mulai terdengar memelas.


"Bagaimana aku akan ikut pulang bersamamu, jika kau saja tak pernah memintaku menjadi istrimu," jawab Felichia yang seolah memberikan kode pada Dean.


Dean tertawa kecil, lalu segera bangun dan duduk.


"Tunggu sebentar disini dan aku akan segera kembali," pesan Dean sebelum pria itu melesat keluar dari kamar dengan cepat, meninggalkan Felichia yang masih terlihat bingung.


.


.


.


1500 kata + 4 eps untuk hari ini.


Yang nggak ngasih like, jempolnya cantengan!


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2