Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
KEJUTAN ISTIMEWA


__ADS_3

Dean mendaratkan tubuh Felichia ke atas tempat tidur yang kini dipenuhi oleh kelopak bunga mawar. Felichia meraba-raba sekitarnya dan memungut beberapa kelopak mawar yang berwarna merah tersebut. Dan saat itulah Felichia sadar kalau bukan hanya bagian ranjang yang dipenuhi oleh kelopak bunga mawar, tapi juga seluruh lantai kamar serta sudut kamar yang penuh dengan rangkaian bunga segar.


"Kau yang menyiapkan semuanya, Dean?" Tanya Felichia yang kini sudah berganti posisi menjadi duduk. Felichia ingat pada gaunnya yang kotor, jadi wanita itu buru-buru beranjak dari atas tempat tidur agar tak mengotori sprei.


"Tentu saja bukan, Sayang!" Dean sudah menghampiri Felichia dan menyibak rambut istrinya tersebut lalu mengecup belakang telinga Felichia dengan sangat intim hingga membuat Felichia sedikit menggeliat.


"Aku akan mandi dan berganti baju," ucap Felichia yang masih berusaha menghentikan tingkah polah mesum Dean.


Sebaiknya Felichia memag menghentikannya sebelum Dean merasa tersiksa karena tak akan bisa menuntaskannya hari ini dan besok, ddan besoknya lagi. Mungkin empat hari lagi Dean baru bisa balas dendam.


"Aku akan memandikanmu," Dean masih belum berhenti menciumi leher dan tengkuk Felichia serta menyematkan beberapa tanda kemerahan di sana.


"Aku masih bisa mandi sendiri, Dean! Aku tidak mau kau-" kalimat Felichia terhenti begitu saja dan kedua bola mata istri Dean itu juga langsung membelalak saat Dean tiba-tiba sudah meletakkan tangan Felichia di atas miliknya yang masih tertutup oleh celana panjang.


"Terlambat!"


"Aku sudah bergairah, Istriku!" Ucap Dean dengan nada melas.


"Bukan salahku!" Jawab Felichia yang sudah dengan cepat menarik tangannya dari milik Dean yang sudah terasa mengeras.


Ya ampun!


"Bantu aku kalau begitu!" Pinta Dean masih mempertahankan wajah melasnya.


"Membantu bagaimana? Aku sedang ada tamu bulanan, Dean!" Jawab Felichia mencari alasan.


"Tidak usah pura-pura polos," Dean sudah mengusap lembut bibir Felichia yang terlihat merah merekah dan semakin membuat Dean bergairah.


Dean mengecup bibir merekah Felichia, melanjutkan ciuman mereka tempo hari yang belum selesai karena terpergok Richard. Felichia hanya diam dan wanita itu sudah memejamkan mata seperti biasa, lalu sedikit membuka bibirnya agar lidah Dean bisa menelusup masuk dan menjelajah kebih dalam lagi.


Felichia mengalungkan kedua lengannya di leher Dean, dan Dean sudah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Felichia. Dean dan Felichia semakin memperdalam ciuman mereka, hingga nafas keduanya sama-sama memburu.


Disaat itulah, Felichia tiba-tiba sudah mendorong tubuh Dean hingga pria itu terduduk di atas ranjang dan sedikit tersentak kaget. Dean bekum jadi buka suara, saat Felichia sudah dengan cepat menggeser gesper celana Dean, lalu membuka kancing dan ritsletingnya, lalu tanpa basa basi lagi, Felichia sekalian membuka underwear Dean.


Milik Dean yang sudahbtegak menantang langsung menyembul keluar seolah baru saja terbebas dari penjara underwear yang menyesakkan.


Felichia menggenggam milik Dean tersebut, dan mengurutnya beberapa kali sebelum kemudian wanita itu menggigit bibir bawahnya dan menatap ke arah Dean seolah sedang minta izin.


"Lakukan," ucap Dean yang kepalanya sudah dipenuhi okeh kabut gairah.


Felichia tak menunggu lagi dan segera mengul*m milik Dean dengan lembut tapi pasti. Deanterlohat begitu menikmati hingga erangan demi erangan terus kekuar dark tenggorokan suami Felichia tersebut.


Felichia terus memberikan sentuhan yang terbaik pada milik Dean dengan mulut dan lidahnya hingga erangan Dean semakin tak terkendali.

__ADS_1


"Iya begitu, Fe!"


"Lebih cepat!" Dean memberikan aba-aba, agar Felichia mempercepat gerakan oralnya.


"Lebih cepat!"


"Aku hampir...."


"Aaaaargh!" Dean mengerang dengan kuat bersamaan dengan cairan putih yang kini memenuhi tangan Felichia.


Ya, setidaknya Felichia tadi tahu, kapan Dean akan mencapai pelepasannya. Hingga Felichia bisa melepaskan milik Dean tepat waktu dari dalam mulutnya dan benih-benih Dean Junior yang gagal tumbuh itu tak perlu tumpah di dalam mulut Felichia.


Dean langsung merebahkan tubuhnya sendiri di atas tempat tidur dan pria itu mebatap langit-langit kamar sekaligus tersenyum penuh kemenangan.


"Kau luar biasa, Fe!" Gumam Dean yang masih tersenyum bahagia.


"Anggap saja itu bekal sampai tamu bulananku pergi," jawab Felichia seraya mengecup singkat bibir Dean.


"No!"


"Aku mau kau melakukannya besok, dan besok, dan besok lagi-" Dean menuntut lebih.


"Dasar curang!" Gerutu Felichia seraya memukul dada Dean, sebelum kemudian sanita itu berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


****


Felichia yang sudah sekesai mandi, segera turun ke lantai bawah untuk memeriksa tiga jagoannya yang sejak tadi tak terdengar jerit tangisnya. Biasanya saat Felichia tinggal mereka akan sibuk mencari-cari Felichia.


Dan sekali lagi Felichia harus dibuat terperangah dengan pemandangan yang ada di halaman samping rumah besar Dean.


Halaman yang dulunya adalah sebuah taman tersebut kini sudah menjelma menjadi taman bermain anak, lengkap dengan istana balon, kolam mandi bola, perosotan, ayunan, serta ring basket. Dan jangan lupakan trampolin kecil yang ada di sudut haaman serta tiga mobil-mobilan berukuran besar yang bisa dinaiki oleh Richard, Gika, dan Naka.


Astaga!


Dean benar-benar menghamburkan uangnya tanpa perhitungan untuk anak-anaknya.


"Mom!" Seru Richard yang wajahnya terlihat berbinar bahagia. Bocah empat tahun itu langsung memeluk Felichia disusul oleh Gika dan Naka yang juga berlari kd arah Felichia dengan langkah kecil mereka.


"Disini ada banyak mainan, Mom! Ada istana, perosotan-" Richard bercerita dengan sangat antusias dan Felichia hanya mengangguk-angguk seraya tersenyum seolah ikut merasakan kebahagiaan yang kini dirasakan oleh Richard dan kedua adiknya.


"Bola!"


"Mobil!"

__ADS_1


Gika dan Naka ikut bercerita dengan bahasa mereka yang masih sepenggal-sepenggal. Namun tentu saja Felichia bisa langsung paham karena Felichia adalah Mom mereka.


"Gika mau naik mobil?" Tawar Felichia seraya menunjuk ke arah mobil jeep warna putih berukuran besar di sisi taman bermain. Seorang pengasuh membantu menyalakan mobil tersebut, dan Felichia segera mendudukkan Gika dan Naka berjejer di dalam mobil.


Mobil sudah bisa berjalan sendiri mengelilingi area permainan yang begitu luas. Gika dan Naka terlihat senang sekali dan dua bocah itu berebut untuk menekan klakson. Sedangkan Richard sudah kembali sibuk melompat-lompat di atas trampolin lagi.


"Ehem!" Deheman Dean langsung membuat Felichia menoleh dan menghambur ke pelukan suaminya tersebut.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Dean meminta pendapat dan penilaian Felichia atas semua kejutan yang ia berikan untuk ketiga anak mereka.


"Luar biasa!" Hanya dua kata itu yang mampu Felichia ungkapkan.


"Semuanya begitu...."


"Sempurna," Felichia menatap Dean dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kau dan anak-anak pantas mendapatkan semuanya, Fe!" Dean kembali merangkul Felichia dan menghapus butir bening di pelupuk mata Felichia.


"Anggap saja ini sebagai penebus rasa bersalahku karena selama tiga tahun kemarin aku sudah membiarkan kau dan anak-anak hidup dalam keprihatinan-"


"Sssttt!" Felichia meletakkan telunjuknya di bibir Dean dan meminta Dean untuk tak melanjutkan kalimatnya.


"Semuanya sudah berlalu."


"Terima kasih atas semua kejutan istimewa ini, Dean!" Ucao Felichia yang kembali menghambur ke dalam pelukan Dean.


"Terima kasih juga karena sudah memberiku tiga jagoan yang begitu lucu dan menggemaskan." Balas Dean seraya mengeratkan dekapannya pada Felichia.


"Dan aku sudah tak sabar untuk kembali menghamilimu, dan membuat rumah ini penuh dengan suara dan tawa anak-anak kita nanti," lanjut Dean yang hanya membuat Felichia tertawa.


.


.


.


Harusnya udah tamat, ya?


😅😅😅


Terimakasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2