
"Aku bisa makan sendiri, Mel!" Ucap Felichia saat Melanie hendak menyuapinya.
"Baiklah. Awas pelan-pelan!" Melanie meletakkan piring berisi bubur hangat di atas meja kecil yang ada di hadapan Felichia.
Felichia langsung menyantap buburnya tersebut dengan lahap agar ia juga bisa segera minum obat dari dokter. Felichia ingin cepat sembuh agar ia bisa segera menemui Erlan
"Kau tadi mau kemana?" Tanya Melanie yang sudah duduk tak jauh dari Felichia.
"Ke rumah sakit menjenguk Erlan," jawab Felichia sebelum menyuapkan buburnya ke dalam mulut.
"Kau bisa meneleponnya, jika memang khawatir." Melanie menyodorkan telepon rumah pada Felichia.
Itulah masalahnya. Felichia tidak tahu harus menghubungi siapa. Jika Felichia menghubungi Mama Astri, mertua Felichia itu sudah pasti hanya akan memakinya.
"Nanti saja, Mel!" jawab Felichia akhirnya seraya mengulas senyum pada Melanie.
"Dean akan ke luar kota selama tiga hari. Jadi kau bisa istirahat sekalian memulihkan kesehatanmu, Fe!" Ucap Melanie selanjutnya yang langsung membuat Felichia secara tak sadar menghela nafas lega.
Setidaknya, Felichia tak perlu bertemu tuan muda dingin dan kasar itu tiga hari ke depan. Rasanya benar-benar menyebalkan berada di dekat Dean sialan itu.
"Aku boleh menemui Erlan jika aku sudah sehat?" Tanya Felichia penuh harap pada Melanie.
"Tentu. Nanti sopir akan mengantarmu ke rumah sakit asal kau sudah benar-benar sehat dan pulih," jawab Melanie seraya mengulas senyum pada Felichia.
"Aku bisa kembali ke kamarku sekarang, Mel? Aku ingin istirahat di kamar saja," tanya Felichia sekali lagi meminta izin pada Melanie.
"Kau sudah bisa bangun dan berjalan?" Tanya Melanie khawatir bersamaan dengan Dean yang akhirnya kembali dari lantai dua.
Sepertinya pria itu yadi bersembunyi di ruang kerjanya saat dokter memeriksa Felichia.
Felichia juga baru tahu sepekan terakhir kalau ternyata ruang kerja Dean ada di lantai dua. Felichia tidak tahu kenapa Dean meletakkan ruang kerjanya di lantai dua dan bukan di lantai bawah saja.
"Dean!" Panggil Melanie pada sang suami.
"Apa?" sahut Dean dengan raut wajah datar.
"Tolong kau antar Felichia ke kamarnya di lantai dua!" Perintah Melanie menatap tegas pada sang suami.
Dean mendekat ke arah istrinya yang masih berdiri tersebut dan belum menjawab sepatah katapun.
"Melanie, aku bisa naik ke kamarku sendiri," tukas Felichia sedikit berbisik pada Melanie.
Felichia sudah menyibak selimut dan hendak bangkit berdiri.
"Tidak, Dean akan menggendongmu naik ke atas, Fe!" Ucap Melanie memaksa serta menahan Felichia agar tidak bangkit berdiri.
__ADS_1
"Bisakah kau tidak berdiri terlalu lama?" Dean yang sudah mendekat ke arah Melanie, dengan cepat mendudukkan istrinya tersebut ke atas sofa.
"Aku baik-baik saja, Dean!" Sergah Melanie merasa kesal dan marah.
"Bisakah kau mengantar Felichia ke kamarnya?" Pinta Melanie sekali lagi pada sang suami.
"Tidak bisa! Aku sedang buru-buru," jawab Dean seraya mengecup bibir Melanie dan sedikit mendorong istrinya tersebut. Cukup lama Dean memagut bibir Melanie, meskipun istrinya itu sedikit berontak.
Felichia yang menyaksikan pemandangan itu buru-buru memalingkan wajahnya, lalu bangkit berdiri dan pergi dalam diam. Felichia menaiki tangga perlahan dan memilih untuk segera masuk ke dalam kamarnya saja.
"Dean!" Melanie mendorong kasar tubuh Dean yang menciuminya seperti sedang kesetanan.
"Kenapa? Apa aku juga perlu melucuti bajumu, lalu mencumbumu di depan wanita itu-" Dean menunjuk ke arah sofa dimana tadi Felichia duduk. Namun sofa itu sudah kosong dan Felichia sudah tidak ada.
Kemana Felichia?
"Fe?"
"Felichia!" Melanie memanggil-manggil Felichia yang sudah tak terlihat batang hidungnya.
"Nona Felichia sudah naik ke lantai atas, Nona," ucap seorang maid yang ditanyai oleh Melanie.
Melanie sedikit bernafas lega, lalu memilih untuk masuk ke kamarnya meninggalkan Dean yang tadi katanya sedang buru-buru tapi tak kunjung pergi juga dan malah duduk-duduk di sofa ruang tengah.
Dasar menyebalkan!
"Mel, berhentilah mondar-mandir dan duduklah di kursi rodamu!" Perintah Dean galak seraya menyusul langkah Melanie ke arah kamar mereka.
"Aku baik-baik saja, dan aku tidak mau duduk lagi di atas kursi roda menyebalkan itu!" Jawab Melanie masih dengan nada kesal. Sepertinya istri Dean itu benar-benar sedang marah pada Dean.
"Ck!" Dean berdecak dan sudah dengan cepat menyamai langkah Melanie.
Tanpa ba bi bu lagi, Dean langsung membopong tubuh Melanie dan menggendongnya ala bridal.
"Kenapa kau keras kepala sekali hari ini, hmmm?" Tanya Dean merasa gemas pada istrinya tersebut.
"Turunkan aku, Dean!" Melanie meronta-ronta di gendongan Dean dan tangannya tak berhenti memukul-mukul dada bidang suaminya tersebut.
"Tidak akan!" Jawab Dean yang sudah membawa Melanie masuk ke dalam kamar. Dean menutup pintu kamar, lalu meletakkan dengan hati-hati tubuh Melanie di atas tempat tidur.
"Bukankah kau tadi sedang buru-buru? Kau mau apa sekarang?" Tanya Melanie menatap galak pada Dean.
"Apa aku pernah mengatakan kalau kau semakin cantik saat marah begini?" Ucap Dean dengan seringai menggoda.
"Tidak usah menggoda atau merayuku! Aku sedang marah!" Melanie bersedekap kesal dan memalingkan wajahnya dari Dean.
__ADS_1
"Aku mau pergi tiga hari dan kau malah jual mahal," Dean membuka kancing gaun Melanie yang berada di bagian depan.
Melanie tak berontak meskipun wanita itu masih memalingkan wajahnya dari Dean.
"Sayang," rayu Dean mesra.
Melanie tetap merengut.
"Sayangku, kenapa kau marah?" Dean memaksa untuk menangkup wajah Melanie dan memainkannya seperti squishy.
"Kau menyebalkan!" Dengkus Melanie masih kesal pada Dean.
"Bagian mana yang menyebalkan?"
"Yang ini?" Dean mengecup kening Melanie.
"Atau yang ini?"
Dean ganti menciumi pipi Melanie.
"Yang ini?"
"Ini?"
"Atau ini?"
Dean terus menciumi wajah Melanie kecuali bibir istrinya tersebut.
Dean tahu, kalau Melanie sudah sangat ingin ia pagut, tapi Dean memang sengaja menggoda Melanie dan bermain-main terlebih dahulu.
"Dean!" Melanie akhirnya menangkup wajah Dean dan mengecup bibir suaminya tersebut.
"Mau memberiku bekal sebelum pergi?" Goda Dean seraya mengerling nakal ke arah Melanie.
"Kau akan tertinggal pesawat nanti," Melanie menyusuri wajah Dean, lalu jarinya kembali berhenti di bibir suaminya tersebut.
"Pesawatku berangkat dua jam lagi," Dean mengecup jemari Melanie yang berada di bibirnya.
"Jadi kita masih bisa melakukan satu ronde," lanjut Dean yang langsung membuat Melanie menarik kepala suaminya tersebut, lalu keduanya saling memagut serta menyentuh dengan cepat.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.