
Dean sedang berada di sebuah padang rumput hijau, saat pria itu melihat seorang wanita yang sedang duduk di sebuah kursi roda dengan wajah yang tertunduk lesu. Wanita itu tampak sedang memangku sesuatu yang dibungkus kain putih.
Bukankah itu?
"Melanie!" Panggil Dean pada wanita yang tetap tertunduk tersebut.
Dean mengayunkan langkahnya mendekat ke arah wanita tersebut untuk memastikan.
Semakin dekat, semakin jekas kalau itu adalah Melanie yang sedang memangku seorang...
Bayi!
"Mel," Dean bersimpuh di hadapan Melanie dan mengusap wajah istrinya yang terlihat pucat dan terasa dingin. Lalu Dean ganti mengamati bayi yang berada di pangkuan Melanie yang wajahnya juga sepucat Melanie.
"Mel," panggil Dean sekali lagi pada Melanie yang hanya membisu.
Dean memaksa untuk mengangkat wajah pucat istrinya tersebut saat kemudian bibir Melanie menyunggingkan sebuah senyuman.
"Aku akhirnya bisa bertemu dengan bayi kita, Dean!" Ucap Melanie dengan nada lirih dan senyum yang masih terkembang di bibirnya.
"Bayi kita yang cantik," ucap Melanie sekali lagi pada Dean. Kali ini wanita itu ganti menunjukkan bayinya ke arah Dean.
"Kami akan pergi bersama ke surga." Ucap Melanie lagi yangbterang saja langsung membuat Dean membelalakkan matanya.
"Selamat tinggal, Dean!"
"Selamat tinggal!"
"Mel," Dean mulai panik karena tubuh Melanie dan bayi di pangkuannya yang mendadak pudar seakan tertiup angin.
"Melanie!" Dean terus berusaha meraih bayang-bayang Melanie yang semakin memudar dan akhirnya hilang sama sekali.
"Melanie!" Jerit Dean seraya terbangun dari tidur dan mimpi buruknya tentang Melanie. Tubuh Dean sudah dipenuhi oleh peluh dan nafas pria itu juga memburu karena mimpi yang baru saja menghampirinya seakan terasa begitu nyata.
Dean mengusap peluh di wajahnya berulang kali dan berusaha mengusir semua pikiran buruknya tentang Melanie. Dean menoleh ke samping kanan untuk melihat Melanie yang sejak tadi ia dekap. Namun alangkah terkejutnya Dean, saat tak melihat Melanie di atas tempat tidur.
Apa?
Dimana Melanie?
Dean cepat-cepat bangkit dari atas tempat tidur dan memeriksa kamar mandi.
"Mel!" Panggil Dean.
Namun Melanie tak ada di dalam kamar mandi.
"Melanie!" Dean terus memanggil sang istri seraya keluar dari kamar. Pria itu menghidupkan lampu di seluruh rumah untuk mencari keberadaan Melanie.
"Mel!"
"Melanie!"
Panggil Dean tanpa henti.
Satu persatu ruangan di lantai bawah Dean periksa termasuk kamar Felichia.
Namun tpmasih tidak ada tanda-tanda keberadaan Melanie.
"Mel!"
"Melanie, kau dimana?"
__ADS_1
Dean mulai panik karena Melanie yang tak menyahut panggilan Dean.
"Mel!" Dean sudah sampai di bawah tangga dan merasa ragu untuk memeriksa ke lantai atas. Mustahil Melanie naik ke lantai dua, mengingat kondisinya yang masih begitu lemah.
Ah, tapi tak ada salahnya juga Dean periksa.
"Mel!" Dean terus memanggil Melanie seraya pria itu menaiki tangga menuju ke lantau dua. Baru sampai di ujung tangga, hati Dean sudah dibuat mencelos dengan pemandangan yang ia lihat.
Melanie jatuh pingsan tepat dindepan kamar lama Felichia.
Tak hanya itu, ada darah yang mengalir dari pangkal paha Melanie.
"Mel!" Dean langsung berlari menghampiri Melanie dan membopong istrinya itu lau membawanya turun ke lantai bawah, di mana para maid sudah berkumpul karena mendengar teriakan Dean yang sejak tadi memanggil-manggil Melanie.
"Kalian semua sedang apa? Cepat siapkan mobil!" Teriak Dean galak pada para maid yang hanya mematung.
Sedetik kemudian, para maid langsung membantu Dean membawa Melanie ke mobil. Ada juga yang cepat menyiapkan mobil untuk membawa Melanie ke rumah sakit.
****
"Kanker Ovarium?"
Pernyataan dari dokter tentang sakit yang diderita Melanie bagaikan sambaran petir di siang bolong untuk Dean.
"Tapi bukankah kalian sudah mengangkat rahim Melanie tahun lalu? Bagaimana bisa ada sel kanker lagi di dalam tubuhnya?" Cecar Dean penuh emosi.
"Ini juga di luar dugaan kami, Dean. Pemeriksaan terakhir sebelum operasi pengangkatan rahim menyatakan kalau sel kanker belum menginfeksi kedua indung telur Melanie. Tapi sebulan yang lalu Melanie mengeluhkan sakit di bagian ovariumnya dan saat kami lakukan tes mendetail, sel kanker itu sudah merambah ke sana."
"Apa Melanie belum memberi tahumu?" Selidik dokter pada Dean.
"Melanie tak mengatakan apapun, dan aku pikir ia hanya kelelahan beberapa hari ini," jawab Dean yang raut wajahnya sudah berubah lesu.
Dean menatap pada Melanie yang terbaring tak berdaya dan matanya terpejam. Dean meraih tangan istrinya tersebut dan menggenggamnya dengan erat.
"Kita hanya bisa mengusahakan pengobatan yang terbaik dan optimal untuk Melanie, Dean! Selebihnya terserah pada takdir," jawab Dokter dengan nada prihatin.
"Bangunlah, Mel! Bukankah kau ingin menggendong bayi kita?" Dean terisak dan hatinya terasa hancur.
"Aku akan membawa bayi kita kembali ke rumah dan ke pelukanmu. Tapi kau harus bangun, Mel! Kau harus bangun dan sembuh!" Mohon Dean yang tak berhenti menciumi tangan Melanie.
****
Felichia membuka pintu apartemen setelah ada yang menekan bel.
"Hai!" Sapa Navya yang sudah berdiri di balik pintu seraya membawa tas berisi makanan seperti biasa.
"Aku membawakanmu makanan, Fe!" Ucap Navya setelah Felichia mempersilahkan Navya untuk masuk.
"Aku baru saja memasak untuk makan siang padahal. Tapi tadi Erlan telepon kalau dia tidak bisa pulang untuk makan siang," jelas Felichia.
"Oh, ya? Kau memasak apa? Aku tak keberatan menemanimu makan siang karena aku sedang tak ada pekerjaan," tawar Navya seraya tersenyum ramah.
"Hanya capcay dan ayam goreng tepung. Kau mau?" Jawab Felichia sedikit ragu.
"Tentu saja aku mau. Ayo kita makan siang berdua!" Ucap Navya bersemangat yang langsung pergi ke dapur untuk mencuci tangan.
Sedangkan Felichia segera menyimpan kue dan pudding yang tadi dibawa oleh Navya ke dalam kulkas.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong, kau sudah memeriksakan kandunganmu, Fe?" Tanya Navya setelah wanita itu duduk di kursi ruang makan.
"Belum. Aku masih takut untuk pergi ke rumah sakit atau ke tempat lain," jawab Felichia jujur.
__ADS_1
Sudah sepekan ini Felichia hanya berada di dalam apartemen Navya dan tak berani kemana-mana. Sebenarnya Felichia merasa bosan, tapi demi keamanan dirinya dan bayinya, Felichia harus melawan rasa bosannya. Anak buah Dean bisa berada di mana saja.
"Ada klinik kandungan di dekat sini. Hanya berjarak dua gedung," ujar Navya memberikan info.
"Kau bisa periksa ke sana saja kalau merasa takut pergi ke rumah sakit." Saran Navya selanjutnya.
"Benarkah?"
"Nanti aku akan mengatakan pada Erlan kalau begitu," ucap Felichia antusias.
"Untuk perlengkapan bayinya, apa boleh jika aku yang membelanjakan saja?" Tanya Navya meminta persetujuan Felichia.
"Tidak usah, Nav! Aku tidak mau merepotkan," jawab Felichia merasa sungkan.
"Sama sekali tidak merepotkan, Fe! Karena aku suka belanja dan jalan-jalan," ujar Navya seraya terkekeh.
Navya lanjut menggigit ayam tepungnya, saat kemudian wanita itu berhenti mengunyah, lalu meletakkan kembali ayamnya ke atas piring.
"Ada apa, Nav? Ayamnya keasinan?" Tanya Felichia khawatir seraya mencuil sedikit ayamnya yang ada di piring untuk mencicipi.
"Tidak, hanya saja-" wajah Navya tiba-tiba sudah merah padam.
"Maaf, Fe. Aku permisi dulu!" Felichia berlari dengan cepat menuju ke toilet yang bearda di sudut dapur lalu muntah-muntah.
"Nav!" Felichia sudah menyusul Navya yang masih muntah-muntah.
"Nav, kau baik-baik saja?" Tanya Felichia seraya mengusap-usap punggung Navya.
"Sepertinya aku salah makan pagi tadi," jawab Navya sebelum wanita itu membasuh wajahnya dengan air dan sedikit berkumur.
"Maaf bukan aku tak suka masakanmu, Fe! Tapi ini benar-benar di luar dugaan-" Navya kembali mual-mual.
"Mungkin kau memang masuk angin, Nav!" Pendapat Felichia.
"Iya, kepalaku sedikit pusing," Navya memegangi kepalanya sendiri dan keluar dari toilet.
"Aku buatkan teh hangat, ya! Apa ada obat disini?" Tanya Felichia pada Navya karena pemilik apartemen ini memanglah Navya.
"Aku minum teh hangat saja," Jawab Navya cepat.
"Baiklah, aku buatkan sebentar." Felichia langsung berkutat di dapur dan membuatkan teh hangat untuk Navya.
"Aku boleh tidur sebentar disini, Fe! Kepalaku sedikit pusing," izin Navya pada Felichia.
"Kenapa minta izin? Bukankah ini adalah apartemenmu?" Felichia yang sudah keluar dari dapur terkekeh dan mengangsurkan secangkir teh pada Navya.
"Mau istirahat di kamar-"
"Tidak!" Jawab Navya cepat memotong pertanyaan Felichia yang belum selesai.
"Aku tidur di sofa saja," lanjut Navya seraya menyusun bantal sofa.
"Baiklah. Aku ambilkan selimut dulu." Felichia beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar untuk mengambil selimut untuk Navya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.