Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
JANJI DEAN


__ADS_3

"Dean," panggil Melanie lirih pada Dean yang tertidur disisi bed perawatan.


"Dean," Melanie menggoyangkan tubuh suaminya tersebut.


"Hmmm!" Dean menggeliat dan segera mengangkat kepalanya. Kefua mata pria itu masih merah, mungkin karena mengantuk.


"Kau sudah bangun, Sayang!" Tanya Dean yang langsung memeriksa kondisi Melanie.


"Dean, Felichia kemana?" Tanya Melanie yang langsung ingat pada Felichia.


Dean tak langsung menjawab dan diam beberapa saat.


"Felichia kemana, Dean?" Tanya Melanie sekali lagi.


"Dia sedang menemui abangnya." Jawab Dean berbohong sekali lagi.


"Jangan bohong, Dean!" Gertak Melanie.


"Apa Felichia kabur membawa anak kita?" Tanya Melanie yang langsung membuat Dean membisu.


"Benar, Felichia kabur?" Tanya Melanie sekali lagi.


"Maaf," ucap Dean lirih melempar tatapan penuh rasa bersalah ke arah Melanie.


"Tapi aku akan segera menemukannya dan membawa pulang bayi kita, Mel!"


"Aku janji!" Lanjut Dean berjanji dengan sungguh-sungguh.


Melanie mengangguk.


"Bujuk Felichia baik-baik dan jangan bersikap kasar jika kau menemukannya, Dean!" Pesan Melanie yang hanya diiyakan oleh Dean.


"Tapi kau juga harus mengikuti pengobatanmu dengan benar, Mel!" Gantian Dean yang mengajukan syarat.


"Aku mau kita membesarkan bayi kita bersama-sama nantinya," Dean meraih tangan Melanie lalu mengecupnya cukup lama. Sementara Melanie hanya mampu tersenyum kecut.


"Ya!" Pinta Dean sekali lagi seraya menatap memohon pada Melanie.


Melanie akhirnya mengangguk dan mengusap wajah Dean.


****


"Apa ada yang baru datang kemari?" Tanya Erlan pada Felichia.


Suami Felichia itu memang baru pulang dari kantor dan hari sudah beranjak malam.


"Ya, tadi Navya di sini sepanjang siang. Dan dia juga menemaniku makan siang," jawab Felichia sedikit bercerita.


"Oh, ya?"

__ADS_1


"Pantas saja dia tidak ke kantor dan aku harus menggantikan dia di semua pertemuan penting," gumam Erlan yang masih tak mengerti kenapa Navya malah menjalin keakraban dengan Felichia.


Bukankah seharusnya wanita itu menjauhi Felichia, jika memang ia mau berpisah dari Erlan?


"Tunggu! Kau dan Navya kerja di kantor yang sama?" Tanya Felichia yang sepertinya terlihat kaget.


"I...ya!" Erlan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Apa aku belum pernah cerita?" Tanya Erlan pura-pura lupa.


Felichia menggeleng.


"Aku bekerja di perusahaan Orlando sejak perusahaan Papa bangkrut," jelas Erlan akhirnya membuat pengakuan pada Felichia.


"Navya memintaku menjadi tangan kanannya. Dia seorang nona direktur," lanjut Erlan lagi yang hanya membuat Felichia mengangguk dan mengulas senyum tipis.


"Berarti kalian memang dekat dan akrab, ya?" Tebak Felichia seraya tertawa kecil.


"Hanya dalam hal pekerjaan."


"Navya dan Abang Matthew adalah orang yang baik," ujar Erlan memuji Navya dan sang abang ipar.


"Ngomong-ngomong, dia aktif hari ini?" Erlan sudah ganti mengusap perut Felichia dan mengecupnya berulang kali.


"Sangat aktif seperti biasa." Jawab Felichia seraya tertawa kecil.


"Bagus! Kita periksa saja sekarang," cetus Erlan bersemangat.


"Aku tak sabar melihat wajah jagoan kecil kita. Apa mirip aku atau mirip kau," ucap Erlan lagi yang masih bersemangat dan begitu antusias.


Berbeda dengan Felichia yang langsung memudarkan senyum di bibirnya.


Mirip Erlan?


Bagaimana mungkin anak ini akan mirip Erlan jika yang menanam benihnya adalah Dean Alexander sialan itu.


"Mmmm, aku rasa Minggu depan saja kita periksanya, Erlan! Aku baru bertemu dokter kandungan seminggu yang lalu," Felichia mencari alasan.


Namun Erlan menggeleng keras kepala.


"Aku maunya malam ini, titik" ucap Erlan tak mau dibantah.


"Aku akan mandi sebentar, lalu kita perginke klinik," ujar Erlan yang sudah beranjak dari duduknya.


Erlan mengecup kening Felichia yabg tak kuasa lagi menolak keinginan Erlan untuk melihat calon bayi Felichia.


"Kau belum makan, Erlan!" Seru Felichia mengingatkan Erlan.


"Nanti saja setelah periksa!" Jawab Erlan ikut-ikutan berseru.

__ADS_1


****


Erlan menatap dengan antusias layar monitor yang menampilkan sesosok makhluk mungil yang kini menggeliat di dalam hangatnya rahim Felichia.


"Hidungnya mirip kamu, Sayang!" Ucap Erlan seraya tersenyum.


Pria itu memperhatikan bagian lain dari sang calon bayi seolah sedang mencari sesuatu yang mirip Erlan.


Sayangnya tidak ada.


"Hmmm, aku kebagian mirip apanya, sih?" Tanya Erlan yang masih mencari-cari.


"Bibirnya," celetuk Felichia mencoba meyakinkan Erlan.


"Beda kayaknya," bantah Erlan seraya mengusap bibirnya sendiri.


"Tidak ada yang mirip aku," wajah Erlan sedikit kecewa.


"Mungkin nanti saat dia lahir akan mirip denganmu, Erlan! Jangan sedih begitu!" Hibur Felichia seraya mengusap lengan Erlan yang sejak tadi tak beranjak dari sisinya.


Felichia menatap sekilas ke layar monitor, dan ke wajah calon bayinya. Wajah brengsek Dean yang langsung terbayang di benak Felichia saat menatap wajah calon bayinya.


Sial!


Kenapa harus mirip Dean?


Ah, tapi itu memanglah anak Dean.


Tentu saja dia mirip Dean.


"Kau benar. Mungkin nanti saat dia sudah lahir, wajahnya akan langsung setampan Dad-nya," Erlan menepuk dadanya sendiri dan Felichia hanya mampu tersenyum serta pura-pura ikut bahagia.


Tentu saja calon bayi Felichia mirip Dad-nya.


Dad-nya yang brengsek, menyebalkan, dan membuat Felichia ingin mencekiknya.


.


.


.


Pura-pura bahagia mah gampang.


Pura-pura langsing yang susah.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2