Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
ANEH


__ADS_3

Dean terbangun dari tidurnya saat samar-samar mendengar tangisan Richard dark kamar sebelah. Badan Dean tiba-tiba terasa remuk redam apa mungkin karena ia yang terlalu bersemangat semalam?


Kepala Dean juga terasa berdentum.


Dean meraba-raba tempat tidur di sekelilingnya untuk mencari keberadaan Felichia yang semalam membuatnya begitu dimabuk kepayang. Tapi Felichia tidak ada.


Apa?


Dimana baby sitter Richard itu?


Dan kenapa tempat tidur Felichia begitu rapi. Dean juga sudah mengenakan bajunya seperti saat semalam ia masuk ke kamar Felichia, sebuah kaus lengan pendek dan sebuah celana rumahan.


Tapi perasaan semalam Dean melucuti baju-bajunya dan dia sama sekali tak ingat saat memakainya kembali. Tidak mungkin yang terjadi semalam adalah mimpi 'kan?


Dean mencari-cari jejak Felichia di atas tempat tidur yang mungkin saja tertinggal. Namun tidak ada!


Wanita itu juga tidak ada di dalam kamar.


Kenapa ini begitu aneh?


Dean cepat-cepat beranjak dari atas tempat tidur Felichia dan berjalan keluar kamar. Langit sudah terang saat Dean keluar dari kamar Felichia. Pria itu langsung masuk ke dalam kamar Richard dan meyakini kalau Felichia pastilah ada di dalam kamar putranya tersebut.


Pintu kamar Richard sudah setengah terbuka, dan Dean segera mendorongnya agar pintu itu terbuka lebih lebar. Felichia terlihat sedang memakaikan baju untuk Richard, dan wanita itu sudah tak lagi mengenakan piyamanya yang semalam.


"Pagi, Dean! Kau sudah bangun?" Sapa Felichia hangat seperti biasa.


Tak ada raut kemarahan atau raut wajah lainnya seolah memang tak pernah terjadi apa-apa di antara Felichia dan Dean semalam.


Padahal Dean ingat betul kalau ia semalaman sudah mencecap tubuh sintal nan menggiurkan Felichia di kamar. Mustahil wanita itu bisa bersikap biasa saja pagi ini seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara dirinya dan Dean.


"Dean, kau melamun?" Tegur Felichia yang langsung membuyarkan lamunan Dean yang pagi ini terlihat seperti orang linglung.


"Chia, tadi malam..." Dean bingung harus mulai bertanya darimana.


Tidak mungkin Dean bertanya to the point apa semalam ia dan Felichia bercinta.


"Kenapa aku bisa tertidur di kamarmu?" Tanya Dean pura-pura bingung.


Tidak!


Dean memang sedang bingung sekarang.


"Oh, soal itu," Felichia tiba-tiba malah tertawa kecil. Wanita itu mengangkat tubuh Richard lalu menggendongnya menggunakan geos seraya memberikan dot susu pada putra semata wayang Dean tersebut.


"Aku juga tidak tahu kenapa kau tidur di kamarku semalam."

__ADS_1


"Kau mengantarkan aku coklat panas, lalu aku merasa kegerahan, jadi kau menyarankan aku untuk mandi." Jelas Felichia panjang lebar.


"Lalu setelahnya?" Tanya Dean tak sabar.


"Setelahnya, kau sudah tidur di atas tempat tidurku saat aku keluar dari kamar mandi. Jadi aku minta kepala maid untuk membangunkanmu, tapi kau tak kunjung bangun, jadi aku memutuskan pindah ke kamar Richard saja dan tidur bersama Richard," jelas Felichia panjang lebar menceritakan kronologi kejadian semalam pada Dean.


Dean terlihat semakin bingung.


"Kau yakin tidak sedang berbohong, Chia?" Tanya Dean yang masih merasa kalau ada yang janggal dengan cerita Felichia.


"Kau bisa bertanya pada kepala maid jika merasa ragu," saran Felichia sebelum wanita itu berlalu keluar dari kamar masih sambil menggendong Richard. Felichia membawa Richard ke halaman depan agar bayi itu bisa menghirup udara segar.


Sementara Dean masih berdiri dan otaknya sedikit linglung mencerna cerita Felichia barusan. Mustahil yang Dean rasakan semalam itu hanya mimpi. Semuanya terasa begitu nyata. Bahkan aroma harum dari tubuh Felichia masih begitu melekat di kepala dan pikiran Dean.


Dan satu hal yang tadi malam juga membuat Dean bertanya-tanya adalah wajah Chia yang sekilas mirip Felichia saat Dean melepaskan kacamata wanita itu. Tapi pagi ini, wajah Chia sudah terlihat berbeda lagi dan tak lagi mirip Felichia.


Apa otak Dean sudah mulai linglung sekarang?


Kenapa ini membingungkan sekali?


"Tuan Dean, maaf." Kepala maid sudah mendekat ke arah Dean dan sepertinya hebdak melaporkan sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Dean yang pikirannya masih mengembara kemana-mana.


"Kata Tuan Aaron ponsel anda tidak aktif, jadi Tuan Aaron menelepon ke rumah," jelas kepala maid panjang lebar. Dean melirik jam yang tergantung di ruang tengah. Masih ada waktu sekitar satu jam lagi.


"Ya, aku akan ke kantor sebentar lagi," jawab Dean dengan nada datar.


"Ngomong-ngomong, apa kaj tahu kenapa aku tidur di kamar Chia semalam?" Dean akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya pada kepala maid.


"Maaf jika jawaban saya menyinggung anda, Tuan! Tapi semalam saya menemukan botol minuman di meja dapur dan saya rasa anda sedikit mabuk saat mengantarkan coklat panas untuk Nona Chia. Jadi anda mengira sedang berada di kamar dan tidur begitu saja di kamar Nona Chia."


"Saya dan Nona Chia sudah mencoba membangunkan anda berulangkali, tapi anda tidur pulas sekali. Jadi Nona Chia memutuskan untuk tidur di kamar Tuan Muda Richard," jelas kepala maid panjang lebar yang serupa dengan jawaban Chia.


Ya,


Sepertinya otak Dean yang linglung disini.


Mungkin yang semalam Dean rasakan itu hanyalah sebuah mimpi karena Dean yang begitu ingin memiliki Chia.


Baby sitter Richard itu benar-benar sudah membuat Dean tergila-gila dan menjadi seperti orang sinting. Jika Dean tak kunjung bisa menaklukkan hatinya, Dean akan benar-benar menjadi gila.


****


Chia dan Richard masih berada di halaman depan saat Dean hendak berangkat ke kantor. Chia sedang menatih Richard yang memang sudah suka berdiri dan sepertinya sudah tak sabar untuk segera berjalan serta berlari menendang bola.

__ADS_1


"Hai, Jagoan Dad!" Sapa Dean seraya mengangkat tubuh Richard tinggi-tinggi. Bayi sepuluh bulan itu langsung tertawa lucu, membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa gemas.


"Sudah mau berlari, hmmm?" Tanya Dean yang sudah ganti menciumi wajah Richard berulang kali.


"Mungkin sebentar lagi akan berlari mengejar Dad-nya," sahut Felichia yang ikut tersenyum menyaksikan kedekatan Dean dan Richard.


Bukan senyuman tulus tentu saja.


Tapi, mana Dean tahu?


"Kau ingat untuk membawa Richard ke rumah sakit pagi ini, kan?" Tanya Dean yang kembali mengingatkan Felichia.


"Iya, aku ingat, Dean!" Jawab Felichia seraya mengangguk.


"Nanti telepon saja jika ada sesuatu," pesan Dean sebelum pria itu memberikan Richard pada Felichia.


"Iya," Felichia mengangguk sekali lagi.


"Dad ke kantor dulu, Sayang!" Pamit Dean seraya mencium pipi Richard yang berada di gendongan Felichia. Mata brengsek Dean tak lupa melirik ke gundukan Felichia yang tetap terlihat menonjol meskipun seragam baby sitter yang dikenakan wanita itu berukuran longgar.


Sial!


Dean harus bisa menikmatinya.


"Bye, Dad!" Felichia mengangkat tangan Richard agar melambai ke arah Dean yang sudah masuk ke dalam mobil sportnya.


Sesaat setelah mobil Dean meninggalkan kediaman Alexander, tatapan Felichia berubah menjadi tatapan benci dan marah.


"Pria brengsek keparat kamu, Dean!" Umpat Felichia sebelum wanita itu masuk ke dalam rumah dan bersiap membawa Richard ke rumah sakit untuk imunisasi.


.


.


.


Sepuluh bulan imunisasi apa, sih?


Campak telat mungkin, ya?


Othornya nglindur


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2