
Felichia beringsut mundur dan menjauh sejauh-jauhnya dari Dean brengsek yang ternyata ingin memperkosanya. Namun tentu saja Dean tidak tinggal diam dan sudah kembali bangkit berdiri. Pria itu mengejar Felichia yang hendak lari ke arah pintu kamar. Saat tiba-tiba sebuah ketukan di pintu, membuat Felichia dan Dean menghentikan langkah masing-masing.
"Fe!"
Itu suara Melanie.
Bagus sekali!
Istri Dean itu akhirnya pulang.
"Felichia!" Melanie mengetuk pintu sekali lagi.
Buru-buru Felichia membenarkan bathrobenya yang terbuka di bagian depan, lalu membuka pintu kamar. Dean berdiri di balik pintu dan memberi tatapan peringatan pada Felichia agar tidak buka mulut.
"Hai, Mel! Kau sudah pulang?" Sapa Felichia berbasa-basi pada Melanie.
"Iya, aku baru saja datang," tangan Melanie sudah terulur dan mengusap perut bulat Felichia yang tertutup oleh bathrobe.
"Ngomong-ngomong, kau melihat Dean? Tadi kata maid Dean sudah pulang dan sempat mengetuk pintu kamarmu," tanya Melanie yang langsung membuat jantung Felichia berdegup kencang. Bisa saja Felichia berkata jujur pada Melanie tentang Dean yang ingin memperkosanya, tapi Melanie pasti lebih percaya pada suami brengseknya itu ketimbang pada Felichia.
"Iya, tadi Dean memang sempat bertanya padaku kau dimana. Lalu setelahnya Dean naik tangga. Mungkin dia ada di lantai atas," jawab Felichia sedikit tergagap karena harus mengarang cerita bohong.
"Begitu, ya! Dia sedikit workaholic belakangan ini," Melanie tertawa kecil.
Wanita itu kembali mengusap perut Felichia.
"Apa gerakannya aktif?" Tanya Melanie yang masih mengusap-usap perut Felichia.
"Ya. Sangat aktif," jawab Felichia dengan tatapan kosong.
"Tinggal dua bulan lagi dan kita akan segera berjumpa, Sayang!" Ucap Melanie yang sepertinya sedang berbicara pada calon bayi di dalam perut Felichia.
Dug!
Felichia merasakan tendangan dari calon bayi itu lagi.
"Dia menendang, Fe!" Kedua mata Melanie terlihat berbinar. Felichia hanya mengangguk samar dan sebuah ketakutan tiba-tiba terbersit di benak Felichia. Ketakutan yang Felichia juga tak tahu apa namanya.
Tapi Felichia tidak ingin anaknya menjadi milik Melanie. Felichia yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan dan nanti Felichia juga yang akan berjuang untuk melahirkannya.
Tidak!
Felichia tidak akan menyerahkan anaknya ini kelak pada Melanie!
Felichia harus menyusun strategi agar bisa kabur dari rumah sialan ini.
__ADS_1
Felichia tidak mau berpisah dari bayinya.
"Fe! Kau melamun?" Teguran Melanie menyentak lamunan Felichia.
"Tidak. Sebenarnya aku hanya sedikit mengantuk, Mel. Dan aku tadi belum selesai berendam," tutur Felichia yang berharap agar Melanie segera pergi dari depan kamarnya.
Felichia juga ingin secepatnya menendang bokong Dean mesum yang saat ini berdiri di balik pintu, agar secepatnya keluar dari kamar Felichia.
Cih!
Felichia benci pada Dean brengsek!
"Oh, iya! Maaf jika aku mengganggumu, Fe! Aku hanya ingin menyapa calon anakku," ujar Melanie seraya tertawa kecil seolah itu adalah hal lucu.
Anakku?
Ini adalah anak Felichia dan bukan anak Melanie!
"Lanjutkan acara berendammu, kalau begitu!" Melanie mengusap lengan Felichia.
"Aku juga akan mandi," sambung Melanie sraya memutar kursi rodanya, lalu menjalankan kursi roda otomatis itu menuju ke kamarnya.
"Kau bisa pergi sekarang!" Ucap Felichia pada Dean yang masih berdiri di balik pintu.
Felichia memegang erat daun pintu agar Dean tak memaksa untuk menutupnya lagi, seperti sebelumnya.
Felichia mengeratkan genggamannya pada daun pintu karena menahan geram di hatinya atas perkataan menyakitkan Dean barusan.
Dasar iblis tak punya hati!
Kau dan Melanie tidak akan pernah menggendong anakku!
Aku akan membawa anakku keluar dari istana nerakamu ini!
Felichia berteriak dalam hati, lalu wanita itu menutup pintu kamar dan duduk bersandar di belakang pintu. Felichia mengusap perutnya dengan lembut, hingga tanpa terasa airmata Felichia sudah jatuh berlinang.
"Mom tidak akan memberikanmu pada mereka, Sayang!"
"Mom akan membawamu pergi dari sini."
"Tidak masalah jika kita harus hidup di jalanan atau di kolong jembatan, tapi Mom tidak akan meninggalkanmu," cicit Felichia seraya menghapus airmatanya yang jatuh bercucuran.
Pasti ada jalan untuk Felichia keluar dari rumah besar ini!
Felichia harus menemukan jalan itu!
__ADS_1
****
"Mel, kau sudah pu-" Dean belum menyelesaikan kalimatnya saat pria itu kembali merasakan mual di perutnya.
Dean bergegas masuk ke toilet untuk muntah-muntah.
Sial!
Ini pasti karena perkataan kasar Dean pada Felichia tadi.
Atau mungkin ini karma karena Dean yang tadi hampir menperkosa Felichia?
Salah wanita sialan itu, yang memakai baju renang two piece dan memamerkan perutnya pada Dean. Jadi bukan Dean yang mesum, tapi Felichia saja yang kelakuannya seoerti jal*ng.
"Hoeek!"
Rasa mual Dean semakin menjadi dan kini Dean mearsakan perutnya yang begitu melilit seolah ususnya sedang ditarik-tarik dan lambung Dean seperti sedang dipelintir.
Sial sekali!
"Aaah!" Dean memekik karena rasa sakit di perutnya yang malah turun ke perut bagian bawah yang terasa kram dan kaku. Sementara Dean juga masih belum berhenti mual dan muntah.
"Dean, kau baik-baik saja?" Tanya Melanie yang sudah dengan cepat menyusul Dean. Suami Melanie itu begitu kesakitan sambil memegangi perut bawahnya seperti remaja PMS yang kram perut.
"Perutku sakit sekali, Mel!" Keluh Dean yang sudah meringis tak jelas.
"Kau tadi makan apa?" Tanya Melanie menyelidik. Melanie mengusap punggung Dean yang kembali muntah-muntah.
"Rujak!" Jawab Dean yang terlihat kepayahan menahan sakit di perutnya.
"Rujak sisanya Felichia?" Melanie sudah menghentikan usapannya di punggung Dean.
"Apa rujak itu ada racunnya? Kenapa perutku sakit sekali?" Tanya Dean yang suaranya terdengar terputus-putus.
"Entahlah! Aku mau mandi!" Jawab Melanie dengan nada kesal.
Melanie bangkit dari kursi rodanya dan baru saja akan menyalakan air shower saat tiba-tiba semuanya tampak berputar, lalu tubuh Melanie ambruk ke lantai kamar mandi dan wanita itu jatuh pingsan.
"Melanie!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.