
Felichia membenarkan selimut Richard dan mengecup kening bayinya yang kini sudah semakin besar dan lincah tersebut. Tepat hari ini, Richard akhirnya genap berusia sepuluh bulan. Bayi laki-laki Felichia itu sudah fasih merangkak kesana kemari dan sekarang juga sudah mulai belajar berdiri.
Felichia menatap bangga pada Richard yang kini sudah terlelap di dalam box bayinya. Senyuman bahagia terulas di bibir Felichia bercampur dengan rasa haru yang menenuhi relung hatinya. Tekad Felichia untuk secepatnya membawa Richard keluar dari rumah ini semakin kuat. Felichia hanya sedang mencari cara dan waktu yang tepat.
Felichia keluar dari kamar Richard dan menutup pintu perlahan. Wanita itu lanjut pergi ke dapur untuk mengambil minum. Baru saja Felichia seledai menegur air minum di gelasnya, Dean turun dari tangga dan langsung menyapa Felichia.
"Richard sudah tidur, Chia?" Tanya Dean yang kini sudah menghampiri Felichia di dapur.
"Ya, Richard baru saja terlelap," jawab Felichia seraya meletakkan gelasnya di atas meja.
"Aku juga akan tidur, Dean," pamit Felichia selanjutnya pada Dean yang masih diam.
"Selamat ma-"
Dean tiba-tiba sudah menarik tangan Felichia dan mencegah wanita itu keluar dari dapur. Tentu saja hal inj membuat Felichia kaget.
"Bisa aku minta tolong, Chia?" Tanya Dean dengan suara lembutnya yang mulai membuat Felichia muak. Namun meskipun Felichia merasa muak dan jengah, ia tetap harus mengikuti permainannya sendiri dan membiarkan Dean untuk terus merayunya.
Semakin cepat Dean jatuh cinta dan tergila-gila pada Felichia, maka semakin cepat juga kehancuran akan menghampiri pria ini. Mungkin selama tiga bulan terakhir, Dean mengira kalau Felichia sudah hanyut pada rayuan dan sikap romantisnya, tapi yang sesungguhnya terjadi, itu semua hanya sebatas akting dari Felichia.
Felichia tak pernah sedikitpun termakan rayuan Dean yang memuakkan itu.
Jatuh cinta pada Dean adalah hal yang akan Felichia jauhi dan hindari. Felichia tak akan pernah jatuh cinta pada pria yang pernah memperlakukan dirinya layaknya seorang wanita murahan. Felichia tidak akan pernah jatuh cinta pada pria brengsek yang telah merampas anaknya dan membuatnya harus berpisah dengan sang anak hingga enam bulan lamanya. Hati ibu mana yang tak terluka jika harus mengalami semua hal mengerikan itu?
"Chia," tegur Dean yang tiba-tiba tangannya sudah terulur untuk mengusap wajah Felichia. Tentu saja hal itu sontak membuat Felichia berjenggit kaget.
Kenapa Dean brengsek ini semakin berani dan agresif pada Felichia?
"Maaf, aku tak bermaksud," Dean cepat-cepat menarik tangannya dan sedikit salah tingkah pada Felichia.
"Kau tadi mau minta tolong apa, Dean?" Tanya Felichia yang akhirnya buka suara dan menecah kecanggungan di antara mereka.
"Tolong kupaskan apel untukku," jawab Dean dengan senyuman memuakkan itu lagi.
"Apa kau keberatan?" Lanjut Dean yang sudah ganti merasa sungkan.
Tadi sudah menyuruh tapi sekarang pura-pura merasa sungkan. Bagus sekali aktingmu, Dean!
"Sama sekali tidak!" Jawab Felichia mengulas senyuman santai.
"Tunggu sebentar!" Ucap Felichia lagi seraya berlalu ke dapur untuk mengambil beberapa apel, lalu mengupasnya sesuai titah Dean menyebalkan. Felichia juga memotong-motong apel tersebut dan menyusunnya dengan rapi ke atas piring. Tak sampai sepuluh menit, Felichia sudah menyusul Dean ke ruang tengah seraya membawa sepiring buah apel.
"Silahkan!" Ucap Felichia seraya mengangsurkana sepiring apel tadi pada Dean.
"Terimakasih."
"Duduklah disini, Chia!" Titah Dean seraya menepuk ruang kosong di atas sofa tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Temani aku menonton film," lanjut Dean lagi yang sudah ganti mengendikkan dagunya ke layar televisi 65 inch di ruang tengah yang sedang menampilkan adegan film action.
Baiklah!
Felichia akan ikut duduk dan menemani tuan menyebalkan ini!
"Kau suka film apa? Biar aku menggantinya kalau kau tidak suka," tanya Dean berbasa-basi.
"Aku suka semua genre film, Dean! Jadi kita nonton yang ini saja," jawab Felichia pura-pura bersikap manis.
"Baiklah!" Dean sudah mulai melahap apelnya sambil sesekali pria itu mengutak-atik layar ponselnya. Sepertinya Dean tidak terlalu fokus menikmati film yang kini ada di hadapannya.
Berbeda dengan Felichia yang terlihat khusyuk menikmati adegan action nan menegangkan yang ditampilkan di layar televisi. Hingga adegan demi adegan yang Felichia saksikan, mendadak memberikan Felichia sebuah ide.
Ide untuk membawa kabur Richard dari Dean, dan lepas dari cengkeraman pria iblis ini.
Ya!
Felichia hanya perlu membicarakannya dengan Tuan Matthew dan Nona Melody serta meminta sedikit bantuan dari mereka.
"Dean,"
"Chia,"
Dean dan Felichia tiba-tiba saling memanggil nama masing-masing secara bersamaan hingga membuat keduanya salah tingkah.
"Tidak, kau saja duluan. Kau tadi mau bilang apa?" Tanya Dean yang sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Felichia dan membantu Felichia menyelipkan rambutnya yang sedikit berserak ke belakang telinga.
Felichia langsung membeku dengan tingkah agresif Dean tersebut.
"Aku-"
"Aku hanya ingin bertanya, apa aku boleh mengambil libur satu hari?" Tanya Felichia sedikit tergagap karena Dean yang masih terus menatapnya dengan intens. Felichia bahkan harus membenarkan kacamatanya berulang kali karena mendadak merasa gugup.
"Kapan?" Dean malah balik bertanya.
"Kapan saja, jika memang kau memberikan izin. Aku hanya ingin bertemu seorang temanku yang kebetulan sedang berada di kota ini."
"Ya, kami sudah lama tak bertemu dan mengobrol bersama," cerita Felichia mengarang indah.
Dean langsung manggut-manggut.
"Hari Sabtu aku di rumah seharian. Kau bisa pergi tapi tidak bisa menginap. Kau harus kembali kesini jam tiga sore. Bagaimana?" Tanya Dean meminta persetujuan Felichia.
"Itu sudah lebih dari cukup, Dean. Terima kasih," ucap Felichia memaksa untuk mengulas senyuman hangat pada Dean yang masih belum berhenti menatapnya.
Aneh!
__ADS_1
"Kau sendiri tadi mau bilang apa?" Felichia kembali memecah kebisuan.
"Malam sudah larut. Sebaiknya kau tidur," ucap Dean yang kembali menyelipkan rambut Felichia yang jatuh ke wajah.
Astaga!
Felichia benar-benar harus menarik nafas panjang berupa kali dengan sikap dan perhatian Dean kali ini.
Jangan goyah, Felichia!
Pria ini iblis yang tak punya hati!
Felichia tak berhenti merapalkan keyakinan pada hatinya sendiri agar tak menggubris ataupun baper pada semua sikap manis Dean.
"Baiklah, aku akan pergi tidur sekarang," Felichia sudah beranjak dari duduknya, lalu sedikit membungkuk untuk meraih piring bekas apel yang sudah kosong di pangkuan Dean.
Bisa Dean lihat sekilas benda kenyal milik Felichia yang menggantung sempurna di depan wajah Dean.
Sial!
Kejantanan Dean seolah meronta, mengingat Dean yang sudah berbulan-bulan tidak bercinta ataupun menyentuh wanita.
"Akan kubawa sekalian ke dapur," ucap Felichia yang sudah kembali menegakkan tubuhnya. Wanita itu tersenyum dan menunjukkan piring kosong di tangannya pada Dean, sebelum berlalu dan pergi ke dapur.
Dean masih diam di tempatnya dan kepalanya masih tak lepas dari bayang-bayang dua gundukan milik Felichia yang tiba-tiba begitu menggiurkan malam ini.
"Aku tidur dulu, Dean! Selamat malam!" Pamit Felichia yang sudah keluar lagi dari dapur dan lewat di belakang Dean.
"Malam, Chia!" Jawab Dean yang hanya bergumam.
Tak berselang lama, terdengar suara pintu kamar yang ditutup, lau dikunci oleh Felichia.
Sial!
Dean butuh mandi air dingin sekarang!
.
.
.
Tengah malam mandi. Awas rematik, Dean!
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1