
Felichia sudah nyaris kehabisan nafas saat Erlan yang sejak tadi menggenggam tangan Felichia terus menyemangati Felichia. Pikiran Felichia campur aduk tak karuan sekarang ditambah rasa sakit yang kini ia rasakan membuat airmata Felichia tak berhenti mengalir.
Bukan rasa sakit karena kontraksi lagi. Tapi rasa sakit karena Felichia baru mengetahui fakta tentang pernikahan Erlan dan Navya. Dan Erlan serta Navya kenapa bisa menyembunyikan semuanya dengan begitu rapi satu bulan ini.
Erlan sudah membohongi Felichia!
Tapi Felichia juga sudah membohongi Erlan dengan mengatakan kalau bayi yang sebentar lagi akan lahir ini adalah bayi Erlan. Padahal ini bukan anak Erlan.
Ini anak Dean!
"Ayo sedikit lagi, Bu! Kepalanya sudah terlihat," Dokter kembali memberikan aba-aba agar Felichia menarik nafas panjang dan mengejan sekali lagi. Felichia menggenggam erat tangan Erlan dan segera mengejan dengan kuat mengerahkan semua sisa tenaga yang ia miliki. Hingga di detik berikutnya, suara tangisan dari bayi Felichia langsung bergema di dalam ruang bersalin. Ucapan syukur langsung terlantun dari bibir semua orang.
Tangis Felichia langsung pecah setelah mendengar tangisan dari bayi laki-laki yang baru saja Felichia lahirkan. Seorang perawat meletakkan bayi laki-laki ddngan pipi kemerahan itu di dada Felichia dan disaat bersamaan, kecupan Erlan juga langsung mendarat bertubi-tubi di wajah Felichia.
"Terima kasih, Sayang," bisik Erlan yang justru membuat hati Felichia terasa diiris sembilu.
Tidak!
Jangan berterima kasih Erlan!
Aku sudah menipumu!
Ini bukan anakmu!
Felichia hanya mampu menjerit-jerit dalam hati.
"Dia begitu lucu dan menggemaskan," Erlan mengusap lembut pipi gembil nan merah dari bayi laki-laki yang masih menggeliat di atas dada Felichia.
"Kita berikan nama siapa?" Tanya Erlan selanjutnya meminta pendapat Felichia.
"Ter-ter serah kau saja," jawab Felichia seraya menatap bayi mungil tak berdosa di atas dadanya tersebut. Wajahnya sekilas memang mirip Dean, tapi hati Felichia mendadak terasa menghangat saat menatap wajah mungil tersebut.
Ya,
Ini adalah bayi Felichia.
Persetan dengan siapapun ayah biologisnya, bayi ini tetaplah bayi Felichia.
Felichia akan menjaga bayinya ini dan tak akan membiarkan Dean mengambilnya dari pelukan Felichia.
****
Felichia dan bayinya sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Erlan masih belum menemukan nama yang pas untuk bayi laki-laki tersebut dan Felichia enggan memberikan ide apapun untuk nama bayinya.
Felichia hanya sedang bimbang dengan surat perceraian Erlan dan Navya yang ia temukan di meja kerja Erlan kemarin. Semalaman Felichia tak bisa tidur memikirkan tentang sudah sejauh mana hubungan Erlan dan Navya.
"Fe!" Teguran Erlan langsung bisa membuyarkan lamuna Felichia.
"Hai, kau sudah mandi?" Tanya Felichia pada Erlan yang tadi memang pamit mandi.
"Ya, kau sedang memikirkan apa?" Erlan balik bertanya.
Namun Felichia hanya menggeleng.
"Erlan boleh aku bertanya satu hal padamu?" Tanya Felichia tiba-tiba yang langsung membuat Erlan mengerutkan kedua alisnya.
"Bertanya apa?"
"Tentang perjanjianmu dengan Dean Alexander sebelum kita mengalami kecelakaan. Kau menjanjikan apa pada Dean agar dia mau menyelamatkan perusahaan Prakasa?"
Sudah lama Felichia ingin menanyakan hal ini pada Erlan karena waktu itu Mama Astri mengatakan kalau Erlan yang menjanjikan pada Dean tebtabg Felichia yang akan menjadi rahim pengganti
"Dean memintaku mencarikan rahim pengganti karena istrinya sakit dan tak bisa mengandung. Tapi aku belum sempat melaksanakan janjiku waktu itu dan tiba-tiba kita malah mengalami kecelakaan."
__ADS_1
"Dean tak membahasnya lagi sekarang dan sepertinya pria itu sudah melupakan perjanjian konyol diantara kami. Dan aku dengar, Dean juga sudah mendapatkan wanita lain sebagai rahim pengganti," jelas Erlan panjang lebar yang langsung membuat hari Felichia merasa perih.
Wanita lain?
Wanita lain itu adalah aku, Erlan!
Gumam Felichia dalam hati.
"Kau tadinya akan mencari rahim pengganti kemana untuk menenuhi janjimu pada Dean?" Tanya Felichia semakin menyelidik.
Erlan hanya mengendikkan bahu.
"Aku belum memikirkannya malam itu dan baru berencana mencari informasi keesokan paginya," jawab Erlan jujur.
"Kenapa tiba-tiba kau membahas hal itu, Fe?" Tanya Erlan bingung.
Felichia menggeleng.
"Tidak aku hanya penasaran karena malam itu kau belum menceritakannya kepadaku."
"Iya, aku pikir karena perjanjian itu batal, jadi aku tak menceritakannya kepadamu hingga kini. Lagipula, Dean juga tak pernah membantu perusahaan Prakasa."
"Perusahaan tak mungkin bangkrut andai Dean membantu waktu itu dan aku tidak terbaring koma," lanjut Erlan seraya tersenyum kecut.
Felichia memilih untuk tak menanggapi karena kini bayinya menangis dinfalam box bayi.
Erlan bergegas menggendong bayi mungil tersebut dan memberikannya oada Felichia untuk disusui.
"Erlan, aku boleh bertanya satu hal lagi?" Tanya Felichia dengan hati-hati.
"Ya, tentu," jawab Erlan santai.
"Aku menemukan surat cerai di atas meja kerjamu kemarin."
"Aku bisa menjelaskan soal itu, Fe!" Erlan mulai terlihat panik.
"Pernikahan itu hanya sebuah kekhilafan! Aku tak bermaksud untuk mengkhianatimu!" Erlan sudan mendekat ke arah Felichia da mencoba menjelaskan.
"Aku pikir kau sudah meninggalkan aku, lalu Navya datang dan mearwatku dengan sepenuh hati, jadi aku-" suara Erlan tercekat di tenggorokan.
"Aku-"
"Kau jatuh cinta pada Navya?" Tebak Felichia melanjutkan kalimat yang tak mampu diucapkan oleh Erlan.
"Aku minta maaf!" Lirih Erlan memohon.
"Tapi aku dan Navya sudah sepakat untuk berpisah dan melupakan semuanya," lanjut Erlan bersungguh-sungguh.
"Aku hanya mencintaimu, Fe!" Erlan menggenggam tangan Felichia.
"Dan bayi kita," lanjut Erlan yang sudah ganti mengusap pipi bayi mungil Felichia yang masih asyik menyusu.
"Tapi kau akan menyakiti hati Navya, Erlan! Kau tidak seharusnya langsung menceraikan Navya," pendapat Felichia denganmata berkaca-kaca.
"Navya yang minta kami berpisah. Navya juga yang memintaku untuk menjadi suami seutuhnya untukmu dan ayah yang baik untuk bayi kita-"
Suara ketukan di pintu membuat Erlan urung melanjutkan kalimatnya. Pintu dibuka dari luatr sedetik kemudian, dan seorang pria yang seadng tidak ingin Felichia lihat berdiri dengan pongah di depan pintu kamar perawatan.
Sial!
Bagaimana dia tahu Felichia sudah melahirkan?
"Dean," sambut Erlan yang langsung mempersilahkan Dean untuk masuk ke dalam kamar perawatan.
__ADS_1
Felichia segera mendekap erat bayinya seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Istrimu sudah melahirkan, Erlan?" Tanya Dean begitu manis namun terdengar begitu memuakkan di telinga Felichia.
"Ya. Bayi kami laki-laki," jawab Erlan begitu antusias.
"Hmmm, tapi aku lihat wajahnya tidak mirip denganmu," ucapan Dean langsung membuat senyuman Erlan pudar.
"Apa kau sudah bertanya ke istrimu, barangkali dia sudah selingkuh denga pria lain saat kau koma-"
"Dasar brengsek! Apa yang kau katakan, Dean?" Murka Erlan yang sudah menarik kerah baju Dean. Namun raut pongah di wajah Dean tidak langsung hilang dan malah terlihat semakin menyebalkan.
"Istriku tak mungkin berselingkuh dengan pria lain!" Gertak Erlan lagi menatap marah pada Dean.
"Kau yakin? Lalu kenapa bayi laki-laki itu tak mirip denganmu dan malah mirip wajahku?" Tanya Dean yang langsung membuat Erlan membeku.
Erlan menoleh dengan cepat ke arah bayinya yang sedang dipangku oleh Felichia dan ingin memperhatikan wajah mungil itu dengan seksama. Namun Felichia malah langsung mendekap bayi tersebut dan tak mau memperlihatkan wajahnya pada Erlan.
"Tanya kan pada istri yang kau cintai itu, dia mengandung anak siapa!" Gertak Dean sekali lagi pada Erlan yang sudah mendekati Felichia.
Namun Felichia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tetap mendekap erat bayinya seolah takut kalau Dean akan mengambilnya.
"Dia anakku, kan, Fe?" Tanya Erlan memohon pada Felichia yang terus saja menggeleng
"Katakan kalau ini adalah anakku, Fe!" Paksa Erlan setengah berteriak.
"Maaf!" Hanya kata itu yang mampu Felichia ucapkan. Wanita itu terus saja mendekap bayinya dan mulai menangis.
"Istrimu adalah seorang rahim pengganti, Erlan! Dan bayi yang baru saja ia lahirkan, itu adalah anakku, bukan anakmu!" Ucap Ddan lantang yang langsung membuat raut wajah Erlan berubah kecewa.
"Felichia sudah menipumu dan mengatakan kalau itu adalah anakmu padahal itu adalah anakku!" Lanjut Dean lagi yang semakin membuat raut kekecewaan di wajah Erlan kian terlihat nyata.
"Tidak mungkin! Katakan kalau ini tidak mungkin, Fe!" Bentak Erlan pada Felichia yang semakin menangis tergugu.
"Maafkan aku, Erlan! Maafkan aku!"
"Berarti benar itu anak Dean?" Erlan sudah beringsut mundur dan menjauhi Felichia sebelum kemudian pria itu berlari keluar, dari kamar perawatan untuk meluapkan emosinya.
Dean seolah tak menyia-nyiakan kesempatan, dan langsung merebut bayi yang ada di dekapan Felichia.
"Berikan anakku!" Gertak Dean galak pada Felichia yang keras kepala.
"Berikan!" Dean terus memaksa saat dua orang bodyguard masuk ke kamar perawatan Felichia dan membatu Dean memisahkan Felichia dan bayinya.
"Jangan bawa anakku, Dean!" Felichia memohon sambil bersimbah airmata.
Namun jiwa iblis Dean begitu kuat dan pria itu sama sekali tak peduli pada ratapan Felichia.
"Dean! Kembalikan anakku!" Teriak Felichia yang betusaha untuk betanjak dari atas bed perawatan mengabaikan rasa sakit di pangkal paha serta jarum infus yang masih menancap di tangannya.
"Dean!" Felichia mengejar Dean dengan tertatih hingga akhirnya wanita itu ambruk tepat di depan pintu kamar perawatan, dan Dean yang sudah semakin jauh membawa bayi laki-lakinya.
"Dean, kembalikan anakku!"
.
.
.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.