
Felichia mengetuk pintu kamar perawatan Erlan, saat pintu kayu itu tiba-tiba sudah dibuka dari dalam. Ada banyak orang di dalam kamar perawatan Erlan. Felichia melihat Erlan yang sudah bangun dan duduk di atas bed perawatan.
Rasa bahagia langsung membuncah di hati Felichia. Wanita itu langsung berlari untuk menghampiri dan memeluk Erlan.
"Erlan, kau sudah bangun?" Felichia baru memeluk Erlan beberapa detik, saat ia merasakan sentakan kasar dari Erlan yang mendorongnya hingga jatuh terjerembab ke atas lantai.
"Erlan, ada apa?" Tanya Felichia tak mengerti.
"Pergi kau, Perempuan jal*ng!" Usir Erlan seraya memaki Felichia.
"Dasar istri tidak setia!"
"Kenapa kau malah menjual tubuh dan rahimmu saat aku sedang terbaring sakit, Fe?"
"Kenapa kau membiarkan Dean menyentuhmu?"
"Kenapa kau murahan sekali!"
"Kenapa, Felichia?"
"Kenapa?"
"Tidaaak!"
Duaaaaar!
Suara petir yang begitu kencang hingga membuat kaca jendela di kamar Felichia bergetar, mengagetkan Felichia dan membuat wanita itubterbangun dari tidur siangnya. Langit di luar jendela sudah hampir gelap malahan dan hujan deras sedang mengguyur bumi.
Felichia mengusap-usap wajahnya berulang kali untuk memastikan kalau yang baru saja terjadi hanyalah sebuah mimpi.
Iya, itu hanya mimpi!
Itu hanya mimpi!
Felichia yang masih terengah-engah, memeluk kedua lututnya dan menarik nafas panjang berulang kali, demi menormalkan irama jantungnya yang nyaris meledak.
Kenapa mimpi Felichia tadi terasa begitu nyata?
Mungkinkah Erlan sudah bangun sekarang?
Mungkin Felichia harus secepatnya ke rumah sakit.
Ah, tapi ini sudah hampir malam dan Melanie pasti tak akan mengizinkan Felichia untuk keluar. Atau Felichia pergi besok saja?
Ya, Felichia akan pergi besok saja untuk memastikan keadaan Erlan.
Semoga Erlan sudah benar-benar bangun saat Felichia menjenguknya besok.
__ADS_1
Felichia turun dari atas tempat tidur dan memutuskan untuk mandi saja. Mungkin Felichia juga akan berendam sebentar dan menenangkan pikirannya yang tengah kalut.
****
Dean sudah tiba di halaman rumah besarnya beberapa saat yang lalu. Namun pria itu masih betah duduk di dalam mobil dan hanya diam seraya menatap air hujan yang jatuh menimpa kaca mobilnya.
"Kau harus melakukannya lagi sebelum pergi, Dean"
"Semakin sering kau dan Felichia melakukannya, kemungkinan Felichia akan hamil juga pasti semakin besar."
"Kau harus melakukannya lagi, Dean!"
"Kau harus melakukannya sekali lagi!"
"Sial!" Umpat Dean seraya memukul kasar stir mobilnya. Dean menyandarkan kepalanya di atas stir mobil, lalu tangannya meraba-raba ke arah bawah jok mobil dan mengambil sebuah botol beling.
Dean kembali mengangkat kepalanya, lalu menenggak cairan putih di dalam botol beling tadi. Dean kembali menatap pada hujan yang semakin deras mengguyur bumi. Suami Melanie tersebut akhirnya membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah yang sore ini terlihat sepi.
Melanie biasanya memang ada di kamar saat sore begini. Kadang istri Dean itu tidur atau sekedar membaca buku di dalam kamar. Namun Dean sekuat hati mengabaikan pintu kamar yang biasanya akan langsung Dean dorong demi bisa melihat wajah Melanie.
Dean memutuskan untuk langsung menaiki tangga dan naik ke lantai dua rumah besar tersebut. Kamar Felichia tentu saja adalah tujuan Dean.
Ini terakhir kali Dean akan menyentuh Felichia. Besok Dean pergi keluar kota, dan Dean akan melupakan semuanya.
Semoga wanita pilihan Pak Prakasa itu benar-benar subur dan bulan depan sudah langsung hamil, agar Dean tak perlu lagi menyentuhnya. Dean tidak mau terus-terusan menyakiti hati Melanie.
Dasar wanita ceroboh!
Dean mengedarkan pandangannya ke dalam kamar Felichia yang kosong.
Kemana wanita itu?
Dean hendak keluar dari dalam kamar yang kosong tersebut, saat tiba-tiba Dean mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar Felichia. Sepertinya Felichia memang sedang mandi.
Dean memilih untuk tak membuang waktu, dan pria itu segera melepaskan kemeja serta celananya. Dean yang hanya mengenakan underwear merangsek begitu saja ke dalam kamar mandi hingga membuat Felichia memekik kaget.
"Kau sedang apa, Dean?" Tanya Felichia tergagap yang langsung berbalik dan memunggungi Dean.
Namun sial seribu sial, Dean malah langsung meraih satu kaki Felichia dan mengangkatnya ke atas, lalu pria itu menyentak masuk begitu saja tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu.
"Aaaah!" Felichia kembali memekik seraya meringis menahan rasa perih yang menjalar di pangkal pahanya. Kedua tangan Felichia berpegangan pada tembok kamar mandi saat Dean memulai pergerakannya yang tidak bisa dibilang lembut.
Ini bahkan sangat kasar dan menyiksa.
Namun sekuat tenaga Felichia menahan airmatanya serta suara apapun yang mungkin akan keluar dari tenggorokannya. Felichia menggigit bibir bawahnya dengan kuat saat gerakan Dean terasa semakin cepat.
Felichia terus menggigit bibir bawahnya agar tak bersuara. Ya, setidaknya Felichia tak perlu melihat wajah dingin Dean, karena kini posisi Felichia memanglah memunggungi Dean.
__ADS_1
Setelah cukup lama, Dean akhirnya mencapai pelepasannya. Bisa Felichia dengar deru nafas dari pria yang masih berdiri di belakang punggungnya tersebut.
"Kita lakukan sekali lagi," ucap Dean yang sontak membuat Felichia terkejut.
"A-apa?" Tangan Felichia meraba-raba ke rak handuk untuk meraih satu handuk yang dengan cepat Felichia balutkan ke tubuh polosnya.
"Kita lakukan sekali lagi, agar aku tak perlu lagi mengulanginya besok!" Ulang Dean dengan nada frustasi. Dean ikut-ikutan menyambar handuk dari rak, lalu membalutkannya ke bagian bawah tubuhnya. Pria itu menyalakan air di wastafel lalu membasuh wajahnya beberapa kali.
"Aku tunggu di sofa!" Pungkas Dean sebelum pria itu keluar dari dalam kamar mandi.
Felichia menyandarkan punggungnya ke dinding kamar mandi dan kakinya seolah tak mampu lagi menopang tubuhnya. Felichia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu tubuh wanita itu jatuh meluruh ke atas lantai kamar mandi.
Rasanya benar-benar seperti wanita murahan yang tak punya harga diri.
"Felichia!" Panggil Dean yang kini sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi.
Felichia mengangkat wajahnya dan menatap wajah dingin tanpa perasaan itu.
"Jangan membuang waktuku dan cepatlah!" Perintah Dean galak.
Felichia mengusap kasar airmata yang belum sempat jatuh di kedua pipinya, lalu bangkit berdiri dengan cepat. Wanita itu mengekori Dean yang berjalan ke arah sofa.
Dean menghentikan langkahnya, Felichia ikut berhenti dan menjaga jarak tiga langkah dari punggung Dean. Felichia benci pada pria dingin tak berperasaan ini.
"Jangan sekalipun mengatakan pada Melanie, kalau kau sudah menikah dan bersuami," ucap Dean yang sudah berbalik dan menghadap ke arah Felichia. Sepertinya suami dari Melanie itu memang tengah memperingatkan Felichia.
Felichia hanya mengangguk patuh dan enggan bertanya alasan yang mendasari Dean melarang Felichia memberi tahu Melanie tentang Erlan.
"Kau sedang apa? Cepatlah berbaring agar aku bisa segera menuntaskannya!" Perintah Dean selanjutnya pada Felichia yang sempat larut dalam lamunannya.
Felichia tak menjawab sepatah katapun, dan segera berbaring di atas sofa. Dean menatap pada tubuh Felichia yang hanya terbalut handuk.
"Singkirkan handuk itu!" Titah Dean tetap dengan nada dingin.
Felichia memejamkan matanya, dan menyingkirkan handuk yang membalut tubuhnya. Wanita itu juga langsung memalingkan wajahnya dan enggan menatap pada Dean saat kedua tubuh mereka mulai menyatu.
Semoga ini benar-benar yang terakhir!
Aku membencimu, Dean!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.