
"Dean!"
"Hmmm!" Dean hanya bergumam masih sambil memejamkan mata.
"Dean!" Felichia mengguncang tubuh Dean sekali lagi.
"Apa?" Jawab Dean yang malah mendekap Felichia tapi matanya tetap terpejam.
"Princess-" Felichia meringis karena kontraksi yang kembali datang.
Wanita itu menarik nafas panjang berulang kali.
"Princess kenapa?" Tanya Dean yang akhirnya membuka mata.
Tangan pria itu mengusap perut Felichia yang sudah terasa kencang.
"Fe?" Wajah Dean sesaat berubah bingung.
"Princess mau lahir. Ayo ke rumah sakit!" Ajak Felichia yang kembali meringis karena kontraksi yang sudah kembali datang.
"Serius?" Dean langsung terlonjak bangun dan mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk.
Pria itu melirik ke jam di atas nakas yang menunjukkan pukul dua dinihari.
"Ayo, Dean!" Ajak Felichia sekali lagi seraya turun dari atas tempat tidur. Dean buru-buru membantu istrinya tersebut untuk berjalan keluar dari kamar.
"Aku gendong?" Tawar Dean yang langsung ditolak oleh Felichia.
Felichia memilih untuk berjalan saja ke mobil sambil dituntun oleh Dean. Tak berselang lama, mobil Dean sudah melaju meninggalkan kediaman Alexander.
****
"Sudah lengkap bukaannya," ucap Dokter yang langsung mengarahkan Felichia ke posisi yang pas.
"Aku keluar saja, ya!" Usul Dean yang wajahnya terlihat panik dan sedikit pucat.
"Jangan kemana-mana!" Felichia menahan lengan Dean san meminta suaminya tersebut untuk tetal berada di sisinya.
"Aku harus bagaimana?" Tanya Dean bingung seperti suami yang baru pertama kali menemani istrinya melahirkan.
Ah, tapi ini memang yang pertama untuk Dean menemani Felichia melahirkan, meskipun sebenarnya ini adalah anak keempat mereka.
"Pegang tanganku, dan jangan kemana-mana!" Jawab Felichia galak karena menahan sakitnya kontraksi yang kembali datang.
"Ayo mengejan, Bu!" Dokter memberikan aba-aba pada Felichia. Namun Dean yang berada di samping Felichia ikut-ikutan mengejan mengikuti instruksi dokter.
"Kau kenapa?" Tanya Felichia bingung karena Dean yang malah ikut-ikutan mengejan dengan mimik wajah menggelikan.
__ADS_1
"Memberikanmu semangat," jawab Dean tanpa dosa.
"Tarik nafas dulu, Bu!" Ucap dokter dan Felichia langsung menarik nafas panjang sebelum kembali mengejan.
"Iya begitu, Sayang!"
"Ayo! Ayo!" Dean berteriak tak karuan sambil masih ikut mengejan dan memberikan Felichia semangat.
"Diamlah, Dean!" Gertak Felichia galak karena suara berisik suaminya itu yang malah membuat Felichia tak bisa konsentrasi dan mengejan dengan baik.
"Aku hanya memberimu semangat, Sayang!"
"Begini," Dean menunjukkan pada Felichia cara mengejan dengan mimik wajah yang menggelikan itu lagi dan membuat Felichia antara ingin marah dan ingin tertawa.
Dokter dan perawat yang ada di ruang bersalin ikut menahan tawa mereka melihat tingkah konyol Dean.
"Aduh."
Kontraksi kembali datang dan Felichia langsung menarik nafas panjang, sebelum kembali mengejan saat Dean kembali ikut-ikutan mengejan di samping Felichia.
"Dean!"Felichia memukul-mukul lengan suaminya dengan barbar karena rasa sakit yang teramat serta rasa kesal pada tingkah konyol Dean.
"Keluar sana!" Usir Felichia pada Dean sambil masih terus menyambung nafas untuk mengejan, hingga akhirnya terdengar suara tangis bayi yang merobek heningnya dinihari.
Wajah Dean langsung berbinar bahagia, saat melihat sang putri yang akhirnya lahir ke dunia. Dean tak berhenti menciumi wajah Felichia sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang atas semua perjuangan Felichia pagi ini.
"Wajahnya mirip kau juga," pendapat Felichia seraya mengusap pipi lembut bayi perempuannya tersebut.
"Nanti kita buat lagi yang mirip denganmu setelah Elleanore lulus ASI." Jawab Dean enteng.
"Siapa?" Felichia mengernyit karena Dean yang ternyata sudah menyiapkan nama untuk sang putri.
"Elleanore." Jawab Dean seraya menatap pada Felichia.
"Artinya bersinar terang," lanjut Dean lagi yang tangannya sudah ganti mengusap wajah Felichia.
"Nama yang cantik," puji Felichia seraya tersenyum ke arah Dean.
"Terima kasih, Fe! Karena sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan anak-anak kita," ucap Dean tulus sebelum pria itu mengecup kening Felichia. Lalu ganti ke kening Elleanore yang masih berada di dada Felichia. Bayi kecil itu akhirnya berhasil menemukan sumber makanannya, dan kini ia mulai belajar menghisap.
"Kita buat yang kelima setelah ini, ya!" Rayu Dean selanjutnya pada Felichia.
"Tidak, aku sudah lelah, Dean!" Tolak Felichia cepat.
"Nanti aku gendong kalau lelah," ujar Dean dengan santainya.
"Kau kan hanya perlu hamil dan makan enak, yang ngidam dan mual aku," lanjut Dean lagi yang seolah merasa bangga karena sudah menggantikan Felichia morning sickness selama tiga kali hamil.
__ADS_1
"Baiklah, nanti aku pikir-pikir lagi setelah Elleanore lulus ASI," jawab Felichia akhirnya yang langsung nembuat Dean bersorak senang.
"Tapi Elleanore harus lulus ASI dulu!" Felichia mengulangi syarat yang tadi ia ajukan.
"Iya, Istriku Sayang!" Dean mengecup bibir Felichia lalu mengusap lembut kepala sang putri yang sudah pandai menghisap-hisap ASI dari dada Felichia.
"Enak, ya, Sayang?" Tanya Dean pada Baby El.
"Nanti Dad ngicipin dikit, ya!" Lanjut Dean yang langsung berhadiah cubitan di lengannya dari Felichia.
"Auuw! Kamu barbar, Sayang!" Dean mencium gemas kedua pipi Felichia.
"Ketimbang kamu? Mesum!" Balas Felichia seraya terkekeh.
"Apanya yang mesum? Aku kan cuma minta izin ke Baby El buat ngicipin ASI kamu sedikit," kilah Dean mencari alasan.
"Sudahlah!" Felichia hanya berdecak dan enggan membahasnya lagi.
"Ngomong-ngomong, aku libur berapa hari setelah ini?" Tanya Dean setengah berbisik pada Felichia, setelah pria itu melihat ke pangkal paha Felichia yang tadi di pakai Baby El lewat.
"Enam bulan," jawab Felichia asal.
"Lama sekali." Dean sontak merengut.
"Aaron saja hanya libur dua bulan saat putrinya lahir," lanjut Dean lagi tetap merengut.
"Itu tahu! Masih saja bertanya." Felichia menangkup gemas bibir Dean yang merengut seperti ikan koi.
"Nanti sudah nggak sakit setelah dua bulan?" Tanya Dean penasaran.
"Nggak tahu!" Felichia mengendikkan kedua bahunya.
"Yang sebelumnya suami aku masih tersesat, jadi liburnya berbulan-bulan," sambung Felichia lagi yang sudah ganti tergelak.
"Tersesat? Berubah pikun lebih tepatnya," timpal Dean yang ikut-ikutan tergelak.
"Aku lapar, Sayang," keluh Felichia selanjutnya pada Dean.
"Akan kusuruh maid mengantar makanan," Dean mengecup kening Felichia sebelum pria itu merogoh ponselnya dan menghubungi maid di rumah.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.